
Wati bangkit dari duduknya, memegang erat barang dagangan miliknya dan berusaha juga melindungi uangnya agar tidak diambil oleh ketiga preman tersebut. Namun, langkahnya dihadang oleh tiga pria itu sehingga Wati pun tidak bisa pergi kemana-mana.
"Eits, kamu mau kemana cantik? Serahin dulu semua uang kamu, baru kamu bisa pergi dengan selamat. Kalau enggak, ya kita bakal kasar ke kamu sayang!" ucap si preman.
"Jangan! Gue mohon jangan apa-apain gue! Gue bakal lakuin apapun yang kalian mau, tapi tolong biarin gue pergi dari sini!" rengek Wati.
Seketika tiga preman itu langsung berubah ekspresi, mereka saling pandang dan tersenyum seolah merencanakan sesuatu. Tentu saja Wati semakin ketakutan, ia mencoba menjauh dari tiga preman itu meskipun jalan di sekitarnya sudah tertutup oleh mereka.
"Kamu yakin mau ngelakuin apa aja yang kita mau? Kamu siap kalau harus puasin kita bertiga demi keselamatan kamu?" tanya si preman.
Glek
Wati menelan saliva nya dan semakin dibuat cemas, perlahan ketiga preman itu terus mendekat dengan tatapan mesum mereka. Wati benar-benar menyesali perkataannya tadi.
"Ja-jangan! Jangan deketin gue! Gue gak mau!" teriak Wati.
"Hahaha... hahaha..." ketiganya tertawa bersamaan sembari terus mendekat ke arah Wati.
"Aaaaa jangan!" Wati berteriak keras sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Ayo sayang, ikut sama kita yuk!" ajak seorang preman yang sudah tepat di depan wajah Wati.
Ketika tangan preman itu hendak menyentuh tubuh Wati, tiba-tiba saja seseorang berteriak dan mendorong preman itu menjauh dari Wati.
Bruuukkk
"Sial!" umpat si preman sembari menahan tubuhnya agar tak terjatuh.
"Heh! Lu siapa? Jangan ikut campur urusan kita!" sentak preman yang satu.
Sontak Wati membuka matanya dan melihat ke arah pria yang baru saja menolongnya itu, betapa kagetnya ia ketika terdapat sosok pria tampan berpakaian rapih berdiri di dekatnya.
"Saya bukan mau ikut campur, saya cuma gak suka kalau kalian melecehkan perempuan seperti ini!" ujar si pria penolong.
"Lo emang minta dihajar ya!" preman itu emosi dan langsung maju berniat memukul si pria, tetapi berhasil ditahan.
Bugghhh..
Justru preman itu malah ikut terjatuh seperti temannya saat mendapat pukulan balasan dari si pria, akibatnya temannya yang lain pun juga ikut emosi dan maju menyerang si pria. Namun, lagi-lagi dia juga tersungkur ke jalan seperti dua teman-temannya.
"Aaarrgghh payah lu semua! Masa lawan satu orang aja kalian kalah?" tegur si preman.
__ADS_1
"Bawel lu! Lu aja udah jatuh duluan gara-gara dia!" balas temannya.
Lalu, si pria penolong itu pun melangkah mendekati ketiga preman yang sudah tersungkur di depannya. Ia tersenyum menyeringai dan mengulurkan tangan ke arah mereka, sontak saja ketiga preman itu pun dibuat bingung.
"Ngapain lu ulurin tangan segala? Lu mau ngeledek kita, ha?" tanya si preman.
"Ya ampun, kalian ini suudzon aja sama orang. Saya mau bantu kalian loh, tapi habis itu saya bawa kalian ke kantor polisi," jawab si pria.
"Kurang ajar! Kita gak mau masuk penjara, lu jangan sembarangan!" sentak si preman.
"Yaudah, mending kalian pergi sana dan jangan pernah ganggu cewek ini lagi!" usir si pria.
"I-i-iya, kita pergi deh. Ayo bro kita cabut aja daripada dibawa ke kantor polisi!" ucap si preman.
Ketiga preman bertato itu pun bangkit dan lari terbirit-birit menjauh dari sana, sedangkan si pria penolong beralih menatap Wati yang masih ketakutan.
"Hey! Kamu gak perlu takut lagi sekarang, mereka udah pergi kok," ucap si pria.
"Ma-makasih, tapi kamu siapa?" tanya Wati gugup.
"Saya Al-Saka Alfian, kamu bisa panggil saya Saka," jawab si pria itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Wati dan tersenyum lebar.
Sontak Wati menganga dengan jantung yang sudah berdegup tak karuan.
