Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 102. Menyadarkan Fatimeh


__ADS_3

Sahira mengangguk menyetujui usulan yang disampaikan Saka, mereka lalu melangkah bersamaan menyusul Fatimeh serta Bram yang sudah pergi menjauh lebih dulu. Sahira sudah sangat cemas dengan kelakuan ibunya, ia ingin segera menyudahi hubungan sang ibu dengan laki-laki berkumis tersebut.


Namun, langkah mereka tiba-tiba terhenti saat kehilangan jejak Fatimeh. Ya mereka sudah tidak dapat melihat lagi keberadaan wanita itu di depan sana, tentu saja Sahira bingung dan tak tahu kemana perginya sang ibu saat ini, Sahira merasa panik mencari-cari ibunya.


"Duh mas, ibu kemana ya? Kok tiba-tiba ibu udah gak ada aja sih? Perasaan tadi ibu masih ada disana deh," tanya Sahira panik.


"Aku juga gak tahu Sahira, mungkin aja ibu kamu lagi ngumpet karena ngeliat kita yang lagi ngikutin mereka. Kita coba cari mereka dulu di sekitar sini, mungkin masih ada," ucap Saka.


Sahira menganggukkan kepalanya, "Iya mas, semoga aja ibu masih ada disini karena aku gak mau kehilangan jejak ibu!" ucapnya.


Mereka masih mencoba mencari keberadaan Fatimeh di sekitar sana, namun tampak ya Fatimeh dan juga Bram sudah pergi jauh karena mereka tidak dapat menemukan keberadaan dua manusia itu disana. Sahira pun terlihat kebingungan dan merutuki dirinya sendiri yang telah gagal membuat sang ibu menjauh dari si lelaki.


"Haish, aku gak bisa deh ikutin ibu. Kita ketinggalan jejak, ini semua gara-gara kamu mas! Coba aja kamu gak cegah aku dulu tadi, pasti kita gak akan kehilangan jejak!" ucap Sahira kesal.


Saka mengernyitkan dahinya, "Kok kamu jadi nyalahin aku? Tadi kan aku cegah kamu biar kita bisa ikutin ibu kamu," ucapnya membela diri.


"Ah udah lah, aku malas debat! Aku mau lanjut cari ibu, tolong kamu bilangin ke pak Alan kalau hari ini mungkin aku izin gak masuk kerja!" ucap Sahira.


Disaat Sahira hendak pergi, Saka kembali menahannya dengan mencekal lengan gadis itu. Tentu saja Sahira semakin merasa kesal, ia menatap ke arah kekasihnya sembari mendengus menunjukkan kekesalan yang ia rasakan karena ulah pria itu.


"Mau apa lagi mas? Aku harus pergi sekarang, aku gak mau ibu terjerumus ke dunia gelap, aku pengen tolong ibu!" ucap Sahira.


"Tenang dulu Sahira! Kamu gak bisa selesaikan masalah dengan emosi, kamu harus bisa sabar dan lakukan semuanya dengan tenang! Kamu nurut sama saya ya?" ucap Saka.


Sahira terdiam, namun menurutnya apa yang dikatakan Saka itu benar adanya. Sahira pun menurut dan menghela nafasnya untuk menenangkan diri, saat itu juga Saka melepas tangan Sahira karena dirasa Sahira sudah dapat mengontrol emosinya.


"Sahira!" tiba-tiba saja ada yang memanggilnya, membuat mereka berdua menoleh bersamaan ke arahnya.


Rupanya itu adalah Awan, si lelaki pemilik warung yang tinggal satu kampung dengan Sahira. Ya tampak Awan tersenyum lalu menghampiri mereka dengan perlahan, sontak Saka bergegas menarik tubuh Sahira untuk lebih dekat dengannya agar Awan tidak bisa berdekatan dengan gadis itu.


"Bang Awan, kenapa?" tanya Sahira dengan nada lembut.


"Gapapa, pengen nanya aja kamu lagi apa disini? Gak kerja?" ucap Awan santai.


"Eee aku lagi cari ibu aku nih, kamu lihat gak?" ucap Sahira.


"Loh barusan aja aku ketemu sama ibu kamu, dia lagi sama laki-laki yang titipin mobilnya di warung aku," ucap Awan.


