
Saka menggeleng sembari mengusap pelipisnya, ia bingung harus bagaimana untuk bisa membujuk Sahira agar berhenti berpikiran seperti itu. Tentu Saka tak mau gadisnya pergi dan berpisah dengan sang ibu, sebab ia tahu bagaimana rasanya berjauhan dari orang yang paling ia sayangi.
Tin tin tin...
Baru saja Saka hendak merangkul pundak Sahira, namun sebuah mobil berhenti di dekat mereka dan membunyikan klakson berkali-kali. Saka pun menatap ke arah mobil tersebut dengan bingung, ia penasaran siapa yang ada di dalam sana dan sudah mengacaukan momen romantisnya.
"Siapa sih itu?!" geram Saka seraya beranjak dari kursinya.
"Mas, kamu mau kemana?" tanya Sahira saat menyadari kekasihnya itu berdiri.
"Enggak Sahira, saya cuma pengen tahu siapa pemilik mobil yang ngeselin itu," jawab Saka.
"Hah siapa??" Sahira terkejut lalu ikut menoleh ke arah mobil yang berhenti di dekatnya itu.
Kemudian, seorang lelaki keluar dari mobil tersebut dengan senyum di bibirnya mengarah ke tempat Sahira serta Saka berada. Sontak Sahira langsung menganga tipis, ia kenal betul bahwa lelaki yang ada di depan sana adalah Ivan yang merupakan mantan rekan kerjanya di toko roti.
"Ivan?" lirih Sahira begitu menyadari siapa pemilik mobil tersebut.
"Kamu kenal dia Sahira?" tanya Saka sembari menatap wajah gadisnya.
Sahira mengangguk, "Iya mas, jelas aku kenal. Dia itu teman aku waktu masih kerja di toko roti, tapi aku gak tahu sejak kapan penampilan dia berubah drastis kayak gini," jawabnya.
"Waw keren dong dia sekarang udah punya mobil!" ucap Saka.
"Hai Sahira!" pria itu datang mendekat dan menyapa sang gadis di depannya.
"Van, sejak kapan kamu jadi berubah kayak gini? Perasaan dulu kamu kemana-mana jalan kaki deh, kok sekarang bisa naik mobil?" heran Sahira.
Ivan tersenyum bangga, "Iya dong, aku sekarang udah kaya raya. Bukan seperti kamu yang pengen kaya dengan cara macarin bos kamu sendiri," ucapnya sedikit menyindir.
Sahira tersentak mendengarnya, begitu juga dengan Saka yang langsung memasang wajah emosi ke arah Ivan. Ivan sendiri malah tampak tenang-tenang saja seolah ia tak merasa bersalah, tentunya Saka semakin geram dan bergerak maju mendekati lelaki itu dengan tangan terkepal.
"Maksud anda bicara seperti itu apa? Anda tidak suka dengan hubungan saya dan Sahira? Lalu, anda punya masalah?" tanya Saka geram.
"Ahaha, santai aja bro santai! Saya cuma gak paham aja sama jalan pikiran Sahira, dia waktu itu bilang ke Yoshi kalau dia gak mau pacaran dan milih fokus ke karir, eh tau-tau dia malah pacaran sama bosnya," ucap Ivan.
Sahira tertunduk, ia kembali teringat pada momen dimana ia menolak Yoshi saat itu. Mungkin saja Ivan juga ikut membencinya kali ini karena penolakan itu, meski ia telah meminta maaf pada Yoshi dan setahunya Yoshi juga sudah memiliki Cat sebagai pasangannya.
"Soal Sahira tolak Yoshi itu kan masalah mereka, kenapa anda harus ikut campur dan bilang begitu ke Sahira? Apa urusannya sama anda?" ucap Saka keheranan.
"Wih galak amat bro, tenang aja kali bicaranya gausah ngegas gitu!" ucap Ivan terkekeh.
"Jangan main-main sama saya! Sekali saja anda menyakiti perasaan Sahira, saya akan balas tiga kali lipat!" ancam Saka.
"Kenapa cuma tiga kali lipat? Harusnya sekalian dong sepuluh kali lipat, kalau kamu memang cinta dan sayang sama Sahira!" ujar Ivan.
