
Sepulang dari kantor, Saka sengaja membawa Sahira ke rumahnya untuk mengenalkan gadis itu pada kedua orangtuanya, sekaligus melakukan buka bersama disana. Ya Saka memang memiliki niat serius untuk mengajak Sahira menikah, itu sebabnya ia membawa Sahira kesana.
Melihat kedatangan Saka bersama seorang wanita, sontak membuat Syera yang ada di ruang tamu kebingungan. Syera pun beranjak dari kursinya, lalu menegur Saka karena penasaran dengan siapa perempuan yang dibawanya itu. Saka akhirnya terpaksa berhenti melangkah, walau ia sangat tidak ingin berbicara dengan mama tirinya itu.
"Saka, kamu bawa siapa sayang? Pacar kamu? Kenapa kamu gak pernah kasih tahu mama kalau kamu punya pacar?" tanya Syera penasaran.
Saka yang tidak menyukai mamanya, kini terpaksa berpura-pura bersikap lembut agar Sahira tidak curiga dan juga untuk melancarkan sesi perkenalan yang Saka inginkan. Tentu Saka tak mau ada keributan nantinya, maka dari itu Saka memilih melupakan sejenak kebenciannya.
"Eee iya ma, ini pacar aku. Kenalin, namanya Sahira!" jawab Saka sambil tersenyum dan kemudian menatap gadisnya. "Nah sayang, kamu kenalin ya ini mama aku!" sambungnya.
"Ah halo tante!" Sahira langsung menyapa Syera dan bersalaman dengannya.
Entah kenapa saat bersentuhan tangan dengan Sahira, membuat Syera merasakan sesuatu yang tidak asing dari gadis itu. Terlebih ketika mata mereka saling bertatapan, Syera seolah tengah menatap putrinya yang telah lama hilang. Namun, Syera menyingkirkan semua pemikiran itu karena belum tentu Sahira adalah putrinya.
"Enggak, gak mungkin Sahira ini putriku. Pasti aku cuma kepikiran aja, karena pastinya sekarang putriku sudah seumuran Sahira," gumam Syera dalam hati.
Syera pun tersenyum dan mengusap wajah Sahira dengan lembut, "Halo juga Sahira! Salam kenal ya? Kamu cantik banget deh!" ucapnya memuji.
Dengan malu-malu Sahira berkata, "Tante bisa aja, tante juga cantik kok. Pantas aja Saka ganteng banget, ternyata mamanya cantik begini," ucapnya sembari melirik sang kekasih.
Seketika Saka terdiam, "Dia bukan mama kandung aku Sahira, seandainya kamu tahu," batin Saka.
Tak lama kemudian, Alfian sang ayah muncul dari arah dapur dan terlihat kaget saat melihat putranya sudah kembali bersama Sahira. Tentu Alfian tampak tak menyukai hal itu, ia sangat tidak setuju jika putranya menjalin hubungan dengan wanita seperti Sahira yang hanya seorang karyawan.
"Saka!" Alfian memanggil putranya, yang sontak membuat Saka menoleh ke arahnya.
"Eh papa, kenalin pa ini pacar aku namanya Sahira! Dia asisten pribadi aku di kantor," ucap Saka dengan antusias.
Alfian menatap tajam wajah Sahira, "Asisten? Bukannya dia ini sekretaris adik kamu?" tanyanya.
"Iya pa, tapi itu kemarin sebelum dia dipecat sama Alan dengan tidak hormat. Makanya aku langsung tawarin pekerjaan di kantor aku," jawab Saka.
"Apa? Saka, bisa-bisanya kamu menawarkan pekerjaan dengan gampangnya ke orang yang baru dipecat. Dimana pemikiran kamu sih? Kalau kinerja dia gak bagus gimana?" ujar Alfian.
"Pa, papa gak perlu khawatir. Sahira ini selain pacar aku, dia juga ahli dalam segalanya," ucap Saka.
Sahira pun memerah dibuatnya, gadis itu menyembunyikan wajahnya dibalik tubuh Saka sambil tersenyum malu-malu. Sedangkan Alfian terlihat menepuk jidat mendengar jawaban Saka, dia merasa putranya itu sedang dimabuk asmara sehingga rela melakukan segalanya.
