
TOK TOK TOK...
Carol yang sedang berbaring di atas ranjang sembari memainkan ponselnya, terkejut saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar kamar kostnya. Sontak gadis itu bangkit karena penasaran, ia coba mengecek lebih dulu melalui jendela agar tidak terjadi sesuatu yang buruk nantinya jika ia memilih langsung membuka pintu.
Dan begitu ia mengintipnya, Carol sangat kaget karena ternyata yang ada di luar sana adalah Saka. Ya Saka adalah kakak kandung dari Alan, tentu Carol tahu itu dan dia kini terlihat kebingungan harus membuka pintu atau tidak. Carol yakin sekali kalau kedatangan Saka kesana adalah untuk mencari Alan, namun saat ini Alan sudah tidak ada di tempatnya karena pria itu baru saja pergi.
Ceklek
Disaat Carol membuka pintu, dengan hati-hati ia coba mendekati Saka sembari menunduk karena bingung harus berkata apa kepada Saka kali ini. Tak mungkin jika Carol jujur pada Saka dan mengatakan apa yang terjadi sebelumnya diantara dirinya dengan Alan, karena pasti Saka akan sangat kecewa pada kelakuan adiknya yang hampir saja merenggut kesucian gadis orang.
"Umm bang Saka, halo! Ada apa ya abang datang ke kost saya?" gugup Carol.
"Huh, saya kesini mau ketemu sama Alan. Dia masih ada di dalam kan? Tolong kamu bilang ke dia kalau saya datang, saya mau bicara penting!" ucap Saka dingin.
"Eee ta-tapi Alan udah gak ada di kost aku, bang. Dia baru aja pergi beberapa waktu lalu, aku udah sempat tahan dia tapi tak bisa," ucap Carol.
"Oh ya? Saya gak percaya sama kamu, pasti dia ada di dalam. Biarkan saya masuk dan cek secara langsung, karena saya ingin memastikan!" ucap Saka tegas.
"Bang, tapi Alan emang udah gak ada. Abang juga gak bisa main masuk gitu aja dong, ini kost perempuan loh!" ucap Carol.
Saka mengernyit dibuatnya, "Itu kamu tahu kalau ini kost perempuan, lalu kenapa kamu biarkan Alan menginap disini waktu itu? Apa kamu suka sama dia, hm?" ujarnya.
Dengan cepat Carol menggelengkan kepalanya, "Enggak, aku gak ada rasa kok sama dia. Tapi, dia yang maksa mau tidur disini waktu itu. Aku udah larang, cuma dia gak mau dengerin aku," elaknya.
"Masa? Terus kalian ngapain aja selama tinggal berdua disini? Gak mungkin kan cuma sekedar tidur bareng? Pasti ada something yang mungkin kalian lakuin," tanya Saka.
"Sumpah bang, aku sama Alan gak ngapa-ngapain! Kami cuma tidur dan bincang-bincang, dia juga banyak cerita ke aku soal masalahnya," jawab Carol terlihat panik.
"Yaudah, kalo gitu izinkan saya masuk ke dalam buat cek secara langsung!" pinta Saka.
"Jangan bang! Di dalam itu berantakan, aku belum sempat beres-beres tau. Abang percaya deh sama aku, aku gak mungkin bohong!" ucap Carol.
"Haish, bisa aja kan kamu sembunyikan dia di dalam?" tegas Saka.
"Enggak bang, beneran kok!" ucap Carol terus mencoba meyakinkan pria itu.
Namun, Saka tetap kekeuh ingin memeriksa sendiri di dalam sana apakah adiknya ada atau tidak. Saka pun menerobos begitu saja sembari sedikit mendorong tubuh Carol sampai nyaris terjatuh, pria itu benar-benar kesal dan langsung mencari-cari dimana Alan. Carol tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah, karena disana memang tidak ada Alan.
Saka pun terus melangkah di sekeliling kamar kost itu, menyusuri tempat tersebut demi menemukan keberadaan adiknya. Akan tetapi, ia tidak berhasil mendapatkan Alan di sekitar sana dan membuat dirinya sedikit kebingungan. Saka langsung berhenti kali ini, ia usap wajahnya kasar sambil mengacak-acak rambut karena gagal mencari sang adik di kamar kost gadis itu.
