
Sahira tersenyum meledek, tapi entah kenapa itu malah membuat Alan merasa semakin terpesona pada gadis di hadapannya. Bahkan saat ini Alan hanya diam memandangi wajah Sahira yang tersenyum sembari duduk itu, belum pernah Alan merasa seperti itu sebelumnya.
"Pak, kenapa bengong aja dah? Awas saya mau turun jangan halangi pintunya dong!" ujar Sahira.
"Kamu nyuruh saya? Ini mobil saya loh, terus saya juga bos kamu. Harusnya kamu yang bisa saya suruh-suruh Sahira!" geram Alan.
"Apaan sih pak? Suruh siapa bapak berdiri disitu? Gimana saya bisa keluar coba?" ucap Sahira.
"Ya ayo keluarnya saya bantu sini!" ajak Alan.
Sahira menatap wajah Alan saat pria itu mengulurkan tangan ke arahnya, jujur saja ia bingung apakah harus menerima uluran tangan Alan atau tidak. Sedangkan Alan sendiri masih berada di posisinya sambil tersenyum ke arah Sahira dengan tangan terulur ke gadis itu.
"Ayo Sahira! Apa lagi yang kamu tunggu coba? Kita turun sekarang, atau kamu gak akan saya izinin buat pulang!" ucap Alan.
"Hah? Maksud bapak apa ya? Kalau saya gak boleh pulang, terus saya harus kemana?" tanya Sahira.
"Ya terserah kamu, mau kemana kek suka-suka kamu. Makanya udah ayo kita turun sebelum saya berubah pikiran!" jawab Alan.
"I-i-iya pak, tapi emang harus pegangan tangan apa?" tanya Sahira.
Alan mengangguk, "Iya Sahira, lagian apa salahnya sih kita pegangan tangan? Kamu gak mau saya tuntun?" ujarnya.
Sahira terdiam sejenak, tapi setelahnya ia memilih meraih tangan Alan dan keluar dari mobil dengan bantuan pria itu. Mereka pun mulai melangkah bersamaan menuju rumah Sahira dengan tangan saling menyatu, namun tiba-tiba seseorang muncul menghadang jalan mereka sambil tersenyum.
Sahira tersentak kaget melihatnya, "Bang Awan?" ucapnya dengan mulut menganga.
Awan melirik ke arah tangan Sahira yang tengah digenggam oleh Alan, saat itu juga Sahira berniat melepaskan diri dari genggaman Alan. Namun, Alan justru menahannya dan semakin mengeratkan genggaman pada tangan Sahira. Sontak Sahira menatap ke wajah pria itu seolah hendak protes, tapi tidak bersuara.
"Hai Sahira! Kamu sekarang jadi lebih sering pulang bareng sama cowok-cowok berkelas ya? Tapi, kok beda-beda sih?" ujar Awan.
"Eee iya soalnya gue—" ucapan Sahira terhenti saat Alan menatapnya dan memberi kode untuk jangan melanjutkan perkataannya.
"Kita langsung pulang aja, kamu katanya capek kan?" ucap Alan yang diangguki Sahira. Kemudian, Alan melirik ke arah Awan. "Dan kamu, siapapun kamu tolong jangan ganggu Sahira karena dia sedang capek!" sambungnya.
__ADS_1
"Saya gak ganggu Sahira kok, saya cuma kebetulan lewat terus pas aja sama Sahira yang baru pulang. Oh ya, saya juga bawain wedang nih buat kamu Sahira!" ucap Awan.
"Kebetulan kok udah bawain wedang segala? Situ sehat?" sindir Alan.
Awan terkekeh saja, "Kenapa ya? Kok anda kelihatannya gak suka banget saya dekat-dekat sama Sahira? Memangnya anda ini siapanya Sahira? Pacar?" ujarnya.
"Saya cuma bosnya Sahira, tapi saya gak suka aja sama lelaki yang sering modus ke cewek-cewek seperti kamu," ucap Alan.
"Maaf, tapi saya bukan tipe laki-laki yang begitu. Saya hanya ingin memberikan wedang ke Sahira supaya lelah yang dia rasakan bisa hilang," ucap Awan sambil tersenyum.
"Ya ya ya, yaudah kamu kasih aja wedangnya itu ke Sahira!" ucap Alan.
