
Alan dan Sahira masih terjebak di sebuah halte akibat hujan yang justru semakin deras, mereka pun tampak kebingungan karena sudah hampir satu jam mereka menunggu disana, tetapi hujan tak kunjung mereda. Sahira sendiri juga semakin merasa kedinginan dan pegal karena terus berdiri, sedangkan Alan yang terduduk hanya diam tak mengajak sekretarisnya ikut duduk bersamanya.
Hingga akhirnya seorang pemotor muncul dan turut meneduh di halte itu meskipun ia sudah mengenakan jas hujan, ya mungkin saja ia tidak kuat menahan gempuran air hujan yang begitu derasnya mengenai kulit dan juga wajahnya. Pemotor itu pun turun dari motornya, lalu bergerak menuju halte menghampiri Alan serta Sahira.
Si pemotor pun duduk di samping Alan, ia merasa lega karena bisa terbebas dari guyuran air hujan yang terus membasahi tubuhnya. Ia menatap ke arah Alan dan juga Sahira dengan bingung, ia yakin jika kedua orang itu datang bersamaan ke halte tersebut. Namun, ia bingung mengapa Alan tidak mengajak wanita itu untuk duduk bersamanya.
"Misi mas, itu kenapa ceweknya gak disuruh duduk juga? Kasihan tuh dia berdiri terus, pegel pasti sama kan dingin juga!" ucap si pemotor.
Alan menoleh dengan senyum tipisnya, ia menanggapi dingin pertanyaan si pemotor tersebut karena dirinya juga tengah menahan dingin akibat tak mengenakan jas. Tentu setelah Alan memberikan jasnya tadi kepada Sahira, ya sekarang berganti Alan lah yang merasa kedinginan karena hanya mengenakan kemejanya.
"Dia bukan cewek saya, dia itu cuma sekretaris saya. Saya gak terlalu perduli mau dia pegal atau kedinginan, lagipun kalau dia pengen duduk ya tinggal duduk aja kan, kenapa harus nunggu disuruh sama saya?" ucap Alan.
"Ya iya sih mas, tapi coba aja dulu disuruh duduk siapa tahu dia segan kalau duduk di samping mas! Kan tadi katanya dia itu sekretaris mas, bisa jadi kayak gitu tuh," usul si pemotor.
"Bisa gak anda tidak usah mencampuri urusan orang lain? Duduk saja dan diam!" ketus Alan.
Sontak si pemotor pun mendengus kesal dan memalingkan wajahnya, "Dih galak amat sih mas jadi orang!" ujarnya lirih.
Alan tak lagi membalasnya, ia justru beralih menatap Sahira yang sedang berdiri di depannya. Sejujurnya Alan juga merasa tidak tega melihat Sahira terus berdiri disana, ingin sekali rasanya ia meminta Sahira turut duduk di dekatnya. Akan tetapi, rasa gengsinya terlalu tinggi sehingga ia tidak berani melakukan itu. Apalagi saat ini kursi di sebelahnya juga sudah diduduki orang lain.
Namun, tanpa diduga Alan bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Sahira. Sedangkan si pria pemotor yang tadi berbicara dengannya itu tampak tersenyum melihat Alan menghampiri si wanita, ia mengira Alan mau mendengar perkataannya tadi dan menyuruh Sahira duduk agar tidak terus berdiri seperti itu disana.
"Sahira," ucap Alan lirih yang kini sudah berdiri tepat di samping tubuh Sahira.
Sahira yang terkejut pun menoleh, "Eh pak Alan, kenapa ya pak? Bapak butuh bantuan atau kita mau jalan lagi sekarang?" tanyanya.
Alan menggeleng pelan, "Enggak, saya cuma mau minta kamu duduk disana! Jangan berdiri terus lah, kamu capek nanti!" jawabnya.
"Hah??" Sahira tersentak kaget seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan lelaki itu barusan.
"Kamu duduk sana, biar gak capek! Masa gitu aja gak dengar sih? Lain kali korek tuh kuping, biar saya gak perlu ngulang kalimat!" ucap Alan ketus.
