Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 80. Sudah punya pacar


__ADS_3

Saka menganggukkan kepalanya, lalu Sahira pun berbalik dan melangkah masuk ke dalam kantornya meninggalkan pria itu. Setelah dipastikan aman, Saka kini kembali ke mobilnya dan melaju pergi. Meskipun Saka masih belum bisa berjauhan dari kekasihnya itu.


Sahira yang berada di lobi, tak sengaja berpapasan dengan Alan saat pria itu terlihat sedang berjalan di depannya. Sahira langsung saja berlari mendekat ke arah bosnya itu sambil meneriaki namanya, tentu Alan terkejut dan menghentikan langkahnya saat mendengar Sahira menyapanya.


"Pak, pak Alan!" panggil Sahira dengan suara lantang.


Seketika Alan menoleh menatapnya dan memberikan tatapan dingin, "Kamu, baguslah kalau kamu sudah datang. Ayo kita ke depan dan langsung berangkat ke tempat meeting!" ujarnya.


"Ta-tapi pak, ini masih jam tujuh kurang. Apa gak terlalu cepat kalau kita berangkat sekarang?" tanya Sahira.


"Kamu tau kan ini dimana? Jakarta itu kota padat, jam-jam segini tuh jamnya macet. Mending kita sampai lebih awal daripada terlambat, paham kamu?!" ucap Alan.


"Paham pak, baik saya siap berangkat sekarang! Tapi, saya harus ke ruangan saya dulu buat ambil berkas yang masih disana," ucap Sahira.


Alan mendengus kesal seraya mengusap dahinya setelah mendengar perkataan sekretarisnya barusan, "Kamu kerja tuh gak pernah benar ya Sahira? Ngapain coba kamu tinggal berkasnya di ruangan kamu? Haish!" ucapnya.


Setelah itu, Alan langsung pergi ke luar begitu saja meninggalkan Sahira. Sontak Sahira bingung, ia tak tahu harus mengejar Alan atau pergi ke ruangannya mengambil berkas. Akhirnya Sahira memilih menyusul bosnya dan berteriak meminta pria itu berhenti sejenak.


"Pak, tunggu pak!" teriak Sahira sembari berlari mengejar Alan.


Sahira berhasil menyusul pria itu, ia raih tangan Alan dari belakang dan membuat sang bos terpaksa berhenti melangkah. Alan pun menoleh dan langsung menghentak tangannya dengan kasar sampai Sahira nyaris terjatuh, Alan tampak sangat geram melihat gadis itu di depannya.


"Kamu apaan sih? Ngapain kamu malah kejar-kejar saya? Katanya kamu mau ambil berkas, sana gih kamu ke ruangan kamu! Saya tunggu di mobil, soalnya saya malas bolak-balik," ucap Alan.


"Ohh, saya kira bapak marah tadi sama saya dan mau tinggalin saya. Kalau begitu saya permisi ke dalam ya pak? Maaf saya salah sangka, saya gak nyangka bapak mau tungguin saya ternyata," ucap Sahira merasa malu.


"Ya ya ya, sudah sana pergi dan jangan lama-lama!" ucap Alan dengan tegas.


Sahira mengangguk, "Iya pak siap!" ucapnya patuh dan langsung berbalik kemudian bergegas pergi menuju ruangannya karena tak ingin membuat Alan marah.


Setelah selesai, Sahira pun kembali ke depan menemui bosnya. Tampak disana Alan sudah menunggu di dalam mobil dan menatap ke arahnya dengan dingin, Sahira lalu mempercepat langkahnya dan masuk ke mobil tersebut tanpa menunggu perintah dari Alan.


"Sudah kamu bawa semua kan berkasnya? Udah dipastikan gak ada yang kurang lagi?" tanya Alan.


"Iya pak, ini sudah lengkap semua kok. Maaf banget ya pak atas keteledoran saya tadi?" jawab Sahira gugup.


"Gapapa, kalo gitu sekarang kita berangkat ya?" ucap Alan tersenyum tipis.


Sahira mengangguk kecil, "Iya pak, semoga aja jalannya gak macet dan kita bisa sampai tepat waktu!" ucapnya.


"Aamiin." Alan mengaminkan ucapan Sahira dan mulai memacu mobilnya keluar dari wilayah kantor.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan gadis itu selalu memandangi wajah Alan dari tempatnya duduk, ia masih heran dengan sikap Alan yang mudah sekali berubah-ubah. Kadang pria itu bersikap lembut padanya, tapi kadang juga dia tiba-tiba kasar tanpa alasan yang jelas.




Saka tiba di kantornya, pria itu dikejutkan dengan kehadiran Alfian disana yang sudah lebih dulu berdiri sembari melipat tangannya ke belakang. Saka sontak menghampiri papanya itu dan berhenti tepat di depannya, ia bertanya mengapa papanya ada disana.


"Eh papa, ada apa nih papa ke kantor aku?" tanya Saka kebingungan.


"Gak dalam rangka apa-apa kok, papa cuma pengen lihat-lihat suasana di sekitar sini aja. Papa kan udah lama gak kesini, emang kenapa sih Saka? Kamu gak suka papa ada disini?" ucap Alfian.


"Bukan begitu pa, aku kaget aja tadi lihat papa ada disini. Ya kalau papa emang pengen main disini, aku justru senang banget pa," ucap Saka.


