
Hari telah berganti, Sahira pagi ini sudah bersiap untuk pergi ke kantor dan melanjutkan pekerjaan yang melelahkan. Meski begitu, Sahira sangat senang melakukan pekerjaan tersebut karena sang bos kini bukan lah yang dulu, ya sikap Alan memang sudah berubah 180 derajat kepadanya.
Saat di luar, Sahira tak sengaja berjumpa dengan Wati yang tengah mendorong sepedanya. Sontak Sahira merasa bingung, apalagi gadis di depannya itu terlihat sangat lelah dan terus mengusap seperti belum tidur. Sahira pun menyapanya, lalu menghampirinya untuk bertanya.
"Wati!" sapa Sahira sambil tersenyum renyah, yang membuat Wati menoleh.
"Eh Sahira, ya ada apa?" tanya Wati sembari mengucek matanya.
"Lu kenapa kelihatan lesu gitu Wat? Lu kurang tidur apa gimana?" heran Sahira.
"Eee gu-gue malahan belum sempat tidur sama sekali, Sahira. Dari semalam gue sibuk nemenin orang di bar," ucap Wati.
"Apa? Ngapain lu ke bar anjir? Terus orang yang lu temenin itu siapa? Lu kenal?" kaget Sahira.
"Sebenarnya gue sama dia baru kenal sih, semalam dia tolongin gue dari preman terus dia borong dagangan gue nih sampe habis. Eh tapi dia minta syarat kalau gue harus temenin dia sampe pagi di bar gitu," jelas Wati.
"Ya ampun, terus lu ngapain aja di bar sama dia? Eh bentar bentar, orang yang lu maksud ini cowok atau cewek Wat?" tanya Sahira penasaran.
"Cowok lah," jawab Wati dengan santai.
Sontak Sahira menganga lebar, ia sampai harus menutupi mulutnya mengenakan telapak tangan karena sangking terkejutnya mendengar apa yang disampaikan Wati barusan.
"Lu gila ya Wati? Bisa-bisanya lu temenin cowok di bar berdua? Cuma karena dia udah borong dagangan lu dan tolong lu," ujar Sahira.
"Mau gimana lagi Sahira? Gue gak ada pilihan lain, soalnya cuma itu satu-satunya cara supaya gue bisa bayar kontrakan. Lu mana ngerti derita yang gue alami, karena lu kan sekarang udah kerja di kantor dan jadi orang kaya," ucap Wati.
"Kok lu ngomongnya gitu sih? Gue tuh perduli sama lu, kalo misal lu diapa-apain sama tuh cowok gimana? Terus semalam lu ngapain aja sama dia di bar?" ucap Sahira.
"Gak ngapa-ngapain kok, dia tuh orangnya baik. Dia cuma ajak gur minum," ucap Wati.
"Alkohol?" tanya Sahira terkejut.
Wati menggeleng pelan, "Bukan lah, gue juga gak mau kali disuruh minum alkohol mah. Semalam gue cuma minum minuman biasa," jawabnya.
"Huh syukurlah, yaudah mending lu pulang terus istirahat! Hari ini lu gausah kerja aja dulu!" usul Sahira.
"Mana bisa sih Sahira? Gue tuh harus kerja demi bisa menghidupi keluarga gue, kan lu tau sendiri gue kayak gimana," ucap Wati.
"Ya tapi lu harus jaga kesehatan juga, jangan sampe lu sakit gara-gara terlalu semangat kerja! Nanti malah tambah repot kan kalo lu sakit?" ucap Sahira mengingatkan.
"Iya gue tahu, thanks ya udah ngertiin gue? Kalo gitu gue cabut dulu ya?" pamit Wati.
"Okay, lu hati-hati dan semangat terus! Gue yakin lu pasti bisa melewati ini semua!" ucap Sahira.
"Aamiin, doa yang sama buat lu juga Sahira! Gue tahu lu juga lagi ada masalah, ya kan?" ucap Wati.
Sahira menunduk dengan wajah merenung, "Lu benar, tapi gue gak bakal patah semangat kok. Kita sama-sama berjuang demi keluarga!" ucapnya.
