Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 92. Minggu pagi


__ADS_3

Saka hanya mengangguk disertai senyuman tipis, sedangkan Sahira terus menganga lebar masih tak menyangka dengan ucapan pria itu. Saka pun menghampiri gadisnya itu lalu menangkup wajahnya, ia kecup kening Sahira yang membuat sang empu memejamkan mata.


"Kamu masih ragu sama cinta aku sayang? Aku serius loh mau cepat-cepat lamar kamu dan nikahin kamu, supaya kamu gak diambil orang nanti," ucap Saka.


"Apaan sih mas? Siapa juga yang mau ambil aku coba? Aku kan cuma wanita biasa," ucap Sahira.


"Begitupun dengan saya, kita berdua sama-sama manusia biasa sayang. Tapi, cinta saya ke kamu luar biasa. Saya yakin kamu juga gitu kan?" ucap Saka tersenyum.


"Eee iya mas, kalo gitu aku ngikut apa kata kamu aja deh. Aku juga emang maunya gak terlalu lama pacaran sih," ucap Sahira.


"Nah kan, berarti kita sejalan. Gimana kalau abis lebaran nanti aku lamar kamu dan kita segera nikah?" usul Saka.


Sahira kembali terbelalak kaget, "Abis lebaran? Apa enggak kecepatan itu mas?" ujarnya.


"Loh kenapa? Makin cepat makin bagus dong, katanya kamu gak mau pacaran lama-lama. Lebih baik emang kita langsung nikah tau," ucap Saka.


"Ya tapi enggak abis lebaran juga kali mas, itu mah terlalu cepat. Aku belum siap buat jadi ibu rumah tangga tau," ucap Sahira.


"Kenapa belum siap? Saya lihat kamu udah cocok kok buat gendong anak," ujar Saka.


Sahira memalingkan wajahnya dan tersenyum, Saka pun terus menggodanya dengan cara mencolek pipi serta dagu gadis itu. Entah sudah seberapa merahnya pipi Sahira saat ini, ia sendiri tak mengerti lagi bagaimana cara menghilangkan kemerahan pipinya itu.


Dari arah yang tak terlalu jauh, Alan rupanya telah tiba dan melihat langsung momen kemesraan antara sepasang kekasih tersebut. Alan tampak kesal dengan dua tangan terkepal, ia menahan emosi serta rasa cemburu karena Sahira dan Saka yang semakin mesra saja.


"Sialan! Ini gak bisa dibiarin, saya harus bertindak supaya mereka gak semakin mesra kayak gitu! Biar gimanapun, Sahira harus jadi milik saya dan bukan bang Saka!" gumam Alan.


"Oh ya? Waw keren banget semangat kamu Alan!" pria itu terkejut karena tiba-tiba Nawal muncul dari belakang dan langsung mendekatinya, sepertinya Nawal mendengar semua yang dia bicarakan tadi tentang Sahira.


"Nawal?" lirih Alan dengan tampang terkejut.


"Hahaha, kenapa Alan? Kaget ya lihat aku disini? Ternyata benar kan kata-kata aku sebelumnya, kamu emang jatuh cinta sama wanita itu!" ucap Nawal sambil terkekeh kecil.


"Terus kenapa? Kalau emang aku cinta sama Sahira, urusannya sama kamu apa?" ujar Alan.


Nawal menggeleng sambil tersenyum, "Kamu tuh emang aneh banget deh Alan! Bisa-bisanya kamu jatuh cinta sama dia, padahal ada aku loh yang lebih segalanya dari dia," ucapnya.


"Kata siapa kamu lebih segalanya dari Sahira? Kamu aja suka selingkuh dan main di belakang aku, kamu bukan wanita yang baik Nawal. Mending kamu pergi dan jangan pernah ganggu aku apalagi datang kesini!" ucap Alan tegas.


"Aku gak selingkuh sayang, aku dijodohin sama orang tua aku. Aku udah coba tolak, tapi mereka tetap maksa aku buat menikah sama Royyan," ucap Nawal membela diri.


