
Saka mendatangi kampung tempat Sahira tinggal sebelumnya. Pria itu memang belum tahu jika Sahira sudah pindah dari sana dan tidak ada lagi di tempat itu, oleh karenanya Saka kini datang kesana bermaksud mengecek kondisi Sahira yang sudah dua hari ini tidak pergi ke kantor untuk bekerja.
Saka bergegas turun dari mobilnya, ia melangkah mendekati rumah itu sembari menatap sekitar. Ia merasa heran, sebab disana cukup sepi seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan dalam rumah Sahira terlihat sangat gelap, tidak biasanya tentu Sahira tak menyalakan lampu di siang hari seperti ini, apalagi sandal-sandal yang biasanya tergelatak di depan, kini tidak ada lagi.
"Loh, kok rumah Sahira kosong begini ya? Dia kemana coba? Apa jangan-jangan, Sahira sama tante Imeh udah pindah?" gumam Saka kebingungan.
Disaat ia tengah bingung memikirkan hal itu, tiba-tiba mobil lainnya muncul disana dan berhenti tepat di belakang mobil Saka. Sontak Saka menoleh ke arahnya, ia penasaran siapa yang datang saat ini. Tak lama, tampak seorang wanita turun dari mobil itu dan tersenyum menatapnya.
"Floryn?" ya, yang dilihat Saka adalah Floryn. Gadis itu lah yang datang kesana.
"Halo bang!" Floryn menyapa pria itu sembari melambai dan tersenyum, membuat Saka salah tingkah kali ini.
"Eh iya, halo Floryn! Ka-kamu kok bisa ada disini sih?" tanya Saka keheranan.
"Iya bang, tadi gak sengaja aja aku lihat mobil kamu lewat kencang banget. Karena aku penasaran, yaudah deh aku ikutin buat mastiin kalau kamu baik-baik aja," jelas Floryn.
"Oalah, saya kira kamu emang sengaja datang kesini karena mau ketemu Sahira," ujar Saka.
"Umm, emangnya ini rumah siapa bang? Aku aja belum tahu daerah ini, baru sekarang aku datang kesini," ucap Floryn.
"Oh gitu, iya ini tuh rumahnya Sahira sama ibunya. Saya kesini buat temuin mereka, tapi ternyata mereka udah gak ada disini," ucap Saka.
"Loh mereka pindah? Emangnya kamu gak tahu?" tanya Floryn.
Saka menggeleng, "Sahira gak bilang apa-apa sama aku, padahal aku ini pacarnya. Udah berapa hari ini juga aku gak ketemu sama dia, entah dia marah atau kenapa sama aku," jawabnya.
"Kamu jangan salah sangka dulu! Bisa aja Sahira lagi ada urusan lain, coba deh kamu hubungi nomor dia sekarang!" usul Floryn.
"Boleh." Saka setuju dengan usulnya.
Lalu, Saka mengambil ponselnya dan coba menghubungi nomor Sahira. Akan tetapi, telponnya itu malah direject dan membuatnya semakin kalut kali ini. Saka berpikir kalau Sahira sengaja menghindar darinya, karena tak biasanya Sahira berani menolak telponnya seperti itu.
"Kenapa bang?" tanya Floryn penasaran.
"Direject, ini sih fix Sahira emang lagi menghindar dari aku. Kayaknya semua gara-gara masalah malam itu deh," ucap Saka.
"Duh, yaudah kamu yang sabar aja ya! Mungkin kita bisa cari Sahira di sekitar sini, atau tanya-tanya ke warga yang tinggal disini. Siapa tahu mereka ada yang bisa bantu kamu," ucap Floryn.
"Oh iya benar, kalau gitu aku mau cari orang dulu deh disini. Eee kamu mau ikut atau enggak?" ucap Saka.
"Ah ikut!" jawab Floryn cepat.
"Oke, yaudah yuk kita jalan kaki aja! Mobilnya biarin disini dulu, insyaallah aman kok," ucap Saka.
"Iya bang," ucap Floryn singkat.
