
"Hah? Kamu serius Nawal? Masa iya Alan suka sama sekretarisnya?" kaget Alfian.
"Ya awalnya aku juga kaget om, tapi kenyataannya emang begitu," ucap Nawal sambil merengut.
Alfian benar-benar tak percaya jika putranya itu tega mengkhianati Nawal, padahal ia sudah sangat percaya jika hubungan mereka akan terus berlanjut sampai ke jenjang pernikahan. Alfian pun berjanji pada Nawal akan berbicara pada Alan dan membuat pria itu menyesal.
"Yasudah, ayo sayang ikut om ke ruangan Alan!" ajak Alfian.
"Iya iya om," Nawal mengangguk cepat menyetujui perkataan Alfian dan mengikuti pria itu menuju ruangan Alan.
Sesampainya di depan ruangan Alan, mereka langsung saja berniat masuk ke dalam sana. Alfian dengan cekatan membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu, Nawal pun juga ikut saja dengan pria itu karena ia sudah tak sabar ingin bertemu Alan disana.
Ceklek
Begitu pintu dibuka, Alfian serta Nawal dibuat kaget saat melihat Alan tengah berdua bersama Sahira di dalam sana dan terduduk di sofa sambil terlihat sangat dekat. Alfian menggeleng tak percaya, ternyata putranya itu memang ada hubungan khusus dengan sekretarisnya sendiri.
"Alan!" bentak Alfian disertai mata yang melotot tajam ke arah putranya tersebut.
Sontak Alan serta Sahira menoleh secara bersamaan ke asal suara itu, mereka sangat syok melihat keberadaan Alfian disana. Mereka bahkan langsung bangkit dari sofa menatap wajah Alfian seolah-olah tak percaya, tanpa sadar tangan mereka masih saling bertaut dan membuat Alfian berpikir yang tidak-tidak.
"Papa, ngapain papa datang ke kantor aku? Terus kenapa juga papa harus bawa Nawal kesini?" tanya Alan berusaha menguatkan diri.
"Jangan bicarakan soal itu dulu Alan! Harusnya sekarang papa yang tanya ke kamu, untuk apa kamu berduaan dengan wanita itu di ruangan kamu, ha? Kamu selingkuh?" sentak Alfian.
"Apa sih pa? Sahira ini sekretaris aku, wajar aja dong kalau kami berduaan," ucap Alan.
"Wajar? Yang kayak gini kamu bilang wajar? Sampe pegangan tangan begitu masih dibilang sebatas bos dan karyawan?" ujar Alfian.
Deg!
__ADS_1
Alan terkejut, lalu reflek melepaskan tangan Sahira dari genggamannya. Ia benar-benar tak sadar jika sedari tadi ia masih memegang tangan gadis itu, pantas saja papanya terlihat sangat marah saat masuk ke dalam sana dan melihatnya tengah berduaan dengan sang sekretaris.
"A-aku gak sengaja pa, barusan itu aku kaget jadi reflek pegang tangan Sahira. Papa jangan mikir yang enggak-enggak dong!" elak Alan.
"Bohong kamu Alan, aku tahu kamu emang sengaja kan berduaan disini sama Sahira biar kalian bisa mesra-mesraan," cibir Nawal.
Seketika Alan langsung menatap wajah Nawal dengan penuh emosi dan tangan terkepal, apa yang dikatakan gadis itu memang sangat menyebalkan dan membuatnya kesal. Alan juga bingung mengapa Nawal bisa bersama papanya saat ini, padahal tadi ia sudah mengusir gadis itu dari kantornya.
"Kamu gausah ikut campur ya Nawal, kita udah gak ada hubungan jadi kamu lebih baik diam dan jangan asal bicara kalau kamu gak tahu asal-usul nya!" sentak Alan.
Nawal pun mulai memasang wajah sedihnya di hadapan Alan serta Alfian, "Om, tuh kan benar yang tadi aku bilang. Alan emang udah gak cinta lagi sama aku om, dia lebih pilih perempuan itu dibanding aku," ucapnya.
Alan menggeleng mendengarnya, "Masih aja drama kamu ya? Padahal dari awal kamu yang minta kita putus Nawal," ucapnya.
