Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 84. Mau pergi aja


__ADS_3

Keheningan yang Sahira dapat, tapi tak lama kemudian ia mendengar suara langkah kaki dan pintu kamar ibunya itu terbuka. Sahira pun tersenyum lebar, ia mengira ibunya berubah pikiran dan mau pergi shalat tarawih bersamanya ke masjid.


Ceklek


"Alhamdulillah, pasti ibu mau ikut shalat bareng aku kan? Yaudah, ayo bu kita sama-sama ke masjid ya!" ucap Sahira.


"Lo kalo ngomong dijaga! Gue keluar bukan mau ikut shalat sama lu, gue justru pengen usir lu dari sini karena gue pusing denger ocehan lu! Sana gih lu shalat ya shalat aja, gausah ajak-ajak gue!" ucap Fatimeh dengan tegas sembari mendorong Sahira.


"Awhh, jangan gitu dong bu! Biasanya setiap Ramadhan kita selalu shalat tarawih bareng, masa tahun ini aku shalat sendirian? Gak enak dong bu, ayolah bu!" bujuk Sahira.


"Lo itu maunya apa sih Sahira? Kenapa sekarang lu jadi sering banget maksa-maksa gue? Apa karena lu udah kerja bagus, terus lu merasa paling berkuasa di rumah ini, iya?" geram Fatimeh.


"Ya ampun bu, aku gak begitu. Aku cuma pengen ajak ibu tarawih kok, aku gak maksud buah sok berkuasa disini. Lagian aku juga masih menghormati ibu sebagai ibu aku," ucap Sahira.


"Gue bukan ibu lu, gue cuma orang yang disuruh bapak lu buat jagain lu!" kesal Fatimeh.


Seketika Sahira meneteskan air mata, ia kembali diingatkan pada momen menyedihkan itu setelah bertahun-tahun ia berupaya melupakannya. Namun, Fatimeh tak perduli dengan itu dan malah kembali mendorong tubuh putrinya secara kasar tanpa rasa kasihan.


"Udah sana lu pergi, gausah drama di depan gue! Lo kalo mau jadi anak alim, yaudah gak perlu pake ajak-ajak gue segala!" ujar Fatimeh.


"Tapi Bu, aku cuma—"


"Ah gue gak mau dengar apapun itu dari lu, gue lagi pusing banget ini!" sela Fatimeh semakin kesal dan langsung berbalik masuk kamarnya.


Sahira reflek terpejam saat Fatimeh membanting pintu kamarnya, jantungnya berdetak kencang diiringi tetesan air mata yang jatuh membasahi pipinya. Ia sangat sedih kali ini, sebab sang ibu ternyata masih belum menganggap dirinya sebagai anak kandungnya.


"Hiks hiks, kenapa ibu tega banget ngomong kayak gitu sama aku? Padahal aku udah anggap ibu seperti ibu kandung aku sendiri, tapi ibu malah kayak gitu," batin Sahira.

__ADS_1


"Sahira!" gadis itu dikejutkan saat suara seorang pria memanggil namanya dari arah luar.


Sontak Sahira menoleh, ia terkejut karena ternyata Saka sudah berdiri di depan pintu rumahnya yang terbuka lebar itu. Ia spontan menghapus air mata di pipinya karena tak mau Saka melihat kesedihannya itu, tapi terlambat sebab Saka sudah lebih dulu maju dan menahan lengan Sahira.


"Jangan berhenti! Menangis saja Sahira, jika itu bisa mengobati kesedihan kamu!" ucap Saka sambil tersenyum menatap tulus wajah kekasihnya.


"Mas? Ka-kamu.." ucapan Sahira dihentikan secara paksa oleh Saka yang langsung menaruh jari telunjuk di bibirnya, pria itu menangkup wajah gadisnya lalu membawanya ke dalam dekapan yang hangat sembari mengusap rambutnya.


"Kamu gak perlu banyak bicara dulu saat ini, menangis saja Sahira! Saya tahu kesedihan yang kamu rasakan, tadi saya dengar semua obrolan kamu dan ibu kamu," ucap Saka lirih.