Mereka pun pergi dari sana untuk menanyakan mengenai Sahira kepada orang-orang di kampung itu, jujur Saka sangat panik dan tidak bisa tinggal diam begitu saja setelah tahu Sahira pergi dari tempat tersebut. Sedangkan Floryn memang sengaja ingin menemani Saka, sebab hari ini gadis itu tidak memiliki kegiatan apa-apa di hidupnya.
Keduanya terus jalan-jalan mengelilingi kampung sampai menemukan orang yang bisa mereka tanyakan mengenai keberadaan Sahira, dan ya betul saja tak butuh waktu lama akhirnya mereka berhasil bertemu dengan salah seorang warga disana yang ternyata adalah Awan serta Wati. Tentunya Saka mengenal mereka, sebab ia pernah beberapa kali bertemu dengan keduanya.
"Ah permisi, kalian teman-temannya Sahira kan? Bisa saya minta waktunya sebentar buat tanya-tanya?" ucap Saka.
"Eee iya, kamu tuh kalau gak salah pacarnya Sahira kan? Ngapain kamu disini, terus kamu mau tanya apa sama kita? Emangnya kita pernah punya urusan ya?" heran Awan.
"Eh enggak kok, bukan gitu. Saya cegat kalian karena saya mau menanyakan soal Sahira," ucap Saka santai.
"Hah? Kenapa sama Sahira?" kaget Wati.
__ADS_1
"Iya, jadi saya tadi ke rumahnya. Dan ternyata Sahira udah gak tinggal disana lagi, kira-kira kalian tahu gak dia pindah kemana?" tanya Saka.
"Ohh, emangnya kamu belum tahu kalau Sahira udah pindah?" ucap Awan.
Saka menggeleng sambil tersenyum, "Enggak tuh, saya malah baru tahu sekarang ini dari kamu. Makanya tadi saya kaget banget waktu ke rumah Sahira dan ternyata disana kosong," ucapnya.
"Ah iya, Sahira kan pindah kemarin lusa sama ibunya. Dadakan banget lagi," ucap Awan.
"Oh ya? Terus, kalian kira-kira ada yang tahu gak Sahira dan bu Fatimeh pindah kemana? Kalau ada, tolong kasih tahu ke saya ya!" ucap Saka.
"Waduh, saya sih gak tahu dah tuh mereka kemana. Tapi, barangkali nih pacar saya tau," ucap Awan sembari menunjuk ke arah Wati.
Sontak Wati terkejut dan membelalakkan matanya, "Eee aku juga gak tahu Sahira dimana, dia gak ada bilang apa-apa sama aku," ucapnya berbohong.
"Masa sih? Kemarin bukannya kamu abis ketemuan sama Sahira ya?" ujar Awan.
Deg!
Seketika Wati panik dibuatnya, gadis itu sangat kebingungan dan tak tahu harus menjawab apa. Ia sebenarnya tidak ingin menyembunyikan ini dari Saka, namun semua itu ia lakukan atas perintah Sahira dan tidak mungkin ia menolaknya. Kini Wati pun sangat bingung, terlebih Saka yang terus saja mencecarnya meminta untuk diberitahu.
•
•
Alan beralih membuang muka, ia ragu untuk menceritakan semua yang ia lihat sebelumnya tentang Saka kepada Sahira. Tapi tentu Sahira bukan orang yang mudah menyerah, gadis itu terus saja memaksa Alan untuk bercerita dan bahkan berani menarik wajah Alan agar kembali menatap ke arahnya sembari mencengkeramnya kuat.
"Alan, ayo kamu cerita sama aku! Aku yakin kamu tahu sesuatu, iya kan?" paksa Sahira.
"Kamu beneran nih mau tau, hm? Kamu gak akan menyesal gitu nantinya setelah aku ceritain semua itu ke kamu?" tanya Alan memastikan.
"Iya aku serius, udah cepat kamu cerita sekarang sama aku dan jangan banyak omong!" ucap Sahira.
Sahira menggeleng, "Enggak, aku gak tahu tuh. Emang siapa wanitanya?" ucapnya.
"Dia Floryn, orang yang jadi pacar pura-pura aku. Awalnya aku juga gak percaya mereka selingkuh di belakang kamu, tapi kemarin aku lihat sendiri di depan mata aku secara langsung. Mereka itu datang temuin aku bareng-bareng, dan mereka kelihatan mesra banget loh," jawab Alan.
