Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 113. Beda agama


__ADS_3

Floryn mengangguk lesu, "Udah sering, tapi mereka gak mau dengerin aku," jawabnya.


Selain berhasil membuat Floryn mau bercerita, Alan juga berhasil merubah gaya bicara Floryn yang sebelumnya agak kasar menjadi sedikit lembut. Alan pun cukup senang mendengarnya, entah kenapa suara Floryn terdengar lebih merdu ketika dia menggunakan aku-kamu.


"Eee aku juga bingung sih harus apa, karena sekarang aku sendiri lagi mengalami masalah perjodohan tanpa cinta itu. Mungkin kita bisa sama-sama saling memberi semangat?" ujar Alan.


"Okay, tapi kayaknya ada hal yang bisa lebih membantu deh. Kamu gak pengen kan dijodohin sama cewek itu?" ucap Floryn.


Alan mengernyit bingung, "Oh ya? Hal apa tuh? Jelas aku emang menolak keras perjodohan itu, aku gak cinta sama dia!" ucapnya.


"Gimana kalau kita pura-pura pacaran aja? Terus aku bakal bawa kamu ketemu orang tua aku, supaya perjodohan aku bisa dibatalkan. Nanti gantian deh, kamu yang bawa aku ke rumah kamu," jelas Floryn sambil tersenyum.


Deg!


Alan terkejut bukan main mendengar usulan yang diberikan Floryn, sungguh ia tak menyangka jika Floryn berani mengajaknya untuk berpura-pura menjalin hubungan. Padahal mereka baru saja saling mengenal beberapa menit yang lalu, tapi tentu Alan pun sangat senang mendengarnya.


"Itu usul yang bagus sih, tapi emang kamu yakin mau jadiin aku pacar pura-pura kamu?" ujar Alan.


Floryn mengangguk sambil tersenyum, "Iyalah, cuma itu satu-satunya cara supaya aku bisa terbebas dari perjodohan ini. Aku gak tahu lagi harus minta tolong ke siapa," ucapnya.


"Emangnya kamu gak ada teman cowok lain gitu yang bisa bantu kamu? Aku ini kan baru dikenal sama kamu beberapa jam lalu," ucap Alan.


"Ada sih yang mau, tapi dia minta uang bayaran mahal banget ke aku," ucap Floryn.


"Kenapa gak kamu bayar aja cowok itu?" tanya Alan lagi.


"Uangnya darimana? Ini aja buat sewa kamar disini, aku harus irit-irit duit supaya gak habis. Soalnya fasilitas aku semua ditarik sama papa," jawab Floryn.


Alan terdiam, ia semakin merasa kasihan pada gadis di depannya itu. Alan pun berniat membantu Floryn untuk menyelesaikan masalahnya, menurutnya juga apa yang dikatakan Floryn ada benarnya, dan ia sendiri juga bisa kabur dari perjodohan dengan Nawal yang dilakukan papanya.


"Kalo gitu aku setuju buat bantu kamu, aku mau kita pura-pura pacaran. Toh itu juga ngebantu diri aku sendiri buat lepas dari perjodohan," ucap Alan.


"Nah bener kan, yaudah besok kamu ikut aku ya ke rumah!" ucap Floryn semangat.


Alan kembali membelalakkan matanya, "Apa? Kenapa buru-buru banget sih? Gak bisa lain waktu itu?" tanyanya kaget.


"Loh emang kenapa? Lebih cepat lebih baik kan?" heran Floryn.


"Ya iya sih, tapi kan kita baru kenal loh Floryn. Kamu gak takut ketipu apa sama aku gitu? Aku ini hitungannya kenalan baru kamu loh, gak ada rasa curiga sama sekali apa gitu?" ujar Alan.


"Enggak tuh, aku tahu kamu orang baik. Aku bisa lihat dari cara bicara kamu ke aku," ucap Floryn.


"Oh ya? Waw keren dong aku, baru kali ini loh ada yang bilang aku baik!" ucap Alan tergoda.


"Masa sih? Aku kira udah banyak orang yang kamu mau bantu, soalnya ketahuan dari sikap kamu ke aku sekarang," ucap Floryn.


