Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 39. Berdebar-debar


__ADS_3

Fatimeh langsung panik dan memalingkan wajahnya, ia mengecek mulutnya sendiri apakah memang bau alkohol itu tercium dari luar atau tidak. Sahira yang melihatnya sudah bisa menyimpulkan jika dugaannya benar, ia yakin Fatimeh juga menyembunyikan sesuatu darinya.


"Benar kan Bu yang aku bilang tadi? Ibu mabuk dan semalam ibu pergi sama cowok tua? Semalam ibu ngapain aja sama cowok itu, Bu?" tanya Sahira lagi.


"Lo masih aja ya curiga sama gue begitu? Udah ah gue malas ngomong sama lu!" kesal Fatimeh yang kemudian langsung pergi dari sana.


"Eh Bu, tunggu Bu!" Sahira hendak mengejar ibunya, namun ketukan pintu menghalanginya.


TOK TOK TOK...


Sahira pun tidak jadi mengejar Fatimeh, ia sedikit menggerutu kesal karena seseorang di luar sana datang di waktu yang tidak tepat, padahal Sahira baru ingin meminta penjelasan dari ibunya.


"Haish, siapa sih yang datang? Ganggu aja deh, padahal aku kan lagi bicara sama ibu!" ujarnya kesal.


Akhirnya Sahira berjalan ke depan pintu untuk mencari tahu siapa yang datang, Sahira menitip sekilas melalui jendela dan melihat Alan tengah berdiri disana memegang sesuatu di tangannya. Sontak Sahira panik, ia menetralkan nafasnya sebelum membuka pintu dan menemui bosnya itu.


Ceklek


"Eh pak Alan, morning pak!" sapa Sahira sambil tersenyum dan melangkah mendekati Alan.


"Hai Sahira, pagi juga!" balas Alan.


"Eee bapak kesini mau jemput saya ya? Maaf pak, tapi saya belum siap. Ini aja saya baru mau sarapan dulu, emang bapak mau nunggu?" ucap Sahira.


"Gak masalah, mau kamu mandi dulu atau dandan dulu juga pasti saya tungguin kok. Oh ya, ini saya ada coklat buat kamu, diterima ya?" ucap Alan menyodorkan sebatang coklat pada Sahira.


"Hah? Dalam rangka apa bapak kasih coklat ke saya?" tanya Sahira sedikit kaget.


"Hari kasih sayang, saya kan udah gak punya pacar, jadi saya kasih ke kamu aja. Kamu suka coklat kan?" jelas Alan.


"Su-suka sih pak, makasih ya? Tapi, ini beneran boleh buat saya?" ucap Sahira gugup.

__ADS_1


"Benar Sahira, masa saya bohong?" ucap Alan tersenyum lebar.


Sahira pun menerima pemberian bosnya itu, ia lalu menyuruh Alan masuk dan menunggu di ruang tamu sampai ia selesai bersiap-siap.


"Tunggu disini sebentar ya pak? Saya mau sarapan dulu, sebentar aja kok," ucap Sahira.


"Gapapa Sahira, mau lama juga pasti saya tunggu. Kamu sarapannya yang santai aja, gausah buru-buru karena itu gak baik. Kamu nikmati makanannya, jangan hiraukan saya disini!" ucap Alan.


"Bapak yakin?" tanya Sahira memastikan.


"Sangat-sangat yakin Sahira, saya akan tunggu kamu selama apapun itu. Sudah sana kamu sarapan gih!" jawab Alan dengan mantap.


Sahira pun menunduk malu, kemudian ia pamit pada bosnya itu untuk pergi ke meja makan dan melanjutkan sarapannya. Alan hanya mengangguk, membiarkan Sahira pergi sedangkan ia tetap disana menunggu gadis itu selesai sarapan. Alan juga tampak bahagia bisa berada disana saat ini.


Sahira tiba di meja makan, namun pikirannya masih mengarah pada Fatimeh sang ibu yang diduga bekerja sebagai wanita malam. Sahira menangis disana, ia tak menyangka ibunya akan begitu dan ia sendiri belum tahu apa alasan Fatimeh bekerja seperti itu tanpa sepengetahuannya.


