
"Yuk!" Cat mengangguk setuju dengan ajakan dari Yoshi, ia pun mengunci pintu rumahnya dan tak lupa mengenakan alas kaki sebelum melangkah bersama Yoshi menuju motor pria itu.
Sebagai seorang lelaki, Yoshi menggandeng tangan Cat saat mereka berjalan. Tentunya lagi dan lagi Cat merasa tersipu dengan perlakuan manis yang diberikan Yoshi padanya, baru kali ini ia mendapatkan itu dari seorang lelaki, apalagi pria itu adalah orang yang sangat ia cintai.
"Maaf ya aku cuma bisa jemput kamu pake motor, soalnya uang aku belum cukup buat beli mobil. Kamu gapapa kan?" ucap Yoshi.
"Apaan sih kamu? Mau dijemput pake motor atau apa kek itu, asalkan sama kamu ya aku pasti senang banget lah. Kan aku cintanya sama kamu, bukan harta kamu sayang," ucap Cat.
"Duh, makasih banyak loh kamu udah mau bilang begitu sama aku. Jujur aja aku senang banget dengarnya sayang," ucap Yoshi tersenyum.
"Sama-sama sayang," ucap Cat singkat.
Disaat Yoshi dan Cat hendak naik ke atas motor, tiba-tiba suara klakson panjang mengagetkan keduanya. Sontak baik Cat maupun Yoshi terpaksa mengurungkan niatnya, mereka menoleh ke asal suara dengan wajah kebingungan saat melihat sebuah mobil hitam berhenti disana.
"Sayang, itu mobil siapa? Kamu kenal sama pemilik mobilnya?" tanya Yoshi pada Cat.
Cat menggeleng, "Aku gak tahu sayang, baru kali ini aku lihat mobil itu di depan rumah aku. Kita tunggu aja sampe pemiliknya keluar," jawabnya.
"Aneh-aneh aja tuh orang, ada urusan apa coba kasih klakson ke kita?" heran Yoshi.
Cat hanya menaikkan kedua bahunya pertanda ia tidak tahu apa yang dimaksud pemilik mobil tersebut, lalu tak lama seorang pria dengan pakaian serba hitam keluar dari mobil dan tersenyum ke arah mereka.
"Hah? Itu kan Ivan, penampilan dia kok beda banget sih?" ujar Cat dengan mulut menganga tak percaya melihat sosok sahabatnya tengah berjalan mendekati mereka.
"Entahlah sayang, mungkin Ivan baru ketiban rezeki nomplok kali," tebak Yoshi.
Tanpa disadari, Ivan sudah berada di hadapan mereka dan tengah membuka kacamata hitam yang ia kenakan. Sontak Cat serta Yoshi makin terperangah melihatnya, mereka sama sekali tak menyangka jika Ivan akan berubah drastis seperti ini dan tak seperti Ivan yang mereka kenal.
"Van, lu apa-apaan sih? Mobil siapa ini yang lu colong buset? Mending lu balikin deh, daripada nanti lu dikejar massa!" ujar Cat.
"Iya Van, udah lah kita sesama kaum miskin gausah banyak gaya. Kalo lu mau punya mobil, kerja bro bukan nyolong!" sahut Yoshi.
"Lu berdua emang udah kompak banget ya sekarang? Nuduh orang nyolong aja kompak, salut gue sama chemistry kalian!" kekeh Ivan.
"Yeh emang bener kan lu nyolong? Punya duit darimana coba lu bisa beli mobil kayak gitu? Paling juga lu nyolong dari tetangga," ujar Yoshi.
"Kagak lah anjir, gue gak nyolong. Ini mobil beneran punya gue dan gue beli hasil dari warisan engkong gue, makanya sekarang gue jadi orang kaya dadakan bro!" ucap Ivan.
"Ohh seperti itu.." Cat dan Yoshi kompak manggut-manggut disertai mulut terbuka.
"Iyalah, gimana mobil gue? Keren gak? Keren dong masa enggak?" ujar Ivan.
"Iya iya, mobil lu keren banget bro. Terus buat apa lu kesini? Cuma mau pamer mobil baru?" ucap Yoshi.
