Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 28. Minta balikan


__ADS_3

Wati yang sedang menggowes sepedanya, tanpa sengaja kembali dipertemukan dengan Alan yang baru pergi dari rumah Sahira. Sontak Wati merasa takut ketika melihat mobil milik pria yang sebelumnya ia tabrak itu ada di depannya, ia langsung membuang muka dan pura-pura tidak melihatnya lalu mencoba pergi dengan cepat.


Namun, upayanya itu tak berhasil sebab Alan lebih dulu membuka kaca mobilnya dan berteriak memanggil namanya. Wati pun terpaksa berhenti, ia tak mau urusannya menjadi panjang jika ia memaksa kabur dari sana. Walau tentu Wati sangat takut berhadapan dengan Alan, ia khawatir pria itu akan menagih janjinya untuk ganti rugi.


"Hey Wati!" teriak Alan dengan lantang.


Gadis itu menoleh dan berhenti sejenak, ia turun dari sepedanya lalu menghampiri Alan yang sudah menunggunya disana. Alan tetap berdiam di dalam mobilnya, menunggu saja sampai Wati sampai di dekatnya tanpa turun dari mobil, sebab Alan hanya akan berbicara sebentar dengan gadis itu.


"Ya pak, ada apa ya? Kalau bapak mau tagih uang ganti rugi hp bapak yang waktu itu, saya minta maaf pak saya belum ada. Tapi, akan saya usahakan kok pak," ucap Wati gugup.


"Sssttt, jangan salah paham dulu dan duga-duga hal yang belum pasti! Saya panggil kamu justru mau bilang kalau kamu udah gak perlu mikirin masalah ganti rugi itu lagi," ucap Alan.


Seketika Wati syok berat mendengarnya, ia terperangah dengan mulut terbuka lebar. "Ba-bapak serius? Bapak gak lagi bercanda atau mau prank saya doang kan?" ia masih tak percaya, sebab ia sudah sering diprank seperti itu.


"Buat apa saya bercanda? Saya serius kok bicara seperti tadi, memang saya ingin menyudahi semua biar diantara kita gak ada urusan lagi," ucap Alan.


"Tapi pak, handphone bapak gimana?" tanya Wati.


"Itu sudah jadi urusan saya, kamu tenang aja karena saya punya banyak uang jadi saya bisa perbaiki handphone saya sendiri!" jawab Alan.


Wati benar-benar sangat bahagia saat ini, ia reflek mendekat dan mencium tangan Alan dengan sumringah. "Makasih banyak pak, makasih! Saya senang banget dengernya, sekali lagi terimakasih ya pak!" ucapnya penuh keceriaan.


Alan yang mendapat perlakuan seperti itu, terdiam selama beberapa detik menatap Wati yang masih saja menciumi tangan serta lengannya. Tampaknya Wati memang sangat bahagia sampai tak mau berhenti mengucap kata terimakasih, bahkan Alan saja sudah bosan mendengarnya.


"Sudahlah, kamu tidak perlu berlebihan begini. Sekarang kamu bisa pergi dan lanjut jualan!" ucap Alan.


"I-i-iya pak, saya minta maaf ya atas kelancangan saya barusan?" ucap Wati.


"Ya gak masalah sih, wajar aja kamu begitu karena kamu lagi senang. Oh ya, omong-omong kamu sejak kapan jualan bunga kayak gini?" tanya Alan.


"Eee udah lumayan lama sih pak, sejak saya butuh uang yang banyak buat bayar kontrakan dan kebutuhan lainnya," jawab Wati.


"Ohh, boleh dong saya beli satu bunganya. Nah yang itu tuh kayaknya bagus," Alan menunjuk ke salah satu bunga dagangan Wati yang ingin ia beli.


"Boleh banget pak, tapi khusus bapak saya kasih gratis aja. Itung-itung tanda terimakasih karena bapak mau memaafkan saya," ucap Wati.


"Gausah, saya bayar aja. Gak enak lah saya dikasih gratis, kamu kan butuh uang," tolak Alan.

__ADS_1


"Gapapa kok pak, saya—"


"Udah gausah banyak protes, atau saya gak jadi nih beli dagangan kamu!" sela Alan.


"Eh iya iya pak, sebentar saya ambilkan dulu ya?" ucap Wati.


Alan mengangguk, Wati pun berbalik dan pergi untuk mengambil bunga dagangannya. Setelah itu, ia kembali lalu menyerahkan bunga itu pada Alan. Saat Alan membayar, Wati sungguh terkejut dengan uang yang diberikan pria itu. Ya ada sepuluh lembar uang seratus ribu di tangan Alan.


"Ini bunganya, pak." Wati tersenyum seraya memberikan bunga indah itu pada Alan.


Alan ikut tersenyum menerima bunga dari tangan Wati. "Terimakasih, Wati." tak lupa ia juga menyerahkan uang di tangannya pada Wati.


