
Deg!
Sahira terkejut, ia sama sekali tak menyangka kalau email yang ia kirim tadi salah alamat. Padahal seingatnya ia sudah mengirim email tersebut sesuai petunjuk Alan, tapi ternyata ia malah melakukan kesalahan yang amat membuat Alan emosi.
"Pak, maafin saya pak saya benar-benar salah fokus tadi! Sa-saya akan segera kirim ulang email-nya pak," ucap Sahira.
"Sahira, kalau kamu terus begini lama-lama saya bisa pecat kamu loh! Kinerja kamu memang bagus, tapi saya gak bisa mentolerir kesalahan seperti ini Sahira!" ucap Alan emosi.
"Maaf pak, tolong jangan pecat saya! Saya janji ini gak akan terulang lagi, kasih saya kesempatan satu kali lagi deh pak!" ucap Sahira memohon.
"Ah kamu itu pasti selalu saja begini! Kamu boleh lagi puasa, tapi kerja tuh harus tetap fokus dong!" geram Alan.
"I-i-iya, sekali lagi saya minta maaf pak!" ucap Sahira gemetar dan terus menunduk takut.
"Maaf maaf, itu aja yang bisa kamu katakan setiap melakukan kesalahan! Tapi, setelah itu pasti kamu mengulanginya lagi," ujar Alan.
"Kali ini saya janji pak, saya akan bekerja sebaik mungkin kok!" ucap Sahira.
"Yasudah, cepat kamu kirim laporan itu ke email pak Ridho! Jangan sampai salah lagi atau saya pecat kamu!" perintah Alan.
"Baik pak!" ucap Sahira patuh.
Alan pun melangkah keluar dari ruangan itu, sedangkan Sahira menghela nafas lega lalu bergegas mengirim berkas laporan tadi ke email yang tepat. Namun, ponsel gadis itu berdering dan membuat Sahira melirik sejenak menemukan nama Saka di layar ponselnya.
Drrtt drrtt
"Loh pak Saka?" lirih Sahira.
Tanpa menunggu lama, Sahira bergegas mengangkat telpon dari Saka tersebut. Ia penasaran dan juga tidak ingin membuat Saka kecewa jika ia tak mengangkat telpon itu, apalagi sekarang ini statusnya adalah sebagai kekasih dari pria yang merupakan saudara bosnya tersebut.
📞"Halo pak! Ada apa ya?" ucap Sahira di telpon dengan gugup.
📞"Saya cuma mau tanya ke kamu Sahira, ini kenapa ya kamu kirim laporan ke email perusahaan saya? Kamu salah kirim atau gimana?" ujar Saka menahan tawanya.
📞"Ohh, iya iya pak itu saya gak sengaja malah kirim laporannya ke email bapak. Maafin saya ya pak, bisa dihapus aja kok pesannya?" ucap Sahira.
📞"Hahaha, kamu kenapa formal banget begitu sih? Santai aja kali sama saya mah, saya justru senang kamu salah kirim begitu. Itu artinya kamu pasti mikirin saya," ucap Saka.
📞"Apa sih pak? Saya tuh cuma lagi kurang fokus aja tadi kok," elak Sahira.
📞"Sama aja dong, artinya kamu kurang fokus karena mikirin saya. Saya senang deh dengarnya Sahira, saya juga rindu sama kamu!" ucap Saka.
Sahira terdiam sejenak karena harus menahan rasa malu di dalam dirinya saat mendengar perkataan Saka, ia tersenyum dengan wajah memerah dan sulit sekali menyembunyikan itu semua. Entah kenapa Saka memang selalu bisa membuat hatinya tersenyum, walau ia sedang sedih sekalipun.
📞"Eee udah ya pak, saya harus kembali bekerja. Sekali lagi saya minta maaf karena sudah mengganggu jam kerja bapak," ucap Sahira.
📞"No, kamu gak ganggu kok. Saya justru senang kira bisa kayak sekarang ini Sahira," ucap Saka.
