
Sahira dan ibunya tiba di rumah baru mereka yang sebelumnya sudah disiapkan oleh sang ibu untuk mereka berpindah tempat dari yang lama. Tentu dengan alasan karena Fatimeh khawatir jika Syera dan keluarganya akan mengambil paksa Sahira darinya, sebab Fatimeh tidak mau kehilangan putri semata wayangnya itu.
Keduanya kini menghela nafas lega, meletakkan koper mereka di teras dan menghirup sedalam-dalamnya udara yang ada disana. Entah mengapa rasanya udara disana terasa lebih segar dibandingkan sebelumnya, sehingga baik Sahira maupun Fatimeh sama-sama menikmati itu. Bahkan Sahira sampai belum mau memasuki rumah barunya dan memilih menetap disana.
"Ibu ternyata pintar cari rumah, ya? Aku gak nyangka loh selera ibu sebagus ini, rumahnya juga gak kalah bagus dibanding rumah kita yang sebelumnya," ujar Sahira memuji ibunya.
"Iya dong sayang, masa iya selera gue rendahan? Rumah ini tuh udah gue siapin dari jauh-jauh hari, sebelum gue berani bilang ke Syera kalau lu itu anak dia. Makanya sekarang gue tinggal bawa lu aja kesini deh," ucap Fatimeh bangga.
"Hahaha, iya ibu hebat deh! Kalo gitu sini biar aku yang bawa kopernya ke dalam!" ucap Sahira.
"Eh gausah, nanti aja sekalian dibawanya. Kita tunggu seseorang dulu yang mau datang kesini," ucap Fatimeh mencegahnya.
"Hah? Seseorang siapa, bu? Kok ibu gak ada bilang sama aku sebelumnya?" tanya Sahira heran.
Fatimeh tersenyum saja sembari mengusap bahu putrinya, "Sabar, lu tunggu aja nanti sampai orangnya datang!" ucapnya pelan.
"Emang siapa sih bu yang datang? Aku masih penasaran deh," tanya Sahira sekali lagi.
"Udah tunggu aja, nanti juga lu bakal tau siapa tuh orangnya! Gue yakin lu pasti terkejut deh, percaya sama gue!" ucap Fatimeh.
"Ih ibu mah, bikin aku makin penasaran aja deh!" ucap Sahira cemberut.
"Hahaha..." Fatimeh tertawa puas melihat ekspresi putrinya, lalu ia pun merangkul dan memeluk tubuh sang putri serta mengecup keningnya.
Tin tin...
Tak lama kemudian, sebuah mobil yang sudah ditunggu oleh Fatimeh pun tiba di halaman rumah itu dan membuat keduanya menoleh secara bersamaan ke arah mobil. Tampak Sahira begitu penasaran dan antusias sekali saat melihat pintu mobil terbuka, matanya terus menatap kesana dan tidak ingin teralihkan.
"Bu, itu orangnya?" tanya Sahira menatap wajah ibunya dengan penasaran.
Fatimeh mengangguk saja sebagai jawaban, lalu kembali menatap ke arah mobil menantikan orang yang turun dari sana. Dan kemudian, seorang pria tampan berbaju rapih menginjakkan kakinya ke tanah dan melepas kacamata yang ia kenakan sehingga menampakkan rupa wajahnya.
Saat itu juga Sahira dibuat terkejut melihatnya, dua bola matanya terbuka lebar seolah tak percaya dengan apa yang ada di depannya. Namun, semua itu nyata dan Sahira tidak bisa menampik jika yang datang kesana adalah orang itu, meski rasanya ia tidak bisa percaya seratus persen jika orang itu datang ke tempatnya menemui dirinya saat ini.
Laki-laki itu kini melangkah secara perlahan menghampiri Fatimeh juga Sahira yang masih terdiam mematung disana, tak lupa ia menyapa serta melambaikan tangan bermaksud menyadarkan kedua orang itu dari lamunan mereka yang belum berhenti.
"Halo tante, assalamualaikum!" sapa si lelaki dengan ramah sembari berniat mencium tangan wanita tersebut.
