
"Umm, ke pasar malam itu enaknya main games dulu sih biar asyik," usul Cat.
"Boleh tuh, kebetulan aku jago dan udah khatam sama semua permainan di pasar malam ini. Nanti kamu lihat ya sejago apa aku?" ujar Yoshi.
"Okay, berarti kamu harus bisa dapetin boneka besar yang disana itu ya buat aku? Katanya kamu jago kan?" pinta Cat.
Yoshi langsung beralih menatap boneka besar yang ditunjuk oleh Cat, disana terdapat tempat bermain yang mengharuskan sang pemain menjatuhkan kaleng-kaleng yang disusun dengan bola kecil yang diberikan.
"Oh permainan itu, kecil itu mah. Sambil merem juga aku bisa kok menang," ucap Yoshi pede.
"Dih sombong banget sih kamu!" cibir Cat.
"Hahaha, yuk ah kita kesana langsung sebelum ramai!" ujar Yoshi.
Cat mengangguk setuju, mereka pun berjalan ke arah tempat bermain tersebut dengan penuh riang. Cat sudah tidak sabar ingin mendapatkan boneka besar yang digantung disana itu.
"Pak, saya mau main ya? Bisa dapat boneka itu kan?" ujar Yoshi pada si pedagang.
"Iya mas, bisa kok. Ini ada tiga bola ya, kalau berhasil baru masnya boleh bawa pulang boneka itu," ucap si penjual.
Yoshi pun menyerahkan selembar uang pada si penjual, lalu ia mulai mengarahkan bola kecil di tangannya ke tempat kaleng-kaleng itu berada. Sedangkan Cat terus menyemangati kekasihnya agar berhasil memenangkan permainan itu.
"Ayo Yos semangat dong! Jangan sampai kamu kalah terus aku gagal dapat boneka itu!" teriak Cat.
"Iya iya, udah kamu tenang aja sayang! Aku jamin aku pasti bisa dapatin tuh boneka buat kamu!" ucap Yoshi sambil tersenyum.
"Hahaha, semangat Yoshi sayang!" ucap Cat dengan lantang sembari mengangkat kedua tangannya.
Aksi mereka itu membuat orang-orang di dekat sana merasa kagum sekaligus iri, akhirnya beberapa dari mereka memilih berhenti sejenak untuk menyaksikan apakah Yoshi akan berhasil melempar bola itu atau tidak.
Lalu, Yoshi pun mulai melempar satu bola kecil tersebut ke arah kaleng di depannya. Namun, bola itu tidak berhasil menjatuhkan kaleng-kaleng disana sehingga Yoshi masih belum bisa membawa pulang boneka besar disana.
"Yaahhh.." serentak orang-orang disana merasa kecewa dengan kegagalan Yoshi, termasuk juga Cat yang merupakan sang kekasih.
"Gapapa Yos, kan masih ada dua lagi. Yuk bisa yuk kamu semangat!" ucap Cat menyemangati Yoshi.
"Iya sayang, aku pasti semangat kok. Apalagi ada kamu yang selalu nyemangatin aku," ucap Yoshi.
"Hahaha, iya bagus begitu Yos. Kamu harus bisa dapatin boneka itu buat aku atau aku marah sama kamu!" ujar Cat.
"Eh jangan dong sayang!" Yoshi langsung panik dan berusaha untuk bisa memenangkan game itu.
Dukungan untuknya pun semakin banyak, ramai sekali orang yang berhenti disana untuk sekedar menonton dan memberi dukungan. Yoshi menjadi bertambah semangat, ia mengambil bola yang lain dan mulai bersiap-siap untuk melempar bola itu ke arah kaleng di depan sana.
"Huh bismillah!" ucap Yoshi dengan pelan sambil menghela nafas.
Bola tersebut kembali dilempar olehnya, tapi sayang lagi dan lagi belum berhasil membuat kaleng disana terjatuh. Yoshi berteriak kesal sembari mengusap wajahnya kasar, semua orang disana juga gregetan sendiri karena Yoshi gagal menjatuhkan kaleng-kaleng itu.
"Aaarrgghh sedikit lagi itu, duh jangan sampai gagal!" ujar Yoshi.
"Semangat Yos, masih ada satu lagi tuh!" ucap Cat.
