Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 101. Nawal sadar


__ADS_3

Nawal menggeleng dengan cepat, "Aku gak mau pergi, aku mau tetap disini sama kamu. Kalau aku pergi, nanti kamu enak-enakan lagi berduaan sama sekretaris kamu yang kecentilan itu!" ujarnya.


"Emangnya kenapa kalau aku berduaan sama Sahira? Dia itu sekretaris aku, jadi wajar lah kalo kami sering berduaan," ucap Alan membela diri.


"Ya tapi kan—"


"Nawal cukup!" bentak Alan dengan keras dan tegas hingga membuat nyali Nawal ciut.


Gadis itu merengut sembari menatap wajah Alan yang terlihat sangat emosi, Alan mendekatinya dan mencengkram rahangnya kuat sampai Nawal harus berusaha keras melepaskan diri. Alan tak perduli dengan rengekan Nawal, dia terlanjur emosi dan tidak mau mendengar apapun.


"Dengar ya Nawal, kamu pergi sekarang atau aku akan sakitin kamu! Pasti kamu gak mau kan lihat rahang kamu geser atau malah patah?" ancam Alan.


Deg!


Nawal terbelalak kaget mendengar ancaman yang dilontarkan mantannya itu, ia semakin takut dan berusaha keras untuk melepaskan diri. Akan tetapi, Alan yang sudah terlanjur emosi memiliki tenaga yang lebih kuat dibanding Nawal, sehingga gadis itu tidak mungkin bisa melepaskan cengkeramannya karena kalah tenaga.


"Mmppphhh Alan lepasin! Iya iya, aku bakal pergi dari sini. Tapi please, lepasin dulu tangan kamu Alan!" rengek Nawal.


Alan akhirnya menurut dan melepaskan rahang Nawal dari cengkeraman nya, ia melirik sekitar dan banyak sekali karyawannya yang tampak memperhatikan mereka. Sontak saja Alan berdehem, lalu para karyawan itu langsung pergi begitu saja karena takut.


"Sekarang giliran kamu yang pergi Nawal, tepati omongan kamu dan jangan bantah! Atau aku akan dengan mudah mematahkan rahang kamu itu," ucap Alan mengancam.


"Iya ish, sabar dong masih sakit tau!" ujar Nawal yang mengusap-usap rahangnya.


Disaat Alan hendak pergi, tiba-tiba sebuah suara berat meneriaki namanya dari arah belakang yang membuat ia terkejut.


"ALAN!"


Mereka berdua kompak menoleh, tampak seorang pria berdiri disana menatap ke arah mereka. Rupanya itu adalah Leonil, alias sepupu Alan yang sudah jarang ia temui. Alan pun tak menyangka kalau sepupunya itu bisa datang ke kantornya saat ini, padahal sudah bertahun-tahun mereka berpisah dan Alan tak pernah mendengar kabarnya.


Sedangkan Nawal terlihat heran saat melihat lelaki tampan tersebut berjalan menghampirinya, Nawal memang belum mengenali siapa Leonil karena sejak menjalin hubungan dengan Alan, Leonil sudah tidak tinggal di kotanya. Tentu saja Nawal sangat penasaran dan tertarik pada Leonil.


"Sayang, cowok itu siapa? Kamu kenal sama dia? Kok dia panggil nama kamu gitu aja sih?" tanya Nawal pada mantannya itu.


"Bisa gak kamu stop panggil aku sayang kayak gitu?! Jujur aku muak dengarnya, rasanya aku mau muntah sekarang juga di depan kamu kalau kamu terus begitu!" kesal Alan.


"Ish kamu kok gitu sih? Aku kan cuma tanya dia siapa sayang," ucap Nawal.


Alan hanya diam tak menggubris ucapan Nawal, ia fokus menatap sepupunya yang kini sudah berada di depannya sambil tersenyum. Tampak Leonil menyapa Alan dan berpelukan dengannya, mereka berdua saling melepas rindu karena sudah cukup lama tak bertemu.


"Apa kabar kamu Alan? Udah lama banget kita gak ketemu kayak gini, makin keren aja kamu dilihat-lihat!" ucap Leonil.


