
Siang ini, Saka masih terus berusaha mencari dimana adiknya berada karena dari semalam hingga kini Alan memang belum kunjung pulang ke rumah. Padahal berkali-kali sudah Saka coba menghubungi pria itu dan memintanya pulang, tetapi Alan malah menonaktifkan ponsel miliknya sehingga Saka tak tahu adiknya itu ada dimana.
Saka yang ditemani Floryn, saat ini berusaha mendatangi tempat-tempat yang biasa didatangi oleh Alan selagi bersedih. Kebetulan Floryn juga tahu tempat tersebut, sebab Alan pernah memberitahu padanya dan seringkali curhat kepada gadis itu dikala sedih. Ya betul sekali, tempat yang dimaksud adalah taman hotel yang menjadi saksi pertemuan pertama mereka kala itu.
"Flo, kamu yakin disini tempatnya? Saya kok gak yakin kalau Alan datang kesini ya?" tanya Saka pada gadis itu.
"Eee ya sebenarnya aku juga kurang yakin sih, tapi sebelumnya Alan pernah bilang kalau dia lagi ada masalah tuh dia kadang suka kesini. Kita coba cari aja dia dulu di dalam, siapa tahu dia emang ada disini!" jawab Floryn.
"Oke deh, gimana kalau kita mencar? Soalnya taman ini kan luas banget, bakal makan waktu kalau kita berdua terus kayak gini. Kamu setuju kan?" usul Saka.
Floryn mengangguk cepat, "Iya setuju, aku kesana ya? Kamu kesana aja!" ucapnya menunjuk arah.
"Okay." Saka setuju dengan arah yang ditunjuk Floryn barusan, mereka pun bergegas pergi ke arah yang berlawanan untuk menemukan Alan.
Tampak Floryn mencari ke tempat dimana biasa Alan berbincang dengannya, tetapi disana tidak terlihat ada tanda-tanda keberadaan pria itu sama sekali. Floryn pun kebingungan saat ini, ia terus menoleh ke kanan dan kiri sembari berharap dapat bertemu dengan Alan disana.
"Duh Alan, kamu dimana sih? Kamu gak tahu apa kalau aku sama kakak kamu tuh lagi pusing banget nyariin kamu?" gumam Floryn.
Drrttt drrttt...
Tiba-tiba saja, ponsel milik gadis itu berbunyi dan sontak Floryn mengambilnya dari saku celana untuk memastikan siapa yang menelpon. Dan ternyata itu adalah telpon dari Alan, tentunya Floryn meloncat girang melihatnya karena inilah yang ia tunggu-tunggu sedari tadi. Tanpa menunggu lama lagi, Floryn segera mengangkat telpon tersebut.
π"Halo Alan! Kamu lagi dimana sekarang? Kasih tahu aku dong, please jangan bikin aku khawatir! Kamu ditelpon gak bisa, dichat gak dibalas. Bikin panik aja tau!" ucap Floryn tegas.
π"Hahaha, segitunya ya kamu khawatir sama saya? Cie cie, kayaknya ada yang sayang beneran nih sama saya. Aduh Flo, tau gitu saya datengin kamu deh dari semalam! Maaf ya sayang, jangan cemas gitu dong!" ucap Alan menggoda.
Deg!
Floryn melongok seketika, ia baru sadar kalau kata-katanya barusan terlalu lebay dan membuat Alan salah paham. Floryn pun menepuk jidatnya, seharusnya ia memang tidak sepanik itu saat berbicara pada Alan tadi, terbukti sekarang Alan malah sengaja menggodanya dan membuat dirinya tersipu sendiri.
π"Hey Floryn! Kamu kenapa diam aja sayang? Ohh, pasti kamu lagi malu-malu ya, hm? Muka kamu pasti merah banget nih," goda Alan.
π"Apa sih Alan ih! Kamu bisa gak serius dikit? Kasih tau aku dimana kamu sekarang!" ujar Floryn.
π"Iya iya santai, jangan marah-marah gitu dong sayang!" ucap Alan terkekeh.
π"Udah deh jangan banyak cencong! Kasih tahu aja buruan kamu dimana Alan!" pinta Floryn.