"Ya sayang," ujar Yoshi sambil mengedipkan matanya ke arah sang kekasih.
Kali ini bola tersisa satu, Yoshi berharap-harap cemas sebelum mulai melempar bola itu ke arah kaleng. Dan usahanya sedari tadi tidak sia-sia, ia pun berhasil menjatuhkan kaleng-kaleng itu dengan bola terakhir miliknya dan disambut dengan sorakan orang-orang disana, termasuk Cat.
Mereka semua bahagia, Cat bergerak cepat menghampiri Yoshi dan memeluknya. Tak lupa sang pedagang memberikan boneka besar itu sebagai hadiah kepada mereka.
•
•
Alan mendekat dan merengkuh pinggang Sahira, sang empu hanya diam karena tak berani menentang bosnya lagi seperti tadi.
"Yuk kita langsung naik lift! Takutnya kalau kemalaman, nanti liftnya mati," ucap Alan.
"Kita turun lewat tangga aja ya pak? Saya gak berani naik lift malam-malam," ucap Sahira.
"Kamu masih trauma Sahira? Belum hilang juga sampai sekarang?" tanya Alan.
Sahira menggeleng, "Gimana bisa hilang pak? Setiap hari aja saya selalu ketakutan, trauma itu muncul terus di kepala saya. Saya juga bingung harus gimana lagi," jawabnya.
__ADS_1
"Tenang aja, selagi ada saya kamu gak bakal kenapa-napa kok!" ucap Alan menenangkan.
Sahira pun tersenyum dan mengangguk kecil.
"Yaudah, kamu jangan takut lagi ya! Saya akan bantu kamu menghilangkan rasa trauma itu dari tubuh kamu, supaya kamu gak takut naik lift lagi!" ucap Alan.
"Makasih pak," singkat Sahira.
Setelahnya, mereka langsung berjalan menuju lift di lantai itu. Alan menekan tombol dan tak lama pintu lift terbuka, tanpa berlama-lama mereka masuk ke dalam sana dengan tangan Alan yang masih melingkar di pinggang gadis itu.
"Pak, kok perasaan saya gak enak ya? Saya lebih takut dari biasanya nih," ujar Sahira.
"Gausah takut, ada saya disini!" ucap Alan sambil mengusap rambut gadis di sebelahnya.
Sahira mengangguk saja sembari berusaha menenangkan diri, meskipun suasana hatinya sangat cemas terutama setelah pintu lift tertutup.
Benar saja, tak lama kemudian lampu di dalam lift mati dan membuat Sahira sangat ketakutan. Gadis itu pun berteriak panik sehingga tak sadar bahwa ia memeluk erat tubuh Alan.
"Pak, gimana ini pak? Saya takut banget pak, saya gak mau kejadian dulu terulang lagi!" ujar Sahira.
Alan pun juga tak tahu harus berbuat apa, ia sama cemasnya dengan apa yang Sahira rasakan sehingga ia sangat bingung saat ini.
"Kamu tenang ya Sahira! Gak lama lagi pasti ada yang bantu kita, kamu diam aja dulu!" ucap Alan.
"Tapi pak, disini gelap banget saya takut. Saya gak mau kita kenapa-napa pak," ucap Sahira gemetar.
Alan spontan mengeratkan dekapannya sembari mengusap punggung Sahira, ia tak mau gadis itu merasa cemas dan berusaha menenangkannya. Walau sebenarnya Alan juga khawatir kalau mereka akan terus terjebak disana, namun ia berusaha menghilangkan semua itu di depan Sahira.
"Saya sudah tekan tombol darurat, saya yakin akan ada yang tolong kita nanti. Kamu gak perlu cemas lagi ya Sahira!" ucap Alan.
"I-i-iya pak, tapi beneran kan kita bisa keluar dari sini pak?" tanya Sahira.
"Semoga aja Sahira, udah ya kamu gausah takut! Ada saya disini, kamu gak sendiri kok. Saya akan selalu lindungi kamu!" ucap Alan.
Sahira merasa sedikit tenang mendengarnya, meskipun suasana jantungnya masih tak karuan sebab lampu lift tidak kunjung menyala dan belum ada tanda-tanda bantuan akan datang.