"Hahaha, bisa aja kamu Leon. Oh ya, kamu datang kesini sama siapa? Terus dari kapan?" tanya Alan.


"Baru aja semalam aku mendarat, bareng sama tunangan aku. Rencananya aku mau kenalin dia ke orang tua aku nanti," jawab Leonil.


"Ohh, wih keren ya dapat pacar dari luar negeri!" ucap Alan tersenyum.


Lalu, Leonil beralih menatap Nawal yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. Leonil pun mengira jika Nawal adalah kekasih sepupunya itu, ia langsung berkata pada Alan sambil terus memperhatikan Nawal yang tampak tersenyum ke arahnya dengan manis.


"Nah, ini pasti pacar kamu kan Alan? Cantik ya?" ujar Leonil menunjuk tubuh Nawal.


Nawal tersenyum saat Leonil berkata seperti itu, ia reflek menggandeng tangan Alan dan merapatkan tubuhnya untuk lebih menunjukkan kedekatan dirinya dengan Alan di depan Leonil. Tapi tentu saja, Alan langsung melepaskan genggaman Nawal karena ia merasa risih.

__ADS_1


"Apaan sih kamu? Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan ya! Mentang-mentang Leonil kira kita pacaran, terus kamu berani pegang tangan saya!" tegur Alan.


"Kamu kok kasar gitu sama aku sayang? Kamu akui aja kali di depan dia, kita kan emang pacaran sayang," ucap Nawal manja.


"Iya Lan, udah kamu santai aja sama aku mah. Lagian dia cantik kok, kenapa kamu gak mau dia jadi pacar kamu?" ujar Leonil.


"Enggak Leon, dia bukan pacar aku. Dulu kami memang punya hubungan, tetapi sekarang semuanya sudah berakhir. Jadi, diantara kami sudah tidak ada apa-apa lagi," ucap Alan.


"Bohong, kita masih pacaran kok. Cuma emang Alan ini suka malu-malu aja kalo di depan orang lain, ya kan sayang?" ucap Nawal.


"Diam kamu Nawal! Jangan ngarang cerita di depan sepupu aku! Leon, yang dibilang dia itu gak bener jadi kamu jangan percaya ya sama dia!" sentak Alan.


"Okay, terserah kamu aja deh Lan. Mending kita bahas yang lain aja, gimana?" ucap Leonil.


"Nah aku setuju, kalo gitu ayo kita ke ruangan aku di lantai atas! Kita bicara sambil duduk santai dan minum-minum, pasti kamu haus kan?" usul Alan.


"Pas tuh, kebetulan banget aku emang lagi haus," ucap Leonil setuju.


Alan langsung merangkul pundak sepupunya dan melangkah bersamanya menuju lift, mereka meninggalkan Nawal begitu saja meskipun Nawal terus berteriak keras karena kesal. Alan sengaja tak memperdulikan mantan kekasihnya itu, karena ia sudah muak dengan semua sikap Nawal.


Nawal yang emosi hanya bisa diam di tempatnya sambil terus meneriaki Alan, tampaknya gadis itu sudah menyerah karena terbukti ia tak berani menyusul atau mendekati Alan lagi untuk saat ini. Bahkan, Nawal juga berhenti berteriak setelah tahu Alan dan Leonil sudah menjauh darinya.


"Huft, gak ada gunanya juga aku teriak-teriak disini berharap Alan mau dengerin aku. Dia kayaknya emang udah gak cinta sama aku, harusnya aku pergi bukan malah kayak gini," gumam Nawal.


Gadis itu menghela nafas sejenak, sebelum berbalik dan memilih meninggalkan tempat itu karena dirasa sudah tidak ada gunanya lagi ia berada disana. Ya sepertinya Nawal kini menyerah, ia akan mengikhlaskan Alan dan tak lagi mengejarnya. Nawal sadar jika sekeras apapun ia berusaha, tidak akan mungkin dapat membuat Alan kembali mencintainya. Hari yang terluka karena pengkhianatan, akan sangat sulit untuk disembuhkan. Apalagi berharap bisa memiliki lelaki itu kembali.




