Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 142. Memikirkan pekerjaan


__ADS_3

Cat menghentikan motornya dan memarkir tepat di depan rumah Sahira, lalu gadis itu beserta Wati sama-sama turun dan menemui Sahira. Mereka terlihat sangat bersedih, bahkan sampai menarik tangan Sahira dan mencecarnya dengan pertanyaan disertai tangisan kesedihan.


"Huhuhu, Sahira lu kenapa tinggalin kita sih? Kok lu pindah rumah gak bilang dulu sama kita sih?" tanya Cat diiringi isak tangis.


"Eee so-sorry ya guys, gue emang gak sempat buat bilang sama kalian soal ini. Ya soalnya tadi tuh gue sama ibu pindah kesini buru-buru banget, jadi gue belum sempat temuin kalian deh," jawab Sahira.


"Ih lu parah banget sih Sahira! Tega lu sama kita! Lu gak tahu apa kalau kita tuh panik banget pas tahu lu pindah dari kampung itu?" ucap Wati.


"Iya ih, jahat lu Ra!" sahut Cat.


"Kalian apa-apaan sih? Gausah lebay gini deh, iya iya gue minta maaf ya sama kalian! Udah dong jangan pada nangis kayak gini, gue jadi ngerasa bersalah tau!" ucap Sahira.


"Hehe, kita terlalu lebay ya? Abis gimana lagi, kita tuh beneran gak bisa jauh-jauh dari lu tau!" ucap Cat.


"Ah bisa aja lu, Cat. Omong-omong, kalian pada tau darimana kalau gue pindah kesini? Perasaan gue belum pernah kasih tau ke kalian deh soal kepindahan gue ini," tanya Sahira penasaran.


"Umm, tadi kita ikutin mobil ini. Soalnya kita pengen tahu lu pindah kemana," jawab Cat.


"Oalah, pantes. Terus kalian ini kesini emangnya pada gak kerja apa?" tanya Sahira lagi.


Cat dan Wati kompak tersenyum, "Enggak, kita libur demi nyusulin lu kesini," jawab mereka bersamaan.


"Hah serius? Ih ya ampun, harusnya kalian jangan kayak gini lah! Apa kalian gak mau punya uang?" ucap Sahira merasa bersalah.


"Gapapa kali, uang mah bisa dicari. Tapi, sohib kayak lu susah buat ditemuin," ucap Cat.


"Betul tuh, lagian gue sekarang udah mau nikah sama bang Awan. Jadinya gue tinggal nyantai di rumah deh," timpal Wati.


"Apa??" Sahira tersentak kaget saat itu juga.


Sahira benar-benar tak menyangka kalau ternyata sahabatnya itu sudah akan menikah dengan seseorang yang tidak lain adalah Awan, padahal selama ini Sahira mengira kalau diantara mereka hanyalah bersahabat. Namun, nyatanya justru mereka akan melangsungkan pernikahan.


"Serius lu mau nikah sama bang Awan? Kok lu baru bilang sekarang sih?" tanya Sahira terkejut.


"Hehe, iya Sahira serius dong. Makanya nanti lu datang ya ke acara pernikahan gue sama bang Awan, jangan sampai gak datang!" jawab Wati.


"Iya Wati, insyaallah aku bakal datang. Congrats ya buat hubungan kalian!" ucap Sahira.


"Thank you, btw ibu lu mana Ra? Perasaan daritadi yang kelihatan cuma cowok-cowok ini," ucap Wati celingak-celinguk mencari Fatimeh.


"Ohh, ibu ada di dalam kok. Kalian mau ketemu sama ibu?" ucap Sahira.


Cat dan Wati mengangguk bersamaan, "Boleh Ra, tapi ganggu gak nih?" ucap Wati.


Sahira menggeleng sambil tersenyum, "Enggak kok, tapi tunggu bentar ya sampai semua barangnya selesai dibawa ke dalam!" ucapnya.


"Oh okay," Wati dan Cat menurut saja.


Lalu, Bayu yang sebelumnya membantu membawa barang-barang itu kembali datang menghampiri ketiga gadis tersebut dan menyapa Sahira seraya berdiri di dekatnya. Sontak hal itu membuat Cat serta Wati terkejut bukan main, mereka belum pernah melihat pria itu sebelumnya.