"Haish, kamu dimana sih Alan? Kok bisa kamu gak ada disini, padahal waktu itu kamu kan nginep di tempat ini. Saya harus cari kamu kemana lagi coba?" gumam Saka.
Tak lama kemudian, Carol datang menghampiri pria itu dan berdiri di hadapannya. Ia merasa lega karena Saka telah tahu kalau di tempat tinggalnya saat ini sudah tidak ada sosok Alan, namun ia juga terlihat kasihan pada Saka lantaran pria itu gagal dalam menemukan adiknya. Padahal ia bisa lihat kalau Saka amat menyayangi Alan, tapi Alan sendiri justru pergi-pergian entah kemana.
"Bang, benar kan yang aku bilang tadi? Aku tuh gak bohong, Alan emang gak ada disini," ucap Carol.
"Iya iya, saya minta maaf karena saya tadi sempat tidak percaya sama kamu. Sekarang saya tahu kalau kamu gak bohong, sekali lagi saya minta maaf ya?" ucap Saka.
"Okay, karena ini bang Saka abangnya Alan ya aku mau deh maafin abang. Tapi, lain kali jangan begini lagi ya bang!" ucap Carol.
Saka tersenyum seraya mengusap puncak kepala gadis itu, "Saya pastikan ini tidak akan terjadi lagi, kalo gitu saya pamit ya? Saya harus cari Alan sampai ketemu sekarang," ucapnya pamit.
"Iya bang, tapi aku boleh ikut gak? Aku juga pengen ketemu sama Alan, kayaknya dia masih ada di sekitar sini deh," pinta Carol.
"Oh ya? Yaudah, kamu ikut aja sama saya! Kebetulan juga saya butuh teman ngobrol, karena daritadi saya cari Alan itu sendirian terus gak ada yang nemenin," ucap Saka.
__ADS_1
Carol terkekeh mendengarnya, lalu ia bergegas mengambil tas dan merapihkan rambutnya sekilas sebelum berangkat bersama Saka. Ya mereka berdua pun melangkah keluar menuju mobil pria itu, masuk ke dalam sana dan duduk berdampingan di kursi bagian depan. Tak lupa Saka membantu Carol memasang sabuk pengaman di tubuhnya, karena ia tak sengaja melihat gadis itu kesulitan melakukannya.
"Harusnya abang gak perlu bantuin aku, aku juga bisa sendiri kok. Emangnya abang ngira aku orang kampung yang gak biasa naik mobil ya?" ucap Carol merengut.
Saka terkekeh dibuatnya, "Hahaha, kamu kok sensitif banget sih? Saya cuma bantu loh, masa gitu aja kamu marah?" ujarnya.
"Ya lagian abang seolah-olah merendahkan aku, padahal kalau cuma gitu doang mah aku bisa. Kan aku udah pernah naik mobil bareng Alan," ucap Carol.
"Iya deh, yaudah sekarang kita cari Alan kemana ya? Kamu tahu gak?" tanya Saka.
"Umm, kayaknya kesana aja deh bang! Soalnya tadi terakhir kali aku lihat Alan pergi ke arah sana sama mobilnya," jawab Carol menunjuk jalan.
"Oh okay, kita cari kesana!" ucap Saka setuju.
Tanpa berlama-lama lagi, Saka segera memacu mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan tempat tersebut. Saka juga berharap untuk bisa menemukan adiknya, karena sudah berhari-hari ia berusaha mencari tetapi gagal untuk membawa sang adik pulang ke rumah. Padahal Syera dan Alfian sudah sangat gelisah karena Alan tak kunjung pulang, bahkan Syera terus menangis.
•
•
Alan kini berada di sebuah warung pinggir jalan untuk sekedar membeli minuman, ia duduk sebentar disana sembari meminum segelas susu yang baru saja ia beli. Rasanya kepala Alan begitu terasa pening saat ini, sebab semua masalah yang sedang menimpanya belum ada satupun yang selesai. Mulai dari permasalahan keluarganya, sampai sekarang percintaan yang ia alami.
Disaat ia sedang asyik minum sambil berusaha menenangkan diri, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekatnya dan tampak seorang perempuan cantik turun dari mobil itu lalu berjalan ke arahnya dengan wajah bingung. Ya perempuan itu adalah Floryn, dia terkejut ketika melihat Alan berada disana. Maka dari itu, Floryn bergegas mendekati Alan untuk menanyakan sesuatu pada pria itu.
