
Fatimeh tersenyum dan bangkit dari duduknya, "Gampang aja Saka, gue bisa turutin semua itu kok. Ya asalkan ada uangnya aja," ucapnya.
"Tante butuh berapa? Saya bisa bayar berapapun yang tante mau, tapi asal tante juga ingat kalau saya masih punya video tante di bar yang bisa saja saya berikan ke Sahira," ucap Saka.
"Lu kok malah ngancem gue sih? Lu pengen gue bantu apa enggak?" ujar Fatimeh.
"Pengen lah tante, saya itu tadi cuma mengingatkan bukan mengancam. Siapa tahu aja tante lupa," ucap Saka.
"Halah alasan aja lu, bilang kalo lu gak mau bayar gue!" ketus Fatimeh.
"Gak gitu tante, saya mah bisa keluarin uang untuk bisa memenuhi kemauan saya. Cuma disini saya mau tante lakukan dulu semuanya dengan baik, baru deh saya bayar uangnya," ucap Saka.
Fatimeh memalingkan wajahnya dengan kedua tangan terlipat di depan, Saka tersenyum melihat itu dan ikut berdiri di sebelah Fatimeh.
"Bagaimana tante? Apa tante setuju dengan penawaran saya? Saya cuma minta tante bujuk Sahira untuk mau makan malam dengan saya nanti malam," ucap Saka.
"Haish, iya deh iya gue setuju sama tawaran lu. Gue mau bujuk Sahira buat dinner sama lu nanti malam, tapi gue gak janji ya kalau bakal berhasil buat bujuk dia," ucap Fatimeh.
"Saya yakin kok tante pasti bisa bujuk Sahira, usaha yang benar ya tante!" ucap Saka.
"Iya iya.." Fatimeh menurut saja lalu mengambil tasnya dari kursi dan pergi.
Saka terdiam di tempat membiarkan Fatimeh pergi, ia juga sudah tidak ada urusan dengan wanita itu karena semua yang ia ingin bicarakan sudah disampaikan tadi. Saka pun juga ikut pergi dari taman itu menuju mobilnya, ia hendak menyiapkan rencana makan malam nanti bersama Sahira.
Sementara itu, Fatimeh dicegat oleh seorang pria saat keluar dari taman. Wanita itu terkejut dan reflek memegang dadanya saat tiba-tiba pria itu muncul di hadapannya, nafasnya juga langsung memburu akibat kedatangan si pria yang sebelumnya tidak ia sadari.
"Halo tante! Abis bicara sama bosnya Sahira ya tante? Kok kelihatannya tante sama dia akrab banget sih?" ujar si pria yang tak lain ialah Awan.
"Lu ngagetin gue aja sih, kalo mau nongol itu pelan-pelan aja kali!" sentak Fatimeh.
"Eee maaf tante, saya cuma pengen bicara sama tante. Soalnya tadi saya tuh gak sengaja lihat tante dan bosnya Sahira bicara disana," ucap Awan.
"Emang kenapa kalo gue bicara sama si Saka? Masalah buat lu? Gausah mau tau urusan orang deh!" ujar Fatimeh.
__ADS_1
"Bukan begitu tante, tapi saya penasaran aja apa sih yang dibicarain tante sama tuh orang?" ujar Awan.
"Heh! Lo kenapa kepo banget sih jadi orang? Sana lu pergi, jangan halangi jalan gue atau gue pukul lu pake tas!" usir Fatimeh.
"Galak amat sih tante, ayolah kasih tau aja ke saya semuanya!" pinta Awan.
"Lo gak perlu tau, ini urusan gue sama Saka. Kalau lu mau tahu, kasih dulu uang ke gue baru nanti gue bisa kasih tahu semuanya ke lu," ucap Fatimeh.
"Waduh, masa harus pake bayar segala sih tante? Saya lagi gak bawa duit nih," ucap Awan.
"Ya itu sih derita lu, kalo gak ada yang ya gak bisa dapat informasi. Udah ah gue mau cabut dulu, gue ada urusan penting," ucap Fatimeh.
"Tunggu tante!" Awan kembali mencegah Fatimeh yang hendak pergi.
Fatimeh kesal dan terpaksa mengurungkan niatnya, "Apaan sih Awan? Lo mau ngomong apa lagi sama gue?" ujarnya geram.
