
Disaat mereka hendak pergi, tiba-tiba saja Sahira melihat mobil milik Bram melintas di dekatnya dengan kecepatan tinggi. Sontak Sahira yang memang mengenal pasti bahwa mobil itu adalah milik Bram, langsung meminta Saka untuk mengejarnya dan tidak ingin mobil itu lolos begitu saja dari hadapannya.
"Mas, itu mobil om Bram. Ayo kita ikuti mobil itu sekarang mas! Jangan sampai kita kehilangan jejak mas!" ucap Sahira cemas.
"Kamu serius sayang? Beneran itu mobilnya om Bram? Kamu gak salah kan?" tanya Saka.
"Iya benar mas, gak mungkin aku salah. Aku tahu betul itu mobil om Bram, ayo cepet mas kejar mereka!" pinta Sahira.
"Oke!" Saka mengangguk setuju.
Saka langsung menancap gas mengejar mobil Bram dengan kecepatan tinggi, mereka tidak ingin kehilangan jejak dan berharap dapat mencegah mobil tersebut. Sahira sangat panik, ia tidak bisa diam dan tenang karena terus memikirkan ibunya yang pasti berada di mobil itu.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil Saka berhasil mencegat mobil milik Bram dan memaksa mobil itu untuk berhenti. Sahira tersenyum lega, ia langsung turun dari mobil tanpa menunggu Saka karena ia sudah tidak sabar ingin meminta ibunya untuk ikut bersamanya.
"Ibu, aku mohon turun Bu! Aku gak mau ibu pergi sama laki-laki itu!" ucap Sahira berteriak.
Saka pun ikut menyusul Sahira turun dari mobil, ia menggenggam tangan Sahira dan menahan gadis itu yang hendak pergi mendekati mobil Bram. Ia tak ingin Sahira berbuat ceroboh, apalagi sampai memaksakan diri untuk membawa ibunya pergi dari Bram si laki-laki berkumis itu.
"Tahan Sahira, kita tunggu sampai ibu kamu turun dari mobil! Kamu harus tenangkan diri kamu, saya gak mau sesuatu terjadi pada kamu!" ucap Saka.
"Tapi mas, aku gak bisa tenang kalau belum lihat ibu keluar dari mobil itu," ucap Sahira tegas.
Akhirnya Bram serta Fatimeh turun dari mobil tersebut dan menghampiri mereka, tampak keduanya menatap wajah Sahira serta Saka dengan tatapan tajam. Sahira tersenyum senang karena berhasil menyusul ibunya, ia merasa lega dan berharap Fatimeh mau mendengarkannya.
"Bu, ayo Bu kita pulang! Ibu jangan ikut sama dia ya!" pinta Sahira.
Namun, sepertinya Fatimeh tidak mau mendengarkan kata-kata putrinya itu. Terlihat ia menunjukkan ekspresi marahnya dan seolah kesal karena Sahira lagi-lagi menghalanginya, sedangkan Sahira masih terus mencoba agar ibunya mau ikut dengannya dan percaya padanya.
"Lu itu ngapain sih Sahira? Kenapa lu kejar gue sampai kayak gini? Lu pikir emangnya gue mau ngapain sama Bram?" heran Fatimeh.
"Aku gak tahu ibu mau berbuat apa, tapi aku jaga-jaga aja khawatir kalau ibu nantinya dibawa ke tempat yang gak bener," ucap Sahira.
"Maksud lu apa? Bram ini orang baik, dia bukan seperti yang lu kira Sahira!" ujar Fatimeh.
"Betul Sahira, saya cuma ingin ajak ibu kamu jalan sebentar kok di sekitar sini. Lagian kasihan juga kalau ibu kamu ini sendirian terus di rumah, dia pasti juga butuh healing," sahut Bram.
"Om, om gausah pura-pura deh di depan aku! Aku tahu otak om itu seperti apa, pasti om punya rencana gak bener kan sama ibu!" ucap Sahira.
