Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 29. Selingkuh?


__ADS_3

Nawal kesal dan hendak berbalik, namun dengan sigap Alan mencekal lengannya dari belakang, menahan gadis itu agar tetap disana bersamanya.


"Tunggu Nawal, aku belum selesai bicara!" pinta Alan.


"Ish lepasin! Apa sih yang mau kamu bicarain lagi? Semuanya udah cukup jelas ya Alan!" ucap Nawal.


"Belum, aku belum mendapat penjelasan dari kamu kenapa kamu mutusin aku gitu aja!" ucap Alan.


"Apa kata-kata aku kemarin kurang jelas, ha? Aku harus pergi ke luar negeri buat lanjutin kuliah aku Alan, kamu gak paham?" kesal Nawal.


"Aku gak percaya, kamu pikir aku bisa semudah itu percaya?" ucap Alan geleng-geleng.


"Terserah kamu, emang itu kok alasan aku. Udah ah lepasin atau aku teriak nih sekarang juga!" ancam Nawal.


"Aku gak akan lepasin kamu, teriak aja kalau emang kamu mau!" tantang Alan.


"Oh, kamu nantang? Jangan salahin aku ya kalau aku minta satpam buat usir kamu dari sini!" ujar Nawal.


Alan tak gentar, ia mempersilahkan Nawal untuk berteriak sesuka hatinya. Menurutnya, ia tidak salah sebab ia datang kesini hanya untuk bicara baik-baik dan tidak ada niat jahat sedikitpun pada Nawal.


"Toloongg!! Tol—" teriakan Nawal terpotong saat seseorang memanggilnya dari dalam.


"Sayang, siapa yang datang?" keduanya sama-sama menoleh ke asal suara, dan betapa terkejutnya Alan ketika melihat Royyan keluar dari rumah gadis itu.


"Royyan??" Alan sampai tercengang dibuatnya.


"Hah lo?" pria bernama Royyan itu juga ikut kaget melihat kehadiran Alan disana.


Seketika Alan menjadi emosi, melihat Nawal bersama lelaki lain di rumah itu tentu saja menandakan diantara mereka ada hubungan khusus. Kalau tidak, untuk apa Royyan bisa ada di rumah Nawal malam-malam begini.


Alan pun melepas tangan Nawal dan beralih mendekati Royyan, matanya menatap tajam seolah hendak membunuhnya. Sedangkan Nawal disana hanya bisa terdiam panik, ia bahkan menutup matanya tak berani melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Hai bro! Gak nyangka kita bakal ketemu disini, apa kabar lu?" ucap Royyan dengan santai.

__ADS_1


"Baik, lu gimana?" singkat Alan.


"Ya begini lah, makin baik." Royyan menjawab sambil terkekeh kecil.


"Setelah ini, kalau ada yang tanya kabar lu baik apa enggak, jawabannya gak baik-baik aja." mendengar kalimat yang dilontarkan Alan, membuat Royyan mendelik heran.


"Maksud lu?" tanya Royyan dengan heran.


Bugghhh


Bukan jawaban yang dia dapat, melainkan pukulan dari tangan Alan yang sangat kuat itu. Sontak Royyan langsung membungkuk memegangi perutnya sembari meringis kesakitan, Nawal pun terperangah tak percaya melihatnya.


"Akh! Lo apa-apaan sih bro? Kenapa lu mukul gue? Lo ada masalah apa sama gue?" heran Royyan.


"Banyak bacot lu!" Alan kembali memukul tubuh pria itu, kali ini di bagian wajahnya.


Bugghhh


Royyan yang tak kuat akhirnya terjatuh ke lantai, Nawal berteriak panik melihat mantan kekasihnya semakin brutal disana. Sedangkan Alan sendiri hanya tersenyum seringai menatap tubuh Royyan yang sudah tergeletak di depannya, ia coba mendekati Royyan lagi tapi ditahan oleh Nawal.


"Okay, aku gak akan pukul dia lagi. Tapi, kamu sekarang jelasin ke aku ini maksudnya apa! Kenapa laki-laki ini bisa ada di rumah kamu? Kalian selingkuh di belakang aku?" ucap Alan.