Wati tersenyum lebar dan mendekati Sahira, lalu merangkulnya. Kedua gadis itu pun saling mengusap punggung satu sama lain bermaksud menenangkan sesama.
"Ehem!" deheman keras mengagetkan mereka berdua, Sahira sangat kaget dan langsung beralih menoleh ke asal suara.
•
•
Disisi lain, Cat sangat kaget begitu melihat Yoshi sudah berdiri di halaman depan rumahnya. Ia baru berniat pergi ke toko roti, namun ia tak menyangka jika Yoshi datang kesana dan sudah tersenyum lebar menatapnya. Yoshi pun melangkahkan kakinya mendekati gadis itu.
"Hai sayang, selamat pagi!" sapa Yoshi dengan lembut dan senyuman lebar.
Cat pun dibuat merona mendengarnya, "Hai juga Yoshi sayang! Kamu ngapain pagi-pagi begini udah ada di rumah aku? Aku aja baru mau berangkat kerja loh," ucapnya.
"Ya ngapain lagi? Jelas dong aku mau jemput kamu sayang, kita berangkat ke toko roti bareng-bareng!" ucap Yoshi.
"Serius kamu?" tanya Cat tak menyangka.
__ADS_1
"Iyalah serius sayang, buat apa aku bohong? Aku kan udah ada disini, ya pasti aku mau ajak kamu berangkat bareng," jawab Yoshi.
"Ih kamu romantis banget deh sayang, baru sehari aja udah mau jemput aku!" ucap Cat.
"Pastinya dong, aku kan mau meratukan kamu sayangku. Kamu udah siap belum buat berangkat ke toko sekarang?" ucap Yoshi.
Cat mengangguk pelan, "Udah kok, tadinya kan aku udah mau jalan. Eh malah ada kamu ternyata disini," ucapnya.
"Hahaha, yaudah yuk kita berangkat aja sekarang!" ajak Yoshi sambil tertawa kecil.
"Yuk!" Cat mengangguk setuju dengan ajakan dari Yoshi, ia pun mengunci pintu rumahnya dan tak lupa mengenakan alas kaki sebelum melangkah bersama Yoshi menuju motor pria itu.
Sebagai seorang lelaki, Yoshi menggandeng tangan Cat saat mereka berjalan. Tentunya lagi dan lagi Cat merasa tersipu dengan perlakuan manis yang diberikan Yoshi padanya, baru kali ini ia mendapatkan itu dari seorang lelaki, apalagi pria itu adalah orang yang sangat ia cintai.
"Maaf ya aku cuma bisa jemput kamu pake motor, soalnya uang aku belum cukup buat beli mobil. Kamu gapapa kan?" ucap Yoshi.
"Apaan sih kamu? Mau dijemput pake motor atau apa kek itu, asalkan sama kamu ya aku pasti senang banget lah. Kan aku cintanya sama kamu, bukan harta kamu sayang," ucap Cat.
"Duh, makasih banyak loh kamu udah mau bilang begitu sama aku. Jujur aja aku senang banget dengarnya sayang," ucap Yoshi tersenyum.
"Sama-sama sayang," ucap Cat singkat.
Disaat Yoshi dan Cat hendak naik ke atas motor, tiba-tiba suara klakson panjang mengagetkan keduanya. Sontak baik Cat maupun Yoshi terpaksa mengurungkan niatnya, mereka menoleh ke asal suara dengan wajah kebingungan saat melihat sebuah mobil hitam berhenti disana.
"Sayang, itu mobil siapa? Kamu kenal sama pemilik mobilnya?" tanya Yoshi pada Cat.
Cat menggeleng, "Aku gak tahu sayang, baru kali ini aku lihat mobil itu di depan rumah aku. Kita tunggu aja sampe pemiliknya keluar," jawabnya.
"Aneh-aneh aja tuh orang, ada urusan apa coba kasih klakson ke kita?" heran Yoshi.
Cat hanya menaikkan kedua bahunya pertanda ia tidak tahu apa yang dimaksud pemilik mobil tersebut, lalu tak lama seorang pria dengan pakaian serba hitam keluar dari mobil dan tersenyum ke arah mereka.