"Cukup! Kamu bisa gak sih jangan kasar sama Nawal?! Dia itu perempuan loh, dan dia calon istri kamu Alan!" ujar Alfian.
"Apa pa? Calon istri? Aku gak sudi pa nikah sama perempuan tukang drama kayak dia! Lebih baik aku jomblo seumur hidup, daripada aku menikah dengan Nawal!" ucap Alan.
Alan sudah tak kuat lagi mendengarnya, dengan cepat ia berlalu pergi melewati Alfian serta Nawal dan keluar dari ruangannya itu. Sontak Alfian bertambah emosi karena kelakuan putranya itu, ia langsung berteriak coba menahan Alan seraya mengejar pria itu.
"Alan, tunggu Alan!" teriak Alfian yang turut mengejar Alan ke luar dari ruangan itu.
Kini tinggal Nawal berdua bersama Sahira, gadis itu sontak menatap Sahira yang terlihat gugup dan tak tahu harus apa. Nawal perlahan melangkah maju mendekati Sahira dengan senyum tipis terukir di bibirnya, ia berjalan mengitari tubuh Sahira sambil menatap wanita itu dari atas sampai bawah.
"Ada apa ya mbak? Kenapa mbak ngeliatin saya sambil jalan terus kayak gitu? Ada yang salah sama penampilan saya?" tanya Sahira keheranan.
"Gak ada, kamu kelihatannya wanita baik-baik. Tapi, kenapa ya sikap kamu gak sesuai sama penampilan kamu? Atau memang pelakor jaman sekarang itu kayak gini? Pura-pura kalem, padahal nyatanya bringas," kekeh Nawal.
"Maksud mbak apa ya? Saya ini bukan pelakor, saya disini cuma kerja kok. Kalau mbak marah karena saya dekat sama pak Alan, jangan salahin saya dong mbak!" ucap Sahira membela diri.
__ADS_1
"Berani ya kamu jawab saya? Kamu gak tahu sedang berhadapan dengan siapa, ha?" tegur Nawal.
"Apa? Mbak kira saya takut sama mbak? Dengar ya, saya sudah bilang tadi kalau saya ini bukan pelakor dan saya gak ada hubungan apa-apa sama pak Alan! Kami cuma sebatas bos dan karyawan, kalau kami dekat ya wajar dong," ucap Sahira.
"Lancang kamu ya!" Nawal emosi dan berniat menampar wajah Sahira, tapi dengan reflek Sahira menahan tangan gadis itu.
"Mbak mau apa? Tampar saya? Jangan main kekerasan dong mbak, nanti dibalas nangis!" sentak Sahira yang langsung menghentak tangan Nawal dengan kasar.
"Awhh, ish awas ya kamu! Kamu benar-benar bikin saya emosi! Lihat aja, saya akan bikin hidup kamu menderita!" geram Nawal.
"Saya gak takut sama ancaman mbak, karena saya gak salah. Mbak itu cuma salah paham gara-gara dibutakan oleh cinta, mending mbak mikir dulu deh sebelum bertindak!" ucap Sahira.
"Hahaha, pelakor mana ada yang mau ngaku Sahira? Kamu sudah ketangkap basah lagi berduaan sambil pegangan tangan disini sama Alan, tapi masih aja ngelak," ucap Nawal.
"Terserah mbak deh mau ngomong apa, saya capek bahas soal ini terus!" kesal Sahira.
Sahira mengambil tas serta barang-barangnya disana, lalu bergegas pergi dari ruangan itu meninggalkan Nawal. Ia tak perduli dengan teriakan gadis itu yang mencoba menahannya, tetapi dengan sengaja kaki Nawal mengait telapak kaki Sahira sehingga Sahira pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai dengan posisi miring.
Bruuukkk
"Awhh, akh!" rintih Sahira sembari memegangi kakinya yang mungkin terkilir akibat ulah Nawal.
"Ups jatuh deh, sakit ya pasti? Makanya jangan main-main sama saya!" ujar Nawal.
Sahira mendengus kesal, dengan langkah cepat Nawal bergerak mendekati Sahira lalu mencengkram rahang gadis itu dan menatapnya tajam.
"Kalau kamu masih mau hidup tenang, ikuti kata-kata saya dan jauhi Alan!" ucap Nawal.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...