
Sahira merasa gugup dan jantungnya berdegup kencang saat itu juga, terlebih Saka justru mendekat lalu membelai rambut serta wajahnya dari jarak yang hanya beberapa senti saja. Sahira pun tak mengerti harus bagaimana, pasalnya ia belum berpengalaman dalam hal menjalin hubungan spesial sebelumnya.
"Te-terus sa-saya panggil bapak apa dong? Saya kan udah terbiasa kayak gitu, jadi susah buat ubahnya. Tapi, kalau emang bapak gak suka nanti saya usahakan kok," ucap Sahira gugup.
"Bagus, kamu usahakan panggil saya dengan sebutan mas ya!" pinta Saka.
"Mas?" Sahira terkejut dan matanya terbelalak.
"Iya, mas. Itu tuh panggilan yang cocok buat kamu ke saya, karena itu juga lebih baik dibanding kamu panggil saya pak," ucap Saka.
"Oh gitu ya pak? Yaudah deh, saya mau coba usaha panggil bapak pake sebutan mas," ucap Sahira.
"Yaudah, kamu jangan panggil saya bapak terus dong Sahira! Bosen tau!" ujar Saka.
"Saya kan masih belajar pak, jadi bapak maklum dong. Nanti lama-lama juga saya terbiasa buat enggak panggil pak lagi ke bapak," ucap Sahira.
"Belajar sih belajar, tapi dari sekarang dong Sahira! Jangan malah kamu keterusan panggil saya pak kayak gitu, berasa tua banget saya!" ucap Saka.
"Hehe, iya pak saya coba deh nanti," ucap Sahira.
Saka menggeleng pelan sembari memegangi keningnya, lama-kelamaan ia kesal juga karena Sahira tak kunjung mengerti apa yang ia inginkan dan malah terus memanggilnya dengan sebutan 'pak'. Sahira sendiri juga merasa tidak enak pada sang kekasih, akhirnya ia pun mencoba untuk menuruti kemauan pria itu.
"Mas Saka, jangan marah dong! Nanti kalau mas marah-marah kayak gitu, bisa cepet tua tau. Emang mau saya panggil kamu bapak lagi karena kamu sudah tua?" kekeh Sahira.
Saka tersenyum mendengarnya, ia reflek mencubit pipi Sahira dengan gemas dan membuat gadis itu tertawa kecil. Sungguh suasana yang jarang sekali Sahira dapatkan selama ini, ya sebab Sahira memang lebih mementingkan keluarganya dibanding kebahagiaan dirinya sendiri.
"Oh ya Sahira, saya ada sesuatu buat kamu yang mau saya tunjukkan," ucap Saka tiba-tiba.
Sahira seketika berubah kaget, ia penasaran sekali apa yang hendak diberikan lelaki itu padanya. Sedangkan Saka tampak mengeluarkan ponselnya dari saku jas dan meletakkannya di meja, membuat Sahira tambah penasaran.
"Kamu kasih tunjuk apa ke aku, mas?" tanya Sahira dengan wajah penasaran.
__ADS_1
"Hahaha, kamu udah gak sabar ya pengen tahu? Ini tuh sesuatu yang selama ini kamu tunggu-tunggu dan kamu minta dari saya Sahira," jawab Saka.
"Hah maksudnya?" tanya Sahira keheranan.
Saka tersenyum dan membuka galeri foto di ponselnya, ia menunjukkan sebuah foto yang mirip seperti Fatimeh alias ibu dari Sahira yang tengah berada di sebuah bar. Seketika Sahira terkejut, matanya membulat tak percaya melihat sang ibu berada di foto tersebut bersama seorang lelaki yang tak ia kenali.
"Ini foto ibu kamu yang waktu itu saya janji ingin kasih tau ke kamu, maaf ya saya baru bisa kasih liat sekarang karena saya diancam sama ibu kamu," jelas Saka.
Sahira menggeleng tak percaya sembari menutup mulutnya, "Enggak mas, gak mungkin ini ibu aku!" ucapnya tegas.
"Sssttt, sabar Sahira! Kamu harus tenang dan jangan emosi! Kamu lihat baik-baik, ini benar ibu kamu. Saya juga sudah pastikan sendiri kok ke ibu kamu sebelumnya," ucap Saka.