"Hah? Itu kan Ivan, penampilan dia kok beda banget sih?" ujar Cat dengan mulut menganga tak percaya melihat sosok sahabatnya tengah berjalan mendekati mereka.
•
•
Alan menginjak rem secara mendadak begitu sebuah motor menyalip dan berhenti di depannya, sontak ia panik dan penasaran siapa orang yang berani melakukan itu padanya. Saat ini ia berada di jalan sekitar rumah Sahira, ia berniat menjemput gadis itu seperti biasanya.
Alan pun memutuskan turun dari mobilnya dan menghampiri si pemotor dengan wajah jengkel, tentu saja ia emosi sebab hampir tadi ia menabrak motor tersebut jika tidak menginjak rem dengan tepat waktu. Sedangkan si pemotor masih terdiam di motornya memunggungi Alan.
"Hey! Kamu itu siapa? Kenapa kamu cegat saya dan berhenti begitu saja? Apa kamu termasuk komplotan begal?" tanya Alan terheran-heran.
"Hahaha.." pemotor itu malah tertawa sembari turun dari motornya.
Alan benar-benar dibuat kesal, dua tangannya sudah terkepal menahan emosi. Si pemotor pun menghadap ke arahnya dengan helm yang masih melekat di kepala, kemudian dia melepaskan helm tersebut sehingga Alan dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah pria di hadapannya itu.
"Oh kamu lagi ternyata? Siapa dah nama kamu semalam? Saya lupa, intinya kamu itu pria yang menyebalkan dan sok paling dekat dengan Sahira. Benar begitu kan?" tebak Alan.
Ya pria yang dilihat oleh Alan saat ini adalah Awan, mereka sudah sempat bertemu kemarin malam disaat Alan mengantar Sahira pulang ke rumah. Kali ini, Alan justru kembali bertemu dengan pria itu di jalan dekat rumah Sahira. Tentunya Alan pun semakin emosi dibuatnya.
"Ya anda memang benar, saya Awan dan saya yang semalam tidak suka dengan anda," ucap Awan.
"Ah iya itu, nama kamu Awan. Lalu, mau apa kamu cegat saya disini?" tanya Alan.
"Tidak ada apa-apa sih, saya cuma mau anda putar balik dan jangan teruskan perjalanan anda! Karena saya tahu, pasti anda mau ke rumah Sahira lagi kan?" jawab Awan.
Alan tersenyum lebar, "Betul sekali, saya memang sengaja datang kesini untuk menjemput Sahira. Apa urusannya dengan kamu ya?" ujarnya.
"Pake nanya lagi, udah jelas saya gak suka kamu dekat-dekat dengan Sahira! Kamu putar balik sekarang, atau saya paksa kamu untuk pergi dari sini!" geram Awan.
"Saya gak tahu kamu punya masalah apa sama saya, tapi kalau kamu suka sama Sahira, harusnya kamu gak perlu lakuin ini Awan!" ucap Alan.
"Kenapa?" tanya Awan bingung.
__ADS_1
"Karena saya yakin Sahira justru semakin tidak suka dengan kamu, seandainya dia tahu sikap kamu yang seperti ini. Sudahlah, saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni anda!" ucap Alan.
Alan berbalik dan berniat pergi, namun Awan dengan cekatan mendekat lalu menahannya.
"Tunggu! Kalau anda memang gentle, anda lawan saya satu lawan satu! Kita bertarung, dan kalau saya menang maka anda tidak boleh lagi datang kesini atau dekati Sahira!" ucap Awan.
Alan kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Awan dengan senyuman tipis.
"Lalu, jika saya menang?" tanya Alan.
"Anda bisa bebas mendekati Sahira, saya yang akan menjauh dari dia. Bagaimana? Apa kamu setuju?" jawab Awan.
"Hahaha, kamu yakin mau menantang saya? Saya sih gak butuh berkelahi dengan kamu, cuma buang-buang waktu aja. Lagipun, saya gak suka sama Sahira. Kamu ambil aja dia kalau emang dia mau sama kamu!" ucap Alan santai.
