
Pasangan kekasih Sahira dan Saka itu telah tiba di kantor tempat mereka bekerja. Selain berpacaran, mereka memang juga bekerja di satu tempat yakni sebagai bos dan asisten pribadi. Tentu Saka sangat bahagia dengan hal ini, sebab ia bisa lebih dekat dengan gadisnya itu.
Mereka pun turun dari mobil dan langsung bergandengan tangan, namun wajah Sahira tampak menunjukkan kalau dirinya masih dibalut kesedihan akibat perkataan ibunya tadi. Sahira juga merasa bersalah karena ia tidak bisa membuat ibunya bahagia dan tercukupi sampai sekarang.
"Sahira, kamu kenapa sedih gitu? Kamu masih mikirin soal hubungan ibu kamu dan om Bram ya?" tanya Saka penasaran.
Gadis itu mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca, "Iya mas, a-aku sedih karena belum bisa bikin ibu bahagia. Rasanya aku telah gagal jadi seorang anak," jawabnya.
"Hey, kamu gak boleh bicara begitu sayang!" Saka langsung mendekap erat tubuh gadisnya bermaksud menenangkan gadis itu.
"Kamu itu sosok anak yang baik loh Sahira, kamu juga berbakti sama ibu kamu selama ini karena kamu sudah mau menghidupi dia walau kamu tau dia bukan ibu kandung kamu," sambungnya.
"Tapi tetap aja mas, aku rasa aku belum cukup buat bikin ibu bahagia. Aku benar-benar ngerasa gagal mas," ucap Sahira terisak.
"Sudah sudah sayang, kamu gak perlu sedih begitu terus dan jangan diambil hati ya soal perkataan ibu kamu tadi! Aku mau kamu gak sedih lagi, udah ya stop nangisnya!" ucap Saka mengusap air mata di wajah gadisnya.
"Hiks hiks.." Sahira menangis sesenggukan di dalam dekapan kekasihnya itu.
Setelahnya, Sahira bisa lebih tenang saat Saka mengusap punggungnya. Gadis itu berhenti menangis dan berniat masuk ke dalam kantor bersama kekasihnya, tapi kemudian tiba-tiba saja sebuah mobil juga berhenti tepat di dekat mereka dan seorang wanita turun dari sana.
"Hey Saka!" wanita itu menyapa si pria, ya dia adalah Syera alias mamanya.
Saka pun tampak tak menyukai keberadaan Syera disana, tatapannya seolah menunjukkan bahwa ia sangat malas bertemu dengan wanita itu. Namun, Syera yang sadar tetap memilih mendekati mereka berdua karena ia hanya ingin melihat-lihat seperti apa kedekatan sepasang kekasih itu.
"Tante, assalamualaikum!" sapa Sahira yang langsung mencium tangan calon mama mertuanya itu disertai senyuman lebar.
"Waalaikumsallam cantik," balas Syera.
Entah kenapa, lagi-lagi Syera merasa seperti tidak asing ketika Sahira menyentuh tangannya. Syera seolah sedang bertemu dan bertatapan langsung dengan anaknya yang lama hilang, tetapi Syera tak mau terlalu berharap karena itu semua mungkin saja hanya perasaannya semata.
"Mama ngapain kesini? Ada urusan apa?" tanya Saka tiba-tiba dengan nada ketus.
Syera pun terkejut, lamunannya seketika buyar dan ia reflek beralih menatap wajah Saka dengan bingung. Sedangkan Sahira juga terlihat heran lantaran Saka bertindak seolah tak menyukai keberadaan mamanya disana, padahal Syera adalah orang tua pria itu juga.
"Eee mama tadi kebetulan aja lewat dekat sini, jadi mama milih buat mampir deh ke kantor kamu. Rencananya mama mau cek kondisi kamu disini sayang, eh gak tahunya ada Sahira juga," ucap Syera sambil tersenyum santai.
"Buat apa sih ma? Mama gak perlu lah datang kesini segala!" ketus Saka.