"Apapun yang kamu jelasin, tetap gak akan merubah keputusan aku untuk putus dari kamu. Kita berdua gak akan bisa bersatu lagi, jadi kamu tolong paham ya sama keputusan aku!" ucap Alan.


"It's okay, tapi apa kamu yakin kalau papa kamu bakal diam aja?" ucap Nawal menyeringai.


Alan hanya diam tak perduli dengan perkataan Nawal barusan, ia memilih maju mendekati Saka serta Sahira disana.




Disaat Sahira dan Saka hendak masuk ke mobil, tiba-tiba mereka dikejutkan karena Alan muncul memanggil keduanya dengan suara lantang. Tentu saja mereka menoleh, Saka pun mengurungkan niatnya dan kembali menutup pintu mobil untuk menyambut sang adik.


"Bang Saka, Sahira tunggu!" teriak Alan sambil berlari ke arah mereka berdua.


"Kenapa Lan?" tanya Saka singkat.


"Gue cuma mau bicara sebentar sama kalian, kita cari tempat yuk yang bagus buat bicara!" jawab Alan mengajak keduanya berbicara.


"Gak bisa, Sahira harus segera pulang karena dia ada urusan. Kalau mau, besok kan masih bisa bicara di kantor pas kerja. Lo mending balik, kasihan tuh Nawal sendirian!" ucap Saka.


"Oh gitu, masa gak bisa sih walau sebentar aja? Lagian bukan cuma berdua sama Sahira, tapi sama lu juga bang," ucap Alan.


"Sekali gak bisa ya gak bisa Alan," ucap Saka.

__ADS_1


"Iya pak, maaf ya? Saya soalnya harus pulang sekarang buat ngecek ibu saya, kasihan ibu kalau sendirian di rumah," ucap Sahira.


"Tuh lu dengar sendiri kan yang dibilang Sahira? Bukan gue yang larang lu buat bicara sama dia, paham kan?!" ucap Saka.


"Iya iya, yaudah maaf karena gue ganggu kalian. Hati-hati pulangnya!" ucap Alan.


Setelah mengatakan itu, Alan langsung berbalik dan pergi dari sana dengan perasaan kecewa karena keinginannya untuk berbicara dengan Sahira gagal. Sedangkan Saka serta Sahira sudah langsung masuk ke dalam mobil bersiap untuk pulang ke rumah.


"Sahira, kira-kira si Alan itu kenapa ya tadi?" tanya Saka di dalam mobil.


"Aku gak tahu mas, mungkin aja pak Alan cuma mau ngobrol sesuatu sama kita. Sayangnya aku lagi gak bisa buat ngobrol karena harus pulang cepat," jawab Sahira.


"Emang kamu penasaran ya sama apa yang mau dibicarakan Alan tadi?" tanya Saka.


Sahira mengangguk, "Jujur aja iya, aku juga tadi gak enak banget sama pak Alan karena tolak dia yang mau bicara sama aku," jawabnya.


"Gapapa, gausah gak enak gitu. Dia mah udah biasa kok ditolak, lagian saya yakin dia cuma mau modus doang sama kamu," ucap Saka.


"Modus gimana maksud kamu? Perasaan pak Alan gak gitu deh," ujar Sahira.


"Kamu gak tahu aja Sahira, si Alan itu kan suka sama kamu. Dia pasti tadi gak suka lihat kita dekat begini, makanya dia mau gangguin kita. Ngobrol itu mah alasan dia aja tau," ucap Saka.


"Masa sih mas? Emang iya pak Alan tuh kayak gitu?" tanya Sahira tak percaya.


"Iya Sahira, kamu percaya aja sama saya. Saya bisa buktikan kalau perkataan saya itu benar, buktinya dia kelihatan gak senang kan kalau kita berduaan begini?" jawab Saka.


Sahira terdiam, perkataan Saka barusan memang benar menurutnya, sebab selama ini Alan hampir selalu melarangnya saat hendak menemui Saka atau pulang bersama kekasihnya itu. Namun, Sahira tidak mau terlalu percaya diri karena belum tentu Alan juga menyukai dirinya.