"Hah? Masa sih mas Saka begitu? Apalagi sama Floryn, rasanya gak mungkin," ucap Sahira.
"Terserah kamu mau percaya atau enggak, intinya aku udah cerita sejujurnya ke kamu," ucap Alan.
Sahira terdiam saja, rasanya ia masih belum percaya dengan kata-kata Alan kalau ternyata Saka berselingkuh di belakangnya. Apalagi Saka dikatakan memiliki hubungan dengan Floryn, ya tentu saja sulit bagi Sahira untuk percaya, sebab Sahira yakin Saka tidak akan begitu. Selama ia mengenal pria itu, tak ada sedikitpun ciri-ciri yang membuatnya yakin bahwa Saka adalah orang yang mudah terpikat oleh wanita.
Namun, Sahira juga tidak yakin jika Alan sedang berbohong. Menurutnya, tak ada gunanya bagi Alan untuk membohongi dirinya karena diantara mereka juga tidak ada keinginan apa-apa. Sahira pun dihadapkan pada kebingungan yang amat sangat, ia tidak tahu harus percaya dengan perkataan Alan atau tetap yakin pada kekasih yang ia cintai itu.
"Eee yaudah ya, kalo gitu aku permisi dulu? Aku gak enak sama ibu kamu kalau lama-lama disini, kamu juga kan mau sarapan," ucap Alan pamit.
"Hah? Kenapa buru-buru banget? Kamu ikut masuk aja dulu, kita makan sama-sama!" ucap Sahira.
Alan menggeleng, "Enggak, mana berani aku ikut kamu sarapan bareng. Nanti yang ada ibu kamu malah semakin marah loh sama kamu, jadi mending aku pergi aja deh," ucapnya menolak.
"Hm okay, biar aku antar sampai ke mobil kamu!" ucap Sahira.
Kali ini pria itu mengangguk setuju, dengan perlahan ia bangkit dari duduknya dan berjalan lebih dulu menuju mobilnya. Sahira pun mengikuti dari belakang, tapi kemudian Alan justru berhenti melangkah secara mendadak dan nyaris membuat Sahira menabraknya. Untung gadis itu masih sempat menghindar, kini Sahira bahkan berdiri di sebelah Alan dan menatapnya bingung.
"Lan, kamu kenapa malah diam? Ada yang lagi kamu pikirin ya pasti? Kamu cerita aja sama aku kalau emang gak keberatan, insyaallah aku bisa bantu kamu kok!" ucap Sahira cemas.
Alan melirik Sahira dengan dingin, "Gak kok, yang aku lagi pikirin ya kamu aja," ucapnya santai.
__ADS_1
Deg!
Seketika Sahira terbelalak mendengar pengakuan Alan barusan, namun ia masih berusaha tenang dan menganggap semua itu hanya gurauan saja. Sahira yakin kalau Alan tak mungkin serius mengatakannya, terlebih yang ia tahu saat ini Alan sedang dekat dengan seorang gadis cantik yang kala itu ia temui di cafe.
"Apa sih Lan? Kamu mah hobinya bikin aku kaget aja deh, serius kamu sebenarnya ada masalah apa?" ucap Sahira.
Bukannya menjawab, Alan justru mendekat dan meraih dua tangan Sahira untuk digenggam. Jujur jantung Sahira langsung berdetak tak karuan saat Alan menyentuhnya dari jarak dekat, padahal ini bukan kali pertama pria itu melakukannya. Dan juga Sahira sudah sering berpegangan tangan dengan lelaki, termasuk Saka.
"Aku serius Sahira, buat apa aku bohong? Aku emang selalu mikirin kamu di dalam kepala aku, aku gak bisa lupain kamu sampai detik ini. Aku masih cinta sama kamu, dan selamanya akan terus begini Sahira!" ucap Alan dengan serius.
"Apa??" Sahira tersentak mendengarnya, tak ada sedikitpun ia mengira kalau Alan masih mencintai dirinya sampai sekarang ini.
