
Sahira dan Alan tiba di depan lift, mereka menunggu sampai pintu lift terbuka disana. Namun, Alan tidak sama sekali merenggangkan pegangannya pada telapak tangan gadis itu. Sahira pun dibuat gelisah, keringat sudah menerpanya ketika para karyawan yang berlalu lalang di sekitar mereka melirik ke arahnya dengan tatapan yang mencurigakan.
Sahira sangat ingin protes dan meminta Alan melepas tangannya, akan tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk melakukannya sebab ia khawatir Alan justru akan marah lalu berubah sikap menjadi seperti dulu lagi. Ia sudah senang dengan sikap Alan saat ini, meskipun kerap kali Alan membuatnya tersipu malu di hadapan banyak orang seperti sekarang.
"Pak, kok lift nya lama banget sih gak kebuka buka?" tanya Sahira heran.
"Gak tahu Sahira, biasanya mah cepat. Soalnya lift ini kan cuma dipake sama saya atau para klien atas yang hadir ke kantor ini," jawab Alan ikut heran.
"Terus gimana dong pak? Mau lewat lift biasa aja?" tanya Sahira memberi usul.
"Gak dulu deh, disana pasti rame. Saya nanti gak bisa puas berduaan sama kamu," Alan menolak dengan alasan yang membuat Sahira tercengang.
Gadis itu sangat kaget mendengarnya, seketika ia merinding ketika mengingat kembali ucapan Alan barusan. Sedangkan Alan sendiri malah terkekeh geli melihat ekspresi wajah Sahira saat ini, lelaki itu mencolek pipinya dan Sahira sontak menatap bosnya dengan bingung.
"Kenapa kamu kayak kaget gitu? Emang kamu gak mau berduaan sama saya? Giliran sama Saka aja kamu mau, kok pas sama saya malah nolak? Yang bos disini itu siapa?" ujar Alan.
"Sa-saya..."
Ting
Ucapan Sahira terpotong oleh pintu lift yang terbuka, Alan pun tersenyum dan mengajak Sahira masuk ke dalam lift.
"Ngobrolnya disambung nanti aja, masuk dulu yuk!" ucap Alan.
Sahira mengangguk setuju, mereka pun memasuki lift yang kosong dan hanya terisi oleh mereka berdua itu. Di dalam, Alan tak sedikitpun melepas tangan Sahira. Malah pria itu merangkul serta mendekap tubuh Sahira untuk berjaga-jaga jikalau Sahira nantinya akan trauma kembali.
"Pak, kenapa pake peluk segala? Saya bisa berdiri sendiri pak," heran Sahira.
"Yakin? Bukan biasanya kamu takut banget ya naik lift? Atau itu cuma alasan kamu aja dan selama ini kamu bohongi saya?" tanya Alan.
"Saya emang beneran trauma pak, tapi kalau saya dipeluk kayak gini saya jadi ngerasa gak enak pak sama bapak," jawab Sahira.
__ADS_1
"Gapapa, sebelum kamu mulai trauma saya udah langsung peluk kamu buat jaga-jaga. Udah sekarang kamu diam aja, jangan banyak gerak!" ucap Alan.
Sahira menurut, lalu tak lama saat lift bergerak ia pun mulai kembali merasa gugup dan gemetar. Lagi dan lagi ia belum bisa menghilangkan rasa trauma di dalam dirinya, namun seketika ia teringat pada perkataan Saka agar ia tidak lagi merasa trauma ketika berada di lift.
Akhirnya Sahira memejamkan mata, ia juga berharap agar rasa trauma di dalam dirinya hilang saat menaiki lift. Alan yang melihat itu merasa penasaran, ia tak mengerti mengapa Sahira terpejam sambil terus berpegangan erat pada lengannya dan tak mau dilepaskan.
Ting
Lalu, pintu lift terbuka dan Alan pun segera membawa Sahira ke luar dari sana. Kini Sahira membuka matanya, mengambil nafas panjang dan merasa lega karena berhasil melewati trauma yang amat sangat tadi. Alan menatap wajah Sahira dengan penuh pertanyaan.