"Sahira, jaga kata-kata lu tentang Bram! Lu gak tahu apa-apa, jadi lebih baik lu diam dan jangan ikut campur urusan gue!" sentak Fatimeh.
Sontak Sahira terkejut bukan main mendengar bentakan ibunya, ia tak mengira jika ibunya begitu membela Bram sampai dengan teganya dia membentak dirinya. Saka pun reflek merangkul gadisnya dan menenangkannya, ia tahu betul pasti Sahira sangat sakit hati saat ini.
•
•
Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangannya dari arah luar dan membuat kedua pria itu terkejut. Saat ditanya siapa, orang di luar tersebut tidak menjawab. Sontak Alan pun bangkit untuk mengecek siapa yang sudah mengganggu momen dirinya dengan sang sepupu disana.
TOK TOK TOK...
Orang itu malah mengetuk pintu lagi, karena sudah tidak tahan dan penasaran juga siapa yang datang, akhirnya Alan serta Leonil sama-sama berjalan menuju pintu untuk mencari tahu. Alan membuka pintu ruangannya dan menemukan sosok wanita cantik berdiri di depannya dengan senyum tipis.
"Eh, kamu siapa? Saya baru lihat kamu disini, cari siapa?" tanya Alan kebingungan.
"Eee kak Leonil ada di dalam gak?" gugup wanita itu.
Mendengar suara seperti kekasihnya, Leonil yang semula menunggu di dalam pun langsung jalan cepat ke depan menghampiri mereka. Tentu Leonil ingin memastikan apakah benar itu suara kekasihnya atau bukan, dan ternyata benar dugaannya karena itu memang kekasihnya.
__ADS_1
"Lala? Kamu ngapain nyusul kesini sayang? Katanya kamu gak kuat jalan, kenapa kamu malah masuk kesini bukan nunggu di luar aja?" ujar Leonil sambil tersenyum menghampiri gadisnya.
Alan yang menyaksikan itu hanya diam di tempat dengan tampang tak suka, jujur saja ia selalu merasa iri pada setiap orang yang bermesraan seperti itu di hadapannya. Namun, Alan tidak bisa berbuat apa-apa karena itu adalah sepupunya. Leonil pun kembali menatap ke arah Alan sambil tersenyum berniat mengenalkan gadisnya.
"Eh iya Lan, kenalin nih ini cewek aku namanya Lala!" ucap Leonil dengan bangga.
"Halo kak! Aku Lala," gadis itu spontan maju mendekati Alan dan menyodorkan tangannya seperti mengajak salaman.
"Saya Alan, salam kenal ya Lala? Kamu cantik!" ucap Alan.
"Makasih kak, eee kakak ini sepupunya kak Leon ya?" ucap Lala dengan lembut.
Alan mengangguk sambil tersenyum, "Iya Lala, saya sepupu Leonil. Masuk aja yuk kita bicara di dalam!" ucapnya.
"Eh gausah kak, nanti malah ganggu kalian lagi. Aku tadi cuma mau numpang ke toilet, soalnya kebelet," ucap Lala malu-malu.
"Hah kebelet? Ya ampun Lala, terus ngapain kamu malah kesini? Toilet kan ada disana tuh, gak baca tulisannya ya?" heran Leonil.
Lala menggeleng sebagai jawaban, Leonil semakin merasa gemas dengan gadisnya itu dan reflek mencubit pipinya berkali-kali. Alan yang melihatnya pun dibuat muak dan ingin segera pergi saja dari sana untuk menghindari melihat momen mesra sepasang kekasih itu.
"Terus aja terus, kamu mau bikin aku makin sakit hati ya Leon? Bisa-bisanya malah mesra-mesraan di depan aku, yang ada nanti aku bisa pingsan nih lama-lama," ucap Alan protes.
"Hahaha, maaf bro maaf. Aku gak ada niatan buat bikin kamu kesel kok, sorry ya?" ujar Leonil.
Tiba-tiba Lala kembali menyela, "Kak, aku udah gak tahan nih. Aku ke toilet dulu ya?" ucapnya.
