Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 77. Akui saja


__ADS_3

Saka menggeleng, "Gak dulu deh sayang, saya masih gak enak sama ibu kamu. Saya takut ibu kamu marah-marah lagi sama saya kayak waktu itu," ucapnya.


"Oh iya, saya minta maaf ya mas atas kejadian waktu itu? Ibu saya mungkin emosi setelah saya tegur mengenai fotonya di bar," ucap Sahira.


"No problem, kamu sekarang mending masuk terus lanjut siap-siap! Saya tunggu disini ya cantik?" ucap Saka.


Sahira mengangguk setuju, ia mempersilahkan Saka duduk menunggu di depan rumahnya dan pria itu pun menurut. Lalu, Sahira masuk ke dalam membuatkan minuman sekaligus siap-siap pergi ke kantor bersama Saka. Sedangkan Saka tetap menunggu disana seorang diri.


Tak lama kemudian, mobil Alan justru muncul di halaman rumah Sahira. Sontak Saka yang tengah duduk itu terkejut dan spontan bangkit menatap ke arah mobil tersebut, ada rasa geram ketika melihat adiknya itu turun dari mobil lalu berjalan mendekatinya disertai senyuman tipis.


"Eh bang, ternyata ada lu juga disini. Lagi ngapain lu bang di rumah sekretaris gue? Kurang kerjaan amat lu," ucap Alan mengejek.


"Gue kesini mau jemput cewek gue, jadi harusnya gue yang tanya ke lu mau apa lu ke rumah cewek gue? Bukannya seorang bos itu wajarnya tunggu di kantor aja ya?" ucap Saka.


Deg!


Alan terkejut seketika mendengar pengakuan Saka mengenai Sahira, sedangkan Saka tersenyum puas melihat reaksi adiknya saat ini. Saka memang sengaja mengatakan itu untuk melihat bagaimana reaksi Alan setelah mendengar dan tahu bahwa Sahira sekarang adalah kekasihnya.


"Lo bicara apa sih bang? Masa iya Sahira itu cewek lu? Gue gak percaya sama lu!" ucap Alan.


"Hahaha, itu sih terserah lu Alan. Lu mau percaya atau enggak itu suka-suka lu, yang penting gue udah jujur," ucap Saka.


"Cih, ngarang aja lu bisanya! Mending lu jujur sama gue, ngapain lu disini!" ucap Alan.


"Gue itu tadi udah jujur, tapi lu nya aja yang gak percaya sama gue. Jadi, sekarang terserah lu mau bilang apa aja ke gue. Gue udah capek debat sama lu bro," ucap Saka kesal.


Disaat asyik berdebat, tiba-tiba Sahira muncul dari dalam rumahnya membawa secangkir teh hangat yang ia buat tadi untuk Saka. Gadis itu pun terkejut lantaran melihat keberadaan Alan disana, apalagi kedua pria itu tengah asyik berdebat dengan wajah tegang.


"Loh kok ada pak Alan juga? Datang sejak kapan pak?" tanya Sahira keheranan.


"Iya Sahira, saya baru datang kok. Saya gak nyangka ada Saka disini," jawab Alan.


"Oh tadi emang pak Saka datang katanya mau jemput saya, pak. Kalau bapak sendiri ada apa ya kesini?" ucap Sahira.

__ADS_1


"Ya sama, saya juga mau jemput kamu. Hari ini kita ada meeting kan jam delapan?" ucap Alan.


Sahira mengangguk, "Iya benar pak, tapi kan kita bisa berangkat bareng nanti dari kantor. Bapak gausah repot-repot ke rumah saya kayak gini," ucapnya.


"Loh kenapa? Salah ya kalau saya ke rumah kamu? Kamu maunya bang Saka aja yang jemput kamu gitu, iya?" tanya Alan.


"Eee bu-bukan gitu pak!" Sahira mengelak.


"Udah lah Sahira, kamu akui aja yang sebenarnya ke dia!" sela Saka.


"Maksud bapak gimana ya?" tanya Sahira heran.