•
•
"Kamu kenapa bingung Sahira? Kamu takut kalau bos kamu yang arogan itu gak suka kita pergi berdua? Biarin aja Sahira, dia kan bukan siapa-siapa kamu!" ucap Awan.
"Bang, tolong ya jangan bicara yang enggak-enggak!" pinta Sahira.
"Loh apa salah saya Sahira? Yang saya bicarakan barusan benar kan? Bos kamu itu bukan siapa-siapa kamu, dia cuma bos yang menurut saya terlalu ikut campur ke dalam urusan pribadi kamu Sahira," ucap Awan.
"Enggak ya bang, pak Alan itu gak kayak gitu. Justru kamu yang terlalu ikut campur ke dalam urusan aku!" sentak Sahira.
"Kamu lebih belain bos kamu itu daripada saya? Hey Sahira, ingat loh dia cuma orang baru di hidup kamu!" ujar Awan.
"Ya aku tahu, tapi pak Alan ini orangnya baik dan dia gak seperti apa yang kamu tuduhkan. Jadi, kamu mending diam deh bang!" ucap Sahira.
"Okay saya diam, tapi kamu harus ikut sama saya malam ini!" paksa Awan.
__ADS_1
Awan bergerak maju dan hendak meraih tangan Sahira, namun dengan segera Alan menepis tangan Awan dan berdiri tepat di hadapan Sahira seolah melindungi gadis itu.
"Anda gak bisa paksa Sahira untuk ikut dengan anda, kalau dia tidak mau!" tegas Alan.
Sontak Awan menyeringai mendengar ucapan yang keluar dari mulut Alan, ia beralih mendekati pria itu sambil mengusap dagunya.
"Kamu berani atur-atur saya? Ingat ya, saya ini bukan karyawan kamu yang harus tunduk dan patuh sama kamu. Saya juragan disini, kedudukan kamu gak lebih tinggi daripada saya di kampung ini!" ucap Awan dengan sombong.
"Saya tidak perduli, saya cuma mau melindungi Sahira dari pria pemaksa seperti anda!" ucap Alan.
"Oh hahaha, bisa apa kamu? Lagian kamu itu gak punya hak buat larang Sahira ikut sama saya, kamu mending pergi deh sebelum kesabaran saya habis dan saya hajar kamu!" ujar Awan.
"Maaf, tapi saya tidak akan pergi sebelum saya pastikan Sahira aman!" tegas Alan.
"Emang kurang ajar lu ya!" geram Awan dengan tangan terkepal dan berniat memukul Alan.
Namun, Sahira bergerak maju menghalangi niat Awan yang ingin memukul bosnya. Gadis itu berdiri tepat di hadapan Alan seolah melindungi pria itu dari pukulan Awan, tentu saja Awan tak terima dan merasa Sahira sudah terpengaruh oleh Alan.
"Kamu ngapain sih Sahira? Kamu jangan halangi saya buat kasih pelajaran ke dia!" ucap Awan.
"Gak mau bang, aku gak akan menyingkir karena aku gak mau ada perkelahian disini!" sentak Sahira.
"Ohh, jadi kamu sekarang berpihak sama dia? Mentang-mentang kamu udah jadi karyawan dia, terus kamu lupain aku gitu aja?" ujar Awan.
"Gak gitu bang, aku cuma pengen gak ada pertikaian di sekitar rumah aku," ucap Sahira.
Awan terdiam, matanya melotot tajam menatap wajah Alan dengan penuh emosi. Rahangnya mengeras, menandakan Awan sangat emosi jika saja Sahira tak menahannya mungkin sudah terjadi pertarungan hebat di tempat itu.
Akhirnya Awan pun memilih pergi begitu saja tanpa pamit lebih dulu pada Sahira ataupun Alan, ia berbalik dan melangkah dengan kondisi emosi. Sahira merasa tidak enak karena sudah membuat Awan marah, namun ia juga tak punya pilihan lain karena bagaimanapun Alan adalah bosnya.
"Terimakasih Sahira, kamu sudah menolong saya dari orang itu yang ingin melukai saya. Kamu memang karyawan yang berbakti," ucap Alan.
"Sama-sama pak, saya juga cuma mau tidak terjadi pertikaian di depan rumah saya. Saya takut nanti akan ramai dan orang-orang pada datang kesini," ucap Sahira.
Cup!
Tiba-tiba saja Alan mendekat dan mengecup pipi Sahira tanpa aba-aba terlebih dulu, sontak Sahira melongok dan seketika pipinya memerah akibat kecupan singkat dari Alan yang jarang sekali dia lakukan sebelum ini.
"Oh my God, apa-apaan coba ini?!" batin Sahira.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...