Nawal menggeleng, Royyan yang mendengarnya pun terkejut, dia sama sekali tidak tahu jika Alan dan Nawal ada hubungan.




Disisi lain, Sahira tiba di dekat danau yang tak jauh dari rumahnya berada. Tampak sudah ada Yoshi disana yang tengah duduk memandang ke arah danau dengan tatapan kosong, di dalam hatinya dia sangat berharap kalau malam ini Sahira akan memberikan jawaban terkait pernyataannya beberapa waktu lalu.


"Yos!" suara pelan Sahira itu membuat Yoshi menoleh, ia tersenyum lalu bangkit dan menghampiri gadis tersebut.


"Eh Sahira, yuk langsung duduk aja!" ajak Yoshi.

__ADS_1


Sahira mengangguk, kemudian duduk di kursi bersama Yoshi di sebelahnya. Yoshi menunduk sebentar sebelum kembali menatap wajah Sahira setelah menguatkan dirinya, jujur saja Yoshi memang selalu merasa gugup jika berhadapan langsung dengan wanita yang ia sukai.


"Eee ada apa kamu ajak aku ketemuan disini, Sahira? Kamu udah punya jawabannya?" tanya Yoshi.


"Iya Yos, aku udah dapat jawaban dari pertanyaan kamu yang sebelumnya. Aku minta maaf ya kalau kamu nunggu lama buat ini?" jawab Sahira.


"Of course, gak masalah kok. Jadi, apa jawaban kamu Sahira?" tanya Yoshi tak sabaran.


"Sebelumnya aku mau bilang dulu sama kamu, kalau ini udah keputusan bulat aku," ucap Sahira.


"Ya ya ya, apapun itu aku pasti terima kok. Aku gak akan kecewa atau marah-marah sama kamu, apalagi menekan kamu. Udah kamu kasih tau aja, kamu terima aku atau enggak!" ucap Yoshi.


"Maaf Yos, aku gak bisa terima kamu. Aku masih mau fokus ke karir dan pekerjaan aku, aku minta maaf ya sama kamu Yos!" ucap Sahira pelan.


Deg!


Yoshi terkejut bukan main, bisa dibilang perasaannya sangat hancur saat ini mendengar jawaban dari Sahira. Ia benar-benar tak percaya jika Sahira menolaknya, padahal selama ini ia sangat berharap gadis itu akan menjadi kekasihnya.


"Sekali lagi aku minta maaf, dan tolong kamu jangan berharap atau deketin aku lagi dengan tujuan ingin menjadikan aku pacar kamu! Aku sampai kapanpun gak akan merubah keputusan aku ini ya Yos," sambung Sahira.


"Ya Sahira, aku paham kok. Aku akan terima walau dengan sangat sulit," ucap Yoshi pelan.


Sahira mengangguk sambil tersenyum, "Aku ngerti kok, kamu pasti kecewa sama jawaban aku tadi. Tapi, jujur aja aku emang gak ada rasa sama kamu. Gak mungkin kan aku paksain buat terima kamu tanpa cinta?" ucapnya.


Yoshi hanya diam tak menjawab, membuat Sahira makin tidak enak hati. Namun, biarpun begitu Sahira juga tidak bisa mengubah keputusannya.


"Kalo gitu aku pergi dulu ya? Kamu gapapa kan aku tinggal sendiri?" tanya Sahira memastikan.


Kali ini Yoshi menjawab dengan anggukan, dan setelahnya Sahira pun bangkit dari duduknya lalu berniat pergi. Gadis itu melangkah meninggalkan Yoshi disana seorang diri, walau sejujurnya Sahira tidak tega dan khawatir kalau Yoshi akan berbuat yang tidak-tidak disana.


Setelah Sahira pergi, Yoshi kini hanya sendirian. Ia turut bangkit dan menatap ke arah danau dengan wajah lesu, tetesan air mata jatuh membasahi wajahnya mengingat perkataan Sahira. Ia masih tak menyangka usahanya sia-sia sebab Sahira menolaknya.


"Sahira, kenapa kamu tolak aku sih? Apa coba kurangnya aku? Harusnya kamu pilih aku dong jadi pacar kamu, bukan malah kayak gini. Jujur aja aku kecewa banget sama kamu Sahira!" ucap Yoshi.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2