"Ya kamu bilang ke dia kalau kita ini udah jadian, supaya dia tahu apa alasan saya kesini. Jadi, dia gak mengharap ke kamu lagi sayang," jawab Saka sambil merangkul Sahira di hadapan Alan.


Seketika Alan melotot tak percaya, hatinya terasa sesak melihat pemandangan itu.




Disaat ia sedang merapihkan barang-barang jualannya, sebuah mobil berhenti di dekatnya dan membuat Wati menoleh ke arahnya. Gadis itu tersenyum saat melihat sosok Ari keluar dari mobil lalu berjalan mendekatinya, entah mengapa perasaan Wati mendadak berbunga-bunga saat mengetahui Ari lah yang datang kesana.


"Eh mas Ari, pagi mas!" Wati menyapa pria itu disertai senyum dan lambaian tangannya.


"Pagi juga Mira, saya senang lihat kamu makin hari makin rajin aja jualannya! Sekarang masih pagi loh, tapi kamu udah buka lapak aja. Kamu emang keren Mira!" ucap Ari.


"Makasih mas, saya kan emang pengen jualan dari pagi biar tambah laris," ucap Wati.


"Aamiin, tapi omong-omong kamu udah sarapan belum?" tanya Ari yang dijawab dengan anggukan oleh gadis itu.


"Tuh kan, kamu boleh semangat Mira. Tapi, kamu juga jangan sampai lupa buat makan! Sarapan itu penting loh Mira," sambungnya.


"I-i-iya mas, abis ini saya sarapan kok. Biar saya beli makanan dekat-dekat sini," ucap Wati.

__ADS_1


"Gausah, saya aja yang belikan buat kamu. Kamu tunggu aja disini, nanti saya balik lagi bawain sarapan itu ya?" ucap Ari.


"Duh, jangan mas! Saya nanti jadi gak enak tau," ucap Wati menolak.


"Gapapa, kalau sama saya mah gausah gak enak begitu Mira," ucap Ari.


Akhirnya Wati mengangguk setuju, Ari pun berbalik kembali ke mobilnya dan melaju untuk mencari sarapan di sekitar sana. Sedangkan Wati terus membereskan dagangannya, semua tampak baik sampai tiba-tiba seorang gadis datang dan menggebrak meja di depannya dengan keras.


Braakkk


"Heh cewek kegatelan!" umpatan gadis itu terdengar amat menyakitkan bagi Wati, ya Wati tak mengenal siapa dia tetapi gadis itu malah mengatakan ia wanita gatal.


"Ma-maaf mbak, mbak ini siapa ya? Kenapa mbak tiba-tiba datang dan marah-marah ke saya kayak gini?" tanya Wati terheran-heran.


"Gausah banyak omong ya kamu! Maksud kamu apa tadi dekat-dekat sama pacar saya kayak gitu? Kamu selingkuhannya ya? Atau kamu memang cuma wanita penggoda?" ujar gadis itu.


"Hah? Pa-pacar mbak yang mana ya?" Wati kembali bertanya dengan wajah bingung.


"Halah pake pura-pura gak tahu lagi kamu! Yang tadi itu tuh pacar saya, kita udah berhubungan lama dan sekarang kamu berani godain dia!" sentak gadis itu.


Deg!


Jantung Wati berdetak kencang mendengar penuturan gadis itu, ia tak menyangka jika Ari sudah memiliki seorang kekasih. Seketika harapan Wati pupus untuk bisa mendapat cinta pria itu, tapi ia tepis semua pikiran aneh itu karena saat ini ia harus menghadapi Keira, sang pacar dari Ari.


"Mbak, kamu salah paham. Ceritanya gak seperti itu, saya gak godain pacar mbak kok. Kami juga gak selingkuh," ucap Wati.


"Halah omong kosong! Kamu pikir saya bakal percaya sama kata-kata kamu? Sama sekali enggak, justru saya makin benci sama kamu!" ucap Keira dengan lantang.


Wati pun menunduk bingung, ia tak mengerti harus bagaimana lagi menjelaskannya pada Keira.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2