"Ya begitulah, gue mau kasih tahu aja ke kalian kalau gue udah punya mobil sekarang," ucap Ivan.
"Cih gak penting!" cibir Cat yang langsung membuang muka dan mengajak Yoshi pergi.
Yoshi pun menurut, sepasang kekasih itu kini naik ke atas motor dan membuat Ivan jengkel karena merasa tak diperdulikan.
•
•
"Alkohol?" tanya Sahira terkejut.
Wati menggeleng pelan, "Bukan lah, gue juga gak mau kali disuruh minum alkohol mah. Semalam gue cuma minum minuman biasa," jawabnya.
"Huh syukurlah, yaudah mending lu pulang terus istirahat! Hari ini lu gausah kerja aja dulu!" usul Sahira.
"Mana bisa sih Sahira? Gue tuh harus kerja demi bisa menghidupi keluarga gue, kan lu tau sendiri gue kayak gimana," ucap Wati.
"Ya tapi lu harus jaga kesehatan juga, jangan sampe lu sakit gara-gara terlalu semangat kerja! Nanti malah tambah repot kan kalo lu sakit?" ucap Sahira mengingatkan.
"Iya gue tahu, thanks ya udah ngertiin gue? Kalo gitu gue cabut dulu ya?" pamit Wati.
"Okay, lu hati-hati dan semangat terus! Gue yakin lu pasti bisa melewati ini semua!" ucap Sahira.
__ADS_1
"Aamiin, doa yang sama buat lu juga Sahira! Gue tahu lu juga lagi ada masalah, ya kan?" ucap Wati.
Sahira menunduk dengan wajah merenung, "Lu benar, tapi gue gak bakal patah semangat kok. Kita sama-sama berjuang demi keluarga!" ucapnya.
Wati tersenyum lebar dan mendekati Sahira, lalu merangkulnya. Kedua gadis itu pun saling mengusap punggung satu sama lain bermaksud menenangkan sesama.
"Ehem!" deheman keras mengagetkan mereka berdua, Sahira sangat kaget dan langsung beralih menoleh ke asal suara.
Berdirilah disana sosok Saka, tentu saja baik Sahira maupun Wati sama-sama melongok melihatnya. Keduanya lalu mengucap kata yang sama dan memanggil pria di hadapan mereka itu.
"Pak Saka?" ucap Sahira dan Wati bersamaan.
Wati terkejut lalu beralih menatap wajah Sahira, begitupun sebaliknya. Mereka seolah tak percaya jika mereka mengenali pria yang ada di depan sana, terlebih Wati belum pernah melihat Sahira dekat dengan Saka sebelumnya.
"Loh lu kenal juga sama Saka? Kalian ketemu dimana?" tanya Wati pada Sahira.
"Justru gue yang mau tanya sama lu, kok lu bisa tahu pak Saka? Apa kalian saling kenal?" ujar Sahira.
"Gue baru ketemu sama dia semalam sih, yang tadi gue ceritain ke lu," ucap Wati.
"Ohh, jadi cowok yang minta ditemenin ke bar itu pak Saka? Seriusan lu Wati?" tanya Sahira masih tak percaya.
"Ya serius lah, Saka yang udah tolong gue dari preman dan borong dagangan gue," jawab Wati.
Sahira masih tak percaya mendengarnya, ia kembali menatap Saka yang saat ini sudah berada tepat di depannya. Saka sendiri terlihat bingung mengapa kedua gadis itu keheranan melihatnya, meskipun ia juga heran kenapa Sahira bisa bersama Wati saat ini.
"Hai! Ini kalian berdua ternyata saling kenal? Saya gak nyangka loh," ujar Saka.
"Pak, apa benar bapak yang semalam tolong Wati dan borong semua dagangannya?" tanya Sahira pada intinya.
"Ya betul, saya baru ketemu sama Mira semalam. Emangnya kenapa Sahira?" jawab Saka.
"Gapapa pak, apa betul juga kalau bapak ajak Wati ke bar semalam?" tanya Sahira lagi.
Saka tersenyum dan mencolek pipi Sahira, "Iya benar cantik, saya minta Mira temani saya minum di bar. Tapi, kita gak minum alkohol kok. Kenapa kamu kelihatan tegang begitu Sahira?" ujarnya.
