
Sahira terdiam, berdebat dengan Saka sama saja ia membuang-buang waktu. Akhirnya Sahira memilih menurut saja dan ikut bersama pria itu kembali ke dalam cafe. Walau di dalam pikirannya Sahira masih terus memikirkan sikap Alan yang berubah begitu cepat, ia tak mengerti apa penyebab Alan menjadi seperti itu lagi.
Di dalam, Sahira duduk berdua dengan Saka pada meja yang tersedia. Saka langsung meminta Sahira memesan makanan yang dia mau tanpa rasa ragu, barulah mereka lanjut mengobrol saat pesanan sudah dikatakan. Saka bahkan meraih satu tangan Sahira dan menggenggamnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Kamu kenapa daritadi bengong terus sih? Kalau lagi sama saya, tolong kamu jangan pikirkan hal lain termasuk si Alan!" ucap Saka.
"Ma-maaf pak, saya cuma masih bingung aja sama sikap pak Alan tadi. Beliau kelihatan marah banget ke saya, kira-kira pak Alan kenapa ya pak? Apa bapak tau?" ujar Sahira.
Saka menggeleng, "Entahlah, apa kamu ada buat salah sama dia sebelumnya?" tanyanya.
"Ada sih, tadi saya gak fokus pas meeting dan cuma kebagian mencatat setengah obrolan pak Alan sama klien. Tapi, itu juga karena saya lagi mikirin perubahan sikap pak Alan," jawab Sahira.
"Ohh, ya mungkin ada sesuatu yang kamu gak tahu dan bikin dia kesal. Udah lah gausah terlalu dipikirin, nanti juga baik lagi dia!" ucap Saka.
"Bapak kenapa kayak gak suka banget sih kalau saya bahas pak Alan? Apa diantara kalian lagi ada masalah ya? Terus jangan-jangan gara-gara masalah itu, jadinya pak Alan malah benci dan marah-marah ke saya," ujar Sahira.
"Hahaha, bicara apa sih kamu? Ya enggak lah, kita gak ada masalah kok," elak Saka.
Sahira terdiam menatap tajam ke arah Saka, seolah curiga bahwa ada sesuatu yang tengah disembunyikan pria itu darinya. Saat ia hendak berbicara, seorang pelayan justru datang membawa pesanan mereka dan meletakkannya di atas meja lalu pergi begitu saja.
"Udah ayo dimakan Sahira! Kamu gak perlu mikirin yang enggak-enggak lagi, silahkan kamu makan dan nikmati sepuasnya!" ucap Saka.
"Tapi pak, saya masih takut kalau pak Alan marah besar sama saya dan memecat saya. Gimanapun juga saya kan butuh pekerjaan ini pak, saya gak mau dipecat," ucap Sahira.
"Kamu itu kenapa takut banget sih Sahira? Kamu tenang aja, si Alan gak mungkin bisa pecat kamu kok!" ucap Saka.
"Kenapa bapak bisa seyakin itu?" tanya Sahira.
"Ya karena kinerja kamu selama ini bagus Sahira," jawab Saka dengan santai.
__ADS_1
"Itu kan menurut bapak," singkat Sahira.
Tiba-tiba Sahira menjauhkan tangannya dari genggaman Saka, membuat pria itu terheran-heran tak mengerti mengapa Sahira melakukannya. Saka berupaya meraih kembali satu tangan Sahira, tapi gadis itu malah menghindar dan menatap wajah Saka dengan serius.
"Maaf ya pak, tolong jangan sentuh-sentuh saya sembarangan seperti tadi! Saya ini juga punya harga diri pak, saya gak mau disentuh kayak gitu!" ucap Sahira.
Saka tersenyum tipis, "Okay, saya gak akan sentuh kamu Sahira. Yaudah, kamu makan aja ya sampai habis makanannya!" ucapnya.
Sahira hanya mengangguk dan mulai memakan makanan di depannya, meski dengan perasaan tidak tenang akibat memikirkan Alan. Saka yang ada di hadapannya juga merasa jengkel sebab Sahira malah lebih mementingkan Alan dibanding dirinya, padahal mereka sedang berduaan saat ini.
"Sahira, kamu itu sebenarnya suka sama siapa sih? Kenapa saya jadi bimbang ragu begini ya?" batin Saka bertanya-tanya.