π"Okay, aku ada di kostan Carol sekarang. Semalam aku nginep disini, soalnya aku malas banget pulang ke rumah," ucap Alan santai.
Deg!
Entah mengapa, mendengar jawaban Alan barusan justru membuat hati Floryn tersakiti. Gadis itu seolah tak terima setelah tahu kalau Alan ternyata menginap di tempat Carol semalaman, ia juga tak bisa membayangkan apa saja yang dilakukan pria itu disana bersama Carol karena mereka hanya berdua dan bisa melakukan apapun.
"Kok kamu begitu sih Alan? Bisa-bisanya kamu nginep di kostan Carol," batin Floryn.
β’
β’
Disisi lain, Alan baru menyelesaikan panggilannya bersama Floryn dan kini kembali mematikan ponselnya setelah mengirim lokasi pada gadis itu. Disaat ia hendak berbalik, tanpa diduga Carol sudah berada disana dan tengah menatapnya dengan wajah bingung.
Ya Carol heran lantaran Alan masih ada di kostnya, padahal tadinya pria itu berkata kalau dia akan pulang ke rumah sesudah makan siang. Namun, nyatanya Alan malah masih berdiri di kamarnya dan baru menyelesaikan panggilan dengan seseorang yang Carol tak tahu siapa.
"Lan, kok kamu masih disini? Katanya mau pulang, ini udah mau sore loh," tanya Carol bingung.
"Emang kenapa? Gak boleh?" balas Alan.
Carol mendadak gugup saat Alan mendekatinya dan menatap tajam ke arahnya, ia selalu teringat pada ciuman panas mereka sebelumnya yang membuat Carol harus kehilangan ciuman pertamanya di tangan lelaki itu. Terlebih saat ini Alan juga sudah menaruh tangannya di kedua bahunya, serta mendekatkan wajah padanya.
"Bu-bukan gak boleh, tapi kan tadi kamu bilangnya mau pulang sehabis makan siang. Ini kamu udah beres makan, terus kenapa belum pulang juga?" ucap Carol gugup.
__ADS_1
"Ya suka-suka saya lah, saya masih mau disini makanya saya belum pulang," ujar Alan.
"Tapi kan, kamu emang gak khawatir sama keluarga kamu yang terus-terusan cari kamu?" tanya Carol.
"Gak tuh, belum tentu juga mereka cariin aku. Lagian aku mau tunggu Floryn dulu," jawab Alan.
Carol sontak mengernyit penuh heran, "Hah Floryn? Maksud kamu gimana? Ngapain kamu nungguin Floryn disini?" tanyanya kaget.
"Karena aku tadi udah bilang ke dia kalau aku ada disini, jadinya dia mau nyusul deh," jawab Alan.
"Aduh Alan! Kamu tuh gimana sih? Kenapa kamu malah kasih tahu Floryn kalau kamu ada disini?" heran Carol.
"Loh emang kenapa sih?" tanya Alan kebingungan.
"Kamu gak mikir apa ya? Gimana kalau Floryn cemburu nanti dan tahu kamu semalam nginep di kostan aku?" ujar Carol.
"Gak perlu kamu tanya begitu, aku juga tadi udah kasih tahu kok ke dia semuanya. Dan respon dia ya kayak kaget gitu, mungkin aja dia juga cemburu seperti yang kamu bilang," ucap Alan santai.
"Ya ampun Alan, bisa-bisanya kamu nyantai gitu pas Floryn cemburu sama kamu! Sebenarnya kamu sayang gak sih sama dia?" ujar Carol.
"Apa sih kamu? Aku sayangnya sama kamu, bukan Floryn. Lagian aku dan dia gak ada hubungan apa-apa, kita cuma pura-pura kok," ucap Alan.
"Ya tapiβ"
"Ah udah cukup sayang, gausah bahas Floryn lagi! Yang pacar aku sekarang itu kamu, bukan dia!" sela Alan langsung mendekap tubuh gadisnya.
"Yaudah, sekarang kamu pulang ya? Aku gak enak sama orang tua kamu," pinta Carol.
"Iya iya, nanti aku pasti pulang kok. Aku masih pengen peluk kamu dulu, sekalian nunggu Floryn datang," ucap Alan manja.