"Saya gak percaya aja, kok bapak bisa bawa teman saya ini ke bar?" ucap Sahira.
•
•
Setelah berhasil menghindari Awan, kini Alan pun memilih langsung berangkat ke kantor dibanding pergi ke rumah Sahira. Alan tidak ingin terjadi keributan lagi antara dirinya dengan Awan, sebab ia sedang malas bertengkar hanya karena merebutkan perempuan bernama Sahira.
Alan turun dari mobilnya dan langsung disapa oleh Agus, sang security yang bekerja disana. Tak lupa Alan meminta Agus untuk memindahkan mobilnya ke tempat yang benar, dan ia pun melangkah ke dalam memasuki kantor.
Saat di dalam, Alan disambut oleh Keira dengan senyumannya. Gadis itu juga mendekat menahan Alan yang ingin melangkah menuju lift, sontak Alan keheranan sebab tak biasanya Keira bersikap seperti itu jika tidak terjadi sesuatu. Alan akhirnya terpaksa berhenti sejenak menatap ke arah Keira.
"Maaf pak, ada yang mau saya sampaikan sebentar ke bapak," ucap Keira.
"Ya Keira, kamu mau bicara apa? Saya lagi gak mood nih buat ngobrol, saya rasanya pusing banget dan mau langsung istirahat di ruangan saya," ujar Alan.
"Sebentar aja kok pak, menurut saya ini penting. Supaya bapak nanti gak kaget sewaktu masuk ke ruangan," ucap Keira.
"Ya ya ya, ada apa Keira?" tanya Alan penasaran.
"I-itu loh pak, tadi ada mbak Nawal datang kesini. Beliau maksa buat ketemu sama bapak, saya udah bilang kalau bapak belum datang, tapi dia tetap aja kekeuh pak," jelas Keira.
"Nawal datang kesini? Mau apa lagi sih tuh anak?" heran Alan.
"Gak tahu pak, tapi tadi beliau bilang mau ketemu sama bapak. Sekarang mbak Nawal juga masih ada di ruangan bapak kok," ucap Keira.
"Oh ya? Kenapa kamu izinin dia buat ke ruangan saya sih Keira? Harusnya kamu larang dong!" geram Alan.
"Maaf pak, saya sudah berusaha tetapi saya gagal. Mbak Nawal tidak bisa dibilangin, dia tetap aja kekeuh mau tunggu bapak disana," ucap Keira.
"Yasudah, saya temuin dia sekarang. Terimakasih atas infonya," ucap Alan.
__ADS_1
"Sama-sama pak," singkat Keira.
Setelahnya, Alan langsung beranjak pergi dari sana menuju lift. Pria itu terlihat cukup emosi karena Nawal lagi dan lagi datang ke kantornya. Alan pun menaiki lift, bergerak cepat dengan perasaan kesal untuk segera bisa menemui Nawal di ruangannya. Ia sudah tak tahan lagi, Nawal memang harus diberi ketegasan bahwa dia tidak bisa datang kesana seenaknya.
Sesampainya di depan ruangan, Alan berhenti sejenak untuk mengambil nafas sebelum menaruh tangannya pada gagang pintu. Pria itu membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam, Nawal yang tengah terduduk santai pun terkejut lalu menoleh begitu Alan masuk kesana.
"Eh Alan, akhirnya kamu datang juga. Udah lama loh aku nungguin kamu," ucap Nawal tersenyum.
"Nawal, kamu ngapain sih ada disini? Diantara kita itu udah gak ada apa-apa," ujar Alan.
"Terus kalau emang kita udah putus kenapa? Apa aku gak boleh datang kesini?" tanya Nawal.
"Jelas enggak lah, kalau kamu datang kesini itu bikin aku makin susah buat lupain kamu!" jawab Alan dengan tegas.
Seketika Nawal terdiam, ada rasa bahagia di hatinya mengetahui bahwa Alan masih belum sepenuhnya melupakan dirinya. Namun, ia juga sadar bahwa hubungannya dan Alan tak akan pernah bisa kembali seperti dulu.