"Eh iya iya, itu toiletnya disana. Kamu bisa sendiri kan?" ucap Leonil.
"Bisa kok," ucap Lala mengangguk singkat.
•
•
Sahira masih terus menangis sesenggukan saat mengingat momen antara dirinya dengan sang ibu di jalanan tadi, Sahira tak menyangka kalau ibunya ternyata lebih memilih Bram dibanding dirinya dan bahkan tadi Fatimeh sempat mengatakan kalau dia tak membutuhkan Sahira lagi di hidupnya.
Tentu saja Sahira tidak bisa berhenti menangis, ibu yang sangat ia sayangi kini sudah berubah drastis tak seperti wanita yang dulu lagi. Sahira pun menggunakan dua tangannya untuk menutupi wajahnya yang sudah dipenuhi air mata, ia kini tengah terduduk di sebuah taman yang hijau dan luas bersama kekasihnya, Saka.
Tampak Saka memang masih berada di sebelah gadisnya itu sembari berusaha menenangkannya dengan cara memeluknya, ia sungguh tak tega melihat ekspresi Sahira yang begitu bersedih saat ini. Saka mencoba membiarkan sejenak gadis itu menumpahkan air matanya sampai dirasa dia sudah bisa diajak bicara.
"Aku benar-benar gak nyangka kalau ibu lebih milih om Bram dibanding aku, rasanya sakit banget waktu dengar ucapan ibu tadi!" ucap Sahira.
"Ya aku juga gak nyangka sih ibu kamu sampe begitu banget belain laki-laki tadi, tapi kamu juga harus kuat Sahira dan kamu gak boleh sedih terus kayak gini!" ucap Saka.
"Gimana caranya mas? Kamu gak ngerasain jadi aku sih," ucap Sahira terisak.
"Emang aku gak ngalamin apa yang kamu rasakan sekarang, tapi aku akan selalu ada untuk jadi penguat hidup kamu Sahira!" ucap Saka.
"Makasih mas," singkat Sahira.
Dengan lembutnya, Saka mulai menghapus air mata di wajah kekasihnya itu sambil tersenyum menatapnya. Saka berharap sekali agar Sahira bisa lebih tenang dan tidak terus sedih seperti ini, meski ia tahu betapa sakitnya hati gadis itu karena sudah dikecewakan oleh ibunya sendiri.
"Kamu gak perlu cemas, ada aku disini yang akan selalu menjaga dan melindungi kamu!" ucap Saka.
Sahira mendongak menatap wajah tampan Saka yang berada sangat dekat dengannya, hingga kemudian keduanya larut dalam sebuah pelukan hangat yang diawali oleh Saka. Sahira seolah tak ingin melepaskan pelukan itu, ia merasa sangat nyaman dan ingin terus bersamanya.
"Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Sampai kapanpun aku gak akan pernah lepasin kamu Sahira, kamu itu milik aku dan siapapun gak bisa rebut kamu dari aku!" ucap Saka posesif.
__ADS_1
"Iya mas, aku juga sayang dan cinta sama kamu," balas Sahira dengan lembut.
Setelah dirasa Sahira berhasil ditenangkan, mereka pun akhirnya memutuskan pergi dari tempat tersebut karena sudah memasuki jam makan malam. Sahira menurut saja karena ia pun juga telah mulai merasakan lapar, keduanya sama-sama pergi menuju tempat makan yang ada di dekat sana.
Sesampainya di sebuah warung bakso, Saka langsung menarik kursi dan duduk disana bersama gadisnya. Tak lupa Saka memesan makanan serta minuman yang mereka inginkan, lalu pria itu menarik satu tangan Sahira dan digenggam dengan erat sambil memandanginya.
"Kamu yakin mau makan bakso? Gak kepengen makan makanan yang lain gitu?" tanya Saka.
Sahira menggeleng, "Enggak mas, aku udah lama gak makan bakso. Lagian panas-panas gini kan enaknya emang makan bakso," jawabnya.
"Okay, aku penasaran juga sama rasanya. Siapa tahu aku juga bisa suka," ucap Saka.
