Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 41. Nama Anggun


__ADS_3

Jantung Cat makin berdetak tak karuan, pipinya memerah akibat perlakuan pria itu. Di dalam hatinya ia sangat berbunga-bunga karena merasa Yoshi telah memberi harapan padanya, namun meski begitu Cat tidak mau terlalu berharap karena ia khawatir akan kecewa nantinya.


"Kenapa diam aja? Ayo dibuka pintunya, abis itu aku bantu kamu bersih-bersih toko sebelum yang lainnya pada datang! Sekalian ada juga yang mau aku bicarakan sama kamu," ucap Yoshi.


Cat mengernyit penasaran, "Bicara soal apa ya Yos? Ka-kamu gak mau bahas yang kemarin itu kan? Ini jam kerja soalnya," ucapnya.


"Hubungannya apa Cat? Kerja sambil ngobrol gak masalah kan? Toh kita kan selama ini juga begitu, soalnya aku penasaran banget pengen tahu apa maksud kamu bilang gitu kemarin," ucap Yoshi.


"Gausah dibahas lagi lah Yos, aku rasa semuanya udah jelas kok," ucap Cat membuang muka.


"Gimana bisa jelas? Sehabis kamu ngomong kalau kamu orang yang suka sama aku, disitu Wati datang dan aku gak bisa bahas itu di depan Wati. Makanya sekarang aku minta kamu buat jelasin semuanya Cat!" ucap Yoshi.


"Iya Yos, yaudah yuk kita bicara di dalam aja! Banyak kerjaan yang harus kita beresin sekarang," ajak Cat.


"Okay, by the way hari ini kamu cantik banget Cat! Entah aku yang baru sadar, atau memang kamu dari kemarin juga udah secantik ini ya?" puji Yoshi.


Wajah Cat kembali memerah mendengar pujian dari Yoshi, apalagi saat pria itu terang-terangan mengusap wajahnya serta menyelipkan rambutnya ke sela-sela telinga. Cat menggigit bibir bawahnya menahan gejolak yang mencuat di dalam diri, ia benar-benar terbang saat ini.


"Ah Yos, kamu tuh kenapa jadi suka gombal gini sih? Perasaan sebelumnya kamu gak kayak gini deh, udah ah ayo kita kerja sebelum yang lainnya datang!" ucap Cat malu-malu.


"Kok muka kamu jadi merah sih? Malu ya aku bilang cantik? Gausah malu Cat, emang kamu cantik tau dan kamu pantas dipuji!" ucap Yoshi.


"Udah Yoshi, cukup!" pinta Cat.


Yoshi tersenyum dan menangkap wajah Cat, ia memajukan wajahnya seperti hendak mencium bibir wanita itu. Cat sudah memejamkan mata dan jantungnya berdebar kencang, apalagi ketika jarak mereka sudah semakin dekat.


"Kamu cantik Cat, aku.." Yoshi menggantung ucapannya karena matanya fokus ke bibir ranum gadis itu.


"Woi!" sebuah teriakan keras seorang wanita membuyarkan momen itu, keduanya sontak kaget lalu reflek menjauh.


Yoshi dan Cat menoleh ke asal suara, disana berdiri Wati serta Ivan yang juga baru datang.


"Buset dah, kalian kalo mau ciuman jangan di depan toko juga kali! Gimana nanti semisal ada pembeli yang lihat? Gak malu apa kalian?" ucap Wati sambil mendekati sohibnya itu.

__ADS_1


Cat benar-benar malu saat ini, ia terus menunduk menyembunyikan wajahnya dan tak berani bertatapan dengan Wati. Sedangkan Yoshi hanya terkekeh, kemudian menanggapi perkataan Wati dengan santai tanpa merasa gugup atau malu karena sudah kepergok tadi.


"Lo ngomong sembarangan aja sih Wati! Gue gak mau ciuman sama Cat, orang gue tadi cuma pengen tiupin matanya kok," bohong Yoshi.


"Halah ngibul aja lu! Gue bisa bedain kali mana ciuman mana tiup mata, yang tadi itu lu mau cium bibirnya si Cat!" ucap Wati.