"Serius kamu? Terus kamu darimana aja Saka? Kenapa kamu baru nyampe di kantor jam segini? Bukannya kamu berangkat dari rumah udah daritadi ya?" tanya Alfian keheranan.


"Aku tadi anterin pacar aku dulu pa, maklumlah namanya orang lagi kasmaran," jawab Saka.


"Pacar? Sejak kapan kamu punya pacar Saka? Setahu papa, kamu itu kan masih single dan belum ada pasangan," ucap Alfian.


"Itu dulu pa, sekarang mah aku udah bukan jomblo lagi kali," ucap Saka dengan bangga.


"Nanti papa juga tahu kok, insyaallah aku bakal bawa dia ke rumah untuk dikenalin ke papa dan Alan," jawab Saka sambil tersenyum.


"Okay, papa tunggu kamu bawa dia ya. Sekarang ayo kita masuk ke dalam!" ucap Alfian.


Saka mengangguk setuju, "Ayo pa, sekalian juga aku pengen kasih tau ke papa sesuatu!" ucapnya.


Akhirnya mereka berdua pun masuk ke dalam kantor tersebut bersama-sama, Saka dengan bangganya akan mengenalkan berbagai proyek yang selama ini ia dan tim kerjakan kepada sang ayah. Ia yakin papanya itu akan bangga padanya, lalu lebih memilihnya dibanding Alan.




Sahira dan Alan telah menyelesaikan meeting dengan klien mereka, kini keduanya pun kembali ke mobil untuk melakukan perjalanan menuju kantor. Namun, Sahira tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuat Alan kebingungan. Mereka pun terpaksa mengurungkan niat untuk masuk ke mobil karena Alan penasaran pada Sahira.


"Ada apa Sahira? Kenapa kamu malah diam? Ayo kita masuk ke mobil!" ucap Alan.


"Eee barusan saya kayak lihat teman saya pak, makanya saya mau mastiin," ucap Sahira.


"Teman kamu? Siapa? Dimana?" tanya Alan penasaran.

__ADS_1


"Dia masuk ke dalam cafe pak, sama laki-laki gitu. Apa saya boleh kembali kesana pak buat cek itu benar dia apa bukan?" ucap Sahira.


Alan menggeleng dan menggenggam tangan Sahira, "Enggak, kita buru-buru karena masih banyak agenda hari ini," ucapnya tegas.


"Tapi pak, saya khawatir teman saya itu kenapa-napa," ucap Sahira panik.


"Buat apa sih Sahira? Kamu lebih mentingin teman kamu itu atau pekerjaan kamu? Kalau kamu pengen kembali ke dalam, yasudah boleh. Tapi, saya tinggal kamu disini," ucap Alan mengancam.


"Duh, ya jangan dong pak! Bapak ikut aja masuk lagi ke dalam, sebentar aja kok pak buat mastiin doang!" bujuk Sahira.


"Kok kamu jadi ngatur-ngatur saya?" ujar Alan.


"Ya ampun, bukannya ngatur pak saya cuma minta tolong sama bapak buat bantu saya. Kalau emang yang tadi saya lihat bukan teman saya, kan kita bisa langsung pergi pak," ucap Sahira.


"Kamu tuh kenapa sih Sahira? Mentang-mentang kamu pacarnya bang Saka, terus sekarang kamu berani bantah perintah saya?" kesal Alan.


Sahira mengernyit heran, "Maksud bapak apa sih? Saya gak bantah bapak kok, saya cuma khawatir sama teman saya," ucapnya membela diri.


Alan yang geram akhirnya mengusap wajahnya kasar dan mengiyakan saja kemauan Sahira, "Yasudah, terserah kamu aja mau ngelakuin apapun itu. Sana kamu masuk, saya tunggu disini aja!" ucapnya.


"Bener ya bapak tunggu saya disini? Saya gak ditinggal kan?" tanya Sahira.


"Iya Sahira, kamu gak percayaan banget sih sama saya. Sudah sana masuk gih, jangan lama-lama loh ya!" jawab Alan.


Sahira pun tersenyum, "Iya pak, makasih ya?" ucapnya lalu berbalik dan pergi.


Alan hanya bisa menggeleng melihat kelakuan sekretarisnya itu, sedangkan Sahira tampak tergesa-gesa untuk mencari keberadaan Cat yang tadi ia lihat masuk ke cafe tersebut bersama seorang lelaki. Sahira masih khawatir dan cemas pada sahabatnya itu, ia tak mau terjadi sesuatu nantinya kalau ia tidak membantu Cat.


"Duh, Cat mana ya? Tadi beneran kok aku lihat Cat masuk kesini sama cowok, tapi kenapa dia gak ada?" gumam Sahira.


Sahira terus celingak-celinguk mencari Cat di sekitar sana, sampai akhirnya ia menemukan gadis itu tengah duduk di salah satu meja bersama seorang lelaki. Sontak Sahira segera menghampiri mereka untuk mencari tahu siapa lelaki yang ada bersama Cat di depan sana.


"Cat!" Sahira memanggil temannya itu, sehingga sang pemilik nama menoleh diikuti dengan lelaki di dekatnya.


"Hah Sahira??" Cat terkejut mengetahui sahabatnya itu ada disana dan menghampirinya.


Sementara Sahira juga terkejut setelah tahu siapa lelaki yang ada di samping Cat, ia menganga tak percaya sampai tidak bisa mengedipkan mata saat melihat itu semua.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2