"Sialan!" Saka mengumpat kesal dan langsung memukul wajah Ivan begitu saja di depan Sahira.
•
•
Waktu sahur tiba, Sahira yang telah menyiapkan makanan pun kini berniat membangunkan ibunya yang masih tertidur di kamar. Gadis itu berharap sang ibu mau bangun dan ikut sahur bersamanya, meski ia masih sedikit sakit hati karena perkataan Fatimeh sebelumnya.
Namun, mau bagaimanapun juga Fatimeh adalah orang yang sudah merawatnya hingga sebesar ini dan Sahira juga telah menganggap Fatimeh seperti ibu kandungnya sendiri. Walaupun Sahira tahu bahwa Fatimeh tidak pernah menginginkan kehadirannya dan selalu membencinya.
TOK TOK TOK...
"Bu, bangun yuk bu kita sahur sama-sama! Ibu gak lupa kan kalau hari ini kita puasa? Ayo bu bangun dong!" ucap Sahira sedikit berteriak.
Sahira menghela nafasnya karena tak kunjung ada jawaban dari dalam sana, tapi untungnya tidak lama setelah itu terdengar suara langkah kaki serta pintu yang terbuka. Sahira pun tersenyum senang, ia melihat ibunya keluar dengan wajah mengantuk sembari mengucek matanya.
"Hadeh, ada apaan sih lu pagi-pagi udah berisik banget kayak gini? Gue masih ngantuk tau, lu jangan ganggu gue lah!" geram Fatimeh.
"Bu, ibu lupa ya? Hari ini kan kita udah mulai puasa, jadi ayo bu kita sahur bareng! Aku kebetulan udah siapin makanan di meja makan, yuk bu kita makan sekarang!" ucap Sahira.
"Hah sahur? Duh, gue gak mau ah gue ngantuk banget ini! Lu aja sana yang sahur, gausah ajak-ajak gue!" ujar Fatimeh menolak.
__ADS_1
"Kenapa ibu jadi gini sih? Perasaan dulu ibu paling semangat ajak aku sahur, kok sekarang ibu jadi gak mau diajak sahur bareng aku?" heran Sahira.
"Dulu itu bokap lu masih sering kirimin gue duit, makanya gue gak terlalu masalah lu tinggal disini sama gue. Lah sekarang kan dia udah mokad, jadi buat apa gue baik sama lu?!" ucap Fatimeh tegas.
Sahira langsung memasang wajah sedih dan tertunduk lesu, air matanya menetes mengingat sang ayah yang telah tiada saat ini. Sedangkan Fatimeh terus menguap tanda ia mengantuk dan tak sedikitpun perduli pada putrinya yang sedang menangis di depannya.
"Yaudah, gue mau lanjut tidur lagi. Lu kalau mau sahur ya sahur aja sana sendiri, jangan pernah lu bangunin gue ya!" sentak Fatimeh.
"I-i-iya bu.." Sahira mengangguk saja.
Braakkk
Fatimeh langsung masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya, Sahira pun pergi dari sana untuk memulai santai sahurnya. Ia terus menangis mengingat kembali perkataan ibunya tadi, ia sungguh tak percaya kalau Fatimeh bisa mengatakan itu padanya.
"Hiks hiks, kenapa ya ibu jadi jahat banget sama aku? Ya walau dari dulu emang udah agak jahat sih, tapi rasanya sekarang makin tambah jahat ke aku dan gak ada rasa sayangnya," gumam Sahira.
"Heh!" tiba-tiba saja suara bentakan keras terdengar di telinga Sahira, gadis itu bergegas menoleh dan menemukan ibunya tengah berdiri di belakangnya.
"Ibu?" Sahira benar-benar terkejut, ia beranjak dari kursi lalu menatap ibunya.
"Lo maksudnya apa bicara kayak gitu tentang gue? Emang gue sejahat itu apa sama lu? Perasaan gue baik-baik aja deh," ujar Fatimeh.
"Eee a-aku.." Sahira gugup dan kebingungan.