"Tahu banget kayaknya, sering ya?" goda Yoshi.


"Dih, sorry ya bibir gue masih suci. Lu tuh kali yang sering nyosor sembarangan, awas ya kalo lu nodai sohib gue!" ucap Wati.


Yoshi menggeleng disertai kekehan kecil, ia melirik wajah Cat yang masih saja menunduk malu. Yoshi sepertinya sudah mulai tertarik dengan gadis itu dan ingin memilikinya.




Cup!


Saka mengecup foto Sahira yang ada di meja kerja gadis itu, ya saat ini Saka berada di dalam ruangan tempat Sahira bekerja yang tentunya masih kosong sebab sang pemilik belum datang. Saka sengaja masuk kesana, karena ia ingin melihat seperti apa isi ruangan Sahira di dalamnya.


"Sahira, andai kamu tahu perasaan saya ke kamu itu lebih dari seorang atasan pada bawahan. Saya suka sama kamu Sahira, saya mau kamu jadi milik saya seutuhnya!" ucap Saka.


"Tapi, sepertinya saya harus bersaing dengan adik saya sendiri, karena dia kelihatannya juga suka sama kamu," sambungnya.


Cup!


Untuk kesekian kalinya Saka mengecup foto itu, memang Sahira sengaja menaruh bingkai fotonya di meja sebagai pelengkap hiasan agar tidak terlalu kosong, tapi Sahira pastinya akan sangat menyesal jika tahu fotonya dikecup oleh Saka yang sudah terlihat bergairah saat ini.


"Sudah lama saya tidak berpacaran, saya jadi rindu rasanya memiliki seorang kekasih. Kapan ya saya bisa ajak kamu jadian Sahira?" gumam Saka.


Ceklek


Saka sangat terkejut saat pintu ruangan tiba-tiba dibuka dari luar, ia reflek bangkit dari tempat duduk dan menaruh foto itu di meja. Namun, rupanya yang datang bukan Sahira melainkan seorang cleaning service disana.

__ADS_1


"Haish, ngapain sih kamu masuk kesini? Harusnya kamu ketuk pintu dulu dong!" sentak Saka.


"Maaf pak, saya gak tahu kalau pak Saka sedang ada disini. Barusan saya dapat perintah dari bos Alan buat bersih-bersih ruangan ini pak, jadi saya langsung masuk aja," ucap ob itu.


"Kamu siapa? Saya belum pernah lihat kamu sebelumnya, karyawan baru ya disini?" tanya Saka.


"Ya pak, nama saya Anggun. Saya baru aja dua hari bekerja di kantor ini," jawabnya.


"Sombong banget kamu, pake bilang nama kamu anggun! Memangnya kamu pikir nama saya gak anggun gitu? Gausah sombong jadi orang!" cibir Saka.


"Gak gitu pak, maksudnya saya itu namanya Anggun. Emang nama saya tuh Anggun, jadi bukan maksud saya buat sombong," jelas si ob.


"Ohh, bilang dong yang jelas atuh!" kesal Saka.


"I-i-iya pak, maaf!" gugup Anggun.


"Yaudah, kamu boleh bersihin ruangan ini. Tapi ingat, jangan bilang ke Alan atau Sahira kalau saya habis dari sini!" ujar Saka.


"Baik pak!" ucap Anggun patuh.


"Oh ya satu lagi, Sahira sekarang dimana ya? Dia kok belum sampai sih?" tanya Saka.


"Umm tadi sih katanya masih di jalan pak, sama pak Alan juga," jawab Anggun.


"Apa??" Saka terkejut dan raut wajahnya menampilkan ketidaksukaan.


"Iya pak, begitu yang saya tahu," ucap Anggun.


"Yasudah, kamu beresin semuanya! Saya mau keluar dulu," suruh Saka.


Anggun mengangguk pelan, sedangkan Saka melangkah ke luar dan membuka pintu. Namun, tanpa diduga ia justru hampir menabrak Sahira yang kebetulan baru datang dan hendak masuk ke dalam ruangannya.


"Loh pak Saka? Bapak abis ngapain di ruangan saya?" tanya Sahira terheran-heran.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2