"Mas, yaudah yuk kita duduk bareng aja di sofa! Kasihan tuh Sahira juga kelihatannya udah capek berdiri terus," ucap Syera tiba-tiba.
"Ya okay, ayo kita duduk dan lanjut bicara disana sambil minum!" ucap Alfian setuju.
Akhirnya Saka dengan bangga membawa Sahira ke sofa dan duduk bersama-sama disana, meskipun Saka tahu kalau papanya itu tak menyukai Sahira dari awal mereka bertemu.
•
•
Sementara itu, menjelang berbuka puasa justru Cat harus mengobati luka-luka yang dialami kekasihnya. Ya baru saja Yoshi memang terluka akibat dipukuli oleh preman-preman yang tadi mencegatnya di jalan, tentu saja Cat sebagai kekasih sangat prihatin dengan kondisinya.
Awalnya Cat merasa bangga saat Yoshi datang dan hendak melawan preman-preman tersebut dengan maksud untuk menolongnya, tetapi sesaat kemudian malah pria itulah yang terjatuh dan dipukuli oleh semua preman sampai babak belur. Sontak Cat pun sangat terkejut dibuatnya.
"Aduh duh duh, sakit sayang pelan-pelan dong obatinnya! Yang penuh kasih sayang gitu, biar lukanya juga minder mau lama-lama di wajah aku," ucap Yoshi merintih.
"Ah lebay kamu Yos! Lagian tadi pake sok-sokan nantangin mereka segala, aku kira kamu jago berantem eh malah kayak gini!" cibir Cat.
"Hehe, berani aja dulu kali soal menang atau kalah mah belakangan," ujar Yoshi.
__ADS_1
Cat menggeleng pelan sambil terus mengobati luka di pipi kekasihnya itu, "Ada-ada aja kamu, lain kali jangan begitu lagi ya! Aku gak mau kamu terluka begini sayang," ucapnya khawatir.
"Iya iya, niat aku kan baik mau tolong kamu. Eh ternyata kamu gak perlu ditolong," ucap Yoshi.
"Hahaha, sebenarnya aku juga takut sih tadi. Ya tapi pas lihat kamu terluka begitu, jiwa ksatria aku jadi bangkit deh," ucap Cat.
"Makasih ya sayang, beruntung banget emang aku punya pacar sama kamu!" ucap Yoshi memuji.
"Aku juga beruntung, karena kamu itu laki-laki yang langka dan lucu," ucap Cat terkekeh.
"Oh ya? Bagus dong, aku senang kalau kamu merasa begitu. Tapi, aku minta maaf ya karena aku gak bisa lindungin kamu tadi?" ucap Yoshi.
Cat tersenyum lebar, "Ah kamu mah pake minta maaf segala, gapapa kok sayang. Lagian barang yang aku beli tadi kan berhasil diselamatin," ucapnya.
"Iya sih, tapi tetap aja aku ngerasa gak pantas jadi pacar kamu. Masa iya aku yang laki-laki malah gagal melindungi kamu," ucap Yoshi pelan.
"Kamu gak perlu mikir gitu, udah ah mending sekarang kita siap-siap buat buka puasa aja! Luka kamu juga udah aku obatin semua nih," ucap Cat tersenyum tipis.
Yoshi manggut-manggut perlahan, "Aku ngikut kamu aja sayang, sekali lagi makasih ya udah mau obatin luka aku?" ucapnya sambil tersenyum.
"Sama-sama sayang," singkat Cat.
Mereka pun saling bertatapan selama beberapa detik disana, tangan Yoshi juga sudah bergerak mengusap lembut kening sang kekasih dan menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangannya. Namun, seseorang datang secara tiba-tiba hingga membuat mereka berdua terkejut.
"Heh woi! Buset dah kalian bulan puasa gini malah asyik pacaran terus, dosa tau! Apa gak pada tahu waktu ya? Ini dah mau Maghrib loh, kita buka puasa dulu yuk!" sentak seseorang yang ternyata Ivan.