"Yaudah mas, kita gausah bahas pak Alan lagi. Aku takut kualat kalau ngomongin bos aku sendiri di belakang," ucap Sahira.


"Hahaha.." Saka tertawa lebar seraya mengusap puncak kepala gadisnya, kemudian ia pun fokus menyetir dan tidak lagi berbicara sampai mereka tiba di rumah gadis itu.




Gadis itu sangat kaget karena ia tak menemukan keberadaan ibunya di sekeliling rumah, padahal ia yakin sekali kalau tadi sewaktu sahur Fatimeh masih ada disana. Seketika Sahira pun menyesal karena sudah ketiduran, ia jadi tidak tahu kemana ibunya pergi sekarang ini.


"Duh, ibu kemana ya? Kok tiba-tiba gak ada kayak gini? Apa ibu pergi sama cowok kumisan yang di bar itu lagi ya?" gumam Sahira merasa cemas.


Tak lama kemudian, ia mendengar sebuah suara yang mirip seperti ibunya dari arah luar. Karena penasaran, sontak Sahira berjalan ke depan pintu untuk memastikan apakah benar ibunya itu ada disana atau tidak. Ia mengintip melalui jendela, matanya terbelalak melihat Fatimeh tengah berdiri disana bersama seorang lelaki berkumis.


"Tuh kan bener, ternyata ibu emang ada hubungan sama om-om kumisan itu. Tapi, orang itu siapa ya? Kenapa ibu bisa sampai kepincut sama dia kayak gitu?" ujar Sahira pelan.


"Aku harus cari tahu, aku gak bisa biarin ibu terus begini!" sambungnya.


Ceklek


Sahira pun keluar membuka pintu, ia langsung menemui ibu serta lelaki berkumis itu di depan sana yang sedang asyik berbincang. Sontak mereka terkejut bukan main melihat keberadaan Sahira, tak ada yang mengira kalau ternyata Sahira masih ada di rumah dan tidak pergi kemana-mana.


"Bu, lagi ngapain ibu disini? Terus laki-laki ini siapa Bu? Kok kayaknya mirip sama yang difoto itu ya Bu? Benar kan?" tanya Sahira penasaran.


"Kamu kok masih ada di rumah? Kamu gak kerja gitu?" Fatimeh justru balik bertanya padanya.


Sahira tersenyum dan menggeleng, "Enggak Bu, ini kan hari Minggu. Masa ibu lupa sih? Apa karena kepikiran om-om ini terus?" ujarnya mengejek.


"Bicara apa sih kamu? Jangan ngada-ngada ya kalo bicara!" sentak Fatimeh.


"Maaf Bu, tapi pertanyaan aku tadi dijawab dong! Om-om ini siapanya ibu? Kenapa ibu sama dia kelihatan dekat dan akrab banget?" ucap Sahira.


"Ini teman ibu, kamu kenalan gih sama dia!" ucap Fatimeh berusaha ramah.


Sahira beralih menatap si lelaki berkumis itu, jujur ia tak percaya dengan perkataan ibunya yang mengatakan jika lelaki itu adalah temannya. Ia yakin bahwa ada hubungan diantara mereka, bisa saja ibunya sudah berpacaran dengan lelaki itu, tetapi mereka tidak mau memberitahunya.

__ADS_1


"Halo Sahira! Nama saya Bram, saya dan ibu kamu memang sudah berteman cukup lama. Maka dari itu, kami akrab dan dekat seperti yang kamu bilang tadi," ucap Bram mengenalkan diri.


"Ohh, nama om itu om Bram? Yaudah, bagus deh kalau om sama ibu cuma temenan," ucap Sahira.


"Loh emangnya kamu kira kita berdua ada hubungan apa hayo?" tanya Bram memancing.


"Gak tahu sih, makanya aku tanya ke ibu. Beneran nih ibu sama om Bram cuma teman? Gak ada hubungan khusus gitu?" ujar Sahira.


"Sahira, kamu jangan mikir yang enggak-enggak ya tentang kami!" ucap Fatimeh.


Sahira mengangguk saja dan tidak membahas itu lagi, ia lebih memilih mengalah agar tidak terjadi keributan diantara mereka.




