Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 106. Gak ada masalah


__ADS_3

Sahira dan Silvia pun saling berjabatan tangan, sampai tiba-tiba dua orang wanita berambut pendek datang mendekat dan mengakhiri paksa jabat tangan mereka dengan wajah tak suka. Ya kedua wanita itu memandang sinis ke arah Sahira seolah menandakan kalau mereka membencinya.


"Ish Silvia, kamu ngapain sih pake kenalan segala sama dia? Kamu itu sebenarnya dukung kita atau dia sih Silvia?" tegur salah seorang wanita yang bernama Amel itu.


"Amel, kamu itu kenapa gak suka banget sama Sahira? Dia orangnya baik kok, ramah lagi. Coba deh kamu kenalan sama dia!" ucap Silvia.


"Hah apa? Aku kenalan sama dia? Sorry ya, gak level!" cibir Amel.


"Eee maaf, ini sebenarnya ada apa ya? Kenapa kalian bisa gak suka sama aku? Emangnya aku ada salah apa sama kalian?" tanya Sahira keheranan.


"Gak kok Sahira, kamu gak punya salah apa-apa. Mereka aja yang iri sama kamu, karena kamu dekat sama pak bos Saka," ucap Silvia.


"Heh! Sembarangan aja kamu kalo ngomong, ngapain aku iri sama dia?!" elak Amel.


"Udah lah Amel, kamu stop bersikap kayak gitu ke Sahira! Emangnya kamu mau ucapan kamu didengar sama pak Saka, terus kamu dihukum?" ucap Silvia.


Amel langsung terdiam memalingkan wajahnya, sedangkan Sahira terlihat menunduk dengan dua tangan menyatu. Silvia pun mendekati Sahira dan merangkulnya, seketika Sahira tersenyum karena merasa masih ada orang yang menyukai dirinya disana walau jarang sekali.


"Okay, sekarang kamu boleh berkhianat Silvia. Awas ya kalau kamu berani dekat-dekat lagi sama kita!" ujar Amel.


Silvia menggeleng heran, "Kamu tuh kenapa sih Amel? Apa salahnya coba kalau kita berteman aja sama Sahira? Toh dia juga karyawan disini, ya kan?" ucapnya.


"Gak, dia itu gak pantas ditemenin. Dia juga gak pantas kerja di kantor ini, kalau bukan karena pak Saka aku gak yakin dia bisa masuk sini!" cibir Amel.


"Ehem ehem.." tiba-tiba deheman berat dari seorang pria mengagetkan mereka semua, keempat wanita itu kompak menoleh dan melihat Saka tengah berdiri dengan tatapan tajamnya.


"Halo! Ada apa ini? Kenapa muka kalian kelihatan tegang sekali?" ujar Saka tampak penasaran.


Sahira terdiam saja karena bingung dan takut saat hendak berbicara, tak mungkin ia berani mengatakan yang sejujurnya pada Saka, bisa saja nanti ia akan semakin dibenci oleh Amel dan teman-temannya kalau ia melakukan itu. Namun, tentu saja Saka tahu jika sedang terjadi sesuatu disana yang menimpa gadisnya.


"Sahira, bisa kamu kasih tahu ke saya apa masalahnya?" tanya Saka pada kekasihnya.

__ADS_1


Sahira menggeleng pelan, "Gapapa pak, eee tadi saya cuma mau kenalan sama mereka. Secara saya kan karyawan baru disini," jawabnya.


"Yakin cuma kenalan aja? Gak ada keributan atau apa gitu?" tanya Saka curiga.


"Gak ada kok pak, masa iya saya baru masuk udah buat keributan? Kalau bapak gak percaya, silahkan aja tanya ke mereka langsung!" elak Sahira.


Pandangan Saka lalu beralih menatap Amel dan Silvia, "Amel, apa benar tidak ada keributan disini? Silvia?" tanyanya pada dua gadis itu.


"Benar kok pak, Sahira cuma ajak kita kenalan tadi. Dia mah orangnya baik banget pak," jawab Silvia sambil tersenyum.


"I-i-iya pak, bener yang dibilang Silvia," sahut Amel.


Saka pun tersenyum senang, "Baguslah, kalo gitu ayo Sahira ikut dengan saya! Ada yang ingin saya perlihatkan ke kamu lagi," ucapnya.


