Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 85. Lapar kan?


__ADS_3

"Itu dia mas, aku sedih banget rasanya kalau ingat semuanya. Aku belum percaya aja dengan semua ini, padahal ibu udah aku anggap seperti ibu kandung aku sendiri," ucap Sahira.


"Yang sabar ya Sahira! Mungkin aja ibu kamu cuma kebawa emosi tadi, makanya beliau bilang kayak gitu ke kamu," ucap Saka menenangkan.


"Aku udah mencoba positif mas, tapi sulit buat aku percaya sama pemikiran itu. Kayaknya ibu emang gak suka deh sama aku, mungkin ibu gak pengen aku tinggal terus disana," ucap Sahira.


"Hey, kamu gak boleh bicara begitu Sahira! Kamu harus yakin kalau ibu kamu sayang sama kamu!" ucap Saka.


"Gimana bisa aku yakin mas? Ibu sendiri aja sering banget marahin aku dan kelihatan gak suka sama aku," ucap Sahira menunduk.


"Jangan sedih dong Sahira! Ibu kamu sering marah-marah itu pasti ada sebabnya, mungkin aja karena dia sayang sama kamu," ucap Saka.


"Masa iya sayang tapi marah-marah terus sih mas? Aku mikirnya malah ibu tuh benci sama aku dan gak suka aku ada di rumahnya, apa aku harus pergi aja ya?" ucap Sahira.


"Hus, jangan dong Sahira! Kalau kamu pergi, terus kamu mau tinggal dimana?" ujar Saka.


"Ya kemana aja kek, yang penting aku keluar dari situ," ucap Sahira.


"Kamu harus tenang Sahira, jangan ambil keputusan pada saat kamu sedang emosi! Nanti kamu malah jadi repot sendiri tau, lebih baik ini semua kamu pikirkan dulu matang-matang!" ucap Saka memberi saran.


"Menurut aku, pikiran aku untuk keluar dari rumah itu udah benar kok. Daripada aku terus makan hati karena lama-lama tinggal disana," ucap Sahira.


Saka menggeleng sembari mengusap pelipisnya, ia bingung harus bagaimana untuk bisa membujuk Sahira agar berhenti berpikiran seperti itu. Tentu Saka tak mau gadisnya pergi dan berpisah dengan sang ibu, sebab ia tahu bagaimana rasanya berjauhan dari orang yang paling ia sayangi.


Tin tin tin...


Baru saja Saka hendak merangkul pundak Sahira, namun sebuah mobil berhenti di dekat mereka dan membunyikan klakson berkali-kali. Saka pun menatap ke arah mobil tersebut dengan bingung, ia penasaran siapa yang ada di dalam sana dan sudah mengacaukan momen romantisnya.


"Siapa sih itu?!" geram Saka seraya beranjak dari kursinya.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Sahira saat menyadari kekasihnya itu berdiri.


"Enggak Sahira, saya cuma pengen tahu siapa pemilik mobil yang ngeselin itu," jawab Saka.


"Hah siapa??" Sahira terkejut lalu ikut menoleh ke arah mobil yang berhenti di dekatnya itu.

__ADS_1


Kemudian, seorang lelaki keluar dari mobil tersebut dengan senyum di bibirnya mengarah ke tempat Sahira serta Saka berada. Sontak Sahira langsung menganga tipis, ia kenal betul bahwa lelaki yang ada di depan sana adalah Ivan yang merupakan mantan rekan kerjanya di toko roti.


"Ivan?" lirih Sahira begitu menyadari siapa pemilik mobil tersebut.


"Kamu kenal dia Sahira?" tanya Saka sembari menatap wajah gadisnya.


Sahira mengangguk, "Iya mas, jelas aku kenal. Dia itu teman aku waktu masih kerja di toko roti, tapi aku gak tahu sejak kapan penampilan dia berubah drastis kayak gini," jawabnya.


"Waw keren dong dia sekarang udah punya mobil!" ucap Saka.


"Hai Sahira!" pria itu datang mendekat dan menyapa sang gadis di depannya.