__ADS_1
📞"Iya deh pak, kalo gitu saya pamit ya pak? Nanti kalau kerjaan saya udah selesai, saya insyaallah telpon kamu lagi," ucap Sahira.
📞"Okay, semangat ya kerjanya!" ucap Saka.
📞"Makasih pak, kamu juga ya!" balas Sahira.
Setelahnya, telpon terputus dan Sahira pun tampak tersenyum membayangkan wajah Saka. Ia sampai tak sadar bahwa sebenarnya Alan masih menguping dari luar ruangannya dan terlihat tak suka setelah mengetahui Sahira habis menghubungi Saka.
•
•
Bram mengangguk pelan, "Ayo buruan kita ke tempat biasa, aku gak sabar pengen berduaan sama kamu disana Imeh!" ucapnya.
Fatimeh pun tersenyum dan mengecup pipi lelaki berkumis itu, setelah dipastikan aman barulah Fatimeh membuka pintu lalu melangkah keluar bersama Bram dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah itu karena tak ingin ketahuan. Ya sejak lama mereka memang sudah berhubungan di belakang istri sah lelaki bernama Bram tersebut.
"Ayo ayo cepetan masuk!" Fatimeh mengajak Bram masuk ke mobil yang terparkir agak jauh dari rumah wanita itu dengan tergesa-gesa.
"Tante?" namun, tiba-tiba suara seorang wanita mengejutkan keduanya. Fatimeh sontak menoleh ke asal suara untuk memastikan siapa itu, dan betapa kagetnya ia melihat Wati berdiri di dekatnya.
"Hah??" Fatimeh reflek memegang dadanya, ia tak menyangka Wati bisa kembali menemuinya.
"Ngapain lu disini? Ngikutin gue ya lu?" tanya Fatimeh dengan nada curiga.
"Gak kok tante, saya gak sengaja aja lewat sini terus lihat tante. Eee itu siapa ya tante? Terus kenapa tante gugup gitu pas lihat aku?" ucap Wati.
Deg!
"Udah deh lu gausah banyak tanya! Awas gue mau pergi!" sentak Fatimeh.
"Tapi tante, saya pengen tahu siapa sih laki-laki itu? Terus apa hubungannya sama tante?" tanya Wati.
"Kenapa lu kepo banget sih? Gue gak perlu kasih tahu ke lu kan siapa dia, lagian apa urusannya coba sama lu? Mending lu pergi sana, jangan halangi jalan kita!" kesal Fatimeh.
"Maaf tante, saya gak ada maksud buat halangi tante kok. Yaudah, tante boleh pergi deh. Hati-hati di jalan ya tante!" ucap Wati sambil tersenyum.
"Iya, kalo gitu gue sama teman gue ini pergi dulu ya? Awas loh lu jangan bilang apa-apa ke Sahira tentang yang lu lihat sekarang ini!" ucap Fatimeh.
"Siap tante, saya nurut deh sama tante mah!" ucap Wati patuh.
Fatimeh pun masuk ke mobil bersama Bram, pria itu langsung menancap gas setelah mendapat perintah dari Fatimeh yang ingin segera pergi dari sana. Meski Fatimeh tampak panik dan cemas karena khawatir Wati akan ingkar janji lalu mengatakan semua yang dia lihat kepada Sahira.
Di dalam perjalanan, Fatimeh masih terus merasa ketar-ketir memikirkan Wati. Entah kenapa ia tidak yakin jika Wati mau menurut dan tak mengatakan semua itu ke Sahira, apalagi ia tahu betul kalau Wati dan Sahira sangat dekat. Bisa saja gadis itu menceritakan semuanya pada Sahira nanti.
"Kamu tuh kenapa sih sayang? Masih khawatir kalau anak kamu bakal tahu semua tentang hubungan kita? Ayolah, kamu gausah cemas begitu Imeh! Kalaupun Sahira nantinya tau, ya biarin aja jangan takut!" ucap Bram.
