
Ceklek
Saka sangat terkejut saat pintu ruangan tiba-tiba dibuka dari luar, ia reflek bangkit dari tempat duduk dan menaruh foto itu di meja. Namun, rupanya yang datang bukan Sahira melainkan seorang cleaning service disana.
"Haish, ngapain sih kamu masuk kesini? Harusnya kamu ketuk pintu dulu dong!" sentak Saka.
"Maaf pak, saya gak tahu kalau pak Saka sedang ada disini. Barusan saya dapat perintah dari bos Alan buat bersih-bersih ruangan ini pak, jadi saya langsung masuk aja," ucap ob itu.
"Kamu siapa? Saya belum pernah lihat kamu sebelumnya, karyawan baru ya disini?" tanya Saka.
"Ya pak, nama saya Anggun. Saya baru aja dua hari bekerja di kantor ini," jawabnya.
"Sombong banget kamu, pake bilang nama kamu anggun! Memangnya kamu pikir nama saya gak anggun gitu? Gausah sombong jadi orang!" cibir Saka.
"Gak gitu pak, maksudnya saya itu namanya Anggun. Emang nama saya tuh Anggun, jadi bukan maksud saya buat sombong," jelas si ob.
"Ohh, bilang dong yang jelas atuh!" kesal Saka.
"I-i-iya pak, maaf!" gugup Anggun.
"Yaudah, kamu boleh bersihin ruangan ini. Tapi ingat, jangan bilang ke Alan atau Sahira kalau saya habis dari sini!" ujar Saka.
"Baik pak!" ucap Anggun patuh.
"Oh ya satu lagi, Sahira sekarang dimana ya? Dia kok belum sampai sih?" tanya Saka.
"Umm tadi sih katanya masih di jalan pak, sama pak Alan juga," jawab Anggun.
"Apa??" Saka terkejut dan raut wajahnya menampilkan ketidaksukaan.
"Iya pak, begitu yang saya tahu," ucap Anggun.
"Yasudah, kamu beresin semuanya! Saya mau keluar dulu," suruh Saka.
Anggun mengangguk pelan, sedangkan Saka melangkah ke luar dan membuka pintu. Namun, tanpa diduga ia justru hampir menabrak Sahira yang kebetulan baru datang dan hendak masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
"Loh pak Saka? Bapak abis ngapain di ruangan saya?" tanya Sahira terheran-heran.
Saka pun dibuat kebingungan dan tak berkutik ketika Sahira bertanya padanya, melihat ekspresi panik di wajah Saka justru membuat Sahira curiga dan semakin penasaran apa sebenarnya yang dilakukan Saka di dalam sana selama ia belum datang ke kantor.
"Kamu jangan mikir yang enggak-enggak dulu Sahira! Saya itu tadi cuma ngecek ruangan kamu, dan ternyata ada ob baru yang lagi beres-beres di dalam. Tadinya saya kira ada maling gitu makanya pintu kamu kebuka," bohong Saka.
"Ohh, iya tadi pak Alan emang suruh mbak Anggun buat beresin ruangan saya sih pak. Makasih banyak ya pak udah perduli sama saya!" ucap Sahira.
"Kamu sekarang dekat banget ya sama Alan? Tadi kamu berangkat lagi kan sama dia?" tanya Saka.
"Eee i-i-iya pak, emangnya kenapa ya? Saya kan sekretaris pak Alan, jadi wajar dong kalau kita dekat?" jawab Sahira.
"Ya wajar kalau cuma dekat di kantor, tapi kan ini sampai ke rumah kamu segala," ujar Saka.
"Itu bukan kemauan saya kok pak, karena pak Alan sendiri yang datang ke rumah dan bilang mau antar saya ke kantor tadi," ucap Sahira.
"Saya ngerti, gak mungkin kamu yang minta Alan buat jemput kamu," ucap Saka.
Sahira mengangguk, "Kalau begitu saya mau mulai kerja ya pak? Permisi!" ucapnya.
"Ada apa lagi ya pak? Saya sudah harus menyiapkan berkas-berkas penting," ucap Sahira.
