Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 95. Hal mudah


__ADS_3

Alan menghela nafas seraya menggelengkan kepala, ia melangkah begitu saja melewati papanya untuk keluar dari rumah itu. Namun, Alfian tak membiarkannya begitu saja sebab ia masih ingin mencegah Alan agar tidak pergi dan tetap disana menunggu orang tua Nawal datang.


"Alan tunggu! Kamu jangan pergi dulu, tunggu sebentar aja sampai orang tua Nawal datang kesini! Kalau enggak, papa nanti akan cabut semua fasilitas kamu termasuk perusahaan!" ancam Alfian.


Alan terdiam, lagi-lagi ia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Papanya itu memang pintar sekali dalam urusan mengancam, sehingga ia tidak memiliki pilihan selain menurut pada keinginan papanya, meskipun Alan merasa kesal sekali karena kelakuan papanya.


"Iya iya pa, aku tetap disini dan aku gak akan kemana-mana. Papa puas kan sekarang? Kalo gitu jangan halangi jalan aku!" ucap Alan.


"Kamu mau kemana lagi? Papa kan udah bilang kamu gak boleh pergi, kenapa malah mau pergi?" ujar Alfian keheranan.


"Gak pergi kok pa, cuma pengen keluar cari angin. Sambil nunggu mama papanya Nawal datang, gapapa kan?" ucap Alan.


"Ohh, tapi beneran kan gak pergi?" tanya Alfian memastikan.


"Iya benar pa, ngapain juga aku bohongin papa? Yaudah ya aku mau ke depan dulu, permisi pa?" ucap Alan pamit.


"Okay," lirih Alfian.


Setelahnya, Alan pun pergi ke luar sesuai perkataannya tadi. Sedangkan Alfian berdiam diri pada tempatnya sembari menatap punggung putranya yang perlahan menghilang, Alfian sedikit cemas dan berpikir jika Alan bisa saja berbohong lalu pergi tanpa seizin dirinya.


"Pa!" saat Alfian hendak menyusul Alan, justru Saka muncul dan menyapanya sehingga Alfian mengurungkan niatnya.


"Iya Saka, ada apa?" tanya Alfian sambil sesekali menoleh kesana-kemari.


"Katanya orang tua Nawal pada mau kesini ya, pa? Apa prosesi lamaran Alan sama Nawal bakal berlangsung nanti pa?" ujar Saka.


Alfian terdiam beberapa saat, sedangkan Saka terlihat menanti jawaban yang hendak diberikan oleh papanya itu. Sungguh Saka sangat penasaran, ia akan merasa senang sekali jika memang adiknya itu menikah dengan Nawal, itu artinya hubungan ia dengan Sahira akan semakin mudah dan tidak ada rintangan lagi.


"Iya benar mereka akan datang malam ini, karena papa sudah mengundang mereka tadi. Tapi, belum tentu juga akan membahas lamaran. Papa masih mau melobi mereka untuk membatalkan perjodohan Nawal dengan lelaki lain," ucap Alfian.


"Oh gitu pa, yaudah aku doain aja deh semoga semuanya berjalan lancar dan Nawal gak jadi dijodohin sama laki-laki lain!" ucap Saka.


"Aamiin, sudah sana kamu susulin adik kamu tuh!" suruh Alfian.


"Buat apa pa? Aku juga ada urusan kali, ngapain aku harus susulin si Alan?" tanya Saka.


"Ya kamu cek aja ke depan, dia beneran cuma cari angin atau malah pergi. Soalnya papa gak yakin kalau dia mau nurut sama papa tadi," jawab Alfian.


"Oke pa," akhirnya Saka menurut dan melangkah ke luar untuk mengecek adiknya.


Betapa kagetnya Saka karena ternyata sang adik sudah tidak ada disana, ia pun juga tak menemukan keberadaan mobil Alan yang biasanya terparkir di depan sana. Saka yang panik langsung kembali ke dalam dan menemui papanya, ia berniat memberitahu semua itu pada sang papa.


"Pa, gawat pa!" Saka berteriak keras seraya menemui papanya di dekat sofa, sontak hal itu membuat Alfian terkejut bukan main.


"Ada apa Saka? Kenapa kamu terlihat panik begitu?" tanya Alfian penasaran.


"Gawat pa, si Alan ternyata kabur. Dia pergi bawa mobilnya," jawab Saka panik.


"Hah? Kurang ajar, kalo gitu kamu sekarang cepat kejar dia sampai dapat!" perintah Alfian.


"Baik pa!" Saka menurut saja dan pergi mencari adiknya walau entah dimana.