"Saya tahu ada rahasia yang Saka punya tentang tante, sampai-sampai tante mau nurut aja sama dia tadi," ucap Awan.
•
•
Sahira berdiri di depan ruangan Alan dengan membawa berkas-berkas yang akan ia berikan pada bosnya itu, tapi entah kenapa Sahira merasa kurang yakin untuk bertemu dengan Alan di dalam sana saat ini. Apalagi Sahira ingat betul betapa ketusnya Alan padanya saat di cafe dan di depan kantor tadi.
Gadis itu pun terus menghentak-hentak kakinya ke lantai, ia bingung bagaimana caranya agar Alan tak lagi marah padanya. Ia menggerakkan satu tangannya ke dekat pintu bermaksud mengetuk dengan hati-hati, tapi tiba-tiba suara berat muncul dan mengagetkannya.
"Lagi ngapain?" Sahira terkejut lalu reflek menoleh ke asal suara, ia tertegun melihat Alan ternyata malah baru datang kesana.
"Eh pak Alan, jadi bapak gak ada di dalam? Pantas daritadi saya ketuk gak jawab," gugup Sahira.
"Masa sih? Saya lihat kamu daritadi cuma diam aja berdiri disini, kan saya perhatikan kamu dari jauh tadi. Kamu mau coba bohongi saya, ha?" ucap Alan dengan suara beratnya.
Sahira semakin gugup, tatapan dingin pria itu benar-benar membuatnya bertingkah tak karuan, terlebih ia baru sadar kalau ternyata Alan sudah memperhatikannya sedari tadi saat ia berdiri di depan ruangan Alan tanpa mengetuk pintu, sungguh Sahira merasa malu saat ini.
__ADS_1
"Ada apa kamu ke ruangan saya? Gausah takut gitu, saya gak gigit kok!" tanya Alan.
"I-i-iya pak, saya cuma mau kasih berkas yang harus bapak tandatangani," jawab Sahira.
"Ohh, yasudah bawa masuk ke ruangan saya! Sekalian saya mau bicara empat mata sama kamu Sahira," perintah Alan.
"Tapi pak, saya—"
"Udah gausah banyak tapi tapi, ayo ikut saya dan kita bicara di dalam!" sela Alan yang langsung menarik paksa lengan Sahira.
Pria itu pun membawa sekretarisnya ke dalam, mereka duduk berdampingan pada sofa yang tersedia dengan tangan Alan masih mencengkram kuat lengan Sahira. Gadis itu meringis menahan sakit cengkraman Alan pada lengannya, ia berusaha meminta Alan melepaskannya.
"Pak, tolong lepasin tangan saya pak! Lama-lama sakit juga dicengkeram kayak gini, lagian saya kan juga cuma mau serahin berkas-berkas ini pak," ucap Sahira grogi.
"Emangnya sakit ya? Perasaan saya gak terlalu keras cengkramnya, kamu jangan bohongi saya deh supaya bisa keluar dari sini!" ucap Alan.
"Buat apa saya bohong pak? Tuh lihat aja lengan saya sampe merah, itu tandanya sakit pak. Tolong lepasin dong pak, please!" ucap Sahira.
Alan menggeleng dan akhirnya melepas lengan Sahira setelah menyadari bahwa perkataan gadis itu benar adanya, Sahira langsung menyerahkan berkas di tangannya kepada Alan agar ia bisa segera pergi dari ruangan itu dan kembali ke tempatnya.
"Ini pak berkasnya, nanti saya ambil lagi kalau bapak sudah tandatangani semuanya," ucap Sahira.
"Ya Sahira, itu urusan mudah kok. Sekarang saya mau bicara dulu sebentar sama kamu, saya minta kamu jawab dengan jujur!" ucap Alan.
"Memangnya bapak mau bicara soal apa sih?" Sahira penasaran sekali dibuatnya.
"Saya lihat-lihat tadi kamu kasih makanan ke Saka, itu maksudnya apa ya? Kamu ada hubungan spesial sama dia?" tanya Alan.
Sahira melotot lebar, ia terkejut bukan main mendengar pertanyaan yang dilontarkan Alan barusan padanya. Ia juga tak menyangka kalau ternyata Alan melihat kejadian saat ia tadi memberikan sarapan untuk Saka.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1