"Udah lama banget belum nyala juga pak, gimana ini?" tanya Sahira panik.
Akhirnya Sahira bisa bernafas lega, ya lampu lift kembali menyala dan lift itu juga bergerak turun seperti semula tanpa terjadi apapun. Sahira sontak mengelus dadanya merasa lega karena kali ini ia kembali aman walau sempat hampir celaka.
"Huh syukurlah kita selamat pak! Lampunya udah nyala dan lift nya juga gak ada masalah," ujar Sahira.
"Saya kan udah bilang tadi, kamu tenang aja karena disini semua pasti aman!" ucap Alan tersenyum.
"Makasih ya pak?" Sahira ikut tersenyum dan tanpa sadar membenamkan wajahnya di bahu sang bos.
•
•
Keira merasa jengkel sebab Ari lebih sering melamun malam ini dan tidak nyambung saat diajak berbicara, tentu saja Keira tidak suka dengan sikap Ari yang seperti sekarang ini. Keira pun memilih membuang muka dan tidak lagi mengajak pria itu berbincang karena kesal.
Ya saat ini sepasang kekasih itu tengah menikmati hidangan pinggir jalan yang nikmat di bawah sinar rembulan yang indah, Ari membawa gadisnya kesana setelah jam pulang kerja tadi dan disetujui saja oleh Keira. Namun, kini gadis itu itu menyesal telah menerima ajakan Ari sebab ia malah lebih sering dicuekin oleh pria itu.
"Ish, kamu tuh sebenarnya kenapa sih sayang? Daritadi loh kamu diam aja, kamu lagi mikirin apa coba?" tanya Keira tampak kesal.
Ari sontak sadar dari lamunannya dan merasa bingung sendiri, "Hah? Emang aku kenapa sayang? Perasaan aku baik-baik aja deh, tadi tuh aku cuma lagi lihat cahaya bulan purnama," ucapnya.
"Halah alasan aja kamu! Pasti kamu lagi mikirin cewek lain kan? Ngaku deh!" sentak Keira.
"Ih gak gitu sayang, buat apa aku mikirin cewek lain disaat aku udah punya kamu yang sempurna ini? Percaya dong sama aku sayang," elak Ari.
"Terus daritadi tuh kamu ngelamunin apa? Aku gak yakin kamu cuma lihat bulan," tanya Keira.
"Terserah kamu deh, aku tuh udah jujur sama kamu. Emang selama ini aku pernah bohongin kamu apa? Enggak kan?" jawab Ari.
"Yaudah, aku percaya sama kamu. Tapi, awas ya kalau kamu ngelamun lagi!" ujar Keira.
"Iya sayang, aku janji gak akan ngelamun lagi deh. Aku minta maaf ya?" ucap Ari.
"Kali ini aku maafin, untung aja aku lagi baik sekarang," ucap Keira.
__ADS_1
"Hehe, makasih sayangku. Kamu itu emang selalu baik deh sama aku, maaf ya aku udah bikin kamu bete tadi," ucap Ari sambil tersenyum.
"Ya gapapa, sekarang kamu suapi aku dong sayang!" pinta Keira.
"Oh kamu mau aku suapi?" tanya Ari yang dijawab dengan anggukan oleh gadisnya.
Langsung saja Ari menyendok nasi goreng di piringnya dan mengarahkan ke mulut Keira, tak lupa gadis itu sudah membuka mulutnya siap menerima suapan dari Ari. Keira tersenyum puas setelah Ari menyuapi dirinya, begitupun dengan pria itu yang turut merasa senang.
"Gimana sayang? Enak kan nasi goreng suapan aku? Pasti lebih enak dong?" tanya Ari.
Keira mengangguk pelan, "Iya enak banget sayang, sini gantian aku yang suapi kamu biar kamu juga bisa ngerasain enaknya!" ucapnya.
"Boleh," Ari mengangguk setuju dengan ucapan Keira dan mulai membuka mulutnya.
Akhirnya Keira berganti menyuapi kekasihnya itu dengan nasi goreng miliknya, mereka pun tampak menikmati hidangan itu sambil terus tersenyum dan beberapa kali berbincang riang.