Cat menghela nafasnya saat melihat Ivan muncul disana, "Ya ampun Van, lu tuh benar-benar nyebelin deh! Iya iya, ini kita juga mau buka puasa kok. Thanks udah ngingetin!" ucapnya agak kesal.
Ivan malah terkekeh kecil dan meninggalkan sepasang kekasih itu begitu saja.
•
•
Namun, betapa kagetnya Alan ketika ia malah tak sengaja berpapasan dengan Sahira saat hendak menuju meja makan. Pria itu langsung melongok lebar dengan mulut terbuka ketika berhadapan dengan gadis yang telah berhasil membuat dirinya tergila-gila itu, tentu saja Alan bingung mengapa bisa Sahira ada di rumahnya saat ini.
"Sa-Sahira? Kamu ngapain di rumah saya? Kok kamu bisa tahu alamat rumah saya sih, siapa yang kasih tahu?" tanya Alan tampak gugup.
"Eee selamat sore pak! Maaf, tapi saya diajak kesini sama pak Saka. Beliau yang kasih tahu saya alamat rumah bapak, terus beliau juga ajak saya untuk buka puasa bersama disini. Gak masalah kan pak?" jelas Sahira dengan perlahan.
"Ya enggak dong, masa saya mempermasalahkan hal itu? Toh kamu kan pacar kakak saya, jadi kamu juga berhak untuk menginjakkan kaki disini. By the way, selamat datang di rumah ini Sahira!" ucap Alan.
Sahira tersenyum seraya menundukkan wajahnya, "Terimakasih pak, bapak emang baik!" ujarnya.
"Iya Sahira, yaudah yuk kita ke meja makan aja! Apa yang lainnya udah pada disana?" ucap Alan.
"Betul pak, mereka sudah siap berbuka puasa disana. Tadi saya habis menumpang ke toilet, makanya kita bisa ketemu disini," ucap Sahira.
"Okay, kalo gitu kita bareng aja ke meja makannya! Kamu jalan duluan, saya di belakang kamu!" ujar Alan.
Sahira mengangguk perlahan, lalu ia mulai melangkah menuju meja tempat dimana keluarga besar Alfian sudah berkumpul disana dan bersiap melaksanakan buka puasa bersama. Sedangkan Alan mengikuti saja dari belakang, matanya terus memandang tubuh Sahira dan coba menahan perasaan sedihnya saat bersama gadis itu.
"Ah sial! Saya mau berusaha melupakan kamu Sahira, tapi kenapa kita malah ketemu lagi disini sekarang?" gumam Alan dalam hati.
Begitu sampai di meja makan, Saka tampak menyambut gadisnya dan meminta Sahira untuk duduk di dekatnya. Alan pun semakin dibuat sakit hati olehnya, tapi Syera mendekatinya dan mengajak putra kesayangannya itu untuk ikut duduk juga disana bersama mereka.
Akhirnya mereka semua sama-sama berbuka puasa disana begitu adzan terdengar, namun tampak Alan masih terus memandangi Sahira dari posisi duduknya saat ini. Pria itu seolah tak suka ketika Saka bertindak romantis pada Sahira di depan matanya, sungguh sakit rasanya.
__ADS_1
Setelah selesai berbuka, Alan pamit pada orangtuanya untuk pergi ke masjid melaksanakan shalat Maghrib. Tentu mereka kompak terkejut mendengarnya, sebab selama ini Alan jarang sekali shalat di masjid seperti sekarang. Memang Alan sengaja menggunakan cara itu demi menghindari bertemu dengan Sahira lagi.
"Ma, pa, aku ke masjid dulu ya? Takut ketinggalan shalat berjamaah nih," pamit Alan.
"Loh Alan, sejak kapan kamu mau shalat wajib ke masjid? Biasanya juga kamu lebih sering di rumah, apa sekarang kamu sudah berubah jadi anak sholeh?" tanya Alfian keheranan.
"Ah papa terlalu lebay, laki-laki kan memang dianjurkan shalat di masjid. Udah ya aku pergi dulu? Assalamualaikum," ucap Alan.
"Iya iya, waalaikumsallam.." Alfian dan Syera kompak menjawab salam putranya sembari masih terheran-heran.
