Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 121. Selamat hari raya


__ADS_3

Setelahnya, Alan menyadari jika sedari tadi Awan terus saja menatap ke arahnya seolah tak suka dengan kehadirannya disana. Sontak saja Alan yang merasa tidak enak pun hendak pamit pada Wati, ia juga tak ingin mengganggu hubungan mereka dan malah menjadi masalah nantinya.


"Eee yaudah, kalau gitu saya pamit dulu ya Mira? Sekali lagi selamat hari raya ya!" ucap Alan.


"Loh kok pamit sih pak? Emang urusan bapak di kampung ini udah selesai? Pasti bapak kesini mau temuin Sahira kan? Apa bapak udah berhasil ketemu sama dia?" tanya Wati.


Alan menggeleng pelan seraya menundukkan kepalanya, "Tadi saya udah ke rumahnya, tapi saya malah diusir sama ibunya," jawabnya.


"Hah kok gitu? Kenapa diusir?" tanya Wati kaget.


"Entahlah, tapi yasudah tidak usah dibahas lagi. Saya mau kembali pulang aja dan merayakan hari raya di rumah, permisi ya Mira, tante!" ucap Alan.


"Iya pak, hati-hati!" ucap Wati lirih.


Akhirnya Alan memutuskan melangkah pergi dari sana meninggalkan Wati dan keluarganya, jujur perasaan Alan saat ini masih belum tenang setelah ia diusir tadi oleh Fatimeh. Ia sendiri juga tak tahu harus pergi kemana sekarang, sebab ia masih ragu untuk pulang ke rumah dan bertemu dengan Saka.


"Huft, saya harus kemana ya ini? Perasaan hidup saya kok jadi makin menderita aja ya? Gini amat deh hidup!" gumam Alan dalam hati.


Bruuukkk


Tiba-tiba saja, tanpa disengaja Alan bertabrakan dengan seorang wanita yang entah muncul darimana. Akibatnya, Alan langsung terjatuh dengan posisi telentang di atas aspal dan wanita juga ikut tertarik serta mendarat tepat di atas tubuh Alan. Mereka pun saling bertatapan selama beberapa detik seperti adegan di film-film.


"Eh, ma-maaf saya gak sengaja.." wanita itu spontan bangkit dan menjauh dari tubuh Alan, ia juga meraba-raba tubuhnya sendiri seolah tengah membersihkan kotoran.


Alan perlahan turut bangkit dan menatap wanita di hadapannya dengan kesal, "Hey, kalau jalan tuh lihat-lihat dong! Apa kamu tidak punya mata? Masa badan saya segede ini masih bisa kamu tabrak gitu aja?" ujarnya emosi.


"Maaf maaf, sekali lagi saya minta maaf. Saya tadi—" belum selesai ia berbicara, tiba-tiba sudah ada dua orang pria meneriakinya.


"Woi jangan lari!" teriak kedua pria itu.


"Hah??" sontak wanita itu panik dan kembali mendekati Alan untuk meminta bantuan.


"Eh eh, apa-apaan sih kamu?!" Alan tampak heran ketika wanita itu mendekat dan mencengkram lengannya dengan erat.


"Sssttt diem dulu! Saya minta bantuan kamu sebentar aja, ya?" ucap si wanita.


Alan mengernyit tanda tak mengerti, "Bantuan? Bantuan apa? Memangnya kamu lagi kenapa?" tanyanya penasaran.


"Udah, nanti aja saya jelasinnya. Sekarang tolong kamu bilang ke orang-orang itu, kalau kamu kenal sama saya!" ucap si wanita.


"Loh?" Alan masih tampak terheran-heran tak mengerti dengan maksud ucapan wanita itu.


Tak lama kemudian, dua orang pria tadi sudah berada di dekat mereka dan menatap ke arah Alan serta si wanita dengan senyum seringai. Sontak wanita itu langsung bersembunyi dibalik tubuh Alan, membuat Alan kebingungan tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Heh sini lu, berani-beraninya lu kabur dari kita!" sentak si pria.