"Udah lah gausah dibahas, gue lapar nih mau ikut makan!" sela Fatimeh.
Sahira tersenyum kemudian mempersilahkan ibunya untuk ikut duduk disana, "Oh yaudah, ayo bu kita makan sama-sama!" ucapnya.
Fatimeh tak menjawab dan malah duduk begitu saja di samping putrinya, mereka pun lanjut memakan makanan itu bersama-sama.
•
•
Kini Sahira sudah kembali bekerja di kantornya, meskipun perasaannya masih belum bisa tenang memikirkan sang ibu yang tampak sangat membenci dirinya. Akibatnya, Sahira pun sulit fokus dalam bekerja dan terus memijat keningnya yang terasa pusing.
"Sahira!" Alan tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya dan memanggilnya, membuat Sahira terkejut lalu menoleh ke arah pria itu.
"Loh pak, ada apa kesini?" tanya Sahira kebingungan.
"Mana laporan yang harus kamu kirim ke PT jaya sejahtera? Kenapa sampai sekarang belum kamu kirim juga?" ujar Alan.
"Hah? Udah saya kirim kok pak barusan, malahan email-nya udah masuk," ucap Sahira.
"Kamu gausah bohong Sahira! Barusan pak Ridho komplain ke saya dan dia bilang kalau laporan itu belum kamu kirim juga!" sentak Alan.
"Masa sih pak? Tapi, disini tulisannya sudah masuk kok. Saya gak bohong pak," ucap Sahira.
"Mana coba saya lihat?!" Alan bergerak maju untuk mengecek sendiri apakah email yang dikirim Sahira benar sudah masuk atau belum.
Pria itu mengutak-atik laptop milik Sahira, seketika ia terbelalak karena ternyata Sahira salah mengirim email. Sontak saja Alan langsung menatap jengah ke arah sekretarisnya, membuat Sahira bingung dan tak mengerti mengapa bosnya itu terlihat sangat emosi.
"A-ada apa pak? Benar kan email-nya sudah masuk?" tanya Sahira gugup.
"Iya benar sudah masuk, tapi bukan ke email PT jaya sejahtera!" sentak Alan.
"Hah??" Sahira terkejut dan menganga lebar.
"Tuh kamu lihat aja sendiri! Ngapain kamu malah kirim emailnya ke perusahaan bang Saka? Apa kamu sekarang udah gak bisa fokus kerja Sahira gara-gara pacaran sama dia?" geram Alan.
Deg!
Sahira terkejut, ia sama sekali tak menyangka kalau email yang ia kirim tadi salah alamat. Padahal seingatnya ia sudah mengirim email tersebut sesuai petunjuk Alan, tapi ternyata ia malah melakukan kesalahan yang amat membuat Alan emosi.
"Pak, maafin saya pak saya benar-benar salah fokus tadi! Sa-saya akan segera kirim ulang email-nya pak," ucap Sahira.
"Sahira, kalau kamu terus begini lama-lama saya bisa pecat kamu loh! Kinerja kamu memang bagus, tapi saya gak bisa mentolerir kesalahan seperti ini Sahira!" ucap Alan emosi.
__ADS_1
"Maaf pak, tolong jangan pecat saya! Saya janji ini gak akan terulang lagi, kasih saya kesempatan satu kali lagi deh pak!" ucap Sahira memohon.
"Ah kamu itu pasti selalu saja begini! Kamu boleh lagi puasa, tapi kerja tuh harus tetap fokus dong!" geram Alan.
"I-i-iya, sekali lagi saya minta maaf pak!" ucap Sahira gemetar dan terus menunduk takut.
"Maaf maaf, itu aja yang bisa kamu katakan setiap melakukan kesalahan! Tapi, setelah itu pasti kamu mengulanginya lagi," ujar Alan.
"Kali ini saya janji pak, saya akan bekerja sebaik mungkin kok!" ucap Sahira.
"Yasudah, cepat kamu kirim laporan itu ke email pak Ridho! Jangan sampai salah lagi atau saya pecat kamu!" perintah Alan.
"Baik pak!" ucap Sahira patuh.