Sementara itu, Sahira bersama Cat serta Wati baru selesai melaksanakan shalat tarawih di masjid kampung mereka. Ketiga gadis itu berjalan bersama-sama sembari menenteng perlengkapan shalat mereka di tangan, tampak ketiganya juga terus berbincang ria dan sesekali tertawa.


Lalu, tanpa diduga sebuah mobil berhenti di dekat mereka dan membunyikan klakson kecil. Sontak mereka bertiga sama-sama berhenti melangkah, tak lama seorang pria keluar dari mobil tersebut dan menghampiri mereka. Betapa kagetnya mereka saat mengetahui yang datang adalah Alan, alias sang CEO muda di tempat kerja Sahira.


"Pak Alan?" lirih Sahira dengan mata terbelalak saat melihat pria itu mendekatinya.


"Hai Sahira! Kamu pasti habis pulang tarawih ya? Kalau saya mah gak sempat ikut shalat, soalnya ada urusan penting tadi," ujar Alan.


"Eee i-i-iya pak, lalu ada apa bapak datang kesini?" tanya Sahira gugup.


"Gak ada sih, saya cuma pengen ketemu sama kamu aja Sahira. Emang gak boleh ya kalau saya datang kesini? Jangan mentang-mentang kamu udah punya pacar, terus kamu lupain saya gitu aja dong!" ucap Alan sambil terkekeh.


"Hah? Gak gitu pak, boleh-boleh aja kok misal bapak mau datang kesini. Ya tapi pasti kan bapak ada tujuan dong datang ke tempat saya," ucap Sahira.


"Iya sih ada, saya pengen curhat sama kamu Sahira. Kamu mau kan dengerin curhatan saya?" ucap Alan.


Sahira terbelalak kaget, "Hah? Tumben banget bapak mau curhat, emang bapak lagi ada masalah apa?" ujarnya.


"Kita bicaranya di tempat yang lain ya? Gak enak kalau disini, kan ada teman-teman kamu juga," pinta Alan.


"Ah tenang aja pak Alan, kita berdua juga mau pergi kok. Ya kan Cat?" ucap Wati.


"Hehe, iya bener banget Wati. Yaudah, kita berdua pamit dulu ya pak? Sahira, sampai ketemu besok!" ucap Cat.

__ADS_1


"I-i-iya.." Sahira terlihat gugup dan terdiam saja.


Setelah Wati serta Cat pergi, kini Alan mendekati Sahira dan meraih satu tangan gadis itu. Sontak Sahira terkejut, tetapi ia tak memiliki banyak tenaga untuk bisa melepaskan genggaman tangan Alan. Selain itu, Sahira juga tidak memiliki keberanian untuk melakukannya.


"Gimana kalau kita pergi sekarang? Saya rasa ini waktu yang tepat, toh teman-teman kamu juga sudah pulang," ucap Alan.


"Iya pak, kita jalan kaki aja ya? Soalnya saya lebih suka jalan dibanding naik mobil," pinta Sahira.


"Oh gitu, yaudah gapapa kita jalan kaki. Yang penting bagi saya itu bisa curhat sama kamu Sahira, karena cuma kamu yang bisa dengerin saya," ucap Alan.


"Baik pak!" Sahira tersenyum dan reflek melepaskan diri dari genggaman Alan saat pria itu melonggarkan tangannya.


"Eh kenapa dilepas? Kamu gak suka ya kalau saya pegang tangan kamu?" tanya Alan keheranan.


"Bukan begitu pak, saya mau jaga perasaan mas Saka aja. Biar gimanapun beliau kan udah jadi kekasih saya, pasti beliau akan merasa sakit hati kalau tau saya sentuhan dengan lelaki lain," jelas Sahira.


Mendengar itu sontak membuat Alan terdiam, sakit rasanya hatinya karena Sahira secara terang-terangan mengatakan itu padanya. Entah kenapa mata Alan terlihat berkaca-kaca, padahal ia jarang sekali menangis hanya karena wanita terkecuali ibunya.




Singkat cerita, Alan dan Sahira sudah berada di dekat danau yang indah. Ya tempat ini adalah tempat favorit Sahira, ia sengaja mengajak Alan berbicara disana karena tidak tahu juga harus pergi kemana lagi. Alan pun menurut saja dan tidak banyak bicara saat tiba disana.


Mereka berdua langsung terduduk pada tempat yang sudah disediakan, terlihat Alan fokus memandang langit gelap di atas sana yang hanya dihuni oleh sebuah bulan sabit. Tak ada tanda-tanda cahaya bintang disana, seperti keadaan hati Alan saat ini yang juga kosong tanpa cahaya sedikitpun.