Setelahnya, Sahira meminta Bram yang mengetuk pintu dan memanggil ibunya untuk mengetes seperti apa reaksi sang ibu nantinya. Bram pun menurut, ia bergerak maju dan mulai memanggil Fatimeh dengan suara tidak terlalu keras sesuai apa yang diperintahkan Sahira tadi.


Di luar dugaan, Fatimeh langsung menyahuti panggilan Bram dengan sebutan 'sayang'. Sontak saja Sahira dan Saka melongok lebar mendengar ucapan Fatimeh itu, begitu juga dengan Bram yang merasa syok dan semakin gugup karena Fatimeh justru melakukan kesalahan besar.


"Ya sayang, sebentar!" begitulah suara yang terdengar di telinga ketiganya, Fatimeh dengan santainya mengucapkan itu karena ia tak tahu bahwa di luar sana terdapat Sahira dan juga Saka.


Ceklek


Begitu pintu dibuka, betapa terkejutnya Fatimeh saat melihat keberadaan putrinya bersama sang Saka yang tengah berdiri di dekat Bram. Sontak Fatimeh yang kaget reflek menutupi mulutnya dan menyesali apa yang ia katakan tadi, ia khawatir jika Sahira semakin menaruh curiga padanya.


"Eh Sahira, lu kok balik lagi sih? Bukannya lu udah pergi kerja ya tadi?" tanya Fatimeh dengan gugup.


"Iya Bu, ini aku. Ibu pasti kaget ya ada aku disini yang dengar semua ucapan ibu? Tenang aja Bu, aku cuma mau mastiin aja kok ada hubungan apa diantara ibu dan om Bram," ucap Sahira santai.


"Maksud lu apa sih? Gue sama Bram cuma teman, lu gausah lebay deh! Gue aja gak pernah larang lu dekat sama cowok kan?" ujar Fatimeh.


"Aku tau Bu, tapi tindakan yang ibu lakuin ini salah. Ibu panggil om Bram sayang, itu artinya ibu ada hubungan spesial dong sama dia. Kenapa ibu mesti bohong sama aku?" ucap Sahira.


"Gue gak bohong, kita emang cuma temen. Ya tapi gue sering aja panggil dia sayang, begitupun sebaliknya. Apa salah?" ucap Fatimeh.


"Udah deh Bu, mending ibu ngaku aja terus kasih tahu ke aku ada hubungan apa ibu sama om Bram!" pinta Sahira.


"Lo emang susah dikasih tau ya? Gue sama om Bram gak ada apa-apa, lu ngerti gak sih yang gue omongin?!" sentak Fatimeh.

__ADS_1


Saka pun tergerak untuk melindungi gadisnya, "Tante, tahan tante! Tante gak boleh emosi dan bertindak kasar seperti itu ke Sahira!" ujarnya.


"Ah lu diem Saka! Gue tahu lu sengaja kan mojokin gue di depan Sahira, supaya dia benci sama gue dan gak mau tinggal bareng gue lagi! Lo emang benar-benar licik!" geram Fatimeh.


Sahira sontak menatap tajam wajah ibunya, "Ibu kok bicara begitu sih? Mas Saka bukan orang yang kayak gitu, jadi ibu jangan sembarangan bicara dong!" ucapnya membela sang kekasih.


"Ohh, lu lebih belain cowok ini dibanding gue? Ibu lu sendiri yang udah besarin lu dari kecil sampai sekarang, iya?" ujar Fatimeh.


"Bukan begitu Bu, aku—"


"Halah udah lah, gue kecewa sama lu Sahira!" sela Fatimeh dengan emosi.


Karena kesal, Fatimeh memutuskan mengunci pintu dan menarik tangan Bram begitu saja untuk dibawa pergi. Sahira yang tak rela akhirnya mencoba mengejar sang ibu, tetapi Saka malah menahannya karena tak ingin terjadi sesuatu pada kekasihnya itu nanti.


"Kamu disini aja ya Sahira? Biarin ibu kamu pergi sama cowok itu, kamu gausah kejar mereka!" pinta Saka.