Disaat mereka tengah asyik berduaan, hal yang tak terduga justru terjadi hingga membuat keduanya sama-sama kompak menoleh ke arah seseorang yang tiba-tiba muncul mendekati mereka. Sontak Sahira terlihat panik, namun Saka tetap berusaha menenangkannya.
"Oh oh, jadi begini kerja kamu Sahira? Bukannya datang ke kantor yang sedang genting, kamu malah asyik-asyikan disini sama pacar kamu!" cibir si pria yang tak lain ialah Alan.
•
•
Wati kini tengah menjajakan dagangannya di tempat seperti biasa, ia terlihat lebih bersemangat karena belakangan ini omsetnya meningkat drastis dan membuat hidupnya berubah menjadi lebih baik. Wati sangat senang karena ia bisa menghidupi keluarganya dengan hasil jualan yang ia dapatkan selama beberapa Minggu ini.
Tapi, tanpa diduga mobil Ari muncul di depannya dan membuat Wati terkejut. Sungguh gadis itu merasa tidak nyaman saat melihat Ari turun dari mobilnya dan berjalan menghampirinya, apalagi Ari tersenyum lebar dengan tangan melambai ke arahnya seolah menyapa.
"Hai Wati! Apa kabar kamu? Gimana nih jualan kamu? Makin ramai lancar kan?" ujar Ari.
"Umm, ya begitulah mas. Berkat bantuan dari mas dan sarannya, saya jadi bisa lebih sukses dibanding sebelumnya. Terimakasih banyak ya mas atas bantuannya?" ucap Wati.
"Sama-sama Mira, syukurlah aku juga ikut senang lihat kamu senang. Semoga aja kamu bisa terus begini ya Mira!" ucap Ari.
"Aamiin," singkat Wati.
"Oh ya, kamu ada apa kesini mas? Bukannya apa-apa nih, saya cuma takut aja kalau nanti pacar kamu salah paham lagi dan marah-marah ke saya seperti waktu itu," ucap Wati khawatir.
Ari tersenyum tipis, "Kamu gausah khawatir Mira, aku pastikan itu gak akan terjadi. Keira sekarang udah percaya kok sama aku, dia gak nuduh kamu pelakor atau perebut laki orang lagi," ucapnya dengan santai.
"Kamu beneran mas? Saya masih was-was nih, abisnya pacar kamu itu galak banget sih," ucap Wati terlihat ketakutan.
"Tenang aja, dia gak mungkin begitu lagi. Dia udah janji sama aku kalau dia akan berubah, percaya deh sama aku!" ucap Ari menenangkan.
Wati pun mengangguk, dan tak lama kemudian seorang wanita juga turun dari mobil Ari dengan senyum di wajahnya. Sontak Wati terkejut, ia melongok melihat Keira ternyata juga ikut bersama Ari datang kesana. Wati memilih menjauh dari Ari, berjaga-jaga seandainya Keira akan memarahinya.
"Hahaha, kamu gausah ketakutan gitu Mira. Keira emang sengaja aku bawa kesini juga, supaya dia bisa makin dekat sama kamu. Udah lah kamu gak perlu ngumpet begitu Mira!" kekeh Ari.
Keira pun mendekat sambil tersenyum, "Mira, aku minta maaf ya soal kejadian waktu itu? Kamu jangan takut lagi sama aku! Aku sekarang udah percaya kok sama kamu," ucapnya.
"Hah? Ini beneran mbak?" tanya Wati memastikan, jujur ia masih belum percaya seratus persen.
Keira manggut-manggut pelan, "Bener lah Mira, aku mau minta maaf sama kamu. Jadi, aku dimaafin gak nih?" ujarnya.
"Eee ya pasti aku udah maafin kamu kok mbak," ucap Wati perlahan.
Ari ikut senang mendengar ucapan mereka, ia pun meminta Wati serta Keira untuk saling berjabat tangan demi mengikrarkan perdamaian mereka dan berjanji untuk tidak ada keributan lagi diantara kedua gadis itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1