"Kenapa ibu bisa sampai kerja jadi wanita malam? Apa ibu kekurangan uang? Tapi, selama ini kan aku selalu kasih uang cukup buat keperluan ibu. Apa masih kurang ya?" pikir Sahira.


"Sepulang kerja, aku akan bicarakan ini lagi sama ibu sampai jelas!" batin Sahira.




Singkat cerita, Sahira dan Alan sudah satu mobil dalam perjalanan menuju ke kantor. Melihat Sahira yang hanya terdiam melamun, membuat Alan penasaran lalu mencolek pipinya. Sahira sontak kaget, ia menoleh ke wajah Alan dan bertanya mengapa pria itu mencoleknya.


"Kenapa ya pak?" tanya Sahira kebingungan.


"Harusnya saya yang tanya ke kamu, kamu kenapa malah ngelamun begitu? Ada yang lagi kamu pikirin? Coba dong cerita sama saya Sahira!" ucap Alan.


"Eee gak ada kok pak, saya cuma emang pengen ngelamun aja ngeliatin pemandangan," bohong Sahira.

__ADS_1


"Serius nih? Tapi dari raut kamu, itu mencerminkan kalau kamu sedang ada masalah Sahira," ujar Alan.


"Gak ada pak, udah bapak fokus aja nyetirnya. Nanti kalau bapak ngeliatin saya terus, yang ada mobilnya bisa nabrak tau," ucap Sahira.


"Tenang aja Sahira, saya bisa nyetir sambil bicara kok. Udah kamu kasih tau aja apa masalah kamu! Siapa tahu saya bisa bantu kan?" ucap Alan.


Sahira terdiam sejenak, menundukkan wajahnya hingga tanpa sadar tetesan air mata mengalir di kedua pipinya. Lagi-lagi Alan dibuat penasaran mengapa Sahira menangis, pria itu memutuskan melipir sejenak untuk mengecek kondisi gadis di sebelahnya yang sedang terisak.


"Hey, kamu kenapa Sahira? Masalah kamu pasti berat banget ya? Kamu sampai nangis begini," tanya Alan dengan penuh simpati.


"Sebenarnya iya sih pak, saya emang lagi ada masalah yang menurut saya lumayan berat. Tapi, ini masalah saya dan ibu saya pak. Maaf ya saya gak bisa cerita ke bapak tentang masalah saya?" jawab Sahira sambil mengusap air matanya.


"No problem, yang penting kamu tenang dulu dan jangan nangis terus Sahira! Saya gak enak loh lihatnya kalau kamu nangis, rasanya saya jadi mau usap air mata kamu," ucap Alan.


Sahira tersenyum tipis dibuatnya, "Bapak bisa aja ah," ucapnya pelan.


"Nah gitu dong, kalau senyum kan kamu kelihatan lebih manis Sahira. Udah bisa dilanjut belum nih?" ucap Alan.


Sahira mengangguk pelan.


"Eh, tapi kayaknya itu air mata kamu harus dibersihin dulu. Sini deh biar saya lap ya?" ucap Alan menawarkan diri.


"Hah??" Sahira melongok tak percaya saat Alan mendekat ke arahnya dan perlahan menyentuh wajahnya.


Pria itu mengusap air mata di wajah Sahira dengan jari-jarinya, Sahira benar-benar dibuat tak berkutik oleh apa yang dilakukan Alan saat ini. Jantung gadis itu sudah berdetak sangat kencang dan nafasnya pun tak beratur, sedangkan Alan justru tersenyum melihat wajah Sahira dari jarak sangat dekat.


"Kamu cantik sekali Sahira! Andai saya bisa punya kekasih seperti kamu, pasti saya akan jadi lelaki yang paling beruntung di dunia," ucap Alan spontan.


"A-apa pak??" Sahira terkejut dan menganga tipis mendengarnya, wajahnya memerah seketika seolah tak percaya jika Alan mengatakan itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2