"Van, sejak kapan kamu jadi berubah kayak gini? Perasaan dulu kamu kemana-mana jalan kaki deh, kok sekarang bisa naik mobil?" heran Sahira.


Ivan tersenyum bangga, "Iya dong, aku sekarang udah kaya raya. Bukan seperti kamu yang pengen kaya dengan cara macarin bos kamu sendiri," ucapnya sedikit menyindir.


Sahira tersentak mendengarnya, begitu juga dengan Saka yang langsung memasang wajah emosi ke arah Ivan.




Alan tak yakin perasaan apa yang ada di dalam hatinya saat ini, tapi ia bisa merasakan kalau ia tidak menyukai saat melihat Sahira berdekatan dengan Saka. Terlebih semakin lama Sahira semakin tampak mesra bersama Saka, hal itu tentu menambah rasa cemburu di hati Alan.


"Haish, mau sampai kapan ya saya kayak gini? Masa cuma gara-gara satu wanita, terus saya jadi galau begini dan gak bisa tenang?" gumam Alan.


"Kalau aja Sahira gak pacaran sama si Saka, pasti sekarang saya gak bakal begini!" sambungnya.


Tiba-tiba saja, Wati yang kebetulan lewat disana tak sengaja melihat Alan yang tengah duduk seorang diri di dalam warung tenda tersebut. Sontak Wati pun menghampiri Alan karena penasaran sedang apa pria itu disana, padahal ia selama ini jarang sekali melihat orang kaya duduk disana.


"Eh pak Alan?" Wati menyapa pria itu dan menatap wajahnya dari samping.


"Loh kamu Mira kan? Ngapain kamu disini? Perasaan daerah ini jauh dari tempat jualan kamu," heran Alan.


"Iya pak, saya kebetulan aja lewat sini. Soalnya saya habis shalat tarawih," ucap Wati.

__ADS_1


"Oh kamu tarawih di masjid sana juga?" tanya Alan sambil menunjuk ke arah masih.


Wati mengangguk pelan, "Iya pak, bapak juga?" ucapnya penasaran.


"Iya, saya tadi habis pergi sebentar karena ada urusan. Terus karena udah masuk waktu shalat, jadi ya saya mampir dulu ke masjid itu sekalian tarawih," jelas Alan.


"Oh gitu, terus ini bapak ngapain duduk di warung pinggir jalan kayak gini? Bukannya orang kaya tuh biasanya duduk di restoran ya?" ucap Wati.


"Tapi gak ada larangannya kan buat saya duduk disini? Sah-sah aja kan dan gak ganggu orang-orang?" tanya Alan.


"Eee..." Wati tampak gugup dan bingung.


Alan pun tersenyum melihatnya, "Yaudah, kamu ikut aja duduk sini temenin saya!" pintanya.


"Apa pak? Bapak serius?" tanya Wati terkejut.


"Iyalah, saya bosen juga duduk sendiri. Sekalian kamu pesan makan gih kalau lapar! Nanti saya yang bayar deh," jawab Alan.


"Gausah pak, saya mah cukup duduk aja temenin bapak. Kalau bapak mau makan, ya bapak makan sendiri aja!" ucap Wati menolak.


"Kamu yakin Mira? Kamu emangnya gak lapar?" tanya Alan sambil tersenyum.


"Enggak kok pak, saya mah nanti bisa makan malam di rumah," jawab Wati.


"Oh okay," Alan mengangguk setuju dan tidak lagi memaksa Wati.


Namun, tiba-tiba bunyi suara perut Wati terdengar di telinga Alan. Sontak Wati reflek memegangi perutnya dan berusaha menyembunyikan suara itu dari Alan, tapi terlambat sebab Alan sudah mendengar semuanya dan terkekeh geli melihat ekspresi Alan saat ini.


"Hahaha, kamu lucu banget sih Mira! Kamu lapar kan? Udah ayo pesan aja apa yang kamu mau!" ucap Alan sambil terkekeh.


"Hehe.." Wati hanya bisa tersenyum renyah.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2