"Iya iya, maaf ya kalau mama ganggu kalian? Mama cuma sebentar kok, abis ini mama akan pergi. Kalian berdua langgeng terus ya, mama senang lihatnya!" ucap Syera.
Saka diam saja seraya memalingkan wajahnya, Sahira yang ada di dekat pria itu pun merasa tidak enak pada Syera. Sahira langsung tersenyum ke arah Syera agar tidak membuat Syera merasa sakit hati atas sikap Saka barusan.
•
•
Alan terdiam, ia semakin merasa kasihan pada gadis di depannya itu. Alan pun berniat membantu Floryn untuk menyelesaikan masalahnya, menurutnya juga apa yang dikatakan Floryn ada benarnya, dan ia sendiri juga bisa kabur dari perjodohan dengan Nawal yang dilakukan papanya.
"Kalo gitu aku setuju buat bantu kamu, aku mau kita pura-pura pacaran. Toh itu juga ngebantu diri aku sendiri buat lepas dari perjodohan," ucap Alan.
"Nah bener kan, yaudah besok kamu ikut aku ya ke rumah!" ucap Floryn semangat.
Alan kembali membelalakkan matanya, "Apa? Kenapa buru-buru banget sih? Gak bisa lain waktu itu?" tanyanya kaget.
"Loh emang kenapa? Lebih cepat lebih baik kan?" heran Floryn.
"Ya iya sih, tapi kan kita baru kenal loh Floryn. Kamu gak takut ketipu apa sama aku gitu? Aku ini hitungannya kenalan baru kamu loh, gak ada rasa curiga sama sekali apa gitu?" ujar Alan.
"Enggak tuh, aku tahu kamu orang baik. Aku bisa lihat dari cara bicara kamu ke aku," ucap Floryn.
"Oh ya? Waw keren dong aku, baru kali ini loh ada yang bilang aku baik!" ucap Alan tergoda.
__ADS_1
"Masa sih? Aku kira udah banyak orang yang kamu mau bantu, soalnya ketahuan dari sikap kamu ke aku sekarang," ucap Floryn.
"Enggak kok, aku jarang bantu orang. Eh ya, kamu puasa apa enggak?" tanya Alan.
Floryn terdiam dan menundukkan wajahnya, sedetik kemudian ia menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan pria itu. Sontak Alan terkejut, namun ia masih coba berpikir positif kalau mungkin saja Floryn sedang mengalami halangan seperti wanita pada umumnya.
"Ohh, kamu pasti lagi halangan ya?" tebak Alan.
"Hah? Gak kok, aku gak halangan. Aku emang gak puasa aja, karena aku bukan muslim," jawab Floryn menjelaskan.
Deg!
Seketika harapan Alan hancur saat itu juga, ia tak mungkin bisa bersama Floryn yang ternyata memiliki agama berbeda dengannya. Tentu saja Alan tak mau terjebak dalam percintaan beda agama, ia sudah yakin jika akhirnya pasti mereka akan berpisah.
"Kamu kenapa? Kamu gak mau bantu aku ya karena aku bukan muslim? It's okay gapapa kok," tanya Floryn tampak bersedih.
Alan pun terkejut dibuatnya, "Hah? Bukan gitu, aku tadi kaget aja dengarnya. Kalau masalah bantu, insyaallah aku bisa bantu kamu kok," jawabnya.
"Bagus deh, aku kira kamu berubah pikiran setelah tahu aku bukan muslim. Makasih ya Alan, kamu udah baik banget sama aku!" ucap Floryn.
"Sama-sama Floryn, yaudah berarti kamu kan gak puasa. Terus kamu udah makan apa belum nih?" tanya Alan.
"Belum, emang kenapa? Mau nemenin aku makan?" ujar Floryn.
"Eee mau-mau aja sih," ujar Alan gugup.
"Ahaha, gausah lah Alan. Kamu kan lagi puasa, kalau kamu kepengen gimana? Aku juga yang dosa nantinya tau," ucap Floryn.
"Iya sih, kalo gitu kamu aja yang makan. Aku tunggu kamu dari luar, gimana?" usul Alan.