"Huft, aku cuma malas aja berurusan sama dia mas. Dia kan anaknya sok agamis banget, makanya aku malas sama dia!" ujar Fatimeh.
__ADS_1
Bram hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, ia tetap memacu mobil itu sambil sesekali menoleh dan coba untuk menenangkan Fatimeh.
•
•
Sore harinya, Sahira telah bersiap untuk pulang karena semua pekerjaannya sudah ia selesaikan dan sekarang juga sudah masuk waktu pulang. Namun begitu ia keluar dari ruangannya, tanpa diduga ia dicegat oleh Alan yang datang dan tiba-tiba memintanya berhenti.
"Tunggu Sahira!" ucap Alan menahan gadis itu.
"Eh pak, ada apa ya?" tanya Sahira dengan ramah.
"Kamu jangan pulang dulu ya! Hari ini kita ada acara buka bersama di kantor, karena kan sekarang hari pertama puasa," jawab Alan.
Sahira mengernyit bingung, "Eee tapi pak, saya.." ucapannya terhenti lantaran Alan lebih dulu menyelanya.
"Kamu apa? Kamu sudah ada janji bukber di tempat lain dengan Saka, iya?" tebak Alan.
"Umm, sebenarnya enggak pak. Saya cuma udah dijemput sama pak Saka di depan, jadinya saya mungkin gak bisa ikut buka bersama di kantor deh pak untuk hari ini," ucap Sahira.
"Oke gapapa, tapi kamu akan dapat potongan gaji karena kamu sudah menolak ajakan saya," ucap Alan mengancam.
Sontak Sahira terkejut dengan perkataan bosnya itu, ia mengejar Alan yang sudah berbalik dan melangkah pergi karena ia tidak ingin tentu gajinya harus terpotong hanya karena ia tak mengikuti acara buka bersama disana. Sahira pun mencegat Alan, ia berhasil lalu segera bicara padanya.
"Maaf pak, tapi saya keberatan dengan kata-kata bapak barusan. Masa saya harus kena pemotongan gaji cuma karena saya gak ikut buka bersama?" ucap Sahira protes.
"Peraturan disini begitu, karyawan muslim harus menuruti aturan itu tanpa terkecuali!" ucap Alan.
"Tapi pak, saya juga gak bisa bilang ke pak Saka buat minta dia pulang duluan. Gini deh pak, besok baru saya bisa ikut bukber disini," ucap Sahira.
"Sahira, saya cuma adain bukber di hari ini karena ini hari pertama. Kalau kamu gak mau ikut, ya udah gak akan ada bukber lain-lain lagi. Makanya saya wajibkan semua karyawan yang muslim disini untuk ikut buka bersama," ucap Alan.
"Eee terus saya gimana dong pak? Saya bingung banget ini serius deh," tanya Sahira kebingungan.
"Ya terserah kamu, kamu lebih pilih potong gaji atau ikut bukber sama saya? Semua pilihan ada di kamu Sahira," ucap Alan.
"I-i-iya pak, kalo gitu saya mau coba bicara dulu deh sama pak Saka di bawah," ucap Sahira gugup.
Alan mengangguk, "Okay, saya tunggu kamu di ruang kerja saya. Kamu datang aja sesudah kamu bicara dengan bang Saka," ucapnya.
"Baik pak!" Sahira menurut sembari menganggukkan kepalanya.
Namun, tanpa diduga justru Saka lebih dulu muncul disana dan langsung menghampiri mereka dengan wajah penasaran. Ya Saka heran sebab melihat Sahira tampak bingung saat berhadapan dengan Alan, akhirnya pria itu memutuskan mendekat lalu bertanya secara langsung pada mereka.
"Ada apa ini?" tanya Saka yang sudah berdiri di dekat Alan dan Sahira.
Seketika baik Alan maupun Sahira sama-sama terkejut melihat kehadiran Saka disana, mereka tak mengira kalau Saka akan datang dan masuk ke dalam wilayah kantor.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...