"Hai Sahira!" sapa Bayu dengan senyuman.


"Eh eh eh, ini siapa Ra? Lu baru pindah udah nemu gacoan baru aja, mantap juga lu!" ujar Cat.


"Apaan sih lu? Ini teman SMA gue, namanya Bayu. Bay, kenalin mereka teman-teman gue di rumah yang lama!" ucap Sahira mengenalkan mereka.


"Ah iya, gue Bayu!" pria itu mengulurkan tangannya ke arah Cat dan juga Wati.


"Cat."


"Wati."

__ADS_1


Mereka pun saling berjabat tangan disana, tampak Cat cukup kagum dengan ketampanan pria itu. Namun, perasaannya pada Yoshi membuat Cat sadar kalau tak seharusnya ia mengagumi pria lain disaat ia sudah memiliki kekasih. Begitu pula dengan Wati, karena memang kedua gadis itu mengakui bahwa Bayu benar-benar tampan.


"Eee tadi kenapa ya, Bay? Udahan tuh angkutin barangnya ke dalam?" tanya Sahira.


"Ah iya, masih tinggal dikit lagi tuh. Cuma tadi tante Imeh minta gue buat bicara ke lu, katanya lu disuruh pergi ke warung beli minum buat orang-orang ini," jawab Bayu.


"Astaghfirullah, oh iya gue sampai lupa. Thanks ya udah ingetin! Eh Cat, lu bisa anterin gue kan pake motor lu?" ucap Sahira.


"Bisa lah, ayo gas!" ucap Cat.


"Eh bentar bentar, terus gue disini sama siapa dong kalau kalian pada pergi? Tega banget kalian ninggalin gue!" ucap Wati protes.


"Yah elah, lu gak sendiri kali. Kan ada si Bayu nih, terus orang-orang juga rame tuh. Sama satu lagi ada tante Imeh di dalam, kalo lu mau ya masuk aja sana! Ya kan Sahira?" ucap Cat.


"Iya Mir, lu boleh masuk kok kalo emang gak mau ada disini! Minta temenin Bayu tuh," sahut Sahira.


"Apaan sih kalian? Yaudah, gue gapapa deh sendiri. Sana kalian pada pergi!" ucap Wati.


Sahira dan Cat kompak tersenyum, kemudian naik ke atas motor bersama-sama lalu pergi dari sana untuk membeli minuman. Sedangkan Wati serta Bayu tetap menunggu disana berdua, gadis itu tampak sungkan dan memilih diam meski sebenarnya ia ingin sekali mengajak Bayu bicara.




Alan pun mengambil ponselnya untuk mencoba menghubungi nomor Sahira dan menanyakan kemana gadis itu pergi, karena dapat ia sadari kalau hingga kini perasaannya pada Sahira tidak berubah dan ia masih menyukai gadis itu. Walau ia harus dihadapkan pada sebuah fakta kalau Sahira adalah kekasih abangnya.


"Aaarrgghh, kenapa gak diangkat sih Sahira? Kamu itu dimana?" geram Alan.


Disaat ia sedang kesal, tiba-tiba saja ia mendengar suara Yoshi tengah menerima telpon di depan sana dan tampak begitu serius. Karena penasaran, Alan coba terus mendengarkan untuk mencari tahu apa yang sedang dibahas pria itu. Ia pun membuka kaca mobilnya agar bisa mendengar lebih jelas dari dalam sana.


"Apa sayang? Kamu sekarang udah ada di rumah Sahira yang baru? Kok bisa sih? Emangnya kamu tau alamatnya dimana?" ucap Yoshi di telpon yang dapat didengar oleh Alan.


Mendengar Yoshi menyebut nama Sahira, sontak Alan membuka matanya dan langsung ingin tahu apa yang sedang pria itu bahas. Lalu, Alan pun turun dari mobilnya berniat menghampiri Yoshi untuk bertanya secara langsung dimana Sahira dan barangkali ia bisa mendapat informasi darinya.


Sontak Yoshi terkejut, baru saja ia selesai menelpon gadisnya dan kini Alan tiba-tiba sudah kembali berada di depannya. Padahal tadi Alan berkata ingin pergi dari sana, tetapi pria itu malah datang lagi dan membuat Yoshi sungguh terkejut karena tak menyangka.