"Gapapa, sebentar aja saya mau bicara sama kamu. Kita kan udah jarang gak ngobrol," ucap Saka sambil tersenyum.
Sahira terdiam menatap wajah Saka, sebelum kemudian mengangguk menyetujui perkataan pria itu. Mereka pun mengobrol sejenak disana.
•
•
Sementara itu, Alan yang tengah duduk melamun di ruangannya tiba-tiba saja dikejutkan dengan seseorang yang menyelonong masuk begitu saja ke dalam dan memanggil namanya. Alan sontak kaget, ia reflek berdiri lalu melihat keberadaan Nawal sang mantan disana.
Alan benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, padahal sebelumnya Nawal tidak pernah datang kesana baik ketika mereka masih pacaran atau sudah putus seperti sekarang. Namun, kali ini justru Nawal tiba-tiba muncul tanpa memberi kabar terlebih dahulu pada Alan.
"Ka-kamu mau ngapain kesini Nawal? Aku sedang kerja, kamu tolong jangan ganggu waktu kerja aku ya!" ucap Alan sedikit gugup.
__ADS_1
"Aku kesini mau jelasin ke kamu soal Royyan, pria yang kamu lihat malam itu," ucap Nawal.
"Apa yang mau kamu jelasin Nawal? Menurut aku, semuanya udah jelas banget kok," ujar Alan.
"Belum Alan, kamu belum tahu siapa Royyan itu sebenarnya tapi kamu udah pergi aja malam itu. Makanya aku mau jelasin ke kamu sekarang," ucap Nawal dengan tegas.
"Apa sih Nawal? Aku gak perlu tau siapa cowok itu dan aku juga gak perduli siapa dia," ujar Alan.
"Aku dijodohin sama Royyan, Alan. Aku terpaksa minta putus dari kamu supaya aku bisa menikah sama dia, karena kalau enggak aku bakal diusir dari rumah Alan," ucap Nawal.
"Kamu kok gak pernah bilang soal perjodohan ini? Kenapa baru bilang sekarang?" tanya Alan.
"Aku takut kamu kecewa Alan, makanya aku gak kasih tau ke kamu soal ini," jawab Nawal.
"Justru dengan kamu sembunyiin itu semua dari aku, malah bikin aku kecewa tau Nawal. Terus buat apa kamu kasih tau itu ke aku sekarang? Udah terlambat Nawal, kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi!" sentak Alan.
"Iya aku tahu, tapi seenggaknya kita masih bisa jadi teman kan Alan? Aku gak mau dibenci sama kamu," ucap Nawal memohon.
"Teman? Maaf Nawal, aku ini butuh pasangan hidup yang bisa dan mau menikah sama aku, bukan cuma sekedar teman. Mending kamu pergi deh!" ketus Alan.
"Alan, aku mohon maafin aku! Kita bisa berhubungan baik seperti biasa kan?" bujuk Nawal.
Alan menggeleng pelan, "Gak bisa Nawal, sudahlah kamu lebih baik lupain aku dan sana kamu nikah aja sama lelaki itu!" ucapnya.
"Kamu masih marah sama aku, Lan? Padahal waktu itu kamu yang bujuk aku supaya mau balikan sama kamu, ya kan?" tanya Nawal.
"Iya, tapi itu sebelum aku tahu kalau kamu ada main di belakang aku," jawab Alan.
Nawal memelas dan meraih satu tangan Alan, ia genggam dengan erat sambil terus memohon pada pria itu untuk memaafkannya. Jujur saja Alan tidak bisa bersikap seperti itu pada Nawal, namun ia sudah terlanjur kecewa saat melihat Nawal bersama lelaki lain di rumahnya.
"Kamu apa-apaan sih Nawal? Jangan bikin aku kesal deh! Cepat kamu keluar dari ruangan aku, atau aku akan panggil security!" sentak Alan.
"Ehem ehem.." suara deheman berat itu membuat Alan dan Nawal terkejut, mereka reflek menoleh dan menemukan Saka berdiri di depan pintu bersama Sahira dengan wajah kaget.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...