Setelahnya, Alan pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke luar rumah. Saka yang melihat itu sontak tersenyum puas, ia yakin sekali adiknya pasti tidak tahan melihat kemesraan dirinya dengan Sahira disana, maka dari itu Alan berpura-pura pergi ke masjid.
•
•
"AAAAA!!!" selepas shalat, Alan berdiri di dekat jembatan dan berteriak sangat keras untuk melampiaskan semua emosi di dalam dirinya yang selama ini ia pendam.
Alan menangis saat itu juga, ia merutuki dirinya sendiri karena terlalu lemah dan penakut sampai tidak berani menyatakan cinta pada Sahira, rasa gengsi lah yang membuatnya kini kehilangan kesempatan untuk bisa memiliki Sahira seutuhnya, sebab gadis itu telah dimiliki oleh sang kakak.
"Saya benar-benar bodoh banget! Saya gak nyangka kalau semua akan jadi seperti ini, aaarrgghh dasar sialan!" umpatnya kesal.
"Pak Alan?" tiba-tiba saja Alan dikejutkan dengan suara wanita yang memanggilnya dan berada di dekatnya.
Sontak pria itu menoleh dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata, ia melihat sosok Sahira berdiri menatapnya dan membuat Alan panik serta langsung mengusap air matanya. Sedangkan Sahira tampak mendekatinya, lalu berdiri di sebelah lelaki itu sambil menatap ke langit yang gelap.
Alan terlihat gugup dibuatnya, ia khawatir Sahira mendengar semua keluhan yang tadi ia lontarkan disana. Alan pun berusaha menenangkan dirinya, meski sulit rasanya sebab ia sendiri juga bingung harus berbuat apa. Alan sungguh tak menyangka jika Sahira bisa datang kesana saat ini.
"Sahira, kamu ngapain kesini? Bukannya kamu di rumah ya sama bang Saka?" tanya Alan gugup.
"Iya pak, saya emang sengaja mau susulin bapak kok. Soalnya saya lihat tadi begitu bapak pergi, bapak kelihatan seperti sedang memendam masalah. Ternyata benar kan dugaan saya, bapak menangis disini," jawab Sahira.
"Hah nangis? Yang benar aja kamu, saya gak nangis kok. Kamu kalau bicara jangan mengada-ada deh!" elak Alan.
"Ahaha, bapak mungkin bisa membohongi keluarga bapak tadi, tapi bapak gak bisa bohongin saya. Saya tahu kok bapak barusan abis nangis histeris disini," ucap Sahira.
"Kamu gausah sok tahu, saya itu gak nangis. Udah deh sana kamu kembali aja ke rumah, kasihan bang Saka nyariin kamu!" ujar Alan.
"Nanti aja pak, saya masih mau disini buat bantu tenangin bapak. Saya tahu bapak lagi ada masalah, makanya saya kesini buat bantu bapak. Jadi, bapak mau cerita kan sama saya?" ucap Sahira.
Alan menggeleng, "Enggak, saya gak ada masalah apa-apa," ucapnya mengelak.
"Pak, bercerita itu penting loh untuk bikin perasaan kita jadi lebih tenang. Masa bapak gak mau cerita sama saya sih?" ucap Sahira.
Alan terdiam sejenak seraya memalingkan wajahnya, ia mencoba menarik nafasnya dan berpikir keras apakah harus ia menyatakan cintanya pada gadis itu saat ini atau tidak. Jujur saja Alan penasaran dengan reaksi Sahira, tetapi ia juga tak ingin merusak hubungan Sahira dan Saka.
Sedetik kemudian, Alan kembali menatap wajah Sahira dengan lebih intens. "Baiklah, saya akan mengatakan semuanya ke kamu. Tolong kamu simak baik-baik ya Sahira!" ucapnya.
Sahira manggut-manggut saja seolah siap mendengar semua keluhan pria itu, sedangkan Alan sendiri masih tampak ragu walaupun di dalam hatinya dia sudah sangat siap dan ingin segera menyampaikan rasa cintanya pada Sahira, ya Alan memang terlalu lemah dalam urusan itu.
"Saya cinta sama kamu Sahira, saya gak bisa ngelupain kamu!" ucap Alan tegas.
Deg!
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1