"Haish, lu ngagetin gue aja deh! Iya, ini barusan gue telpon cewek gue terus katanya dia lagi di rumah Sahira dan sekarang mereka pada di warung beli minuman," ucap Yoshi.


"Hah? Terus anda tahu gak dimana mereka sekarang?" tanya Alan lagi.


Yoshi mengangguk pelan, "Iya tahu, barusan dia kasih shareloc ke gue nih. Emangnya kenapa?" jawabnya agak ketus.


"Ah bagus, kalo gitu tolong kirim ke nomor saya juga ya!" pinta Alan.


"Lah apa-apaan? Cewek gue minta katanya lokasi ini gak boleh dikasih ke siapa-siapa, gue gak mau ingkar janji sama dia," ucap Yoshi menolak.


"Eh ayolah, saya ini bosnya Sahira loh! Saya cuma mau tau dia pindah kemana," paksa Alan.


"Ya gue tahu, tapi gimana yaa? Masalahnya gue gak mau bikin cewek gue kecewa, apalagi kalau sampai dia marah nanti," ujar Yoshi.


"Please, bantu saya! Nanti akan saya kasih imbalan deh buat anda, saya mohon!" bujuk Alan.


"Buset dah, lu mau nyogok gue nih ceritanya? Sorry bro, tapi iman gue kuat dan gue gak bakal tergoda sama uang lu!" ucap Yoshi.


Tanpa banyak bicara, Alan segera mengambil dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang. Sontak Yoshi langsung melongok dibuatnya, uang yang dikeluarkan Alan memang cukup besar dan tidak akan mungkin bisa ditolak olehnya. Alan pun menawarkan uang itu kepada Yoshi.


"Nah, ini uangnya. Gimana, anda mau kan kasih lokasi Sahira ke saya sekarang?" ucap Alan.


"Eee ya sebenarnya gue gak mau sih, tapi karena gue juga butuh duit yaudah deh gue kirim lokasinya ke nomor lu sekarang. Mana nomor lu sini kasih lihat!" ucap Yoshi.


"Ah terimakasih, ini nomor saya." Alan menyerahkan nomornya pada Yoshi dan pria itu pun segera mengirim lokasi Sahira berada.

__ADS_1


Setelah berhasil mendapatkannya, Alan bersorak gembira karena kini ia tahu kemana Sahira pindah. Alan langsung berterima kasih pada Yoshi, lalu bergegas pergi dari sana untuk menyusul Sahira dan menemuinya. Sedangkan Yoshi masih diam di tempat sambil mencium aroma uang di tangannya yang sangat banyak itu, dia sudah tidak perduli lagi pada apapun yang akan terjadi nanti.




Keesokan harinya, Saka datang ke kantor setelah sempat beberapa hari ini tidak muncul lantaran harus mengurusi masalahnya. Pria itu pun terlihat buru-buru sekali saat memasuki area kantor, ia juga celingak-celinguk mencari seseorang yang tak lain ialah Sahira alias asisten pribadinya.


Namun, Saka tak berhasil menemukan keberadaan gadis itu di sekitar sana. Saka tampak panik, sebab tak biasanya Sahira belum datang ke kantor padahal waktu sudah mulai siang. Saka pun mendatangi salah seorang karyawannya yang ada disini untuk menanyakan mengenai Sahira.


"Ehem permisi, kamu tahu atau lihat Sahira gak ada dimana? Dia sudah datang belum ya?" tanya Saka pada Silvi, karyawannya.


"Eh pak, duh tapi saya belum lihat dia tuh hari ini. Dari kemarin juga sih sebenarnya," jawab Silvi.


"Apa? Berarti kemarin itu Sahira gak datang ke kantor? Kok bisa sih? Padahal saya sudah tugaskan dia loh untuk mengatur urusan disini," kaget Saka.


"Eee saya juga kurang tahu pak, dia tidak ada memberi kabar ke pihak kantor. Mungkin bapak bisa pastikan sendiri lewat telpon," ucap Silvi.


"Ah iya, terimakasih ya Silvi? Kalo gitu kamu bisa kembali bekerja, biar urusan ini saya yang urus. Kalau ada apa-apa, baru kamu kabari saya lagi!" ucap Saka.