Carol tak memiliki pilihan lain kali ini, ia mengangguk saja mengikuti perkataan Alan, meski sebenarnya ia khawatir kalau keluarga Alan akan datang ke tempatnya dan melabraknya karena dianggap sudah menyembunyikan lelaki itu. Terlebih mereka semalam memang tidur satu ranjang berdua, yang mana itu tidak seharusnya dilakukan oleh mereka.
β’
β’
Setelah mendapat kiriman lokasi dari Alan, tentunya Floryn bergegas pergi dari tempatnya berada saat ini menuju lokasi dimana Alan berada, yakni kost alias tempat tinggal Carol. Gadis itu melangkah dengan cepat, meski saat ini hatinya masih terasa sakit karena mengetahui Alan ternyata menginap di tempat gadis lain.
Baru saja Floryn hendak masuk ke mobilnya, namun tiba-tiba sebuah tangan kekar menahan tangannya dengan kuat. Ya itu adalah tangan dari Saka, pria yang merupakan kakak dari Alan dan sebelumnya datang ke hotel itu bersama Floryn. Tentu saja Saka terlihat heran, sebab Floryn tak mengatakan apa-apa jika ingin pergi.
"Kamu mau kemana, Flo? Apa kamu sudah tahu dimana Alan saat ini?" tanya Saka penasaran.
"Eee anu itu..." Floryn justru terlihat gugup saat Saka menatap tajam ke arahnya dan bertanya dengan tegas sembari mencengkeram tangannya.
"Anu itu apa? Jawab yang jujur Floryn, jangan bohongi saya!" tegur Saka.
"I-i-iya bang, ini aku mau kasih tau kok. Lepasin dulu tangan aku, sakit tau bang!" ucap Floryn.
"Iya saya lepasin, tapi kamu harus janji kalau kamu gak kabur dan kamu akan katakan ke saya dimana Alan saat ini!" pinta Saka.
Floryn mengangguk setuju, "Iya aku janji, lepasin dulu makanya!" ucapnya.
Saka menurut dan melepaskan tangan gadis itu secara ragu, karena jujur ia masih belum bisa percaya pada apa yang dikatakan Floryn tadi dan tetap terus mengawasinya. Floryn pun tampak memegangi tangannya yang memerah akibat cengkeraman pria itu, namun baru saja ia bernafas lega, Saka sudah kembali mencecarnya dan menanyakan mengenai keberadaan adiknya.
"Dimana Alan sekarang? Kamu udah bisa kasih tahu saya kan?" tanya Saka kembali.
"I-i-iya bang, ini tadi Alan shareloc ke aku. Abang bisa lihat sendiri lokasinya dimana," jawab Floryn seraya memberikan ponselnya.
Saka pun meraih ponsel itu dan melihat dimana lokasi Alan berada, "Hah? Ini tempat apa?" tanyanya keheranan.
"Itu kost temannya, dia tadi juga bilang kalau semalam dia nginep disitu," jawab Floryn.
__ADS_1
"Ohh, terus kenapa kamu tadi gak mau kasih tahu saya dan malah pengen pergi gitu aja? Apa kamu lupa dengan perjanjian kita, hm?" tanya Saka.
"Gak gitu bang, tapi aku takut aja Alan kecewa sama aku kalau tau aku kasih tau dia dimana ke abang. Soalnya Alan minta aku buat tutup mulut tadi," jelas Floryn.
"Haish, harusnya kamu gak boleh gitu dong Floryn! Itu sama aja kamu dukung dia buat kabur dari rumah, gimana sih?" geram Saka.
"Maaf bang, aku cuma bingung aja," ucap Floryn.
"Kenapa harus bingung? Kamu tinggal kasih tau ke saya, apa susahnya?" ujar Saka.
"Iya iya, yaudah sekarang kan udah aku kasih tau tuh. Mending kita langsung kesana aja, daripada abang malah marah-marah gak jelas disini!" ucap Floryn sedikit kesal.
"Ya okay, yaudah kamu naik mobil saya aja biar gampang! Nanti mobil kamu taruh disini aja, saya yakin aman kok," ucap Saka.