"Enggak kok, aku jarang bantu orang. Eh ya, kamu puasa apa enggak?" tanya Alan.


Floryn terdiam dan menundukkan wajahnya, sedetik kemudian ia menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan pria itu. Sontak Alan terkejut, namun ia masih coba berpikir positif kalau mungkin saja Floryn sedang mengalami halangan seperti wanita pada umumnya.


"Ohh, kamu pasti lagi halangan ya?" tebak Alan.


"Hah? Gak kok, aku gak halangan. Aku emang gak puasa aja, karena aku bukan muslim," jawab Floryn menjelaskan.


Deg!


Seketika harapan Alan hancur saat itu juga, ia tak mungkin bisa bersama Floryn yang ternyata memiliki agama berbeda dengannya. Tentu saja Alan tak mau terjebak dalam percintaan beda agama, ia sudah yakin jika akhirnya pasti mereka akan berpisah.




"Ehem ehem.." tiba-tiba Awan berdehem hingga membuat keduanya menoleh karena kaget.

__ADS_1


Wati pun sampai hampir lupa jika ia tadi datang bersama Awan, sontak gadis itu menghampiri si pria yang mengantarnya dan mengajaknya maju menghampiri Ari di depan sana. Ya Wati berniat mengenalkan Awan pada Ari, karena ia rasa dua pria itu bisa saling mengenal satu sama lain.


"Eh ya mas, kenalin ini teman saya yang tinggal satu kampung sama saya, namanya bang Awan!" ucap Wati sambil tersenyum.


"Ohh, salam kenal ya Awan? Nama saya Ari," ucap Ari mengenalkan diri sembari mengulurkan tangan ke arah Awan dengan senyuman di pipinya.


"I-i-iya.." Awan terlihat gugup, tapi kemudian ia berjabat tangan dengan pria itu.


Hanya beberapa detik, mereka langsung saling melepas jabatan tangan itu dan kembali menatap Wati bersama-sama. Entah kenapa Ari seolah tak suka melihat ada laki-laki lain yang dekat dengan Wati, padahal Ari sendiri sadar kalau ia saat ini sudah memiliki kekasih, yakni Keira.


"Mira, kalo gitu yaudah ya saya pergi dulu? Saya masih ada urusan soalnya," pamit Ari.


"Ah iya mas, hati-hati ya di jalan! Sekali lagi terimakasih atas parcel nya, ini banyak banget loh isinya!" ucap Wati.


"Sama-sama Wati," singkat Ari.


Setelahnya, Ari memutuskan pergi dari sana dengan mobilnya karena tak kuat melihat Wati bersama laki-laki lain. Sedangkan Awan tetap berada disana menemani Wati, pria itu bahkan tersenyum ke arah Wati dan perlahan menyentuh bahunya dengan lembut.


"Mir, yang barusan itu siapa sih?" tanya Awan tiba-tiba pada Wati.


"Oh itu, dia mah mas Ari. Dia orang yang bantu aku sampai bisa jualan disini," jawab Wati.


"Oh gitu, pantesan kamu akrab banget sama dia. Bahkan kalian sampe senyum-senyum gitu terus tadi, mana dia juga kasih parcel lagi ke kamu. Segitu dekatnya ya kalian berdua?" ucap Awan.


"Eee kamu tuh kenapa sih bang? Kok kayak gak suka gitu ngeliat aku dekat sama mas Ari? Kamu cemburu?" tanya Wati keheranan.


Deg!


Awan terlihat kebingungan saat ini, pria itu tak tahu harus menjawab apa pada gadis di depannya. Awan sungguh dibuat bingung ketika Wati melontarkan pertanyaan seperti itu, apalagi Wati juga terus menatapnya seolah menunggu jawaban dari pria tersebut.


"Cemburu? Ngapain aku cemburu coba? Aku tuh cuma penasaran aja, kamu sama si Ari Ari itu sedekat apa gitu?" elak Awan.