"Boleh," singkat Floryn setuju.
Lalu, keduanya sama-sama bangkit dari tempat itu dan pergi menuju restoran. Meskipun Alan masih kecewa, tetapi ia tak ingin membuat Floryn merasa dipermainkan jika ia tidak jadi membantunya. Apalagi Floryn sekarang sudah benar-benar dibuat hancur oleh keluarganya sendiri.
•
•
Akhirnya Sahira coba mendekati pria itu, ia berdiri tepat di belakangnya dengan kedua tangan ditaruh di masing-masing pundak Saka. Tentu saja Saka yang tengah berkutat dengan laptopnya dibuat kaget dengan perlakuan gadisnya itu, Saka menoleh ke belakang dan tersenyum sembari mengelus punggung tangan kekasihnya itu.
"Apa sayang? Kamu pengen manja-manja sama aku ya? Sabar dong, sekarang kan lagi jam kerja. Nanti pas istirahat, baru deh kamu bisa puas-puasin mesra sama aku," ucap Saka.
"Enggak mas, aku cuma mau tanya sama kamu. Tadi kenapa kamu ketus gitu waktu mama kamu datang kesini? Kayak yang gak suka," ucap Sahira.
"Kamu bicara apa sih? Perasaan aku biasa-biasa aja deh sama mama, aku gak ada ketus apalagi gak suka kalau mama kesini. Mungkin cuma perasaan kamu aja kali sayang," ucap Saka mengelak.
"Ya aku gak tahu sih, tapi tadi aku lihatnya begitu. Soalnya kamu tuh kan beda banget sikapnya pas lagi sama aku dan ibu kamu," ucap Sahira.
"Gak lah sayang, aku gak gitu kok. Masa iya aku jutek sama ibu aku sendiri? Kamu gak perlu mikirin itu ya Sahira, mending sekarang kamu duduk lagi deh biar gak pegel!" ucap Saka.
"Gapapa aku berdiri aja, sekalian mau pijitin pundak kamu," ucap Sahira.
Saka sontak melebarkan senyumnya mendengar penuturan Sahira, "Wah beneran nih sayang? Bukan aku yang minta loh ya, tapi kamu yang nawarin ke aku," ucapnya.
"Ahaha, iya mas iya aku tahu kok. Justru aku emang lagi pengen pijat kamu, aku tahu kalau kamu lagi kecapekan," ucap Sahira.
"Baguslah, kamu ternyata emang pacar yang pengertian deh. Kalo gitu tolong pijat bagian sini ya!" ucap Saka menunjuk belakang pundaknya.
"Siap mas bosku!" singkat Sahira.
Saka terkekeh saja mendengarnya, kemudian ia mulai menegakkan tubuhnya agar memudahkan Sahira untuk memijatnya. Sembari ia juga fokus menatap layar laptop dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda, dengan senang hati tentunya Sahira memijat pundak kekasihnya.
__ADS_1
"Gimana mas, enak gak pijatan aku?" tanya Sahira sambil terus memijat.
"Mmhhh lumayan sayang, tapi agak kerasan dikit ya biar lebih berasa!" pinta Saka.
"Iya iya nih dikerasin deh," Sahira menurut dan kemudian memijat lebih keras lagi.
Saka pun dibuat merem melek oleh sensasi pijatan Sahira, ia sampai tak fokus bekerja karena sangking enaknya. Bahkan Saka juga terus meracau menikmati pijatan tersebut hingga siapa saja yang mendengarnya pasti akan merasa salah paham.
"Uhh enak banget sayang, kamu emang pintar deh!" gumam Saka.
Dan benar saja, dari luar ruangan tampak Amel yang hendak masuk ke dalam sana menemui Saka pun terkejut mendengar suara tersebut. Amel mengira jika Saka tengah melakukan enak-enak bersama Sahira disana, tentu saja Amel pun menggeleng sekaligus tak menyangka.