"Sebenarnya bapak lagi ada masalah apa? Insyaallah saya bisa bantu bapak buat menghadapi masalah bapak," tanya Sahira.


Alan tersenyum menatap wajah Sahira, "Saya ini dipaksa untuk kembali dengan mantan saya yang tidak saya cintai. Papa saya ingin saya menikah dengan dia," jawabnya.


"Maksud bapak, mbak Nawal ya?" tanya Sahira memastikan.


"Iya benar, saya diminta menikah dengan Nawal. Padahal saya sudah berulang kali bilang ke papa kalau saya ini gak cinta sama Nawal, tapi papa tetap aja kekeuh mau jodohin saya dan dia. Jujur aja saya bingung sekarang," jelas Alan.


"Eee bapak gausah bingung, bapak pertahankan aja apa yang bapak pegang! Jangan sampai bapak runtuh hanya karena paksaan orang tua, nanti yang ada bapak malah nyesel sendiri!" usul Sahira.


"Berarti saya harus melawan perkataan papa saya gitu? Saya takut kualat Sahira, biar gimanapun dia kan papa saya. Selama ini saya gak pernah bangkang, makanya saya bingung banget," ucap Alan.


"Iya pak, tapi gak ngelawan secara kasar juga. Coba aja bapak pelan-pelan kasih penjelasan ke om Alfian kalau bapak tuh gak mau dijodohin," ucap Sahira.


Alan mengangguk pelan, "Ya saya akan coba bicara begitu nanti, walau saya tidak yakin akan berhasil. Kecuali kalau saya bawa perempuan yang saya sukai buat menghadap kesana," ucapnya.


"Gimana saya mau bawa dia, kalau dia sekarang sudah jadi milik orang lain?" ucap Alan.


"Ups, kayaknya saya salah bicara deh pak. Saya minta maaf ya pak?" ucap Sahira merasa bersalah.


"Gapapa Sahira, biarlah nasib saya memang malang kok. Andai saja saya lebih cepat buat ungkapin perasaan saya sebelum keduluan orang lain, mungkin bakal beda ceritanya," ucap Alan.


"Nah itu dia pak, lain kali kalau bapak suka sama seseorang harusnya bapak tuh langsung sampein ke dia tentang rasa suka bapak itu!" ucap Sahira.


"Iya Sahira, tapi tetap aja sekarang semuanya sudah terlambat. Saya gak bisa lakukan apapun untuk dapetin dia, karena dia sudah jadi milik orang lain dan orang itu sangat dekat dengan saya," ujar Alan.


"Hah? Duh, kasihan dong bapak ditikung sama teman dekat bapak sendiri! Yang sabar ya pak!" ucap Sahira.


"Iya Sahira," singkat Alan dengan wajah sedihnya.


"Andai kamu tahu Sahira, perempuan yang saya cintai itu kamu." pria itu berbicara dalam hatinya.


Tak lama kemudian, kedatangan seorang lelaki di tempat itu pun mengacaukan perbincangan keduanya. Sontak Alan yang sedang asyik berduaan dengan Sahira pun merasa terganggu, ia menoleh dan menemukan sosok lelaki itu berdiri di belakangnya seraya memanggilnya.


"Lan, jadi ternyata lu disini?" ujar si pria yang tak lain ialah Saka, abang dari Alan.


"Mas Saka?" ya Sahira tentu kaget saat melihat keberadaan kekasihnya disana, ia khawatir Saka salah paham dan mengira dirinya tengah bermain gila di belakangnya.


"Sahira, kamu ngapain sih mau aja diajak Alan berduaan kayak gini? Kamu lupa ya kalau kamu udah punya saya?" tegur Saka.


Sahira reflek menggeleng, "Enggak mas, saya sama pak Alan cuma ngobrol berdua kok. Tadi tiba-tiba pak Alan datang dan bilang kalau dia mau curhat," ucapnya mengelak.


"Hah? Curhat apaan sih Lan? Terus ngapain lu mesti curhat sama cewek gue?" tanya Saka pada adiknya itu.


"Lo mana tau apa masalah yang gue alami, lu itu kan gak perduli sama gue. Makanya gue mau curhat sama Sahira aja," jawab Alan.


"Gak gitu bro, lu dicariin tuh sama papa. Bentar lagi orang tua Nawal datang, mending lu pulang deh temuin mereka!" ucap Saka.


"Enggak, gue gak mau pulang. Gue juga gak mau ketemu orang tua Nawal atau lanjutin perjodohan itu, gue lebih baik keluar dari rumah itu daripada harus dipaksa begini," ucap Alan.


"Lo keras kepala banget sih! Lo pengen ngelawan perintah papa?!" ujar Saka.


