Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 82. Jangan ngebut-ngebut


__ADS_3

Agus menggeleng, "Sekali lagi saya mohon maaf mas, tapi anda tetap tidak boleh masuk ke dalam disaat waktu bekerja," ucapnya.


"Please pak, sebentar aja kok! Abis itu saya janji deh langsung pulang dan gak akan lama-lama disini," ucap Ari.


"Tetap tidak bisa, mau lama atau sebentar juga sama aja. Saya nanti bisa dimarahin sama atasan saya kalau saya bolehin kamu masuk ke dalam," ucap Agus.


Ari terdiam sejenak berpikir bagaimana cara untuk menyusup masuk ke dalam sana tanpa harus membuat keributan, hingga akhirnya ia terpikirkan sesuatu ide yang menurutnya bisa ia gunakan dengan baik. Ari tersenyum menatap satpam itu lalu menunjuk ke arah berlainan.


"Eh eh pak, tuh ada yang panggil bapak. Kayaknya dia mau tanya sesuatu deh pak," ucap Ari.


"Hah mana??" Agus yang polos itu menoleh ke arah yang ditunjuk Ari, namun ia tak menemukan siapa-siapa disana.


"Kagak ada siapa-siapa disitu, lu bohong ya?" disaat Agus kembali menoleh ke arah Ari, tanpa disadari lelaki itu sudah pergi dari tempat itu.


Ya Ari memanfaatkan kelengahan sang satpam dan berlari menuju pintu masuk kantor, ia melangkah ke dalam sana lalu bergegas mencari keberadaan Keira. Namun, Agus juga tak tinggal diam dan mengejar Ari karena ia tidak ingin terjadi masalah disana.


"Duh, Keira mana ya?" di dalam, Ari celingak-celinguk mencari sosok Keira sambil terus melangkah.


Akhirnya Ari menemukan gadis yang ia cari, tanpa basa-basi ia langsung menghampiri tempat Keira berada dan memanggil gadis itu. Seketika Keira terkejut bukan main, ia tak mengira Ari bisa masuk ke kantornya disaat jam kerja masih berlangsung.


"Keira!" Ari menyapa gadisnya, bertatapan langsung dengan gadis itu sambil tersenyum.


"Ari, kamu ngapain sih kesini? Ada urusan apa kamu disini?" tanya Keira ketus.


"Sayang, aku mau bicara sama kamu. Mau ya kita bicara sebentar?" bujuk Ari.


Keira melirik ke arah teman-temannya, ia melihat para karyawan itu terus memandangnya dengan tatapan heran dan sinis saat melihat Ari datang ke kantor itu. Tentu Keira merasa risih, ia langsung saja bergerak menghampiri Ari dan berniat mengusirnya dari sana.


"Kamu apa-apaan sih Ari? Kamu gak tahu ya kalau aku lagi kerja disini? Kamu jangan ganggu aku dulu dong! Lagian aku rasa gak ada yang perlu diomongin lagi, semua sudah jelas!" ujar Keira.


"Belum sayang, aku masih mau jelasin semua ke kamu. Tolong kamu dengerin aku dulu Keira, kamu itu cuma salah paham sama Mira!" ucap Ari memohon pada gadisnya.


Tiba-tiba saja, Agus yang tadi ada di luar sudah berhasil menyusul Ari. Satpam itu pun berusaha membawa Ari keluar dari kantor karena tak ingin membuat kerusuhan, apalagi terlihat para karyawan di sekitar sana juga masih berkumpul mengamati mereka.

__ADS_1


"Heh! Waduh, berani banget ya kamu tipu saya dan masuk kesini! Ayo kamu ikut saya, kamu itu gak boleh masuk kesini!" geram Agus.


"Ah bapak gausah ikut campur! Sana bapak mending keluar dulu, nanti kalau urusan saya udah selesai baru deh saya pergi," ucap Ari.


"Gak bisa, ayo kamu ikut saya keluar dari sini sekarang juga!" paksa Agus.


Saat tangan satpam itu hendak memegangnya, Ari dengan cepat langsung menepis tangannya dan bergerak menjauh. Ari juga meraih satu tangan Keira sambil kembali memohon padanya untuk mau bicara dengannya, sontak Keira dibuat bingung harus mengambil keputusan apa.