Sahira terkejut mendengar ucapan Saka, ia tak menyangka jika lelaki itu mengetahui semua yang ia bicarakan dengan ibunya tadi. Sahira pun masih terus terisak, ia membalas pelukan Saka dan menumpahkan air matanya di tubuh sang kekasih meski ia belum bisa tenang karena Saka telah tahu mengenai masalah pribadinya.




Setelah selesai tarawih, Sahira bersama Saka duduk sejenak di sebuah tempat penjual nasi goreng. Mereka memesan makanan sembari berbincang mengenai pertikaian Sahira tadi dengan ibunya, jujur Saka masih belum paham mengapa itu semua bisa terjadi.


Sahira menelan makanannya dengan susah payah, ia menatap wajah pria di sampingnya dan menaruh piring berisi nasi goreng itu ke atas meja lalu mengambil minuman. Sahira sebenarnya tidak mau membahas itu, sebab ia jadi semakin sedih ketika mengingat status aslinya.


"Eee kalau kamu gak mau cerita gapapa kok, aku gak akan maksa kamu buat cerita," ucap Saka.


"Iya mas, aku bisa ceritain ke kamu kok. Tapi, aku minta waktu sebentar ya buat kuatin diri? Soalnya aku selalu sedih setiap kali bahas ini," ucap Sahira.


"It's okay, aku paham seperti apa kesedihan yang kamu rasakan saat ini," ucap Saka.


"Itu dia mas, aku sedih banget rasanya kalau ingat semuanya. Aku belum percaya aja dengan semua ini, padahal ibu udah aku anggap seperti ibu kandung aku sendiri," ucap Sahira.

__ADS_1


"Yang sabar ya Sahira! Mungkin aja ibu kamu cuma kebawa emosi tadi, makanya beliau bilang kayak gitu ke kamu," ucap Saka menenangkan.


"Aku udah mencoba positif mas, tapi sulit buat aku percaya sama pemikiran itu. Kayaknya ibu emang gak suka deh sama aku, mungkin ibu gak pengen aku tinggal terus disana," ucap Sahira.


"Hey, kamu gak boleh bicara begitu Sahira! Kamu harus yakin kalau ibu kamu sayang sama kamu!" ucap Saka.


"Gimana bisa aku yakin mas? Ibu sendiri aja sering banget marahin aku dan kelihatan gak suka sama aku," ucap Sahira menunduk.


"Jangan sedih dong Sahira! Ibu kamu sering marah-marah itu pasti ada sebabnya, mungkin aja karena dia sayang sama kamu," ucap Saka.


"Masa iya sayang tapi marah-marah terus sih mas? Aku mikirnya malah ibu tuh benci sama aku dan gak suka aku ada di rumahnya, apa aku harus pergi aja ya?" ucap Sahira.


"Hus, jangan dong Sahira! Kalau kamu pergi, terus kamu mau tinggal dimana?" ujar Saka.


"Ya kemana aja kek, yang penting aku keluar dari situ," ucap Sahira.


"Kamu harus tenang Sahira, jangan ambil keputusan pada saat kamu sedang emosi! Nanti kamu malah jadi repot sendiri tau, lebih baik ini semua kamu pikirkan dulu matang-matang!" ucap Saka memberi saran.


"Menurut aku, pikiran aku untuk keluar dari rumah itu udah benar kok. Daripada aku terus makan hati karena lama-lama tinggal disana," ucap Sahira.


Saka menggeleng sembari mengusap pelipisnya, ia bingung harus bagaimana untuk bisa membujuk Sahira agar berhenti berpikiran seperti itu. Tentu Saka tak mau gadisnya pergi dan berpisah dengan sang ibu, sebab ia tahu bagaimana rasanya berjauhan dari orang yang paling ia sayangi.


Tin tin tin...


Baru saja Saka hendak merangkul pundak Sahira, namun sebuah mobil berhenti di dekat mereka dan membunyikan klakson berkali-kali. Saka pun menatap ke arah mobil tersebut dengan bingung, ia penasaran siapa yang ada di dalam sana dan sudah mengacaukan momen romantisnya.


"Siapa sih itu?!" geram Saka seraya beranjak dari kursinya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2