Alan pun melangkah keluar dari ruangan itu, sedangkan Sahira menghela nafas lega lalu bergegas mengirim berkas laporan tadi ke email yang tepat. Namun, ponsel gadis itu berdering dan membuat Sahira melirik sejenak menemukan nama Saka di layar ponselnya.
"Loh pak Saka?" lirih Sahira.
•
•
Disisi lain, Wati serta Cat yang tengah jalan bersama menuju tempat mereka kerja masing-masing tak sengaja melihat seorang lelaki berkumis berdiri di depan rumah Sahira dan tampak mengetuk pintu. Mereka sontak penasaran, karena baru kali ini mereka melihat lelaki tersebut ada di area kampung mereka.
Tentu saja Cat dan Wati memilih berhenti sejenak di tempat yang agak jauh dari sana, mereka terus mengamati gerak-gerik lelaki itu yang sedang mengetuk pintu sambil mengamati sekitar. Kedua gadis itu sama-sama curiga dengan tingkah si lelaki, mereka yakin ada niat tidak baik yang hendak dilakukan lelaki itu disana.
"Eh Cat, lu curiga gak sih sama tuh cowok? Udah item, kumisan, terus aneh banget lagi tingkahnya!" bisik Wati.
"Iya Wat, gue juga punya pemikiran yang sama kayak lu. Tapi walau dia jelek banget, dia itu orang kaya loh Wat. Lihat tuh mobil dia aja bagus dan luas gitu, sedangkan kita yang nyinyirin dia masih jalan kaki," ucap Cat.
"Ah lu kenapa jadi bikin gue sakit hati sih Cat? Gue kan lagi bahas tuh cowok, ayolah lu jangan bahas yang lain!" geram Wati.
"Hehe, bukan lu doang kok yang merasa tapi gue juga. Kita kan sehati Wati," ucap Cat terkekeh.
"Sehat lu? Inget lu itu udah punya Yoshi, jadi lu jangan genit-genit sama gue! Gue tahu gue cantik emang," ucap Wati.
"Dih apaan sih lu?! Gue juga masih normal kali Wati!" ujar Cat.
"Hahaha.." Wati justru tertawa kecil sembari menggaruk kepalanya.
Kemudian, pandangan mereka kembali tertuju pada sosok lelaki yang ada di depan rumah Sahira. Mereka kini melihat Fatimeh keluar dari dalam sana mengenakan pakaian yang cukup seksi, lagi-lagi mereka dibuat terkejut karena tiba-tiba Fatimeh mencium lelaki itu tanpa rasa ragu.
"Hah? Ya ampun, itu beneran tante Imeh? Kok kayak gitu sih Cat?" kaget Wati.
"Entah Wat, gue juga kaget banget lihatnya. Ini sih bukan kayak tante Imeh yang gue kenal, dia beda banget sumpah!" ucap Cat.
"Iya Cat, masa dia berani cium-cium tuh cowok berkumis sih? Terus pakaiannya juga seksi banget lagi," ucap Wati.
"Gue jadi penasaran deh, kira-kira itu siapanya tante Imeh ya Wat?" ujar Cat.
"Mana gue tahu, kan gue lagi disini sama lu. Kalau lu pengen tahu, kita maju aja ke depan terus tanya langsung sama mereka!" ucap Wati mengusulkan.
"Ish, gila lu ya?! Kalau kita maju, yang ada kita bisa digeplak sama tante Imeh! Lu mau?" ucap Cat.
"Ya enggak lah, tapi gue penasaran banget siapa laki-laki sebenarnya. Gue curiga deh, jangan-jangan selama ini tante Imeh jadi simpanan tuh laki-laki," ucap Wati.
"Hus, lu kalo ngomong dijaga dong! Masa iya tante Imeh kayak gitu?" ucap Cat.
"Ya lu lihat aja sendiri tuh sikapnya dia ke tuh cowok kayak gimana!" ucap Wati.
"Iya sih," Cat pun akhirnya setuju dengan apa yang diucapkan Wati barusan.
"Woi!" kedua gadis itu kompak terkejut saat seorang pria dari belakang mereka berteriak sambil memegang pundak mereka masing-masing.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1