Disaat pria-pria itu hendak maju mendekat, Alan dengan cekatan melindungi tubuh si wanita agar mereka tidak bisa mendekatinya. Tentu saja hal itu membuat kedua pria tersebut tampak geram dan meminta Alan menyingkir, tapi karena kasihan Alan pun tetap berniat melindungi gadis itu.


"Lu jangan ikut campur deh! Emangnya lu siapanya dia? Sekarang lu minggir, atau kita bakal habisin lu!" ucap si pria.


"Sabar pak! Ini ada apa memangnya? Kenapa kalian kejar-kejar sepupu saya?" ujar Alan.


"Hah sepupu? Jadi, si copet ini sepupu lu? Wah berarti jangan-jangan lu juga satu komplotan sama dia ya?" ujar si pria.


Deg!


Betapa terkejutnya Alan ketika mendengar ucapan pria itu barusan, ia tak menyangka kalau ia sedang melindungi seorang copet. Namun saat ia melirik ke arah si wanita, tampak wanita itu menggeleng cepat seolah mengelak dari tuduhan dua pria itu dan meminta Alan untuk tidak percaya begitu saja.


"Iya dia sepupu saya, dan dia bukan copet seperti yang kalian katakan. Kalian itu salah orang, sebaiknya kalian pergi sebelum saya emosi dan melaporkan kalian ke polisi karena sudah mengganggu sepupu saya!" tegas Alan.


"Cih, emang dasar rombongan copet! Justru kalian berdua yang bakal kami bawa ke kantor polisi sekarang!" ucap si pria.


"Tunggu dulu pak, kita bisa bicarakan ini baik-baik! Saya yakin sepupu saya ini bukan copet, lagian apa kalian punya bukti untuk meyakinkan tuduhan kalian itu?" ucap Alan.


"Jelas iya, dia tadi baru aja ambil dompet milik ibu-ibu yang baru selesai shalat Ied. Kalau lu gak percaya, cek aja sendiri di tubuh cewek itu!" ucap si pria dengan yakin.


Alan menggeleng pelan, "Gak gak, itu gak mungkin. Kalian jangan asal bicara ya!" ucapnya tegas.


"Iya tuh, aku bukan copet tau. Kalian cuma salah paham, yang kalian lihat itu bukan aku, mungkin orang lain yang mirip sama aku," sahut si wanita.


"Halah alasan aja lu! Mending lu ngaku, atau kita berdua bakal seret lu secara paksa ke kantor polisi!" geram si lelaki.


"Hah? Jangan, please jangan! Aku bukan copet, beneran deh percaya dong!" bujuk wanita itu.


"Ah kita gak percaya!" saat dua pria itu hendak memaksa si wanita, Alan dengan sigap mencegahnya dan bahkan mendorong tubuh mereka hingga terlentang.

__ADS_1


Bruuukkk


"Awhh aduh!" mereka berdua meringis bersamaan menahan rasa sakit itu.


"Jangan pernah sentuh dia! Dia itu bukan copet, kalian gak boleh paksa dia!" sentak Alan.


"Kurang ajar!" geram si lelaki.


Lalu, kedua pria tersebut pun bangkit kembali dan langsung melayangkan pukulan ke arah Alan secara bringas. Namun, tentunya dengan santai Alan berhasil menghindari tiap pukulan mereka dan malah berbalik menyerang mereka sampai kedua lelaki itu terjatuh tidak berdaya.


"Bagaimana? Masih mau serang saya lagi? Ayo sini maju, saya tidak takut sama kalian berdua!" tantang Alan.


"Aaarrgghh sialan! Awas lu ya!" dua lelaki itu pun pergi dengan terbirit-birit karena ketakutan.


Sementara si wanita kini merasa lega dan aman setelah Alan berhasil memukul mundur para lelaki tadi, ia bergerak maju dan menertawakan kedua lelaki tersebut dengan puas. Alan yang melihatnya hanya diam sembari tersenyum tipis, baginya wanita itu terlihat sangat cantik kali ini.


"Ahaha, rasain tuh! Makanya jangan nuduh orang sembarangan!" kekeh si wanita.