•
•
Fatimeh turun dari mobil pria yang semalaman bermain dengannya, ia mengucap salam perpisahan disertai senyum dan juga lambaian tangan. Setelah pria itu pergi, barulah Fatimeh mulai berjalan ke arah rumahnya. Semalaman sudah ia bersama pria berkumis yang kaya raya dan menemaninya, kini barulah Fatimeh pulang dan merasa lelah.
Namun, tanpa sengaja Fatimeh malah bertemu dengan Awan disaat ia tengah berjalan menuju rumahnya. Tampak pria itu menghentikan motornya dan menyapa Fatimeh, tak lupa ia juga melepas helm lalu menunjukkan senyumnya ke arah wanita itu.
"Halo tante! Baru pulang nih? Kelihatannya capek banget tuh tante," tegur Awan.
"Eh Awan, iya nih tante baru banget pulang. Kebetulan banget ketemu lu disini, yaudah yuk anterin tante sampe ke rumah! Lumayan juga nih kalo jalan jauh," ucap Fatimeh.
"Ah siap tante, kebetulan saya juga mau ke rumah tante kok ketemu sama Sahira," ucap Awan.
"Lah kalo jam segini mah Sahira juga udah berangkat kerja, telat lu kalo mau ketemu sama dia mah. Paling juga tuh rumah kosong," ujar Fatimeh.
"Masa sih tante? Tapi, saya belum ketemu sama dia tuh di jalanan sekitar sini. Kalau berangkat, pasti Sahira lewat sini kan?" ucap Awan.
"Ya iya, kan gak ada jalan lagi. Emangnya lu daritadi disini terus?" tanya Fatimeh.
"Iya tante, saya tungguin Sahira terus tuh eh dia gak nongol-nongol. Makanya saya mau samperin aja dia ke rumahnya," jawab Awan.
"Yaudah, lu anterin gue dah ke warung lu!" pinta Fatimeh.
Awan sontak melongok tak percaya, "Kok jadi ke warung saya tante? Bukannya tadi tante mau pulang ke rumah ya?" tanyanya heran.
"Udah gausah bawel, nurut aja sama gue!" sentak Fatimeh.
"I-i-iya tante, tapi saya kan mau ke rumah tante. Kayaknya saya gak bisa antar tante ke warung saya deh," ucap Awan.
"Hadeh, lu anterin gue dulu baru nanti ke rumah gue! Gampang kan?" suruh Fatimeh.
Awan tak memiliki pilihan lain, ia terpaksa menuruti perintah wanita itu dan mengantarnya ke warung, meskipun ia ingin menemui Sahira.
"Huh, gak mungkin gue balik ke rumah kalo disana masih ada Sahira!" batin Fatimeh.
Akhirnya Fatimeh naik ke atas motor Awan, dan pria itu juga mulai menyalakan mesin motornya bersiap mengantar Fatimeh pergi. Namun, baru saja mereka hendak melaju, sudah ada seseorang yang menghalangi laju motor Awan dengan berdiri tepat di hadapan mereka.
"Waduh tante, ada orang tuh! Kayaknya dia mau halangi kita deh, tuh buktinya dia berdiri aja di depan kita. Dia siapa ya tante? Saya baru lihat dia ada di kampung ini deh," ujar Awan.
"Mana gue tau? Dari pakaiannya sih kayaknya dia pengemis, lu kasih aja duit receh gih!" ujar Fatimeh.
"Oh gitu ya tan? Yaudah deh, tante tunggu sebentar ya disini?" ucap Awan.
"Iya, udah sana ah lu buruan usir tuh pengemis gak jelas!" suruh Fatimeh.
"Siap tante!" Awan langsung turun dari motor dan menghampiri sosok lelaki dengan pakaian serba kotor itu sembari membawa selembar uang.
"Eee mas, ini saya ada uang sedikit buat masnya. Diterima ya? Tapi, tolong minggir karena saya mau lewat!" ucap Awan menyerahkan uang itu.
Bukannya menyingkir, pria itu justru menatap tajam ke arahnya dengan mata melotot lebar. Sontak Awan terkejut bukan main, ia sampai gemetar ketakutan melihat tatapan tersebut.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...