Sahira terbelalak lebar, "Serius kamu bang? Dimana ibu sekarang?" tanyanya.


"Ya serius lah Sahira, ibu kamu tadi ke warung aku sama laki-laki itu buat ambil mobilnya. Mungkin mereka sekarang udah keluar kampung," jawab Awan.


"Hah? Yaudah, kalo gitu aku sama mas Saka mau susulin mereka dulu. Makasih ya bang infonya?" ucap Sahira panik.


"I-i-iya Sahira.." Awan mengangguk kebingungan.


Lalu, Sahira langsung saja menarik tangan Saka dan mengajaknya pergi untuk segera mengejar ibunya yang sudah menjauh. Sedangkan Awan tetap disana mengamati langkah Sahira yang sudah menjauh, tak lama kemudian Fatimeh serta Bram muncul dari balik pohon besar dan menemui Awan sambil tersenyum lebar.


"Bagaimana Awan? Lu udah berhasil kan bikin si Sahira percaya sama lu?" tanya Fatimeh.


"Ya tante, sekarang mereka sudah pergi. Tante dan om bisa aman dari kejaran mereka, tapi jangan lupa dengan bayaran saya!" jawab Awan.


"Tentu saja, itu hal mudah bagi kekasih gue yang tampan dan kaya ini," ucap Fatimeh melirik Bram.


Bram tersenyum saja dan menyerahkan sejumlah uang kepada Awan, saat itu juga Awan merasa puas karena sudah membantu Fatimeh serta Bram dari kejaran Sahira.


__ADS_1



Saka dan Sahira dibuat kebingungan karena tak kunjung bertemu dengan Fatimeh maupun Bram di sekitar sana, padahal mereka sudah berkeliling lumayan jauh sampai-sampai Sahira tak tahu lagi harus pergi kemana. Mereka pun memutuskan berhenti sejenak untuk berbincang.


"Mas, kok berhenti sih? Ayo kita cari lagi ibu!" protes Sahira.


"Sabar sayang, saya gak tahu harus kemana lagi ini. Kita mikir dulu ya? Kalau kita terus jalan tanpa arah kayak gini, yang ada kita gak akan bisa ketemu sama ibu kamu," ucap Saka.


"Iya sih mas, tapi kan kita juga gak tahu ibu kemana sekarang. Mau mikir gimana lagi coba?" ucap Sahira.


Saka terdiam sembari memalingkan wajahnya, ia mengerutkan dahinya seolah berpikir harus kemana mereka saat ini untuk bisa menemukan Fatimeh. Sedangkan Sahira terus-menerus mencecarnya dan meminta Saka untuk segera menancap gas pergi dari sana.


"Ayo mas, ayo kita lanjut pergi lagi! Aku khawatir banget sama ibu, aku gak mau ibu terjerumus ke dunia gelap karena pengaruh om Bram!" ucap Sahira panik.


"Kamu gausah khawatir sayang, kita percaya aja ya sama ibu kamu! Saya juga yakin kalau ibu kamu gak mungkin berbuat begitu," ucap Saka.


"Gimana aku bisa yakin mas? Ibu itu lagi sama laki-laki yang gak bener, buktinya om Bram aja udah bawa ibu ke bar dan ajak ibu minum-minum sambil joget. Aku khawatir banget sama ibu mas," ucap Sahira.


"Iya iya, saya tahu sayang. Kalo gitu kita coba cari informasi di tempat bar tersebut, siapa tahu saja ada yang mengenal om Bram dan kita bisa menemukan tempat tinggalnya," usul Saka.


Sahira mengangguk, "Boleh mas, ayo kita ke tempat itu sekarang!" ucapnya.


Disaat mereka hendak pergi, tiba-tiba saja Sahira melihat mobil milik Bram melintas di dekatnya dengan kecepatan tinggi. Sontak Sahira yang memang mengenal pasti bahwa mobil itu adalah milik Bram, langsung meminta Saka untuk mengejarnya dan tidak ingin mobil itu lolos begitu saja dari hadapannya.


"Mas, itu mobil om Bram. Ayo kita ikuti mobil itu sekarang mas! Jangan sampai kita kehilangan jejak mas!" ucap Sahira cemas.


