Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 26. Banyak banget


__ADS_3

Saat Sahira hendak mengetuk pintu, Fatimeh sudah lebih dulu keluar dan syok melihat Sahira bersama Alan alias bos juteknya.


"Sahira, kamu kok pulang sama dia sih?" ujar Fatimeh.


"Eee..." Sahira kebingungan dan menatap Alan meminta bantuan pria itu.


"Ah iya tante, saya yang minta Sahira buat bareng sama saya. Niat saya kesini itu mau minta maaf sama tante, atas sikap saya waktu itu yang mungkin kurang berkenan di hati tante," ucap Alan.


"Tumben kamu ramah begitu, biasanya kamu sombong dan angkuh sama orang miskin kayak saya. Ada apa nih tiba-tiba kamu jadi baik begini? Suka sama anak saya?" ujar Fatimeh.


"Bukan begitu tante, saya memang lagi berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik. Itu sebabnya saya datang kesini dan mau minta maaf sama tante," ucap Alan sambil tersenyum.


"Saya gak mau maafin, kecuali kamu beliin saya surabi di depan gang sana!" ucap Fatimeh.


Sahira melongok dibuatnya, "Ibu bicara apa sih? Jangan begitu dong sama pak Alan! Kan aku yang jadi gak enak tau," ujarnya.


"Kamu diam aja Sahira, ini urusan ibu sama dia! Kan dia mau dapat maaf dari ibu, jadi ya dia harus turutin kemauan ibu dong!" ucap Fatimeh.


"Ya tapi kan bu—"


"Udah gapapa Sahira, biar saya belikan surabi nya sesuai permintaan ibu kamu. Tempatnya si depan gang kan? Kalo gitu saya pergi dulu ya?" sela Alan.


"Iya pak, mau saya antar atau bapak bisa pergi sendiri?" tanya Sahira.


"Saya pergi sendiri aja, lagian kamu kan pasti capek, jadi kamu mending istirahat aja gih di dalam!" jawab Alan dengan ramah.


Sahira mengangguk pelan, lalu Alan pamit pada Fatimeh tapi wanita itu terlihat cuek dan tak perduli. Sahira pun merasa tidak enak pada Alan, ia khawatir Alan akan berubah kembali menjadi Alan yang dulu. Setelahnya, Alan pun berbalik dan langsung pergi dari sana untuk membeli surabi.


"Bu, kenapa ibu begitu sih ke pak Alan? Aku gak enak tau Bu sama pak Alan, harusnya ibu jangan kayak gitu dong!" tegur Sahira.


"Kamu diam aja deh Sahira! Kamu itu gak tahu gimana sakit hatinya ibu sama bos kamu yang galak itu!" tegas Fatimeh.


"Iya Bu iya.." Sahira hanya bisa pasrah karena tak mampu lagi membujuk ibunya itu.


"Sahira!" tiba-tiba saja Cat datang menyapa Sahira dan berhenti tepat di hadapannya.


"Eh Cat? Ada apa nih lu kesini? Tumben banget gak ngabarin gue dulu," ujar Sahira.


"Ya nemuin sahabat gak harus izin dulu kan?" ucap Cat.


"Iya sih, tapi kan gue heran aja kenapa lu kesini. Pasti ada tujuannya kan? Gak mungkin kalau cuma silaturahmi," ucap Sahira.


"Gue sebenarnya nemenin Yoshi, eh ya sampe lupa nih salim sama tante Imeh, hehe.." Cat tersenyum dan beralih menatap Fatimeh.


"Hadeh, udah lama aja baru inget kamu. Bawa apa itu di tangan? Buat saya kan?" ujar Fatimeh.


"Eee gak sih tante, tapi kalau tante mau yaudah boleh deh," ucap Cat.


"Nah gitu dong, makasih banyak ya nak Cat!" tanpa ragu, Fatimeh langsung mengambil bungkus plastik dari tangan Cat.

__ADS_1


Sontak Sahira terkejut dan reflek menegur ibunya, "Bu, apa-apaan sih? Gak enak ah sama Cat, lagian ibu kan udah mau dibeliin surabi sama pak Alan," ucapnya.


"Gapapa Sahira, lagian nak Cat juga yang kasih ke ibu kok," ucap Fatimeh sambil nyengir.


"Ya gapapa kok Sahira, nanti gue bisa beli lagi," ucap Cat.


"Duh, sorry banget ya Cat? Jujur nih gue gak enak banget sama lu, tapi thanks lu udah mau kasih ini buat ibu gue," ucap Sahira.


"Santai," singkat Cat.


Tak lama, Yoshi muncul dan menyapa Sahira. Pria itu tersenyum sambil berhenti tepat di hadapan gadis yang ia cintai, membuat Sahira terkejut lalu tak dapat berekspresi.


"Halo Sahira!" sapa Yoshi.




Sementara itu, Alan baru tiba di tempat surabi yang ada di depan gang rumah Sahira. Tanpa menunggu lama, ia bergegas keluar dari mobil dan memesan surabi untuk diberikan pada Fatimeh nantinya. Karena kondisi disana cukup ramai, Alan pun merasa khawatir kalau ia akan lama kembali ke rumah Sahira.


Akhirnya Alan memiliki ide bagaimana caranya supaya ia bisa mendapat pesanannya lebih dulu, ya pria itu mentraktir semua orang disana agar mereka setuju kalau Alan bisa mendapatkan surabinya lebih dulu. Setelah semua setuju, barulah Alan merasa lega dan kini ia terduduk santai disana sambil tersenyum membayangkan wajah Sahira.


"Hmm, kenapa saya malah kayak gak bisa lupain Sahira ya? Padahal dulu saya itu benci banget sama dia sampai saya gak mau terima dia buat kerja di perusahaan papa," batin Alan.