"Eee saya dengar kok pak, tadi itu saya cuma kaget. Beneran bapak nyuruh saya duduk? Terus bapak duduk dimana nanti?" ucap Sahira.
"Saya daritadi kan sudah duduk, sekarang gantian kamu yang duduk sana!" ucap Alan.
"Enggak deh pak, saya disini aja berdiri sama bapak. Gak enak lah saya, masa saya duduk tapi bapak berdiri sih?!" ucap Sahira menolak.
"Jangan ngebantah deh! Sana duduk kamu atau saya hukum kamu!" sentak Alan.
Sahira yang keras kepala tetap kekeuh pada pendiriannya, ia tidak akan mau duduk jika bosnya berdiri disana. Entah kenapa Sahira sulit sekali menghilangkan sikap tidak enaknya itu, padahal ia sendiri sudah merasa lelah dan ingin sekali duduk untuk mengusir rasa pegalnya.
Tak lama kemudian, seorang pengemudi motor datang lagi ke halte tersebut. Dia pun juga langsung duduk di tempat yang Alan duduki tadi, sehingga kini tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk duduk. Alan melongok saja melihat si pemotor yang baru datang itu dan dengan seenaknya duduk disana.
"Ahaha, tuh udah ada yang nempatin pak. Saya disini aja deh temenin bapak," kekeh Sahira.
"Kamu sih lama, jadi ditempatin orang lain kan. Terus sekarang kamu gimana? Pasti kamu pegal kan berdiri terus? Lagian kenapa sih tadi kamu mesti gak ikut duduk pas saya duduk?" ujar Alan.
"Umm, saya gak enak aja duduk di sebelah bapak. Nanti dikiranya saya karyawan lancang lagi, kecuali kalau bapak tadi suruh saya buat ikut duduk," ucap Sahira sambil tersenyum.
"Masa harus disuruh dulu sih baru mau duduk? Jadinya kan kamu pegal sendiri tuh, lain kali gausah kayak gitu Sahira!" ucap Alan.
"Iya pak, siap! Saya minta maaf ya pak? Tapi, saya beneran gapapa kok. Saya mah udah biasa berdiri terus, dulu kan waktu kerja di toko roti saya juga kayak gini," ucap Sahira.
"Oh kamu pernah kerja di toko roti?" tanya Alan sedikit terkejut.
__ADS_1
"Eee iya pak, dulu waktu saya masih kuliah. Lumayan lah pak hasilnya bisa buat tambahan biaya kuliah saya sampai jadi sarjana," jawab Sahira.
"Bagus, saya suka anak muda yang mau bekerja keras seperti kamu! Bukan yang cuma hobi rebahan aja di kamar sambil main hp," ucap Alan.
"Kalau saya sih gak mungkin bisa begitu pak, kan bapak tahu sendiri ibu saya itu kayak gimana. Sekali aja saya santai-santai, pasti langsung digeplak sama ibu," ujar Sahira.
"Oh ya, sebenarnya bu Fatimeh itu ibu kandung kamu atau bukan sih? Maaf ya kalau pertanyaan saya menyinggung, tapi ibu kamu itu kelihatan jutek gitu kalau sama kamu," ujar Alan.
Sahira dibuat menunduk dan agak bersedih setelah Alan menanyakan hal itu, sontak Alan merasa tidak enak dan menyesal karena sudah membuat Sahira bersedih. Pria itu pun mendekati Sahira dan berusaha memastikan kalau gadis itu tidak menangis karena pertanyaannya.
"Maafin saya Sahira, saya gak maksud buat bikin kamu sedih. Kalau pertanyaan saya tadi bikin kamu gak suka, yasudah tidak usah dijawab!" ucap Alan.
Sahira menggeleng dan tersenyum, "Gak kok pak, saya tadi cuma keinget ayah saya. Makanya saya jadi kebawa suasana deh," ucapnya.
"Ohh, lalu apa benar bu Fatimeh itu ibu kandung kamu Sahira?" tanya Alan lagi.