"Kamu serius sayang? Beneran itu mobilnya om Bram? Kamu gak salah kan?" tanya Saka.


"Iya benar mas, gak mungkin aku salah. Aku tahu betul itu mobil om Bram, ayo cepet mas kejar mereka!" pinta Sahira.


Saka langsung menancap gas mengejar mobil Bram dengan kecepatan tinggi, mereka tidak ingin kehilangan jejak dan berharap dapat mencegah mobil tersebut. Sahira sangat panik, ia tidak bisa diam dan tenang karena terus memikirkan ibunya yang pasti berada di mobil itu.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil Saka berhasil mencegat mobil milik Bram dan memaksa mobil itu untuk berhenti. Sahira tersenyum lega, ia langsung turun dari mobil tanpa menunggu Saka karena ia sudah tidak sabar ingin meminta ibunya untuk ikut bersamanya.


"Ibu, aku mohon turun Bu! Aku gak mau ibu pergi sama laki-laki itu!" ucap Sahira berteriak.


Saka pun ikut menyusul Sahira turun dari mobil, ia menggenggam tangan Sahira dan menahan gadis itu yang hendak pergi mendekati mobil Bram. Ia tak ingin Sahira berbuat ceroboh, apalagi sampai memaksakan diri untuk membawa ibunya pergi dari Bram si laki-laki berkumis itu.


"Tahan Sahira, kita tunggu sampai ibu kamu turun dari mobil! Kamu harus tenangkan diri kamu, saya gak mau sesuatu terjadi pada kamu!" ucap Saka.


"Tapi mas, aku gak bisa tenang kalau belum lihat ibu keluar dari mobil itu," ucap Sahira tegas.


Akhirnya Bram serta Fatimeh turun dari mobil tersebut dan menghampiri mereka, tampak keduanya menatap wajah Sahira serta Saka dengan tatapan tajam. Sahira tersenyum senang karena berhasil menyusul ibunya, ia merasa lega dan berharap Fatimeh mau mendengarkannya.


"Bu, ayo Bu kita pulang! Ibu jangan ikut sama dia ya!" pinta Sahira.


Namun, sepertinya Fatimeh tidak mau mendengarkan kata-kata putrinya itu. Terlihat ia menunjukkan ekspresi marahnya dan seolah kesal karena Sahira lagi-lagi menghalanginya, sedangkan Sahira masih terus mencoba agar ibunya mau ikut dengannya dan percaya padanya.




Leonil masih berada di kantor Alan bersama sepupunya itu, ia menceritakan seperti apa hidupnya selama ini saat ia tinggal di luar negeri dan harus berjauh dengan keluarganya. Jujur Leonil pernah sempat merasa kesepian di awal-awal ia tiba, tapi pada akhirnya Leonil mampu untuk mengubah kesepian itu menjadi kenyamanan setelah ia menemukan kekasihnya.


Di tengah asyik mendengarkan cerita, tanpa diduga Alan justru teringat akan perempuan yang sempat memikat hatinya. Ya tentu perempuan itu adalah Sahira, dan Alan sangat menyukai dia karena Sahira selalu berhasil membuat hatinya tenang dan dapat merubah sikapnya menjadi lebih hangat.


"Eee bro, kamu kenapa mendadak melamun kayak gitu? Kamu lagi ada masalah ya?" tanya Leonil.

__ADS_1


"Eh gak kok, aku cuma keinget sama perempuan yang juga sempat berhasil bikin aku nyaman. Tapi, sekarang dia udah bahagia dengan lelaki lain dan aku gak mungkin miliki dia," jawab Alan.


"Ohh, yang sabar ya bro! Aku yakin kamu bisa dapat yang lebih baik daripada dia, percaya sama aku!" ucap Leonil menenangkan.


"Iya bro, thanks ya atas dukungannya? Tapi, kayaknya sulit buat aku move-on dari dia. Jujur aja aku sayang banget sama dia, aku gak pengen jauh dari dia," ucap Alan.


Leonil mendekat dan menepuk-nepuk pundak sepupunya itu, "Kamu pasti bisa Alan! Lagipula dia kan sudah bahagia dengan pasangannya, masa kamu masih terjebak di masa lalu?" ujarnya.