"Baik pak!" ucap Sahira menurut.


Lalu, Sahira pun pergi bersama Saka meninggalkan Amel serta yang lainnya disana. Tampak jelas Amel langsung merubah ekspresinya menjadi jutek begitu Sahira pergi menjauh.




"Selamat pagi tante, pagi Alan sayang!" ucap Nawal menyapa dengan ramah disertai senyuman.


Seketika Alan terbelalak, "Nawal? Kamu ngapain coba datang ke kantor aku lagi?" ujarnya.


Syera langsung menatap wajah putranya dan menegurnya, "Sayang, kamu gak boleh ah bicara begitu sama Nawal! Dia itu kan perempuan, kamu jangan kasar dong sama dia!" ucapnya.


"Iya ih Alan, kamu jangan galak-galak dong sama aku!" sahut Nawal dengan wajah cemberut.


"Iya iya, aku minta maaf ya Nawal? Terus kamu ada apa datang kesini? Ada keperluan apa gitu?" ujar Alan kembali bertanya pada gadis itu.

__ADS_1


"Eee aku ada yang mau diomongin sama kamu Alan," ucap Nawal sambil tersenyum.


Alan terdiam, menatap wajah Nawal dengan serius karena penasaran apa sebenarnya yang hendak dibicarakan oleh gadis itu padanya. Sedangkan Syera terlihat tersenyum dan berharap Alan bisa bahagia kembali bersama Nawal seperti dulu, apalagi sekarang kondisi pria itu sedang galau akibat telah memecat Sahira.


Nawal terus memandangi wajah mantan kekasihnya itu, jujur saja hingga kini ia belum bisa melupakan Alan sebab ia sangat mencintai pria itu dan tidak mungkin dapat jauh-jauh darinya. Namun, Alan tentu tak akan merubah keputusannya kalau hubungan antara dirinya dengan Nawal sudah berakhir sejak gadis itu kepergok tengah berduaan dengan lelaki lain di rumahnya.


"Kamu mau bicara apa? Buruan ngomong aja kalau emang penting, gausah basa-basi!" ujar Alan.


"Alan, kamu itu gimana sih? Nawal ini kan tamu, seenggaknya kamu ajak dia duduk dong di dalam. Bukan malah suruh dia bicara disini," ucap Syera menegur putranya.


"I-i-iya ma," Alan menurut pada ucapan mamanya dan mengajak Nawal masuk ke dalam. "Yaudah, ayo Nawal kita duduk di dalam!" sambungnya.


Nawal pun tersenyum lebar, "Hehe, makasih Alan. Kamu tuh emang masih yang terbaik deh, oh ya makasih juga ya tante?" ucapnya penuh bangga.


"Sama-sama sayang, kalian bicara aja ya di dalam! Mama mau pergi dulu, tapi nanti kalau ada waktu mama bakal balik lagi kesini," ucap Syera.


"Iya ma, hati-hati!" ucap Alan.


Syera mengangguk pelan, kemudian ia pun pergi dari sana meninggalkan Alan serta Nawal. Setelah Syera tak terlihat lagi, kini Alan kembali menatap gadis di sampingnya dengan tatapan dingin seolah menunjukkan tanda ketidaksukaan. Sedangkan Nawal justru senyum-senyum sendiri dibuatnya.


"Ada apa kamu ngeliatin aku begitu terus? Mulai naksir lagi ya sama aku?" goda Nawal.


Alan menggeleng, "Enggak, aku cuma heran aja sama kamu. Bukannya kamu udah dijodohin sama Royyan ya? Kenapa kamu masih aja deketin aku?" ujarnya keheranan.


"Iya sih, tapi aku kan udah bilang sama kamu kalau aku cuma cinta kamu Alan," ucap Nawal.


Alan memutar bola matanya malas sembari memegangi dahinya, sungguh ia bosan harus terus berurusan dengan gadis itu. Akhirnya Alan pun mengajak Nawal masuk agar bisa lanjut berbincang di dalam, tetapi tiba-tiba seorang pria datang dan meneriaki namanya.


"WOI ALAN!" sontak keduanya menoleh ke asal suara, dan saat itu juga Nawal terbelalak kaget melihat pria yang berdiri di depannya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2