•
•
Sahira kembali ke kantornya diantar oleh Saka setelah mereka berdua menyelesaikan makan siangnya, Sahira turun dari mobil dan langsung pamit pada Saka sembari mengucap terimakasih. Saka sendiri juga berniat pergi sebab ia masih ada beberapa urusan penting di kantornya.
"Sama-sama Sahira, kalo gitu saya duluan ya? Kamu semangat kerjanya, gak perlu mikirin kamu bakal dipecat atau apa! Kalau si Alan itu macam-macam sama kamu, bilang aja ke saya ya!" ucap Saka memberi pesan.
Sahira mengangguk pelan mengiyakan kata-kata Saka barusan, "Iya pak, hati-hati di jalan ya!" ucapnya lirih.
Saka tersenyum memandangi wajah Sahira, lalu dengan berat hati ia menancap gas dan pergi dari perusahaan tersebut meninggalkan Sahira. Sedangkan Sahira juga melangkah menuju pintu depan dengan tergesa-gesa, ia khawatir Alan sudah menunggunya di dalam sana.
"Ehem ehem.." benar saja dugaannya, Sahira pun dicegat oleh Alan saat hendak masuk kesana.
"Eh pak Alan? Ma-maaf pak, saya pasti terlambat ya kembali lagi kesini? Saya tadi sudah pengen pergi, tapi saya malah ketemu sama pak Saka di cafe tadi," ucap Sahira gugup.
"Itu kamu tau, seharusnya kamu itu profesional dong Sahira! Kalau ada siapapun yang ajak kamu buat pergi di jam kerja, harusnya kamu jangan mau! Kamu itu sebenarnya niat kerja atau enggak sih disini?" tegur Alan.
__ADS_1
"Maaf pak, tapi saya benar-benar gak bisa tolak ajakan pak Saka tadi. Beliau juga paksa saya buat temenin makan siang," ucap Sahira.
"Berarti kamu aja yang kurang tegas Sahira!" ucap Alan emosi.
"Lalu saya harus gimana pak untuk menebus kesalahan saya?" tanya Sahira menunduk.
Alan maju mendekat sembari mengusap dagunya, ia mengamati tubuh Sahira dari atas sampai bawah dan membuat sang empu merasa gugup. Sahira tak mengerti apa yang dilakukan pria itu saat ini, tapi ia memilih diam tak ingin protes karena khawatir Alan malah semakin marah.
"Kamu cukup berjanji sama saya, kalau kamu tidak akan mengulangi ini lagi! Bagaimana? Apa kamu bisa mengatakan itu untuk saya?" pinta Alan.
"Ah iya pak, saya janji kok gak akan melakukan ini lagi! Besok-besok saya akan coba tegas ke pak Saka deh pak," ucap Sahira.
"Bagus, awas ya kalau sampai saya dengar atau lihat lagi kamu melakukan ini! Sekarang kamu masuk dan serahkan semua berkas hasil rapat kita tadi ke sekretaris papa di dalam!" perintah Alan.
"Baik pak! Tapi, sekretaris itu dimana ya pak? Saya kan belum tahu dan kenal," tanya Sahira.
"Dia ada di ruangan kamu, namanya Fatma. Kamu ke dalam aja temui dia sekarang!" jawab Alan.
"Siap pak, kalo gitu saya permisi!" ucap Sahira.
Alan menganggukkan kepalanya, lalu Sahira pun pergi melewati Alan dan masuk ke dalam kantor dengan tergesa-gesa untuk menyerahkan semua laporan mengenai proyek yang tadi mereka bahas di rapat bersama klien.
Sementara Alan tetap pada tempatnya, ia mengamati tubuh Sahira dari belakang saat sedang berjalan dan semakin tertarik pada gadis itu. Bahkan, ia berjanji tidak akan melepas Sahira meski untuk Saka sekalipun, tampaknya ia sangat terobsesi pada Sahira dan ingin memilikinya.
"Saya gak akan lepasin kamu Sahira, saya harus terus berjuang untuk dapatkan kamu!" gumamnya.
"Ohh, jadi benar ya kamu suka sama sekretaris kamu yang kegatelan itu?" Alan terkejut saat suara tersebut muncul di telinganya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...AYO DONG BANTU KOMEN SAMA VOTE, AKU BUTUH NIH KOMEN KALIAN BIAR AKU MAKIN SEMANGAT🥺...