Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 64. Belum kembali


__ADS_3

Tiba-tiba saja, seseorang menangkap semua kertas itu dengan satu tangan dan berjalan menghampiri Sahira. Gadis itu tersentak ketika menyadari yang datang itu adalah Saka, pasalnya sebelum ini hanya dirinya dan Alan lah yang hadir di meeting tersebut.


"Pak Saka?" lirih Sahira.


Alan yang melihat itu menjadi semakin tersulut, ia masuk begitu saja ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Sahira disana berdua dengan Saka. Sahira menganga tak percaya saat Alan sudah pergi jauh darinya, ia pun merutuki dirinya sendiri karena tidak benar dalam bekerja.


"Yah pak Alan udah pergi lagi, gimana dong ini? Masa iya aku balik ke kantor jalan kaki? Dari sini kesana kan jauh banget," Sahira terus bergumam sampai mengabaikan Saka di depannya.


"Hey, sudahlah kamu gak perlu terlalu mikirin itu!" ucap Saka menegur gadis itu yang sontak membuat Sahira menoleh ke arahnya.


"Eh pak Saka, maaf pak tapi saya heran aja kenapa tadi pak Alan sikapnya ke saya jadi ketus lagi kayak dulu. Padahal saya gak ada buat salah atau apa loh pak," ucap Sahira.


"Udah kamu gausah mikirin dia! Mending kamu ikut saya yuk, kita lunch di dalam!" ajak Saka.


"Tapi pak, saya belum lapar. Lagian jam makan siang itu masih lama pak, saya harus kembali ke kantor sekarang biar gak dimarahin pak Alan," ucap Sahira menolak.


"Kamu tuh kenapa sih Sahira? Kayaknya kamu takut banget sama si Alan itu, ayolah kamu santai aja kali!" ucap Saka.


"Jelas lah saya takut pak, pak Alan itu kan bos saya. Kalau saya gak patuh sama dia, yang ada nanti saya bisa dipecat," ucap Sahira.


"Kalau kamu dipecat sama si Alan, kamu kan bisa pindah kerja di kantor saya. Kamu gak perlu cemas begitu kali Sahira," ucap Saka menenangkan.


Sahira terdiam, berdebat dengan Saka sama saja ia membuang-buang waktu. Akhirnya Sahira memilih menurut saja dan ikut bersama pria itu kembali ke dalam cafe. Walau di dalam pikirannya Sahira masih terus memikirkan sikap Alan yang berubah begitu cepat, ia tak mengerti apa penyebab Alan menjadi seperti itu lagi.


Di dalam, Sahira duduk berdua dengan Saka pada meja yang tersedia. Saka langsung meminta Sahira memesan makanan yang dia mau tanpa rasa ragu, barulah mereka lanjut mengobrol saat pesanan sudah dikatakan. Saka bahkan meraih satu tangan Sahira dan menggenggamnya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Kamu kenapa daritadi bengong terus sih? Kalau lagi sama saya, tolong kamu jangan pikirkan hal lain termasuk si Alan!" ucap Saka.


"Ma-maaf pak, saya cuma masih bingung aja sama sikap pak Alan tadi. Beliau kelihatan marah banget ke saya, kira-kira pak Alan kenapa ya pak? Apa bapak tau?" ujar Sahira.

__ADS_1


Saka menggeleng, "Entahlah, apa kamu ada buat salah sama dia sebelumnya?" tanyanya.


"Ada sih, tadi saya gak fokus pas meeting dan cuma kebagian mencatat setengah obrolan pak Alan sama klien. Tapi, itu juga karena saya lagi mikirin perubahan sikap pak Alan," jawab Sahira.


"Ohh, ya mungkin ada sesuatu yang kamu gak tahu dan bikin dia kesal. Udah lah gausah terlalu dipikirin, nanti juga baik lagi dia!" ucap Saka.


"Bapak kenapa kayak gak suka banget sih kalau saya bahas pak Alan? Apa diantara kalian lagi ada masalah ya? Terus jangan-jangan gara-gara masalah itu, jadinya pak Alan malah benci dan marah-marah ke saya," ujar Sahira.


"Hahaha, bicara apa sih kamu? Ya enggak lah, kita gak ada masalah kok," elak Saka.