Sementara itu, Wati datang ke warung Awan dengan niat untuk menanyakan mobil yang terparkir di depan warung itu. Wati merasa penasaran saat melihat mobil tersebut, entah mengapa ia juga merasa tak asing dengan mobil di depannya itu.


Begitu turun dari sepedanya, Wati langsung menghampiri Awan yang kebetulan baru keluar dari dalam dengan membawa tasnya. Sontak Awan terkejut karena kedatangan Wati yang tiba-tiba itu, ia heran untuk apa Wati harus datang ke warungnya di pagi hari seperti ini.


"Eh eh Awan, gue mau tanya sama lu deh. Itu di depan mobil siapa sih?" ujar Wati antusias.


"Hah? Lu ngapain sih Wati? Datang-datang terus nanya gak jelas gitu, mending lu duduk dulu deh biar tenang dan nafas lu gak karu-karuan kayak gitu!" ucap Awan.


"Haish, gue gak sempat duduk. Buruan lu jawab aja pertanyaan gue!" ucap Wati.


"Pertanyaan apa sih? Gue heran sama lu, datang kesini bukan ngucap salam malah langsung ngegas begitu. Gak ada etika banget sih lu!" ucap Awan.


"Yeh lu sendiri buka warung saat orang-orang lagi pada puasa, punya etika gak sih lu?!" balas Wati.


"Buset deh malah dibalikin! Yaudah, lu mau nanya apaan emang Wati?" ucap Awan.


"Ish, itu loh mobil yang ada di depan tuh mobil siapa? Terus orangnya mana orang?" tanya Wati.


"Ohh, santai aja kali gausah panik gitu! Itu tuh mobil orang, gue juga gak tahu siapa. Dia numpang parkir disitu tadi katanya sebentar," jawab Awan.


"Orang siapa? Masalahnya gue pernah lihat nih mobil waktu gue mergokin tante Imeh sama cowoknya, ini pasti mobil tuh cowok. Benar kan yang gue bilang?" ucap Wati.


"Mana gue tahu, dia gak ngenalin dirinya kok. Terus dia juga sendirian gak sama tante Imeh," ucap Awan menggeleng.


"Serius? Terus dia kemana?" tanya Wati.


"Pergi tadi kesana, tapi gue gak tahu perginya kemana. Emang kenapa sih lu heboh banget? Kalau emang ini mobil cowoknya tante Imeh, terus apa hubungannya sama lu?" ucap Awan heran.


"Ya enggak ada, gue cuma pengen tahu aja sih. Kalo gitu gue cari dia dulu ya?" ucap Wati.


Disaat Wati hendak pergi, seseorang justru datang ke warung tersebut dan mengagetkan keduanya. Wati bertambah kaget ketika menyadari yang datang itu adalah Bram alias si lelaki berkumis yang dekat dengan Fatimeh, ya Wati tentu masih ingat dengan wajah lelaki tersebut.


"Permisi semua, saya cuma mau ambil mobil saya. Terimakasih ya sudah dibolehkan parkir disini, soalnya kalau dibawa ke dalam agak sempit jalannya," ucap Bram.


"Ah iya gapapa kok pak, disini mah bebas kok," ucap Awan sambil tersenyum.


Lalu, pria itu tampak mengeluarkan sejumlah uang dan diberikan kepada Awan. "Eee ini ada sedikit uang untuk kamu, anggap saja biaya parkir," ucapnya.


"Hah? Biaya parkir mah gak sebanyak ini pak, lagian saya gak masang tarif kok. Gausah deh pak," ucap Awan menolak.


"Gapapa, diambil aja ya!" ucap Bram memaksa.


"Oh gitu, yaudah deh kalau bapak maksa." Awan tersenyum dan mengambil uang tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku celana.


Wati menggeleng serta memutar bola matanya, saat Bram hendak pamit, ia pun mencegahnya sebab ia mempunyai niat untuk berbicara dengan pria itu. Sedangkan Awan sudah tak perduli lagi, ia terlihat gembira setelah mendapat cukup banyak uang dari lelaki itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2