"Waalaikumsallam, selamat datang ya Bayu! Maaf nih kami juga baru sampai, jadinya belum sempat nyiapin apa-apa deh buat nak Bayu," ucap Fatimeh sambil tersenyum.
"Ah gapapa tante, saya kan niatnya kesini emang buat bantu-bantu tante pindahan. Lagian bisa ketemu sama Sahira aja saya udah senang kok," ucap Bayu seraya melirik gadis di hadapannya.
"Ahaha, bisa aja kamu Bayu. Omong-omong udah lama ya kalian gak saling ketemu?" ujar Fatimeh.
"Iya tante, semenjak lulus kan saya sama Sahira pisah terus baru ketemu lagi sekarang. Itu juga karena tante yang menghubungi saya," ucap Bayu.
"Jadi ibu yang telpon Bayu dan suruh Bayu kesini?" sela Sahira bertanya pada ibunya.
Fatimeh pun beralih menatap Sahira dan tersenyum santai, "Iya sayang, emang salah ya kalo ibu telpon nak Bayu? Kalian itu kan dulu dekat banget, jadi makanya ibu minta tolong nak Bayu buat pindahan kali ini," ucapnya.
"Tapi Bu, kan aku gak enak sama Bayu. Kalo kayak gini jadinya tuh kita ngerepotin dia tau," ucap Sahira merengut.
"Eh gapapa kok Sahira, aku senang malah bisa ketemu sama kamu lagi. Selama ini kita udah gak pernah berhubungan, karena aku gak tahu nomor kamu berapa dan bingung cari kemana," ujar Bayu.
"Maaf ya, soalnya aku emang ganti nomor dan banyak juga teman-teman sekolah kita yang gak tahu itu," ucap Sahira.
"Okay, no problem. Untungnya ibu kamu masih ingat sama nomor aku, jadinya aku bisa ketemu lagi sama kamu deh," ucap Bayu tersenyum.
Sahira terdiam saja saat Bayu menatapnya penuh arti, mereka berdua pun saling bertatapan selama beberapa detik seolah menunjukkan betapa rindunya mereka karena sudah cukup lama tidak bertemu. Ya sebelumnya mereka adalah sahabat yang cukup dekat sewaktu bersekolah, tapi kemudian mereka berpisah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
__ADS_1
•
•
TOK TOK TOK...
Alan mengurungkan niatnya untuk menikmati bibir Carol kembali karena mendengar suara ketukan pintu dari arah luar, sontak Carol meminta pria itu untuk beranjak dari tubuhnya agar seseorang di luar sana tidak melihat atau mengetahui tindakan mereka saat ini yang bertindihan di atas kasur.
Meski kesal, namun Alan menyetujui ucapan Carol dan bangkit dari tubuh gadis itu. Tak lupa ia juga merapihkan rambut serta pakaiannya, begitu pula dengan Carol. Tentunya Alan tidak ingin membuat mereka dicurigai, apalagi kalau memang yang datang kesana itu adalah Floryn.
"Itu kayaknya Floryn deh, aku aja yang keluar ya buat temuin dia? Kamu disini, nanti aku balik lagi buat nikmatin kamu!" ujar Alan sensual.
"Ih apaan sih? Kamu mau kayak gitu lagi di depan Floryn, iya?" ucap Carol.
"Apa salahnya? Malah kalau bisa, aku bakal ajak Floryn juga nanti buat gabung sama kita. Kan enak tuh main sama dua cewek sekaligus," kekeh Alan.
Carol menggeleng heran, "Kamu tuh gak waras apa gimana sih, Lan? Udah deh mending buruan kamu buka tuh pintunya!" ucapnya kesal.
"Iya iya.." Alan tersenyum lebar dan melangkah ke dekat pintu untuk mengecek siapa yang datang.
Sementara Carol memilih tetap diam di tempatnya sambil terus memandang ke arah Alan dengan wajah bingung, gadis itu masih tak menyangka kalau ia akan kehilangan kesucian bibirnya di tangan pria yang baru saja ia kenal dan juga yang selama ini ia sangka sebagai orang baik.