Kali ini Floryn menyetujui usul dari Saka, gadis itu ikut berjalan menuju mobil Saka dan masuk ke dalamnya bersama pria itu. Ya meski Floryn masih gugup dan cemas jika nantinya Alan marah saat ia datang bersama Saka, karena sebelumnya Alan meminta padanya untuk menjaga rahasia.
Tanpa basa-basi lagi, Saka bergegas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi dimana adiknya berada. Saka sudah tak tahan lagi dengan sikap sang adik yang seperti kekanak-kanakan, untuk itu tampaknya Saka begitu emosi dan tidak bisa sabar lagi.
β’
β’
Sementara itu, Sahira dan ibunya tiba di rumah baru mereka yang sebelumnya sudah disiapkan oleh sang ibu untuk mereka berpindah tempat dari yang lama. Tentu dengan alasan karena Fatimeh khawatir jika Syera dan keluarganya akan mengambil paksa Sahira darinya, sebab Fatimeh tidak mau kehilangan putri semata wayangnya itu.
Keduanya kini menghela nafas lega, meletakkan koper mereka di teras dan menghirup sedalam-dalamnya udara yang ada disana. Entah mengapa rasanya udara disana terasa lebih segar dibandingkan sebelumnya, sehingga baik Sahira maupun Fatimeh sama-sama menikmati itu. Bahkan Sahira sampai belum mau memasuki rumah barunya dan memilih menetap disana.
"Ibu ternyata pintar cari rumah, ya? Aku gak nyangka loh selera ibu sebagus ini, rumahnya juga gak kalah bagus dibanding rumah kita yang sebelumnya," ujar Sahira memuji ibunya.
"Iya dong sayang, masa iya selera gue rendahan? Rumah ini tuh udah gue siapin dari jauh-jauh hari, sebelum gue berani bilang ke Syera kalau lu itu anak dia. Makanya sekarang gue tinggal bawa lu aja kesini deh," ucap Fatimeh bangga.
"Hahaha, iya ibu hebat deh! Kalo gitu sini biar aku yang bawa kopernya ke dalam!" ucap Sahira.
"Eh gausah, nanti aja sekalian dibawanya. Kita tunggu seseorang dulu yang mau datang kesini," ucap Fatimeh mencegahnya.
"Hah? Seseorang siapa, bu? Kok ibu gak ada bilang sama aku sebelumnya?" tanya Sahira heran.
Fatimeh tersenyum saja sembari mengusap bahu putrinya, "Sabar, lu tunggu aja nanti sampai orangnya datang!" ucapnya pelan.
"Emang siapa sih bu yang datang? Aku masih penasaran deh," tanya Sahira sekali lagi.
"Udah tunggu aja, nanti juga lu bakal tau siapa tuh orangnya! Gue yakin lu pasti terkejut deh, percaya sama gue!" ucap Fatimeh.
"Ih ibu mah, bikin aku makin penasaran aja deh!" ucap Sahira cemberut.
"Hahaha..." Fatimeh tertawa puas melihat ekspresi putrinya, lalu ia pun merangkul dan memeluk tubuh sang putri serta mengecup keningnya.
Tin tin...
Tak lama kemudian, sebuah mobil yang sudah ditunggu oleh Fatimeh pun tiba di halaman rumah itu dan membuat keduanya menoleh secara bersamaan ke arah mobil. Tampak Sahira begitu penasaran dan antusias sekali saat melihat pintu mobil terbuka, matanya terus menatap kesana dan tidak ingin teralihkan.
"Bu, itu orangnya?" tanya Sahira menatap wajah ibunya dengan penasaran.
Fatimeh mengangguk saja sebagai jawaban, lalu kembali menatap ke arah mobil menantikan orang yang turun dari sana. Dan kemudian, seorang pria tampan berbaju rapih menginjakkan kakinya ke tanah dan melepas kacamata yang ia kenakan sehingga menampakkan rupa wajahnya.
Saat itu juga Sahira dibuat terkejut melihatnya, dua bola matanya terbuka lebar seolah tak percaya dengan apa yang ada di depannya. Namun, semua itu nyata dan Sahira tidak bisa menampik jika yang datang kesana adalah orang itu, meski rasanya ia tidak bisa percaya seratus persen jika orang itu datang ke tempatnya menemui dirinya saat ini.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...β€οΈ...
__ADS_1