"Entahlah, mungkin karena aku nyesel gak utarakan perasaan aku ke dia waktu itu. Jadinya sekarang dia keburu diambil laki-laki lain," ucap Alan.


"Ya itu sih bener, harusnya kalau kamu mencintai seseorang itu kamu ungkapin aja sebelum dia diambil orang dan kamu nyesel!" ucap Leonil.


"Iya bro, aku nyesel banget sekarang. Andai aja waktu itu aku langsung ungkapin perasaan aku ke dia, mungkin sekarang dia jadiannya sama aku bukan orang lain," ucap Alan.


"Betul itu bro, ya walau belum tentu juga sih kamu bakal diterima sama dia," kekeh Leonil.


Alan langsung melirik sinis ke arah sepupunya, "Sialan kamu! Abis bikin aku tenang, eh sekarang malah bikin aku sedih lagi!" ujarnya kesal.


"Hehe, bercanda bro. Biar rileks dikit dan gak tegang-tegang amat," ucap Leonil.


"Yaudah, kamu mau minum apa? Maaf ya aku lupa baru nawarin sekarang, keasyikan dengerin cerita kamu sih tadi," ucap Alan.


"Ah gapapa bro, lagian kamu juga gausah repot-repot buatin aku minuman. Aku kesini kan cuma mau nengokin kamu aja," ucap Leonil.


"Yakin nih gak mau minum?" tanya Alan.


Leonil mengangguk, "Iya yakin bro, mending sekarang kamu jelasin deh ke aku siapa sebenarnya cewek yang tadi aku temuin di bawah dan ngaku-ngaku pacar kamu!" ucapnya.


"Ohh, itu sih si Nawal namanya. Dia mantan aku, emang sampe sekarang dia masih kejar-kejar aku dan anggap aku ini pacarnya," jelas Alan.


"Waw keren juga kamu bro dikejar-kejar sama cewek cantik begitu! Kenapa kamu gak balikan aja sama dia sih?" ujar Leonil.


"Mustahil bro, aku udah gak ada rasa sama dia. Kalau dipaksain, yang ada nanti malah aku jadi sakit hati terus. Mendingan ya aku sendiri aja dulu untuk saat ini," ucap Alan.


"Hahaha, tapi masalahnya kamu bakal kepikiran terus sama si cewek yang sekarang udah bahagia sama cowok lain itu," ucap Leonil.


"Iya sih," singkat Alan sambil menunduk.


Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangannya dari arah luar dan membuat kedua pria itu terkejut. Saat ditanya siapa, orang di luar tersebut tidak menjawab. Sontak Alan pun bangkit untuk mengecek siapa yang sudah mengganggu momen dirinya dengan sang sepupu disana.


TOK TOK TOK...


Orang itu malah mengetuk pintu lagi, karena sudah tidak tahan dan penasaran juga siapa yang datang, akhirnya Alan serta Leonil sama-sama berjalan menuju pintu untuk mencari tahu. Alan membuka pintu ruangannya dan menemukan sosok wanita cantik berdiri di depannya dengan senyum tipis.


"Eh, kamu siapa? Saya baru lihat kamu disini, cari siapa?" tanya Alan kebingungan.


"Eee kak Leonil ada di dalam gak?" gugup wanita itu.


Mendengar suara seperti kekasihnya, Leonil yang semula menunggu di dalam pun langsung jalan cepat ke depan menghampiri mereka. Tentu Leonil ingin memastikan apakah benar itu suara kekasihnya atau bukan, dan ternyata benar dugaannya karena itu memang kekasihnya.


"Lala? Kamu ngapain nyusul kesini sayang? Katanya kamu gak kuat jalan, kenapa kamu malah masuk kesini bukan nunggu di luar aja?" ujar Leonil sambil tersenyum menghampiri gadisnya.


Alan yang menyaksikan itu hanya diam di tempat dengan tampang tak suka, jujur saja ia selalu merasa iri pada setiap orang yang bermesraan seperti itu di hadapannya. Namun, Alan tidak bisa berbuat apa-apa karena itu adalah sepupunya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2