Ceklek
Begitu Alan membuka pintu, matanya langsung terbelalak karena yang ada di depannya saat ini adalah sang kakak alias Saka bersama Floryn yang berdiri tepat di sebelahnya. Tentu saja Alan merasa gugup, ia tak mengira kalau Floryn akan datang dengan Saka dan menemuinya di tempat itu.
"Bang, kenapa lu bisa ada disini? Gue gak pernah kasih tahu lu lokasi kost ini," ujar Alan.
"Itu gak penting, sekarang ayo lu pulang sama gue karena mama udah khawatir nungguin lu di rumah!" ucap Saka.
"Hahaha, mama? Lu bilang dah tuh sama mama lu, kalo gue gak akan pulang!" ucap Alan.
"Kenapa? Lu mau apa? Gue bilang, gue gak bakal mau pulang. Sekarang gue mau punya kehidupan sendiri tanpa kalian, jadi tolong jangan ganggu gue!" ucap Alan tanpa ragu.
Disaat Alan berbalik dan hendak masuk ke kamar kost Carol, dengan cepat Saka menahannya dan menarik kaos adiknya itu dari belakang. Sontak Alan ikut terpancing, akhirnya pria itu melayangkan pukulan keras ke arah wajah sang kakak yang tanpa bisa dihindari olehnya.
Bugghhh..
"Akh sial!" Saka mengumpat pelan sembari memegangi wajahnya yang terluka.
Floryn pun bergerak mendekat karena khawatir pada pria itu, "Bang, abang gapapa?" tanyanya.
"Gue baik-baik aja," jawab Saka singkat.
"Ohh, sekarang lu sama Floryn udah dekat ya bang? Terus lu mau kemanain si Sahira, hm? Lu pengen berkhianat dari dia? Kurang ajar banget sih lu, bang! Gue udah kasih kesempatan lu buat milikin dia, eh lu malah kayak gini!" ucap Alan.
"Lo jangan asal bicara! Gue gak pernah khianati Sahira!" elak Saka.
"Oh ya? Terus ini apa? Lu aja datang berdua sama Floryn kesini, itu menandakan kedekatan kalian," ucap Alan.
"Alan, kamu jangan salah paham kayak gitu! Aku sama abang kamu gak ada apa-apa kok, tadi kita emang pergi bareng buat cari kamu. Dan kebetulan waktu kamu telpon aku, itu aku lagi sama abang kamu," ucap Floryn menyela.
"Eh Flo, jadi begitu ceritanya. Ternyata aku salah ya percaya sama kamu? Aku juga nyesel udah pernah terlibat dalam rencana busuk kamu!" ucap Alan.
"Maksud kamu?" tanya Floryn tak mengerti.
"Semuanya udah jelas, aku muak sama kamu Flo! Sekarang juga kalian berdua pergi dari sini, aku gak mau lihat muka kalian ada di depan aku lagi!" sentak Alan begitu emosi.
Floryn mendekati pria itu dengan mata berkaca-kaca, "Apa ini tandanya kamu udah benci sama aku dan gak mau ketemu aku lagi?" ujarnya.
__ADS_1
"Ya itu kamu tahu, buat apa juga aku ketemu sama orang kayak kamu? Lagian sekarang aku udah punya Carol, jadi aku gak butuh kamu lagi Flo!" ucap Alan dengan tegas.
"Alan cukup! Lu jangan bicara hal-hal yang bikin Floryn sakit hati! Jaga kata-kata lu!" tegur Saka.
Alan menoleh ke arah Saka dan memberikan senyum seringainya, "Sekarang lu belain dia? Hebat lu bang, kasihan gue sama Sahira karena punya pacar tukang selingkuh kayak lu!" ucapnya meledek.
•
•
Disisi lain, barang-barang milik Sahira yang diangkut menggunakan mobil telah sampai di rumah baru gadis itu. Ya tentu Sahira serta Bayu berjalan keluar rumah untuk memeriksanya, dan benar saja bahwa mobil itu merupakan mobil yang mengangkut barang-barang miliknya.