"Ohh, ya gitu deh bang. Mas Ari sama aku dekatnya ya cuma sebatas teman, kami memang sering ketemu, tapi diantara kami tidak ada hubungan apa-apa kok bang," jelas Wati.


"Hah??" Wati tersentak kaget dengan mulut terbuka.




Sontak Sahira menangis karena bentakan ibunya barusan, Saka pun memeluknya bermaksud menenangkan gadis itu agar tidak menangis lagi. Saka juga mengusap lengan dan bahu sang kekasih, ia sungguh merasa prihatin dengan apa yang dialami Sahira barusan.


Lalu, Sahira beralih menatap Bram yang kebetulan masih berada disana. Gadis itu tampak mendekat ke arah Bram dengan mata berkaca-kaca, Bram yang melihatnya pun dibuat gugup serta gemetar karena khawatir Sahira akan berbuat yang tidak-tidak padanya kali ini.


"Om, om itu abis bawa ibu saya kemana semalam?" tanya Sahira serak.


"Eee.." Bram jelas gugup dan kebingungan menjawabnya.


"Om gausah gugup gitu, terus terang aja sama saya biar saya tahu kemana om bawa ibu saya pergi semalam!" pinta Sahira.


"Tenang Sahira, saya cuma bawa ibu kamu ke tempat penginapan di dekat sini kok," ucap Bram.


Sahira langsung melotot dibuatnya, "Tempat penginapan? Terus kalian tidur sekamar gitu disana?" ujarnya kaget.


"Eh jangan salah paham dulu Sahira! Kami tidak tidur satu kamar kok, yang tidur di penginapan itu cuma ibu kamu, saya mah pulang ke rumah saya. Abisnya semalam kamu tidak ada di rumah sih," ucap Bram menjelaskan.


"Masa? Om gak bohong kan sama saya? Jujur aja deh om, kasih tahu ke saya semuanya!" ujar Sahira.


"Saya sudah jujur Sahira, sisanya terserah kamu aja mau percaya atau enggak. Sudah ya, saya harus pergi sekarang karena banyak urusan?" ucap Bram.


"Tunggu om!" Sahira kembali menahan pria itu.


"Apa lagi Sahira? Saya masih ada urusan lain yang lebih penting dibanding menjawab pertanyaan kamu itu," ucap Bram kesal.

__ADS_1


"Saya masih pengen tanya lagi ke om, sebenarnya om itu serius atau cuma mau main-main aja sama ibu saya sih?" ucap Sahira melontarkan pertanyaan yang membuat Bram terkejut.


Pria itu terdiam seketika, matanya membulat dan dirinya dibuat kebingungan harus menjawab apa. Bram memang sudah memiliki istri, hingga kini hubungan antara ia dengan Fatimeh hanya sebatas saling memuaskan, karena Bram jarang sekali mendapat jatah dari istrinya.


"Kenapa diam om? Dijawab dong pertanyaan pacar saya! Perasaan itu pertanyaan mudah deh," ucap Saka.


"Eee saya ya serius dong sama ibu kamu Sahira," jawab Bram asal.


Sahira sontak melirik ke arah Saka dengan bingung, ia masih tidak percaya pada apa yang dikatakan Bram barusan. Terlebih ekspresi wajah Bram saat ini juga menunjukkan kalau pria itu sedang berbohong darinya, tampak jelas jika Bram memang gugup dan ketakutan.


"Om gak bohong kan sama saya? Mending om jujur aja deh, sebenarnya om itu anggap ibu saya apa! Saya gak terima ya kalau om cuma mempermainkan ibu!" ucap Sahira tegas.


"Tenang dulu Sahira, kamu jangan salah kira begitu! Saya dan ibu kamu memang ada hubungan, saya juga tidak mempunyai niat sama sekali untuk mempermainkan ibu kamu itu," ucap Bram.


"Masa sih om? Terus buktinya apa kalau emang om serius sama ibu saya?" tanya Sahira lagi.


"Nanti akan saya buktikan, kamu tunggu saja sampai saatnya tiba Sahira! Sekarang saya masih ingin mengenal ibu kamu lebih jauh dulu," jawab Bram dengan tegas juga.