Sahira terdiam menatap tajam ke arah Saka, seolah curiga bahwa ada sesuatu yang tengah disembunyikan pria itu darinya.




Alan membuka pintu ruangannya dengan kasar dan menutupnya keras sampai menimbulkan suara, pria itu langsung menuju meja lalu memukulnya kuat-kuat sembari membuang semua barang-barang yang ada di atas meja untuk melampiaskan emosinya yang sedari tadi ia tahan selama di perjalanan.


Alan benar-benar tak terima dengan kedekatan Sahira dan Saka, ia ingin hanya dirinya lah yang boleh berdekatan dengan gadis itu. Namun, tadi ia malah melihat Sahira memberikan rantang kepada Saka untuk sarapan. Tentunya Alan yakin jika diantara mereka telah terjalin hubungan, bisa saja Sahira sudah menjadi kekasih dari Saka.


"Aaarrgghh!! Kenapa sih bang Saka selalu merebut apa yang gue punya? Dari mulai kantor, terus sampai perempuan yang gue suka juga! Sial!" geram Alan penuh emosi.


Pria itu terus memukul-mukul meja dan juga tembok di dekatnya, suasana ruangannya saat ini sudah sangat berantakan dan tak karuan. Ia mengusap wajahnya kasar, terduduk di kursi seraya membenturkan dahinya pada meja pertanda ia sangat emosi.


"Kalau begini terus, gue mana kuat coba? Gak mungkin gue bisa diam aja ngeliat perempuan yang gue suka dekat sama si Saka itu!" ujar Alan.


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruangannya dari luar, Alan sontak terkejut dan menyuruh siapapun orang disana untuk masuk saja menemuinya. Lalu, tak lama seorang wanita membuka pintu dan berjalan menghampirinya, ya dia adalah Fatma alias sekretaris papanya.

__ADS_1


"Permisi pak, saya ditugaskan pak Alfian kesini untuk periksa semua kelengkapan mengenai proyek di Tangerang pak," ucap wanita itu.


"Ah iya, saya baru aja urus semua itu. Nanti kamu minta aja ke sekretaris saya ya?" ucap Alan.


"Tapi pak, sekretaris bapak yang mana ya? Saya soalnya belum tahu siapa orangnya," tanya Fatma.


"Dia namanya Sahira, kamu tanya aja ke yang lain dimana ruangan dia!" jawab Alan.


"Oh baik pak, kalo gitu saya mohon izin. Eee tapi apa bapak tidak apa-apa? Kelihatannya bapak seperti sedang ada masalah," ujar Fatma.


"Saya gapapa, cuma lagi ada masalah sedikit aja. Sudah sana kamu temui aja Sahira!" ucap Alan.


"Baik pak, permisi!" Fatma pamit dan berbalik lalu pergi dari ruangan pribadi pria itu.


Alan pun kembali mengusap wajah serta rambutnya dan sesekali menjambaknya, ia masih belum bisa tenang sebab terus teringat pada kejadian yang tadi ia saksikan dengan mata kepalanya. Alan sangat cemburu pada Saka yang terlihat lebih dekat dan akrab dengan Sahira.


"Gue gak bisa biarin ini, Sahira itu milik gue dan cuma gue yang boleh deketin dia! Siapapun termasuk si Saka gak akan bisa dapetin Sahira! Mending gue susul aja dia ke ruangannya deh, gue harus bicara sama dia!" gumam Alan.


Alan langsung bangkit dari kursi, melangkah ke dekat pintu dan berjalan keluar. Namun, baru beberapa langkah ia sudah kembali bertemu dengan Fatma yang tampaknya baru mendatangi ruangan Sahira. Sontak mereka pun berpapasan lalu berbincang singkat disana.


"Loh Fatma, kamu kok malah balik lagi? Udah ketemu sama Sahira nya?" tanya Alan heran.


Fatma menggeleng, "Enggak pak, barusan saya tanya ke salah satu karyawan disini katanya sekretaris bapak itu belum kembali ke kantor," jawabnya.


Seketika Alan terkejut, ia pun berpikir keras kemana kiranya Sahira pergi sampai belum kembali setelah meeting dengannya tadi.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2