•
•
Sahira tiba di rumahnya bersama Alan yang mengantarnya, mereka pun sama-sama turun dari mobil dan tak lupa Sahira tersenyum sembari mengucap terimakasih pada pria itu karena sudah mau mengantarnya pulang. Alan pun juga senang bisa berduaan dengan Sahira tanpa gangguan dari Saka atau siapapun.
"Makasih banyak ya pak? Hari ini bapak beneran udah banyak banget bantu saya, apalagi pas di lift tadi. Saya gak tahu deh gimana kalau tadi gak ada bapak di dekat saya," ucap Sahira.
"Gak masalah cantik, saya senang kok bisa bantu kamu. Malahan itu yang saya mau, karena saya suka sekali bantu kamu," ucap Alan.
"Kenapa begitu pak?" tanya Sahira heran.
"Ya gapapa, namanya bos pasti ingin bantu karyawannya. Wajar kan Sahira?" jawab Alan berbohong.
"Iya deh pak, yang penting saya mah terimakasih banyak sama bapak," ucap Sahira.
"Yaudah, saya boleh kan mampir dulu ke rumah kamu sekarang?" tanya Alan.
"Boleh aja sih pak, tapi gak tahu nanti ibu saya kasih izin apa enggak. Kalau misalnya enggak, maaf banget ya pak?" jawab Sahira.
"Gapapa, saya bisa wajar kalau ibu kamu gak izinin saya mampir ke rumah kamu kok," ucap Alan.
"Kalo gitu ayo pak kita langsung ke rumah saya aja!" ajak Sahira.
Alan mengangguk setuju, lalu mereka mulai melangkah bersama-sama menuju halaman rumah gadis itu. Akan tetapi, mereka justru dicegat oleh seorang pria yang berdiri di hadapan mereka sambil menatap ke arah keduanya.
"Hai Sahira! Kamu kok udah malam begini baru pulang sih?" ujar si pria yang tak lain ialah Awan.
Sahira pun sedikit terkejut melihat kehadiran pria itu di hadapannya, seketika ia gugup dan bingung sendiri harus menjawab apa pada Awan. Namun, sejenak ia berpikir untuk apa ia harus gugup padahal yang bertanya barusan hanyalah Awan yang tentunya bukan siapa-siapa dirinya.
"Ohh, iya tadi aku abis kerja lembur bang. Emang kenapa ya? Bang Awan cariin aku?" ucap Sahira setelah menenangkan diri.
"Kamu lembur? Gak biasanya, apa ibu kamu udah tahu kalau kamu lembur hari ini?" tanya Awan.
"Apaan sih bang? Namanya lembur ya pasti gak setiap hari lah, lagian apa urusannya coba sama bang Awan?" kesal Sahira.
"Emang gak ada urusannya sama saya, tapi saya penasaran aja apa kamu benar-benar lembur atau malah pergi berdua sama dia?" ujar Awan dengan mata mengarah ke Alan.
"Bang Awan ini kenapa sih? Aku beneran lembur untuk kerja kok, gausah mikir yang aneh-aneh deh ya!" elak Sahira.
"Terus kenapa pulangnya bisa sama dia?" tanya Awan yang membuat Sahira semakin geram.
"Terserah aku dong mau pulang sama siapa, apa hak kamu tanya begitu ke aku? Bang Awan juga ngapain sih ada di rumah aku? Mau ketemu ibu atau siapa?" ujar Sahira.
"Tadinya saya mau ketemu kamu dan ajak kamu jalan Sahira, tapi ibu kamu bilang kamu belum pulang padahal udah malam. Beliau juga khawatir loh sama kayak saya," ucap Awan.
"Iya ini kan aku udah pulang, nanti aku bisa jelasin ke ibu secara langsung kok," ucap Sahira.
"Baguslah, tapi kamu mau kan jalan sama saya malam ini Sahira? Kita kan udah lama gak pergi berdua kayak dulu lagi," ucap Awan.
Sahira terdiam sejenak menimang ajakan Awan itu, ia melirik ke wajah Alan dan benar-benar dibuat bimbang apakah ia harus menerima ajakan Awan atau tetap disana bersama Alan. Jujur saja Sahira tidak enak jika harus menolak kedua pria itu, sebab mereka sama-sama sering membantunya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1