"Iya Sahira, kali ini aku jujur sama kamu. Aku cinta dan sayang banget sama kamu, aku belum bisa ikhlas kamu pacaran dengan bang Saka. Maka dari itu, aku mau kamu jadi milik aku!" tegas Alan.
Sahira menggeleng perlahan, "Gak, itu gak mungkin Alan. Kamu jangan ngada-ngada deh!" ucapnya.
"Kenapa? Apa karena kita saudara? Atau karena kamu cinta sama bang Saka?" tanya Alan.
Gadis itu terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa. Jika ingin jujur, maka Sahira memang juga mencintai pria di hadapannya itu. Tetapi, Sahira pun perlahan-lahan sudah mulai mencintai Saka yang statusnya kini adalah kekasihnya. Lagipula, tak mungkin jika Sahira akan meninggalkan Saka begitu saja.
•
•
Disisi lain, Carol datang ke kantor Alan dengan pakaian rapih serta membawa berkas yang diperlukan untuk melamar pekerjaan disana. Ya itu semua ia lakukan demi mengikuti prosedur yang ada, meski Alan telah berulang kali mengatakan bahwa Carol tidak perlu menyerahkan berkas miliknya karena pasti Alan akan langsung menerimanya dan mempekerjakannya disana.
Begitu sampai, gadis itu langsung melangkah masuk ke dalam kantor sembari menyapa dua orang security yang berjaga di depan itu. Lalu, Carol tampak celingak-celinguk seperti orang bingung karena ia belum tahu semua ruangan yang ada di kantor itu. Carol pun berusaha mencari Alan, sebab hanya pria itu yang bisa membantunya saat ini agar ia tidak terus kebingungan.
"Duh, Alan kemana ya? Ditelpon gak bisa, dichat gak dibalas. Dia lupa apa gimana sih kalau aku mau kesini?" gumam Carol.
Disaat Carol sedang menatap layar ponsel dan arloji jamnya, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang dan membuat gadis itu terkejut. Ia segera menoleh, lalu matanya membelalak lebar ketika melihat yang ada di depannya saat ini adalah Nawal alias wanita mantan kekasih Alan.
"Halo! Kamu sekretarisnya pacar saya yang baru itu kan?" ucap Nawal sambil tersenyum.
"Eh, i-i-iya saya Carol. Ada apa ya mbak?" ucap Carol gugup, jujur ia masih takut ketika mengingat kejadian waktu itu.
"Kamu tenang aja, saya gak akan apa-apain kamu kok!" ucap Nawal menyentuh pundak gadis itu.
"Eee mbak, saya kesini cuma mau kasih lamaran ini ke HRD kok. Saya beneran gak ada niat buat goda pak Alan seperti yang waktu itu mbak tuduhkan ke saya," ucap Carol gemetar.
"Ah iya iya, saya ngerti kok. Omong-omong siapa nama kamu sih? Saya lupa deh waktu itu," ucap Nawal kebingungan.
"Saya Carol, mbak." Carol mengenalkan diri kepada Nawal disertai senyuman tipisnya.
"Oh iya itu dia, hai Carol! Yaudah, yuk saya antar kamu ke ruang HRD buat serahin berkas kamu! Kebetulan saya kan pacarnya bos disini, jadi saya tahu seluk beluk ruangan di kantor ini. Kamu tenang aja ya Carol!" ucap Nawal.
"I-i-iya mbak, makasih. Tapi, kayaknya saya mau pulang aja deh. Mungkin besok atau lusa baru saya kembali kesini," ucap Carol.
"Loh kenapa? Nanti kamu kehilangan pekerjaan ini loh? Ingat, ini tuh perusahaan besar dan sudah banyak orang yang mengincar lowongan disini!" ucap Nawal.
"Gapapa mbak, sa-saya permisi!" ucap Carol gugup.
"Tunggu Carol!"
Baru saja Carol hendak pergi, Nawal justru kembali menggenggam tangan gadis itu dan menahannya agar tidak pergi dari sana. Sontak Carol mengurungkan niatnya, ia berhenti lalu menatap wajah Nawal dengan bingung. Sedangkan Nawal hanya tersenyum saja memandangi gadis di hadapannya, membuat Carol bertambah bingung.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...