"Baik pak, saya permisi!" ucap Silvi pamit.


Saka mengangguk, lalu Silvi pun bergerak pergi dari sana sesuai perintah bosnya untuk kembali bekerja. Saka pun tampak kebingungan, ia bergegas mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Sahira karena ia sangat penasaran kemana gadis itu dan mengapa dia tidak datang ke kantor selama dua hari ini.


Tuuuuttt Tuuuuttt


Akan tetapi, nomor Sahira tidak bisa dihubungi dan membuat Saka bertambah panik. Pria itu tampak geram karena terus memikirkan Sahira, sebab hingga kini ia belum tahu dimana Sahira berada dan apa yang membuat dia tidak bisa datang ke kantor kemarin serta pagi ini.


"Haish, kok hp nya gak bisa dihubungi ya? Kamu kemana sih Sahira? Gak biasanya loh kamu kayak gini, apa ini semua karena kejadian hari itu? Jadinya kamu gak mau temuin aku lagi?" gumam Saka dengan wajah panik.


"Ck, kalau gini sih saya harus ke rumah Sahira sekarang. Saya khawatir kamu kenapa-napa!" ucap Saka yang langsung pergi begitu saja.


Ya Saka memang sangat mengkhawatirkan Sahira, ia tidak bisa tenang jika belum ada kabar mengenai Sahira yang berhasil ia dapatkan. Maka dari itu, Saka bergegas menuju mobilnya untuk mencari tahu apakah Sahira sedang sakit atau tidak. Karena jujur, Saka tidak bisa kerja dengan tenang jika tak ada Sahira di sebelahnya. Terlebih mereka sudah lama tidak berkomunikasi, sejak kejadian hari itu.




Disisi lain, Sahira baru kembali dari membeli sarapan dan kini ia tiba-tiba saja teringat pada pekerjaan yang sudah lama ia lupakan. Sahira pun merasa tidak enak pada Saka, karena pria itu telah memberinya pekerjaan yang enak dan ia malah dengan santainya pergi tanpa mengabari.


"Duh, kira-kira gimana ya sama pekerjaan aku? Rasanya aku gak enak sama mas Saka, dia kan udah bela-belain kasih pekerjaan buat aku sejak aku dipecat dari kantor Alan," lirih Sahira.


"Eh Sahira, dah balik lu?" tiba-tiba, Fatimeh muncul dari dalam rumahnya dan bergerak menemui putrinya yang masih terdiam disana.


"I-i-iya Bu, ini baru aja aku kembali. Tadi tempat nasi uduknya ternyata agak jauh, aku sampai harus muter-muter buat nyari. Ya untungnya kita masih kebagian dua bungkus," ucap Sahira.


"Ya syukurlah, yaudah yuk masuk kita makan sama-sama!" ajak Fatimeh.


Sahira mengangguk saja mengikuti kemauan ibunya, lalu mereka berjalan memasuki rumah dan bersiap melakukan sarapan bersama. Namun, Sahira masih saja memikirkan Saka serta pekerjaan yang telah lama ia tinggalkan. Jujur Sahira sangat tidak enak dengan itu, karena ia merasa telah mengecewakan Saka.


"Eh Sahira, lu tuh kenapa bengong terus sih? Daritadi gue lihat lu kayak lagi mikirin sesuatu, ada apaan sih, ha?" tanya Fatimeh menegur putrinya.


"Umm, gak ada kok bu. Aku cuma kepikiran sama pekerjaan aku di kantornya mas Saka, aku ngerasa gak enak aja karena aku main pergi tanpa pamit atau kasih tau mas Saka," jawab Sahira.


"Ya ampun, jadi karena itu lu bengong terus daritadi? Udah deh Sahira, mending lu lupain si Saka itu dan mulai hidup baru!" ujar Fatimeh.


"Tapi gimana, bu? Aku gak mungkin bisa dapat pekerjaan yang lebih baik dalam waktu singkat, pastinya aku butuh waktu. Dan lagi kita kan harus cari uang buat biaya hidup," ucap Sahira.


"Terus maksudnya, lu pengen balik kerja di tempat si Saka gitu?" tanya Fatimeh.


"Eee..." Sahira terlihat gugup saat hendak menjawabnya, ia bingung dan tak tahu harus mengatakan apa pada ibunya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2