"Ah enggak enggak, saya harus fokus sama tujuan awal saya, yaitu bujuk Nawal sampai dia mau balikan sama saya. Malam ini juga saya harus temui dia dan bicara sama dia," sambungnya.


Disaat ia tengah menunggu pesanan, sesuatu yang tak terduga terjadi, ya Alan sangat terkejut saat melihat kakaknya alias Saka muncul dan kini menghampirinya di tempat surabi. Saka tersenyum, sedangkan Alan masih syok seolah tak percaya jika Saka bisa ada disana juga.


"Suka-suka gue dong, mau gue duduk disini kek atau di tengah jalan kek, gak ada urusannya sama lu. Lagian lu kenapa bisa ada disini juga? Lu ngikutin gue ya?" balas Alan.


"Iya, gue cuma takut Sahira kenapa-napa kalau pulang berdua sama lu. Maka dari itu, gue putusin buat ikutin mobil lu dari jauh," jawab Saka.


"Cih, segitunya lu khawatir sama Sahira? Suka lu sama dia? Tenang aja kali, gak mungkin gue apa-apain dia!" ucap Alan.


"Gausah alihin topik deh, dimana Sahira? Terus kenapa lu malah disini bukannya di rumah Sahira?" tanya Saka dengan nada tegas.


"Okay okay, gue kasih tau nih ya sama lu. Jadi, tadi itu gue udah sampe di rumah Sahira. Nah tapi, pas gue ketemu sama ibunya, ternyata ibunya ini masih marah sama gue karena kejadian di kantor waktu itu," jawab Alan.


"Kepanjangan, langsung aja pada intinya! Gue males dengerin ocehan lu," pinta Saka.


Alan tersenyum miring, "Gue disuruh sama ibunya Sahira buat beli surabi disini, puas lu?!" jawabnya.


"Hah? Seriusan nih lu mau-mau aja disuruh sama ibunya Sahira? Kok gue kayak bukan lagi bicara sama Alan yang gue kenal ya?" ejek Saka.


"Berisik lu bang! Gue mau juga supaya ibunya Sahira mau maafin gue kali," ketus Alan.


Saka terkekeh pelan, tak lama pesanan Alan pun sudah jadi. Alan bergegas pergi dari sana karena tak mau terlalu lama berdebat dengan kakaknya, sedangkan Saka juga ikut pergi dan melaju di belakang mobil Alan. Meski kesal, tapi Alan tak bisa melarang tindakan Saka sebab itu haknya.


__ADS_1



"Sahira!" tiba-tiba saja Cat datang menyapa Sahira dan berhenti tepat di hadapannya.


"Eh Cat? Ada apa nih lu kesini? Tumben banget gak ngabarin gue dulu," ujar Sahira.


"Ya nemuin sahabat gak harus izin dulu kan?" ucap Cat.


"Iya sih, tapi kan gue heran aja kenapa lu kesini. Pasti ada tujuannya kan? Gak mungkin kalau cuma silaturahmi," ucap Sahira.


"Gue sebenarnya nemenin Yoshi, eh ya sampe lupa nih salim sama tante Imeh, hehe.." Cat tersenyum dan beralih menatap Fatimeh.


"Hadeh, udah lama aja baru inget kamu. Bawa apa itu di tangan? Buat saya kan?" ujar Fatimeh.


"Eee gak sih tante, tapi kalau tante mau yaudah boleh deh," ucap Cat.


"Nah gitu dong, makasih banyak ya nak Cat!" tanpa ragu, Fatimeh langsung mengambil bungkus plastik dari tangan Cat.


Sontak Sahira terkejut dan reflek menegur ibunya, "Bu, apa-apaan sih? Gak enak ah sama Cat, lagian ibu kan udah mau dibeliin surabi sama pak Alan," ucapnya.


"Gapapa Sahira, lagian nak Cat juga yang kasih ke ibu kok," ucap Fatimeh sambil nyengir.


"Ya gapapa kok Sahira, nanti gue bisa beli lagi," ucap Cat.


"Duh, sorry banget ya Cat? Jujur nih gue gak enak banget sama lu, tapi thanks lu udah mau kasih ini buat ibu gue," ucap Sahira.


"Santai," singkat Cat.


Tak lama, Yoshi muncul dan menyapa Sahira. Pria itu tersenyum sambil berhenti tepat di hadapan gadis yang ia cintai, membuat Sahira terkejut lalu tak dapat berekspresi.


"Halo Sahira!" sapa Yoshi.


"Eh pas banget lu udah dateng, nih Ra alasan gue samperin lu tadi, si Yoshi ini mau ketemu sama lu," ucap Cat.


"Ohh, ada apa ya Yos? Lo mau ngobrol disini atau di dalam aja?" tanya Sahira.


"Ah sebentar Sahira, sebelumnya aku pengen kasih ini ke kamu," jawab Yoshi seraya memberikan beberapa bungkus makanan di tangannya.


"Hah? Apa itu Yos? Kok banyak banget begitu sih?" tanya Sahira sedikit terkejut.


"Ini semua makanan kesukaan kamu, semoga kamu suka dan mau makan ini ya Sahira! Aku beliin ini pakai uang sendiri kok," jelas Yoshi.


"Ohh, wah makasih banyak ya Yos! Harusnya lu gak perlu repot-repot bawain beginian segala, mana banyak banget lagi," ujar Sahira.


"Gapapa, itu semua buat kamu," ucap Yoshi sambil tersenyum.


Sahira pun ikut tersenyum lebar, kini ia bersama Yoshi dan Cat duduk di kursi panjang yang ada di teras rumahnya. Sedangkan Fatimeh sudah lebih dulu masuk untuk mencicipi makanan yang tadi diberikan oleh Cat.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2