Gadis itu kembali menggelengkan kepalanya, Alan yang melihat itu tampak syok tak mengira jika Sahira ternyata bukan anak kandung dari Fatimeh. Alan pun semakin dibuat penasaran apa yang terjadi sebenarnya di keluarga Sahira, dan mengapa juga Sahira bisa tinggal bersama Fatimeh jika dia bukanlah ibu kandungnya.
"Jadi, bu Fatimeh itu bukan ibu kandung kamu? Serius kamu Sahira?" ucap Alan tak percaya.
"Iya pak, ibu aku emang bukan ibu kandung. Makanya wajar aja sikap ibu ke aku selalu kasar," jawab Sahira mantap.
"Terus kok kamu bisa tinggal sama bu Fatimeh? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Alan penasaran.
"Dulu ayah selingkuh pak dari bu Fatimeh, saya juga tahu cerita ini dari ibu," jawab Sahira.
Alan kembali tersentak, "Berarti kamu.." ia sampai tak berani melanjutkan kata-katanya, tetapi Sahira yang sudah tahu kemana arah perkataan bosnya itu reflek melanjutkannya.
"Betul pak, saya anak pelakor. Ayah saya dulu menikah lagi dengan seorang perempuan dan mempunyai anak, yaitu saya," ucap Sahira tanpa ragu sedikitpun.
"Gapapa pak, emang kenyataannya begitu kok. Itu sebabnya ibu selalu benci sama saya, karena ya saya ini yang bikin ibu menderita dulu," ucap Sahira.
"Hus, kamu gak boleh bilang gitu Sahira! Kamu itu gak salah, disini kamu cuma korban!" ucap Alan.
Tanpa sadar, Sahira menangis karena mengingat semua momen kenangan dahulu saat dirinya bersama sang ayah, yang tentunya hanya tinggal kenangan sebab saat ini ayahnya sudah pergi untuk selamanya. Alan yang merasa tidak tega, mencoba menenangkan Sahira dengan cara mendekap erat tubuh wanita itu.
"Sabar ya Sahira, saya yakin kamu kuat dan kamu bisa membanggakan kedua orang tua kamu di atas sana!" ucap Alan.
Sahira mengangguk, air matanya tumpah di dalam pelukan sang bos. Seketika dirinya lupa kalau yang memeluknya itu adalah bosnya dan bukan Saka, namun ia tak memikirkan hal itu karena saat ini kondisinya sedang rapuh akibat teringat kembali pada kenangan ayahnya dulu.
•
•
Sementara itu, seorang wanita tampak berjalan sembari menenteng koper besar miliknya. Ia baru tiba di bandara setelah mengalami perjalanan yang cukup panjang, kini ia pun memilih duduk sebentar di ruang tunggu untuk menantikan jemputan dari orang tersayangnya.
Tampak si wanita mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang yang tak lain ialah suaminya. Ya wanita itu meminta sang suami untuk menjemputnya disana, karena ia telah sampai dan tidak sabar ingin segera menemui keluarganya yang lama ia tinggali.
Setelah itu, si wanita pun menyimpan ponselnya kembali di dalam tas. Sontak ia menatap ke sekeliling bandara, ini merupakan kali pertama ia menginjakkan kaki disana lagi setelah belasan tahun lalu. Seketika momen perih yang ia alami dahulu pun kembali teringat di dalam benaknya.
Flashback
Dahulu kala sekitar 22 tahun yang lalu, tampak seorang wanita yang tengah berupaya menyelamatkan putrinya dari gendongan sang suami. Wanita itu terlihat menangis deras sembari terus melangkah mendekati suaminya, ia meminta pada sang suami untuk memberikan bayi itu padanya.
"Mas, berikan bayi itu mas! Dia anak aku, kamu gak berhak bawa pergi dia dari aku!" ucap si wanita memohon-mohon pada suaminya.
__ADS_1
"Ah gak bisa! Dia anak aku, biar aku yang rawat dia bersama istriku. Kamu lebih baik pergi aja, hubungan kita ini salah Syera! Aku sudah punya istri, aku menikahi kamu hanya untuk mempunyai seorang anak yang tidak bisa diberikan oleh istri aku!" ucap si pria dengan tegas.