"Apa? Terus kenapa kamu gak mau kasih tau ini langsung ke aku?" tanya Sahira.
"Ibu kamu ancam saya, dia gak bolehin saya kasih lihat foto ini ke kamu. Kalau saya melanggar, katanya ibu kamu bakal lukain kamu. Ya karena saya takut terjadi sesuatu sama kamu, jadinya saya nurut aja," jawab Saka.
Sahira kembali terkejut, ia dibuat tak percaya dengan apa yang dikatakan Saka barusan mengenai ibunya.
•
•
"Sahira, kamu tenang ya! Kamu gak boleh emosi nanti, ingat loh biar gimanapun dia tetap ibu kamu! Jadi, kamu harus bicarakan ini dengan baik dan jangan bikin dia sakit hati!" ucap Saka.
Sahira mengangguk lemah, "Iya mas, aku paham kok apa yang harus aku lakuin nanti. Kamu boleh pulang sekarang mas, keburu malam terus nanti ada gangster loh mas kalau gak cepat-cepat pulang," ucapnya.
"Gapapa, saya tunggu sampai ibu kamu keluar aja. Saya mau mastiin kamu bisa tahan amarah dan gak terlalu emosi," ucap Saka.
"Terserah kamu deh mas," ucap Sahira singkat.
Lalu, Fatimeh pun menjawab dari dalam dengan suara teriakan lantangnya. Wanita itu membuka pintu dan tersenyum lebar melihat kehadiran Sahira serta Saka disana, ia tampak sangat antusias menyambut kepulangan putrinya yang habis pergi bersama kekasihnya tadi.
__ADS_1
"Eh kalian ternyata udah pulang, kok cepat banget sih? Ini masih jam sepuluh loh, harusnya lanjut terus sampe tengah malam!" ujar Fatimeh.
"Enggak tante, Sahira katanya udah ngantuk. Jadi ya saya antar aja dia pulang," ucap Saka.
"Oh gitu, yaudah ayo pada masuk aja! Nak Saka juga mampir dulu yuk, biar saya bikinin minum!" ajak Fatimeh dengan ramah.
"Eee gausah tante, saya mau langsung pulang aja. Kasihan Sahira kelihatannya capek dan butuh istirahat," ucap Saka menolak.
"Beneran nih gausah? Emang kamu gak capek juga?" tanya Fatimeh.
"Iya tante, saya mau pulang sekarang biar gak kemalaman. Oh ya, ini saya juga bawakan pesanan tante yang tadi. Semoga tante suka ya sama makanannya!" jawab Saka.
"Wah iya iya makasih ya nak Saka!" Fatimeh langsung tersenyum sumringah dan mengambil bungkus makanan itu dari tangan Saka.
"Sama-sama tante, eee kalo gitu saya pamit dulu ya tante? Sahira, saya pulang dulu. Assalamualaikum," ucap Saka berpamitan.
"Waalaikumsallam," ucap Sahira dan Fatimeh.
Saka pun berbalik dan pergi dari sana dengan mobilnya, sedangkan Sahira masuk ke dalam rumah bersama sang ibu. Di dalam, Sahira meminta ibunya berhenti sejenak untuk berbincang dengannya. Tampaknya Sahira sudah tidak sabar ingin segera menanyakan perihal foto yang ditunjukkan Saka tadi kepadanya.
"Bu, aku mau bicara sebentar sama ibu. Ada yang pengen aku tanyain nih," pinta Sahira.
"Yah elah ribet amat sih lu! Gue tuh pengen makan, udah lapar nih. Nanti aja tanya-tanya nya, gue udah gak sabar mau nyobain makanan ini," ucap Fatimeh dengan ketus.
"Sebentar aja Bu, ini soal penting. Gak bakal nyampe lima menit kok Bu, aku cuma mau tanya dan aku harap ibu bisa jawab dengan jujur," ucap Sahira sedikit memaksa.
"Apa sih emang yang mau lu tanyain Sahira? Buruan deh!" ujar Fatimeh.
"Eee begini Bu, aku pengen tahu aja apa benar ibu malam itu pergi ke bar dan bersama laki-laki tua?" tanya Sahira pada intinya.
Fatimeh sontak terkejut, ia menatap tajam wajah putrinya dengan penuh emosi dan tampak tak terima karena Sahira menanyakan hal itu lagi padanya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...