"Loh Alan, kamu ada disini? Pantas aja aku cari kamu kemana-mana gak ketemu, ternyata kamu malah lagi asyik minum disini," ujar Floryn.
"Flo, kenapa kamu bisa kesini? Kamu sengaja ya ngikutin aku?" tanya Alan keheranan.
"Hah? Gimana caranya aku bisa ikutin kamu, Alan? Aku aja baru tau sekarang kamu ada disini, tadi aku gak sengaja lihat mobil kamu disitu. Yaudah, aku langsung samperin aja kamu," jelas Floryn.
Floryn menggeleng penuh heran, "Bukan kok, emangnya kamu sama Carol kenapa sih? Kalian lagi berantem ya?" ujarnya.
"Eee gak kok, cuma lagi ada masalah sedikit aja. Ya syukurlah kalau dia gak hubungin kamu," ucap Alan sembari menenggak susunya.
Floryn tersenyum dan ikut duduk di sebelah pria itu, tak lupa ia juga memesan satu gelas es susu sama seperti yang dipesan oleh Alan. Sontak Alan menoleh ke arahnya dan tampak kebingungan, pasalnya dia baru tahu kalau Floryn juga suka minum di warung pinggir jalan seperti ini. Padahal warung itu merupakan tempat yang jarang didatangi oleh orang sekelas Floryn.
"Kamu kenapa pesan susu juga? Mau ngikutin aku ya?" tanya Alan bermaksud menggoda.
"Ah enggak, emang aku kepengen aja. Abisnya ngeliatin kamu minum tuh kayak enak banget gitu, yaudah aku ikutan pesan," jawab Floryn.
"Sama aja dong, artinya kamu pesan karena ngikutin aku. Emang ya cewek itu sukanya ngikut cowok mulu?" goda Alan.
"Dih gak juga sih, sok tahu banget sih kamu!" elak Floryn seraya mengembungkan pipinya.
"Eh eh, btw kamu abis darimana mau kemana ini? Atau emang kamu sengaja keliling-keliling buat cari aku, kangen ya?" ucap Alan.
"Ya iya sih aku emang pengen cari kamu, tapi bukan berarti aku kangen sama kamu. Aku tuh mau bantuin bang Saka aja, karena dia kasihan banget tau kebingungan nyariin kamu," jawab Floryn pelan.
"Oh ya? Eh omong-omong, kamu sama bang Saka itu ada hubungan apa sih? Kayaknya kalian berdua dekat banget ya aku lihat-lihat?" tanya Alan.
"Maksud kamu? Ki-kita gak ada hubungan apa-apa kok," heran Floryn.
"Kamu jangan bohong, Flo! Aku tahu kamu dan bang Saka diam-diam menjalin hubungan, buktinya kamu tahu kalau dia sekarang lagi bingung cari aku. Itu tandanya kalian punya sesuatu, ya kan?" ucap Alan tegas.
Deg!
__ADS_1
Floryn menggeleng pelan tak percaya dengan kata-kata yang diucapkan pria itu, sedangkan Alan masih terus menatap ke arah Floryn meminta wanita itu jujur padanya saat ini. Akhirnya Floryn terpaksa membuang muka, ia merasa tak tahan jika terus bertatapan dengan Alan dalam posisi seperti ini. Ia khawatir nantinya justru ia akan mengatakan yang tidak-tidak pada pria itu.
"Kenapa kamu buang muka? Apa kamu benar ada hubungan sama bang Saka? Ingat Flo, bang Saka itu udah punya kekasih loh!" ucap Alan.
"Aku tahu Lan, aku juga gak mungkin pacaran sama bang Saka. Aku itu cuma bantu dia buat cari kamu, please lah kamu percaya dong sama aku jangan kayak gini!" ucap Floryn kesal.
"Okay, yaudah gausah marah-marah begitu! Aku percaya kok sama kamu, tapi tolong jangan kasih tahu bang Saka soal keberadaan aku!" ujar Alan.
"Kenapa sih Lan? Kamu kok gak mau banget pulang ke rumah? Kasihan loh orang tua kamu, mereka kangen banget sama kamu! Ayolah, kamu pulang ya Lan!" bujuk Floryn.
Alan menggeleng perlahan, "Gak mau, aku masih pengen tenangin diri dulu. Kecuali kamu mau jadi pacar beneran aku," ucapnya.