Tanpa berlama-lama lagi, orang bayaran Fatimeh yang ada di mobil tersebut langsung mengangkut satu persatu barang itu dari atas mobil dan memindahkannya ke dalam rumah. Tentunya Bayu yang memang dimintai pertolongan oleh Fatimeh, turut membantu orang-orang itu saat ini.
"Bay, hati-hati ya! Jangan sampe pinggang lu encok gara-gara angkat tuh barang!" ucap Sahira.
"Hahaha, siap Sahira! Gue gak mungkin lah kayak gitu, gue ini kan kuat. Lu tahu kan gue dulunya tuh rajin olahraga dan sering ikut event nasional gitu," ucap Bayu menyombongkan diri.
Sahira menggeleng sambil tersenyum, "Iya deh iya, terserah lu aja. Yang penting lu bawa yang bener tuh barang, awas jatuh!" ucapnya mengingatkan.
"Siap bos!" ucap Bayu lantang.
Gadis itu terkekeh dibuatnya, lalu Bayu dan beberapa orang itu mulai berjalan masuk ke dalam rumah dengan membawa barang-barang milik Sahira. Sedangkan Sahira sendiri tetap menunggu di depan sambil memandangi mereka, sampai kemudian sebuah motor datang ke arahnya dan sang pengendara berteriak memanggilnya.
"Sahira!!" ya yang datang itu dan berteriak adalah Cat bersama Wati, mereka berboncengan motor kesana menemui sohib mereka.
Sontak Sahira terkejut bukan main melihat keberadaan sahabatnya disana, "Cat? Wati? Kalian kok bisa ada disini? Siapa yang kasih tahu kalian?" ujarnya tak percaya.
Cat menghentikan motornya dan memarkir tepat di depan rumah Sahira, lalu gadis itu beserta Wati sama-sama turun dan menemui Sahira. Mereka terlihat sangat bersedih, bahkan sampai menarik tangan Sahira dan mencecarnya dengan pertanyaan disertai tangisan kesedihan.
"Huhuhu, Sahira lu kenapa tinggalin kita sih? Kok lu pindah rumah gak bilang dulu sama kita sih?" tanya Cat diiringi isak tangis.
"Eee so-sorry ya guys, gue emang gak sempat buat bilang sama kalian soal ini. Ya soalnya tadi tuh gue sama ibu pindah kesini buru-buru banget, jadi gue belum sempat temuin kalian deh," jawab Sahira.
"Ih lu parah banget sih Sahira! Tega lu sama kita! Lu gak tahu apa kalau kita tuh panik banget pas tahu lu pindah dari kampung itu?" ucap Wati.
"Iya ih, jahat lu Ra!" sahut Cat.
"Kalian apa-apaan sih? Gausah lebay gini deh, iya iya gue minta maaf ya sama kalian! Udah dong jangan pada nangis kayak gini, gue jadi ngerasa bersalah tau!" ucap Sahira.
"Hehe, kita terlalu lebay ya? Abis gimana lagi, kita tuh beneran gak bisa jauh-jauh dari lu tau!" ucap Cat.
"Ah bisa aja lu, Cat. Omong-omong, kalian pada tau darimana kalau gue pindah kesini? Perasaan gue belum pernah kasih tau ke kalian deh soal kepindahan gue ini," tanya Sahira penasaran.
"Umm, tadi kita ikutin mobil ini. Soalnya kita pengen tahu lu pindah kemana," jawab Cat.
"Oalah, pantes. Terus kalian ini kesini emangnya pada gak kerja apa?" tanya Sahira lagi.
Cat dan Wati kompak tersenyum, "Enggak, kita libur demi nyusulin lu kesini," jawab mereka bersamaan.
"Hah serius? Ih ya ampun, harusnya kalian jangan kayak gini lah! Apa kalian gak mau punya uang?" ucap Sahira merasa bersalah.
"Gapapa kali, uang mah bisa dicari. Tapi, sohib kayak lu susah buat ditemuin," ucap Cat.
"Betul tuh, lagian gue sekarang udah mau nikah sama bang Awan. Jadinya gue tinggal nyantai di rumah deh," timpal Wati.
"Apa??" Sahira tersentak kaget saat itu juga.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...