"Kamu tega mas, kamu benar-benar jahat! Selama ini kamu cuma manfaatin aku, aku benci sama kamu!" sentak si wanita.
"Aku gak perduli Syera, aku akan tetap bawa anak ini sekarang!" ujar si pria.
"Gak bisa, kamu gak bisa bawa dia! Dia anak aku mas, jangan!" teriak si wanita.
"Ah diam kamu!" si pria tidak sengaja mendorong si wanita hingga terjatuh dan terbentur lantai.
"Awhh akh!" wanita itu meringis menahan sakit, darah mengalir dari kedua pahanya akibat benturan tersebut. Ya kondisinya saat ini baru saja selesai melahirkan putri cantiknya itu.
Namun, si wanita terus berupaya mengambil putrinya dari sang suami. Ya ibu mana yang rela kehilangan darah dagingnya sendiri, tentu begitu juga yang dirasakan si wanita. Ia tidak ingin berpisah dengan anak yang sangat ia sayangi itu, dan apapun pasti akan ia lakukan demi bisa membawa balik putrinya.
"Mas, balikin mas! Dia putriku, kamu gak bisa bawa dia!" teriak si wanita sambil berusaha bangkit.
Tapi semua sudah terlambat, si pria sudah masuk ke mobilnya dan melaju pergi dengan membawa putrinya itu. Sontak si wanita menangis terisak dan terus berteriak panik, ia mencoba segala cara untuk mengejar mobil tersebut, tetapi usahanya sia-sia.
"Maaassss!!!"
Flashback end
Ya si wanita yang tengah duduk di kursi tunggu bandara itu kembali teringat pada momen kelam masa lalunya, ia menitikkan air mata yang segera ia hapus dengan telapak tangannya. Pikirannya terarah pada sang putri yang hingga kini ia pun tidak tahu dimana keberadaannya.
"Mas Farrel, aku benci sama kamu! Sampai kapanpun aku gak akan pernah memaafkan kamu, apalagi kamu sudah membawa putriku!" ucap si wanita lirih dengan tangan terkepal.
"Sayang, kamu dimana nak? Mama ingin sekali bertemu dengan kamu, mama rindu!" sambungnya.
•
•
Disisi lain, Alfian baru selesai telponan dengan seseorang disana. Ia memasukkan ponselnya dan kembali menatap Saka yang masih berada di depannya saat ini, ya terlihat Alfian tersenyum lebar seolah menunjukkan kesenangannya. Tentu saja Saka penasaran dan langsung coba bertanya pada papanya itu.
"Pa, ada apa sih? Siapa yang telpon papa tadi?" tanya Saka penasaran.
"Ini barusan mama kamu telpon, dia bilang katanya udah di bandara dan minta dijemput. Kamu mau ikut kan sama papa buat jemput mama kamu?" jelas Alfian dengan senyum senang.
"Mama? Maksud papa, mama Syera?" tanya Saka memastikan.
"Ah iya, ya itu maksudnya. Kenapa sih kamu malah tanya begitu? Kamu masih belum bisa terima mama Syera jadi mama kamu?" ujar Alfian.
"Sampai kapanpun, mama aku ya tetap mama Sherly, pa. Gak mungkin ada orang lain yang bisa menggantikan mama Sherly," ucap Saka.
"Ya papa tau, tapi jangan pernah kamu bicara begitu di depan mama Syera ya! Papa gak mau mama Syera jadi sedih nantinya," ucap Alfian.
"Iya pa, yaudah papa aja gih sana yang jemput mama Syera! Aku masih mau cari Sahira, mungkin dia ada di sekitar sini," ujar Saka.
"It's okay, tapi nanti kamu jangan lupa kabarin Alan ya kalau mamanya sudah pulang!" ucap Alfian.
Saka mengangguk saja, setelahnya sang papa pun bergegas pergi untuk menjemput istrinya. Sedangkan Saka tetap di tempatnya dan kembali memikirkan Sahira, ia sungguh bingung kemana gadisnya itu dan kenapa hingga kini belum juga ada kabar darinya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1