Sahira dan Saka mengangguk saja mendengar perkataan Bram, mereka berharap jika Bram akan menepati janjinya dan tidak mempermainkan Fatimeh. Namun, Sahira tetap saja waspada karena ia khawatir Bram hanya berbohong di depannya dan tidak ingin membuatnya kesal.


"Semoga yang om Bram bilang benar deh, jujur aku gak mau lihat ibu sedih atau kecewa nantinya!" gumam Sahira dalam hati.




Singkat cerita, pasangan kekasih Sahira dan Saka itu telah tiba di kantor tempat mereka bekerja. Selain berpacaran, mereka memang juga bekerja di satu tempat yakni sebagai bos dan asisten pribadi. Tentu Saka sangat bahagia dengan hal ini, sebab ia bisa lebih dekat dengan gadisnya itu.


Mereka pun turun dari mobil dan langsung bergandengan tangan, namun wajah Sahira tampak menunjukkan kalau dirinya masih dibalut kesedihan akibat perkataan ibunya tadi. Sahira juga merasa bersalah karena ia tidak bisa membuat ibunya bahagia dan tercukupi sampai sekarang.


"Sahira, kamu kenapa sedih gitu? Kamu masih mikirin soal hubungan ibu kamu dan om Bram ya?" tanya Saka penasaran.


Gadis itu mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca, "Iya mas, a-aku sedih karena belum bisa bikin ibu bahagia. Rasanya aku telah gagal jadi seorang anak," jawabnya.


"Hey, kamu gak boleh bicara begitu sayang!" Saka langsung mendekap erat tubuh gadisnya bermaksud menenangkan gadis itu.


"Kamu itu sosok anak yang baik loh Sahira, kamu juga berbakti sama ibu kamu selama ini karena kamu sudah mau menghidupi dia walau kamu tau dia bukan ibu kandung kamu," sambungnya.


"Tapi tetap aja mas, aku rasa aku belum cukup buat bikin ibu bahagia. Aku benar-benar ngerasa gagal mas," ucap Sahira terisak.


"Sudah sudah sayang, kamu gak perlu sedih begitu terus dan jangan diambil hati ya soal perkataan ibu kamu tadi! Aku mau kamu gak sedih lagi, udah ya stop nangisnya!" ucap Saka mengusap air mata di wajah gadisnya.


"Hiks hiks.." Sahira menangis sesenggukan di dalam dekapan kekasihnya itu.


Setelahnya, Sahira bisa lebih tenang saat Saka mengusap punggungnya. Gadis itu berhenti menangis dan berniat masuk ke dalam kantor bersama kekasihnya, tapi kemudian tiba-tiba saja sebuah mobil juga berhenti tepat di dekat mereka dan seorang wanita turun dari sana.


"Hey Saka!" wanita itu menyapa si pria, ya dia adalah Syera alias mamanya.


Saka pun tampak tak menyukai keberadaan Syera disana, tatapannya seolah menunjukkan bahwa ia sangat malas bertemu dengan wanita itu. Namun, Syera yang sadar tetap memilih mendekati mereka berdua karena ia hanya ingin melihat-lihat seperti apa kedekatan sepasang kekasih itu.


"Tante, assalamualaikum!" sapa Sahira yang langsung mencium tangan calon mama mertuanya itu disertai senyuman lebar.


"Waalaikumsallam cantik," balas Syera.


Entah kenapa, lagi-lagi Syera merasa seperti tidak asing ketika Sahira menyentuh tangannya. Syera seolah sedang bertemu dan bertatapan langsung dengan anaknya yang lama hilang, tetapi Syera tak mau terlalu berharap karena itu semua mungkin saja hanya perasaannya semata.


"Mama ngapain kesini? Ada urusan apa?" tanya Saka tiba-tiba dengan nada ketus.


Syera pun terkejut, lamunannya seketika buyar dan ia reflek beralih menatap wajah Saka dengan bingung. Sedangkan Sahira juga terlihat heran lantaran Saka bertindak seolah tak menyukai keberadaan mamanya disana, padahal Syera adalah orang tua pria itu juga.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2