"Mas, kamu apaan sih? Lepasin aku mas, aku mau susul ibu!" sentak Sahira.


"Tahan sayang, kamu nurut sama aku kali ini aja! Aku gak akan biarin kamu pergi kejar mereka, karena itu sama aja kamu membahayakan diri kamu sendiri sayang!" tegas Saka.


"Tapi mas, aku gak mau ibu pergi berduaan sama laki-laki itu. Jujur aku takut banget mereka berbuat khilaf, ini bulan puasa loh mas!" ucap Sahira panik.


"Kamu gausah cemas, kita bisa ikuti mereka perlahan-lahan dari belakang. Sekarang ayo kita susul aja mereka!" usul Saka.


Sahira mengangguk menyetujui usulan yang disampaikan Saka, mereka lalu melangkah bersamaan menyusul Fatimeh serta Bram yang sudah pergi menjauh lebih dulu. Sahira sudah sangat cemas dengan kelakuan ibunya, ia ingin segera menyudahi hubungan sang ibu dengan laki-laki berkumis tersebut.


Namun, langkah mereka tiba-tiba terhenti saat kehilangan jejak Fatimeh. Ya mereka sudah tidak dapat melihat lagi keberadaan wanita itu di depan sana, tentu saja Sahira bingung dan tak tahu kemana perginya sang ibu saat ini, Sahira merasa panik mencari-cari ibunya.


"Duh mas, ibu kemana ya? Kok tiba-tiba ibu udah gak ada aja sih? Perasaan tadi ibu masih ada disana deh," tanya Sahira panik.


"Aku juga gak tahu Sahira, mungkin aja ibu kamu lagi ngumpet karena ngeliat kita yang lagi ngikutin mereka. Kita coba cari mereka dulu di sekitar sini, mungkin masih ada," ucap Saka.


Sahira menganggukkan kepalanya, "Iya mas, semoga aja ibu masih ada disini karena aku gak mau kehilangan jejak ibu!" ucapnya.


Mereka masih mencoba mencari keberadaan Fatimeh di sekitar sana, namun tampak ya Fatimeh dan juga Bram sudah pergi jauh karena mereka tidak dapat menemukan keberadaan dua manusia itu disana. Sahira pun terlihat kebingungan dan merutuki dirinya sendiri yang telah gagal membuat sang ibu menjauh dari si lelaki.


"Haish, aku gak bisa deh ikutin ibu. Kita ketinggalan jejak, ini semua gara-gara kamu mas! Coba aja kamu gak cegah aku dulu tadi, pasti kita gak akan kehilangan jejak!" ucap Sahira kesal.


Saka mengernyitkan dahinya, "Kok kamu jadi nyalahin aku? Tadi kan aku cegah kamu biar kita bisa ikutin ibu kamu," ucapnya membela diri.


"Ah udah lah, aku malas debat! Aku mau lanjut cari ibu, tolong kamu bilangin ke pak Alan kalau hari ini mungkin aku izin gak masuk kerja!" ucap Sahira.


Disaat Sahira hendak pergi, Saka kembali menahannya dengan mencekal lengan gadis itu. Tentu saja Sahira semakin merasa kesal, ia menatap ke arah kekasihnya sembari mendengus menunjukkan kekesalan yang ia rasakan karena ulah pria itu.


"Mau apa lagi mas? Aku harus pergi sekarang, aku gak mau ibu terjerumus ke dunia gelap, aku pengen tolong ibu!" ucap Sahira.


"Tenang dulu Sahira! Kamu gak bisa selesaikan masalah dengan emosi, kamu harus bisa sabar dan lakukan semuanya dengan tenang! Kamu nurut sama saya ya?" ucap Saka.


Sahira terdiam, namun menurutnya apa yang dikatakan Saka itu benar adanya. Sahira pun menurut dan menghela nafasnya untuk menenangkan diri, saat itu juga Saka melepas tangan Sahira karena dirasa Sahira sudah dapat mengontrol emosinya.


"Sahira!" tiba-tiba saja ada yang memanggilnya, membuat mereka berdua menoleh bersamaan ke arahnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2