Awan terdiam dengan rahang mengeras, menatap tajam ke arah Alan seperti siap menerjangnya.
•
•
Nawal tiba di kantor Alan bersama Royyan alias pria yang dijodohkan dengannya, Nawal sengaja datang kesana untuk kembali membujuk Alan agar mau memaafkannya. Awalnya Nawal memang ingin pergi sendiri, tapi tiba-tiba Royyan muncul di rumahnya dan memaksa mengantarnya kesana.
Kini Nawal pun turun dari mobilnya, ia menghela nafas sejenak sembari memejamkan mata. Royyan yang sedari tadi menemaninya turut turun dari mobil, menghampiri Nawal dan merangkul pundak gadis itu sambil tersenyum. Nawal sebenarnya ragu membawa Royyan kesana menemui Alan, ia khawatir Alan justru semakin emosi padanya.
"Sayang, kamu kok malah diam disini? Ayo masuk dong ke dalam! Katanya kamu mau ketemu mantan kamu yang tempramen itu," ujar Royyan.
"Aku lagi mikir dulu sebentar, aku khawatir Alan malah emosi nanti kalau ketemu sama kamu. Sebaiknya kamu pergi aja ya Roy? Biar aku yang masuk sendiri," ucap Nawal.
"Loh kok gitu sih? Pokoknya aku mau tetap temani kamu ketemu sama si Alan itu!" ujar Royyan.
"Jangan Roy! Kamu ngertiin aku dulu dong, aku gak mau ada keributan diantara kamu dan Alan nantinya!" ucap Nawal.
"Kamu tenang aja sayang, itu gak akan terjadi kok!" ucap Royyan.
"Ish, kamu tuh gak tahu Alan kayak gimana. Dia pasti bakal langsung emosi kalau lihat kamu, mending kamu ngumpet dulu atau kemana kek gitu!" pinta Nawal.
"Justru itu Nawal, aku gak bisa biarin kamu berduaan sama dia gitu aja. Nanti yang ada dia malah nyakitin kamu lagi," ucap Royyan.
"Aku aman kok, Alan gak mungkin nyakitin aku. Aku tahu dia bisa tahan emosinya kalau sama aku," ucap Nawal.
"Kamu serius sayang?" tanya Royyan ragu.
Nawal mengangguk pelan, "Iya Roy, kamu nurut aja sama aku ya? Aku gak akan kenapa-napa, aku cuma mau minta maaf sama Alan dan jelasin semuanya ke dia," jawabnya.
"Yaudah deh, kali ini aku nurut sama kamu. Aku tunggu kamu di depan sana ya? Agak jauh dari sini supaya Alan gak lihat aku," ucap Royyan.
"Okay, kamu hati-hati ya! Kalo gitu aku masuk dulu, aku gak lama kok," pamit Nawal.
"Ya sayang," Royyan tersenyum dan memeluk Nawal sekilas sambil mengecup keningnya, tak lupa ia mengusap punggung gadis itu.
Setelahnya, Nawal langsung masuk ke dalam kantor itu dan disambut oleh Keira yang sudah berada disana. Sedangkan Royyan kembali ke mobil dan menjauh dari sana untuk menunggu Nawal di tempat yang pas.
"Selamat datang mbak! Apa ada yang bisa saya bantu?" sapa Keira dengan ramah.
"Eee iya mbak, saya mau ketemu sama Alan. Dia ada kan di dalam?" ucap Nawal.
"Oh pak Alan, sayang sekali beliau belum datang mbak," jawab Keira.
"Yah kira-kira kapan ya saya bisa ketemu sama dia? Emang dia biasa datang kesini jam berapa sih?" tanya Nawal.
"Umm kurang tahu sih mbak, tapi biasanya sebentar lagi juga datang kok. Kalau mbak mau, mbak bisa tunggu dulu sebentar," jawab Keira.
"Oh gitu, yaudah deh saya mau ke ruangannya aja. Terimakasih ya mbak?" ucap Nawal.
"Ta-tapi mbak.." Nawal tak perduli dengan ucapan Keira, gadis itu melangkah begitu saja dan pergi menuju ruangan pribadi Alan.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...