"Keira, kamu mau ya ngobrol sama aku sebentar aja!" ucap Ari memohon.


"Eee.." Keira terlihat berpikir keras sebelum menjawab perkataan kekasihnya itu.




Disisi lain, Sahira berada di dalam mobil bersama Alan bosnya dan keduanya tampak tengah membicarakan tentang rapat yang mereka lakukan tadi dengan salah seorang klien. Namun, pikiran Sahira mengarah ke perkataan Cat yang mengaku kalau akan menikah dengan Yoshi selepas lebaran.


"Hey! Kamu itu dengerin saya ngomong gak sih daritadi? Kenapa kamu diam aja Sahira? Lagi mikirin apa kamu?" tegur Alan.


"Eh eee pak, saya minta maaf pak. Tadi saya masih kepikiran kata-kata teman saya di cafe," ucap Sahira gugup.


"Loh emangnya teman kamu itu bicara apa sampai kamu kepikiran terus?" tanya Alan penasaran.


"Dia bilang kalau setelah lebaran nanti dia bakal menikah sama pacarnya pak," jawab Sahira.


"Lalu, apa yang bikin kamu kepikiran? Kamu pengen nikah juga kayak teman kamu itu?" tanya Alan yang langsung membuat Sahira terkejut.


"Ih bukan begitu pak, saya cuma kaget dan gak nyangka aja gitu kalau dia mau nikah," ujar Sahira.


"Ohh, ya biarin aja sih teman kamu nikah mah. Toh dia udah siap dan ada calonnya, kenapa kamu harus pusing karena itu?" ucap Alan.


"Ya gapapa pak, emangnya gak boleh ya kalau saya mikirin soal itu?" heran Sahira.

__ADS_1


"Jelas enggak, karena gara-gara itu kamu jadi gak fokus!" kesal Alan.


"Maaf pak, saya janji gak akan mengulangi kejadian yang tadi. Lagian saya juga sudah melupakan apa yang teman saya katakan kok," ucap Sahira.


"Baguslah, kalo gitu kamu jangan pernah bengong lagi saat sedang sama saya!" ucap Alan.


Sahira mengangguk pelan, "Iya pak, tapi emang tadi bapak ajak ngobrol saya soal apa ya pak?" tanyanya penasaran.


"Enggak, bukan apa-apa. Kita bahas itu nanti aja di kantor, sekarang ada yang mau saya bicarakan sama kamu tentang yang lain," ucap Alan.


"Apa itu pak?" tanya Sahira.


"Besok kan sudah mulai puasa, nanti malam kita tarawih bareng yuk!" ajak Alan.


"Hah?" Sahira tersentak kaget mendengarnya.


"Kenapa? Kamu gak mau shalat tarawih bareng sama saya? Atau kamu udah keburu ada janji sama pacar kamu yang posesif itu?" tanya Alan heran.


"Umm, saya sama pak Saka belum ada janji buat tarawih bareng kok pak. Tapi, saya juga kayaknya gak bisa shalat bareng bapak," jawab Sahira.


"Oh oke, saya gak maksa. Kalau kamu berubah pikiran, kamu bilang saya aja ya!" ucap Alan.


Sahira mengangguk kecil, kemudian Alan menancap gas dengan cepat sehingga membuat Sahira reflek berpegangan pada kursi yang ia duduki karena terkejut. Gadis itu juga langsung menoleh ke arah Alan berniat melayangkan protes, ia tak mengerti mengapa Alan tiba-tiba menambah kecepatan mobilnya.


"Pak, bapak apa-apaan sih? Jangan ngebut-ngebut dong pak, bahaya! Pelanin sedikit ya pak, saya beneran takut loh ini!" ujar Sahira.


"Kamu gak ada hak untuk perintah saya Sahira, kamu diam aja dan jangan bicara kalau saya tidak suruh! Disini saya yang bosnya, bukan kamu! Jadi, kamu harus nurut sama saya!" tegas Alan.


"Ta-tapi pak.." ucapan Sahira terhenti saat Alan kembali menambah kecepatan mobilnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2