"Eee sudah kan? Kalo gitu saya permisi dulu ya? Saya harus pulang sekarang, karena ini hari raya idul Fitri," pamit Alan.


"Eh? Kamu gak mau ngobrol dulu gitu?" tanya si wanita seolah mencegah Alan pergi.


Alan terdiam, tapi sedetik kemudian ia mengangguk dan melebarkan senyumnya pertanda kalau ia setuju dengan tawaran wanita itu untuk mengobrol sejenak.




Lalu, tiba-tiba Fatimeh bergerak dan berdiri tepat di depan Sahira seolah memasang badannya. Fatimeh kini tampak serius menatap tubuh Alan dari atas sampai bawah seperti hendak membunuhnya, hal itu membuat Alan harus meneguk ludah secara susah payah karena kebingungan.


"Mau ngapain lu kesini, ha? Lu gak punya rumah emangnya sampai lebaran begini datang ke tempat orang?" tegur Fatimeh.


"Eee sa-saya..." Alan yang mendengar itu langsung merasa gugup dan bingung seketika.


Sahira pun keheranan dengan sikap ibunya barusan, ia tak mengerti mengapa Fatimeh harus berkata seperti itu pada Alan. Akhirnya Sahira memutuskan melangkah ke depan sang ibu untuk coba bertanya sekaligus menegurnya, jujur saja Sahira sangat tidak enak pada Alan saat ini.


"Bu, kenapa ibu bicaranya begitu sih sama Alan? Dia kan datang kesini niatnya baik, harusnya ibu gak boleh begitu sama Alan! Apa ibu lupa kalau hari ini hari raya?" tegur Sahira.


"Udah deh Sahira, mending kita masuk aja yuk! Gue udah lapar nih pengen makan," ujar Fatimeh.


Braakk


Tak lupa Fatimeh juga menutup pintu dengan keras, lalu menguncinya rapat-rapat agar tidak ada orang yang bisa masuk kesana. Alan pun tertunduk lesu di depan sana, ia sungguh bingung mengapa Fatimeh seolah sangat membencinya kali ini. Padahal Alan merasa kalau ia tak memiliki salah apapun.


"Sebenarnya bu Fatimeh kenapa ya? Kok dia kayak benci banget sama saya begitu? Apa yang terjadi ya selama saya pergi? Duh, semoga gak ada apa-apa deh!" gumam Alan lirih.


Akhirnya Alan memilih pergi dari rumah itu karena merasa sudah tidak ada yang bisa ia lakukan lagi disana, meskipun Alan sedikit merasa kecewa lantaran ia masih belum puas bertemu dengan Sahira yang sangat ia rindukan. Namun, Alan pun tak dapat berbuat apa-apa saat ini selain pergi.


Sementara itu, Sahira kini dipaksa duduk di sofa dengan dua tangan yang terus digenggam erat oleh ibunya. Fatimeh pun menyusul duduk di samping gadis itu dan terus menatapnya dengan tajam, membuat Sahira kebingungan tak mengerti mengapa ibunya jadi seperti itu.


"Bu, ada apa sih? Kenapa ibu kayak gak suka gitu sama pak Alan? Dia kan gak ngelakuin kesalahan apa-apa ke kita," tanya Sahira keheranan.


"Si Alan itu juga anak Syera, jadi gue gak suka lu dekat-dekat sama dia!" jawab Fatimeh tegas.


Sahira membelalakkan matanya, tampak sekali kalau Fatimeh sangat tidak menyukai Syera termasuk anak-anaknya. Sahira pun dibuat bingung, sebab ia sendiri juga merupakan anak dari Syera. Tapi ia heran mengapa Fatimeh justru tidak membencinya, sungguh berbeda dengan sikapnya pada Saka maupun Alan.


"Terus apa bedanya sama aku, Bu? Aku kan juga anaknya tante Syera, ya walau aku gak tahu sih beneran apa enggak. Tapi, sesuai perkataan ibu kan begitu," tanya Sahira keheranan.