Awan menaikkan satu alisnya dan beralih menatap Sahira sambil menyodorkan plastik berisi wedang jahe yang ia bawakan dari warungnya, Sahira menerima itu dan mengucapkan terima kasih pada Awan sebelum kembali melangkah bersama Alan.
•
•
"Yos, ayolah jangan sedih terus! Mending kita makan mie ayam aja, enak loh disini rasanya mantap!" ucap Cat dengan semangat.
Yoshi hanya mengangguk pelan, ia tak tertarik sama sekali meskipun Cat mengatakan bahwa rasa mie ayam disana sangat enak. Cat pun memanggil pedagang disana dan memesan dua mangkuk mie ayam serta es teh manis, setelahnya Cat kembali menatap wajah Yoshi.
"Mau sampai kapan lu diem terus? Gue ajak lu kesini kan supaya lu bisa cerita ke gue tentang masalah lu, bukan malah diam aja. Ayolah Yoshi, ngomong dong bro!" ucap Cat.
Yoshi menegakkan kepalanya ke arah Cat, "Mau ngomong apa lagi? Semuanya kan udah gue bahas tadi," ucapnya singkat.
"Ya apa kek gitu, pokoknya lu harus bisa lupain kejadian semalam dan jangan diingat-ingat lagi tentang Sahira yang tolak lu!" ucap Cat.
"Gak bisa Cat, kenangan itu terus muncul di kepala gue. Rasanya gue mau bunuh diri aja sekarang, hidup gue udah gak ada artinya lagi," ucap Yoshi.
"Hus! Lo gak boleh ngomong gitu Yoshi! Hidup lu belum berakhir, perjalanan lu masih panjang. Lo harus tetap semangat, jangan karena Sahira terus lu sampai mau bunuh diri!" ucap Cat.
"Buat apa gue hidup lagi Cat? Cinta gue aja ditolak sama Sahira, gue malas lanjutin hidup!" ujar Yoshi.
__ADS_1
"Lo gak boleh malas, masih ada wanita yang menanti lu buat jadi miliknya. Lo harus yakin sama kemampuan lu sendiri Yos!" ucap Cat.
"Siapa? Dari kemarin lu ngomong gitu terus, tapi lu gak pernah ngasih tau siapa orangnya!" ujar Yoshi.
"Gue Yos! Gue yang suka sama lu!" Cat berteriak dengan keras dan tegas sembari menaruh kedua tangannya di meja, tatapannya juga mengarah ke wajah Yoshi serta nafas yang memburu.
Yoshi tersentak kaget mendengar pengakuan Cat, suasana di warung mie ayam itu juga mendadak hening setelah apa yang terjadi barusan. Cat sendiri merasa malu sebab ia yakin semua orang mendengar kata-katanya tadi, ia langsung menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Permisi mas, mbak. Silahkan ini mie ayamnya dinikmati!" ucapan penjual itu membuyarkan suasana hening disana.
"Eh iya pakde, makasih!" ucap Cat sambil tersenyum.
Cat langsung beralih pada mangkuk berisi mie ayam yang menggodanya itu, ia tak perduli pada Yoshi yang masih terus menatapnya tajam dengan penuh pertanyaan di dalam dirinya.
"Yos, ayo dimakan mie nya!" suruh Cat.
"Tunggu Cat!" tiba-tiba Yoshi menggenggam tangan Cat dengan kuat.
Cat memandang bingung ke arah wajah Yoshi, "A-ada apa ya Yoshi?" tanyanya dengan gugup.
"Kamu serius sama omongan kamu tadi?" ucap Yoshi yang mendadak merubah gaya bicaranya menjadi aku-kamu.
"Lo gak salah nih Yos? Kok lu ngomong pake aku-kamu?" Cat coba mengalihkan pembicaraan.
"Jawab aja Cat! Beneran kamu suka sama aku?" pinta Yoshi.
"Umm gu-gue..." Cat sangat gugup untuk menjawab pertanyaan Yoshi, ia benar-benar bingung.
"Cat, Yoshi!" tiba-tiba saja ada wanita yang datang dan memanggil mereka, sontak Yoshi terkejut lalu reflek melepaskan tangan Cat dari genggamannya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1