Deg!
"Uhuk uhuk uhuk!!" Floryn tersedak dan batuk-batuk dibuatnya akibat mendengar ucapan Alan barusan.
•
•
Sahira tengah bersama Bayu di dalam mobilnya, gadis itu terpaksa menerima ajakan Bayu untuk pergi jalan-jalan dengannya kali ini karena ia tak memiliki pilihan lain. Sebenarnya Sahira khawatir jika kedekatannya dengan Bayu akan membuat pria itu salah paham, namun ia juga tak mungkin bisa menolak permintaan Bayu di cafe tadi.
Kini keduanya pergi bersama-sama menuju tempat yang entah apa itu, sebab Bayu tidak memberitahu apa-apa pada Sahira mengenai tempat yang akan mereka tuju saat ini. Sahira pun lebih banyak diam kali ini, karena ia tak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Sedangkan Bayu sendiri tampak ragu untuk mengobrol dengan Sahira, dan akhirnya mereka berdua malah sama-sama terdiam tanpa ada yang berani berbicara.
"Umm Bay, sebenarnya lu mau bawa gue kemana? Maaf nih ya, soalnya gue belum tahu jalanan sekitar sini. Gue jadi bingung deh kita ini mau kemana," tanya Sahira penasaran.
Bayu tersenyum tipis sembari menoleh ke arah Sahira, "Ya Sahira, ini gue mau ajak lu ke tempat yang seru. Kayak mall gitu, ya emang mall sih sebenarnya. Tapi, tempat ini lebih asyik daripada mall biasanya," jawabnya.
"Ohh, tapi kan kalau mall pasti tempat belanja dong? Gue gak punya uang Bay, lu mah ada-ada aja sih kalo ajak gue pergi!" ucap Sahira.
"Ahaha, udah ah lu gausah mikirin yang kayak gitu! Soal uang dan belanjaan serahin aja ke gue, gue jamin lu bisa beli apapun yang lu mau tanpa perlu khawatir!" ucap Bayu.
"Hah? Duh Bay, gausah kayak gitu deh gue gak mau. Yang ada gue malah ngerepotin lu, mending kita ke tempat lain aja ya?" ucap Sahira.
"Gapapa, lu kayak sama siapa aja sih. Lagian gue tuh emang sengaja kok pengen nyenengin lu, karena gue tahu kalau lu lagi banyak masalah. Benar kan yang gue bilang?" ucap Bayu.
"Eee lu tahu darimana?" tanya Sahira keheranan.
Bayu malah tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Sahira, tentu saja Sahira jadi penasaran dan khawatir kalau Bayu ternyata tahu apa yang sedang ia alami saat ini. Ia juga berpikir keras, apakah ibunya yang sudah menceritakan semua kepada Bayu sebelumnya. Namun, Sahira tetap mencoba berpikir positif kalau tidak mungkin ibunya melakukan tindakan seperti itu.
"Lu penasaran ya? Selow, gue gak tahu kok masalah lu apaan. Gue cuma tebak aja kalau lu lagi punya banyak masalah, dan ternyata benar tebakan gue," ucap Bayu tersenyum lebar.
"Hadeh, lu mah bikin gue panik aja! Jadi, lu jebak gue nih ya? Huh dasar nyebelin!" cibir Sahira.
"Sorry Ra, jangan marah gitu dong!" kekeh Bayu.
Sahira memutar bola matanya dan beralih menatap ke arah lain, tiba-tiba saja ia membulatkan mata ketika tak sengaja melihat sesuatu di luar sana. Sontak Sahira langsung meminta Bayu untuk menghentikan mobilnya, dan tentu Bayu terkejut dengan itu karena dia sedang fokus menyetir. Untung saja Bayu bisa mengerem dengan baik tanpa membuat kecelakaan.
"Eh Bay, berhenti Bay!" teriak Sahira sambil menepuk-nepuk bahu pria itu.
Ciiittt
Bayu langsung menginjak pedal rem dengan kuat saat Sahira meminta itu, nafasnya tersengal-sengal disertai detak jantung yang tak karuan akibat terkejut. Masih untung ia bisa mengerem dengan selamat, dan kini matanya menatap ke arah Sahira yang justru terlihat santai sembari menatap ke luar kaca mobil.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...