"Lu beda Sahira, lu itu kan udah tinggal sama gue dari kecil. Gue gak mungkin bisa benci lu terus, karena gue sadar kalau perlahan-lahan rasa sayang gue ke lu terus bertambah. Makanya gue mau lu tetap disini sama gue," jawab Fatimeh.


Sahira tersenyum senang mendengarnya, "Ibu baik banget sih, aku jadi terharu dengar kata-kata ibu!" ucapnya.


"Hahaha, yaudah kita makan dulu yuk!" ajak Fatimeh.


Sahira manggut-manggut setuju, "Iya Bu, biar aku yang siapin semuanya ya?" ucapnya.


"Iya boleh," singkat Fatimeh.


Setelahnya, mereka berdua langsung bergerak menuju meja makan untuk menyantap hidangan yang sudah tersedia. Ya kebetulan kemarin hampir seharian Sahira dan Fatimeh memasak bersama untuk hari raya lebaran kali ini, sehingga mereka kini bisa menikmati semua hidangan itu.


Setibanya di meja makan, Fatimeh tampak terpukau lantaran disana sudah tersedia cukup banyak makanan hasil dari masakan mereka kemarin. Baru kali ini memang Fatimeh akui kalau Sahira sangat pandai dan rajin, entah kenapa wanita itu jadi semakin menyayangi Sahira dan tak rela jika Syera nanti akan merebut Sahira darinya.


"Ayo duduk Bu! Makanannya biar aku aja yang siapin," ucap Sahira sambil tersenyum.


"Iya sayang," Fatimeh menurut dan duduk disana sesuai perintah putrinya, sontak saja Sahira tampak senang saat mendengar Fatimeh menyebutnya dengan panggilan 'sayang'.

__ADS_1


TOK TOK TOK...


Baru saja mereka hendak menikmati makanan itu, tapi tiba-tiba pintu rumah terketuk dari luar dan membuat keduanya bingung. Akhirnya Sahira memutuskan pergi sejenak ke arah pintu untuk mengecek siapa yang datang, sedangkan Fatimeh tetap disana menunggu Sahira kembali.


"Bu, aku ke depan dulu ya lihat siapa yang datang? Takutnya ada tamu atau tetangga kita yang mau silaturahmi," ucap Sahira.


"Iya Sahira, yaudah sana lu lihat deh buruan! Kalau emang itu tetangga kita, suruh aja mereka masuk dan makan bareng kita!" ujar Fatimeh.


"Siap Bu!" Sahira mengangguk patuh dan kemudian melangkah menuju pintu.


Tanpa basa-basi lagi, Sahira langsung membuka pintu untuk melihat siapa yang sedari tadi mengetuk-ngetuk meminta masuk. Begitu pintu dibuka, tampak jelas kalau Cat beserta Yoshi lah yang ada di depan sana. Ya tentu saja Sahira merasa senang karena bertemu dengan sahabatnya itu.


Ceklek


"Assalamualaikum Sahira, selamat hari raya!" ucap Cat dengan senyum renyahnya.


"Waalaikumsallam, eh Cat? Yoshi? Ya ampun, selamat hari raya juga ya!" ucap Sahira.


Mereka pun saling bersalaman sambil tersenyum penuh keceriaan, barulah setelahnya Sahira mengajak sepasang kekasih itu untuk masuk ke dalam rumah dan menikmati sarapan bersamanya. Memang sudah menjadi tradisi dimana setiap hari raya maka para tamu yang hadir pasti akan diajak masuk untuk mencicipi masakan tuan rumah.


"Eh yaudah, ayo kalian masuk aja ke dalam dan kita sarapan sama-sama! Kebetulan aku sama ibu udah masak banyak loh, kalian mau kan?" ajak Sahira.


"Wah asyik tuh pasti, pas banget emang kita belum makan nih habis shalat," ucap Cat.


"Hahaha, iya gue tau kalo lu mah pasti gak bakal nolak. Tapi gapapa, gue malah senang kalau kalian berdua mau mampir ke dalam," ucap Sahira.


"Pastinya dong, lu kan tahu kebiasaan sahabat lu yang cantik ini. Udah yuk sayang, kamu mau kan masuk ke rumah Sahira dulu?!" ujar Cat.