"Kamu kenapa Sahira? Kok merem terus daritadi di dalam lift?" tanya Alan penasaran.
"Umm, iya soalnya kata pak Saka kalau saya merem saya bisa lebih rileks dan gak terlalu takut saat di dalam lift," jawab Sahira.
Alan tersentak dan langsung berubah ekspresi, ia sangat tidak suka jika Sahira membahas Saka disaat bersamanya. Akibatnya, pria itu pun kesal dan memilih melangkah lebih dulu meninggalkan Sahira begitu saja tanpa berkata-kata. Tentu saja Sahira pun bingung dibuatnya.
•
•
Sahira menyusul Alan ke ruangannya dan mengetuk pintu, ia ingin memastikan apakah ia melakukan kesalahan atau tidak. Pasalnya tadi pria itu pergi tanpa berkata apapun dan membuatnya sangat bingung, ia tentu tak mau jika Alan kembali bersikap seperti dulu dan membencinya.
Tak lama, Alan keluar membukakan pintu. Ia menatap wajah Sahira dengan malas sembari menghela nafasnya, sontak Sahira menunduk menaruh kedua tangan di depan mencoba untuk bersikap hormat agar tidak dianggap kurang ajar. Alan masih tak menyukai gadis itu, sebab dia menyebut nama Saka saat bersamanya tadi.
"Ada apa kamu ke ruangan saya? Kamu kan punya ruangan sendiri, kalau mau istirahat silahkan masuk ke tempat kamu sana!" ketus Alan.
"Pak, saya cuma mau tanya sama bapak. Apa saya ada kesalahan? Kalau iya, saya minta maaf pak. Tolong pak jangan bersikap jutek kayak dulu lagi ke saya!" ucap Sahira pelan.
"Kenapa kamu kayak takut banget saya berubah lagi seperti dulu? Kamu senang ya saya jadi baik supaya kamu bisa bersikap seenaknya gitu?" tanya Alan sedikit tegas.
"Gak gitu pak, bapak mah salah paham terus sama saya. Saya tuh suka aja kalau bapak kalem dan gak marah-marah terus," jawab Sahira.
__ADS_1
"Saya ini harus tegas Sahira, saya kan bos!" ucap Alan.
"Ya saya tahu pak, saya kan cuma minta bapak gak bersikap kasar seperti awal saya datang kesini. Bapak memang harus tegas, tapi gak sampai menindas saya juga," ucap Sahira.
"Emang kapan saya tindas kamu? Kamu ini jangan melebih-lebihkan ya!" elak Alan.
"Huft, terserah pak Alan deh. Sekarang bapak masih marah gak nih sama saya?" tanya Sahira.
"Loh saya gak marah sama kamu kok, memangnya sejak kapan saya marah sama kamu Sahira?" jawab Alan terheran-heran.
"Ah masa sih bapak gak marah ke saya? Terus tadi kenapa bapak pergi duluan ninggalin saya hayo?" tanya Sahira memancing.
"Itu karena saya buru-buru aja pengen ke ruangan saya, emang salah ya?" jawab Alan.
"Eee ya gak salah sih pak, tapi seenggaknya bapak ngomong dulu kek gitu ke saya biar saya gak salah paham jadinya," ujar Sahira.
"Harus?" tanya Alan singkat.
"Ya enggak juga, tapi kan—"
"Sahira!" ucapan wanita itu terpotong ketika namanya disebut oleh seseorang dari belakangnya.
Sahira sontak menoleh dan menemukan Saka berdiri disana memandang ke arahnya, melihat pria itu datang membuat Alan semakin geram menandakan bahwa ia tidak suka kakaknya terus-terusan mendekati Sahira. Bahkan tanpa sadar, kini tangan Alan sudah sepenuhnya terkepal menahan emosi.
"Eh pak Saka, iya pak kenapa ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sahira penasaran.
Saka melangkah mendekati Sahira dan Alan, ia tersenyum ke arah gadis itu sambil membelai rambut bagian depan Sahira yang tentu saja semakin membuat Alan geram.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1