"Hah? Ini kebanyakan pak, harga bunganya cuma lima puluh ribu kok," ucap Wati.


"Gapapa, sisanya kamu ambil aja. Kamu lagi butuh uang kan? Ambil aja, gausah gengsi!" ucap Alan.


"Ih ini banyak banget pak, saya gak enak terimanya. Apalagi saya punya salah ke bapak sebelumnya," ucap Wati.


Alan menggeleng heran, tapi kemudian ia menarik tangan Wati dan meletakkan uang itu di telapak tangannya. Akhirnya Wati pun terpaksa menerimanya walau ia masih tak percaya jika Alan bisa berubah sebaik ini.




"Huh ayo Alan, kamu pasti bisa!" setelah menguatkan dirinya sendiri, Alan kini memutuskan bergerak mendekati rumah mantan gadisnya.


Sebelumnya Alan memang sudah mendapat izin masuk dari penjaga di rumah itu, tentu karena mereka semua mengenal Alan sebagai kekasih dari putri tuan mereka. Sehingga Alan bisa masuk dengan mudahnya ke dalam sana untuk menemui Nawal dan berupaya membujuknya.


"Semoga aja Nawal mau balikan sama saya!" doanya yang terus ia panjatkan.


Baru saja Alan hendak mengetuk pintu, namun Nawal sudah terlebih dahulu keluar dari dalam sana. Gadis itu muncul dan terlihat kaget saat melihat mantan kekasihnya ada disana, terlebih pria itu membawa bunga serta kotak perhiasan di tangannya yang entah untuk apa.


"Hai Nawal! Good night, selamat malam!" sapa Alan sambil tersenyum dan sedikit gugup.


"Eee kamu mau apa lagi kesini, Alan? Kurang jelas ya kata-kata aku waktu itu ke kamu? Aku minta diantara kita selesai dan udah gak ada apa-apa lagi," ucap Nawal.


"Aku ingat sayang, untuk itu aku datang kesini temuin kamu," ucap Alan.

__ADS_1


"Hah? Kalau kamu ingat, terus mau apa lagi kamu kesini Alan? Dan satu lagi ya, stop panggil aku sayang karena kita udah bukan pasangan lagi!" sentak Nawal.


"Aku mau kita balikan lagi Nawal, seperti dulu. Aku datang kesini bawain bunga dan kalung loh buat kamu, diterima ya sayang?" ucap Alan.


"Aku gak mau terima itu, kamu mending pulang deh dan bawa semua barang-barang itu! Aku juga udah gak mau ketemu kamu lagi!" ujar Nawal.


"Kenapa Nawal? Kenapa seolah-olah kamu benci banget sama aku? Salah aku apa? Coba bilang dong sama aku sayang!" tanya Alan heran.


"Ya kamu pikir aja sendiri!" ketus Nawal.


Nawal kesal dan hendak berbalik, namun dengan sigap Alan mencekal lengannya dari belakang, menahan gadis itu agar tetap disana bersamanya.


"Tunggu Nawal, aku belum selesai bicara!" pinta Alan.


"Ish lepasin! Apa sih yang mau kamu bicarain lagi? Semuanya udah cukup jelas ya Alan!" ucap Nawal.


"Belum, aku belum mendapat penjelasan dari kamu kenapa kamu mutusin aku gitu aja!" ucap Alan.


"Apa kata-kata aku kemarin kurang jelas, ha? Aku harus pergi ke luar negeri buat lanjutin kuliah aku Alan, kamu gak paham?" kesal Nawal.


"Aku gak percaya, kamu pikir aku bisa semudah itu percaya?" ucap Alan geleng-geleng.


"Terserah kamu, emang itu kok alasan aku. Udah ah lepasin atau aku teriak nih sekarang juga!" ancam Nawal.


"Aku gak akan lepasin kamu, teriak aja kalau emang kamu mau!" tantang Alan.


"Oh, kamu nantang? Jangan salahin aku ya kalau aku minta satpam buat usir kamu dari sini!" ujar Nawal.


Alan tak gentar, ia mempersilahkan Nawal untuk berteriak sesuka hatinya. Menurutnya, ia tidak salah sebab ia datang kesini hanya untuk bicara baik-baik dan tidak ada niat jahat sedikitpun pada Nawal.


"Toloongg!! Tol—" teriakan Nawal terpotong saat seseorang memanggilnya dari dalam.


"Sayang, siapa yang datang?" keduanya sama-sama menoleh ke asal suara, dan betapa terkejutnya Alan ketika melihat Royyan keluar dari rumah gadis itu.


"Royyan??" Alan sampai tercengang dibuatnya.


"Hah lo?" pria bernama Royyan itu juga ikut kaget melihat kehadiran Alan disana.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2