"Ya apa boleh buat? Kalau udah ditawarin, masa iya aku nolak?" ucap Yoshi.


"Ahaha.." mereka bertiga saling terkekeh sebelum melangkah masuk ke dalam rumah itu.




Sementara itu, Alan bersama wanita yang tadi ditolongnya kini tiba di salah satu taman dekat perkampungan tempat tinggal Sahira. Mereka memang masih berada tak jauh dari tempat sebelumnya, sebab Alan hendak menanyakan perihal apa yang terjadi pada wanita itu tadi.


Wanita itu pun tampak terus mengamati wajah Alan dari samping tempatnya duduk, sepertinya ia mulai tertarik pada ketampanan sosok Alan serta sikapnya yang dingin tapi perhatian itu. Hal yang wajar memang, karena cukup banyak wanita seringkali tertarik pada lelaki itu.


"Eee jadi sebenarnya siapa nama kamu, gadis aneh? Daritadi saya kebingungan harus panggil kamu apa," tanya Alan pada si wanita.


"Panggil aja aku Carol! Aku cewek cantik yang tinggal di kampung sebelah," jawab wanita itu.


"Hm, pede juga ya kamu? Saya baru kali ini ketemu wanita sepede kamu, biasanya tiap perempuan itu kan selalu insecure sama dirinya sendiri," ujar Alan.


"Ya itu kan yang lain, aku mah beda pak. Aku itu tipe orang yang suka bersyukur," ucap Carol.


"Iya deh, tapi bagus loh dan saya suka dengan wanita yang mau mensyukuri apapun yang ada pada dirinya. Terus pertahankan itu ya, karena kamu memang cantik kok!" ucap Alan.


"Oke pak! By the way, aku sekarang yang belum tahu nama kamu. Boleh kan kita saling tukar nama?" ucap Carol.


Alan terkekeh kecil dan kemudian bergeser lebih dekat ke tubuh wanita itu, "Ya tentu, saya Alan dan kamu bisa panggil saya dengan nama itu. Usia saya masih sekitar 20 tahun, jadi jangan panggil pak ya!" ucapnya.


"Ohh, ahaha maaf maaf tadinya aku kira kamu tuh udah bapak-bapak. Soalnya style kamu mewah banget sih," ucap Carol sambil tersenyum.


"It's okay, saya juga sudah biasa dipanggil bapak kok kalau di kantor. Ya tapi sebenarnya agak risih juga sih, karena saya ini masih muda banget itungannya," ucap Alan.


"Ya bener sih Lan, kamu emang masih muda. Eh gapapa nih aku panggil nama aja?" ujar Carol.


"Gapapa Carol, anggap aja saya ini sahabat kamu dan kita sudah lama berteman. Kebetulan saya jarang loh punya sahabat perempuan, kamu mau kan jadi sahabat saya?" ucap Alan.


"Umm, aku sih mau mau aja. Tapi, emangnya kamu mau temenan sama aku yang berandalan ini? Kamu gak malu apa?" ucap Carol.


"Kenapa kamu sebut diri kamu berandalan? Emangnya kamu bener suka nyopet atau malah maling?" tanya Alan.


"Hah? Ih ya ampun gak gitu loh Lan, maksudnya tuh aku ini gayanya kan gak seperti wanita pada umumnya loh. Lihat aja nih aku agak tomboy, makanya sering disangka copet," jawab Carol.


"Oalah, ya kamu bener juga sih. Kebetulan saya belum pernah punya teman yang tomboy kayak kamu, jadi saya sepertinya tertarik untuk menjadikan kamu sahabat saya deh," ucap Alan.


"Ahaha, bisa aja kamu. Oh ya, selamat hari raya ya!" ucap Carol tiba-tiba menyodorkan tangannya.


Tentu saja Alan merasa bingung dan kikuk, tapi kemudian Carol menatap seolah meyakinkan Alan untuk bersalaman dengannya. Akhirnya dengan sedikit keberanian, Alan pun mulai menggerakkan tangannya dan meraih telapak tangan yang mulus milik Carol itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2