"Wah wah wah, baru beberapa hari masuk aja udah begini. Kacau banget sih tuh cewek, gak bisa didiemin nih yang kayak gini!" lirih Amel.
•
•
Keira tampak heran melihat Ari datang ke kantornya dengan wajah murung, sontak ia langsung menghampiri pria itu dan berdiri di dekatnya dengan penasaran. Sedangkan Ari terlihat belum menyadari keberadaan sang kekasih disana, sebab dia masih melamun saja memikirkan lelaki yang sedang bersama Awan di tempat tadi.
Keira langsung saja menepuk pundak Ari dari belakang dan membuat pria itu terkejut, ia tersenyum ketika Ari menoleh ke arahnya dan lalu menarik tangan kekasihnya itu serta membawanya menuju tempat duduk. Ari menurut saja dan ikut duduk bersama Keira di tempat yang tersedia, sembari terus saling bergandengan tangan.
"Sayang, kamu kenapa sih ngelamun aja kayak gitu? Lagi ada yang dipikirin ya pasti? Cerita dong sama aku sayang!" ucap Keira dengan lembut.
"Eee gak ada kok, aku cuma nungguin kamu tadi. Kamu kan lagi kerja ya, kenapa malah nyamperin aku? Harusnya kamu fokus kerja aja dulu sayang, nanti kamu dimarahin loh!" ucap Ari.
"Gapapa, sebentar lagi kan jamnya istirahat. Lagian juga lagi gak ada kerjaan nih," ucap Keira.
"Oh gitu, pantas aja aku dibolehin masuk tadi sama pak satpam. Omong-omong bos kamu ada di dalam gak sayang?" ucap Ari.
Keira menggeleng pelan, "Enggak tuh, pak Alan lagi ada urusan di luar katanya," ucapnya.
"Oalah, terus kamu bisa gak ikut aku sebentar ke luar? Ya dekat-dekat sini aja, aku mau ngobrol sama kamu sayang," tanya Ari.
"Umm, bisa bisa aja sih kan udah jam istirahat. Emang kamu mau ngobrolin apa?" ucap Keira.
"Nanti aja aku kasih tau begitu kita sampai di tempatnya," ucap Ari.
"Okay, yaudah yuk kita ke taman samping kantor aja! Kebetulan disana asri tau, ada air mancur nya juga lagi lucu banget deh. Terus bisa lihat kolam ikan disana," usul Keira.
"Iya iya, aku ngikut kamu aja sayangku," ujar Ari sembari mencubit pipi gemas kekasihnya.
Setelahnya, mereka berdua langsung pergi menuju tempat yang diinginkan oleh gadis itu dan keluar dari kantor. Namun, baru saja mereka melangkah tiba-tiba Leonil alias sepupu Alan datang kesana dan membuat sepasang kekasih itu menghentikan langkahnya di halaman kantor.
"Selamat datang pak Leon!" Keira langsung menyambut pria itu dengan ramah.
"Terimakasih, ada Alan kan di dalam? Saya mau ketemu sama dia sekarang, ada urusan penting yang mau saya bicarakan ke dia," ucap Leonil.
"Yah maaf pak, tapi pak Alan kebetulan sedang pergi ke luar. Sedari pagi beliau tidak datang kesini pak," ucap Keira.
"Oalah, kok tumben sih dia gak datang? Perasaan dia setiap hari selalu kesini deh," heran Leonil.
"Entahlah pak, mungkin pak Alan sudah cuti duluan. Sebentar lagi kan hari raya," tebak Keira.
Leonil terkekeh kecil, "Yaudah, nanti biar saya cari dia. Omong-omong ini siapa Keira? Dia karyawan sini juga?" ujarnya melirik ke arah Ari.
"Eh bukan pak, kenalin ini teman saya namanya Ari!" jawab Keira.
Ari tersentak mendengarnya, ia tentu tak terima dengan jawaban Keira barusan yang mengatakan jika dirinya hanyalah seorang teman. Padahal hubungan mereka lebih daripada itu, ya hampir semua orang tahu jika mereka adalah sepasang kekasih yang saling cinta.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...