"Gue cuma gak suka dijadikan alat sama papa untuk memperluas usahanya, gue juga gak mau ditekan. Gue pengen hidup sendiri, meskipun itu tanpa fasilitas mewah," ucap Alan.

__ADS_1


"Yakin lu? Lu gak bakal kuat hidup sendirian di luar sana tanpa fasilitas mewah, lu itu laki-laki manja!" cibir Saka.


Alan menggeram kesal, tangannya sudah terkepal dengan tubuh gemetar menahan emosi. Sahira yang melihat itu sontak berupaya mencegah Alan untuk tidak terjadi keributan disana, tentunya Sahira tak mau kedua kakak beradik itu saling bertengkar hanya karena masalah sepele.


"Pak, sudah pak jangan berantem ya! Lebih baik pak Alan pulang sekarang, supaya gak terjadi salah paham nantinya!" ucap Sahira.


"Buat apa saya pulang? Saya kan sudah bilang, saya gak mau pulang sebelum papa saya itu membatalkan perjodohan saya dengan Nawal," ucap Alan tegas.


"Lo emang keras kepala Lan! Lo harusnya makasih sama papa, karena papa udah baik sama lu!" ucap Saka.


"Ya emang papa baik ke gue, tapi itu dulu. Sekarang papa lebih mentingin dirinya sendiri dibanding kebahagiaan gue, anaknya. Coba aja lu jadi gue, apa lu bisa tahan?" ucap Alan.


"Eee udah udah, pak Alan sama mas Saka jangan ribut ya! Gimana kalau kita ke rumah saya aja? Kita makan malam disana, biar suasananya bisa dingin dan gak terlalu tegang," ucap Sahira memberi usul.


"Boleh tuh, kebetulan saya sudah lapar. Tapi, di rumah kamu ada lauk cukup gak?" ujar Alan.


"Tenang aja, saya sudah masak kok tadi. Kayaknya mah cukup buat pak Alan sama mas Saka juga," ucap Sahira tersenyum.


"Okay, yuk kita ke rumah saya sekarang!" ajak Sahira.


Mereka bertiga akhirnya berjalan menuju rumah gadis itu, tapi tentu Saka tak membiarkan adiknya berdekatan dengan sang kekasih, ya pria itu langsung berdiri di sela-sela mereka sehingga Alan terpaksa menjauh dari Sahira.




Setelah selesai makan, Alan dan Saka berniat pulang karena kondisi juga sudah malam. Mereka merasa tidak enak pada Sahira serta Fatimeh kalau terlalu lama disana, akhirnya Sahira pun mengantar kedua lelaki itu ke depan rumahnya. Kini Alan juga sudah membaik dan tidak terlalu emosi seperti tadi, ia pun mau pulang ke rumah bersama Saka.


"Pak, gimana kondisi bapak sekarang? Sudah membaik kan?" tanya Sahira pada Alan.


Alan mengangguk sambil tersenyum, "Ya Sahira, saya sudah baikan kok. Ini saya mau pulang ke rumah dan coba bicara sama papa," jawabnya.


"Bagus deh, semoga gak ada masalah lagi ya pak!" ucap Sahira.


"Aamiin, saya juga berharap papa mau dengerin kata-kata saya buat batalkan perjodohan itu. Jujur aja saya gak mau kalau harus menikah dengan perempuan yang gak saya cintai," ucap Alan.


"Yah elah bro, dulu bukannya lu cinta mati sama si Nawal ya?" sela Saka.


"Itu dulu bang, sekarang udah enggak semenjak Nawal ketahuan main sama cowok lain," ucap Alan.


"Yaudah, terus emangnya lu mau nikah sama siapa kalau bukan sama Nawal?" tanya Saka.


"Ya sama siapa aja, asalkan cewek itu yang gue cinta dan dia bukan pengkhianat seperti Nawal," jawab Alan.


"Terserah lu deh, ayo buruan kita balik sebelum papa nyariin dan marah-marah!" ajak Saka.


Alan kembali mengangguk, mereka pun melangkah bersamaan menuju mobil dengan Sahira yang juga ikut mengantarnya. Namun, baru saja mereka hendak masuk ke mobil, sudah ada sebuah mobil lain yang berhenti di dekat mereka dan seorang perempuan cantik turun dari mobil tersebut.


"Siapa tuh yang datang ke rumah kamu sayang?" tanya Saka pada gadisnya.


Sahira hanya bisa menggeleng bingung, karena ia pun juga tak mengenal siapa wanita tersebut. Tapi kemudian saat wanita itu menoleh, mereka bertiga kompak menganga dan mengenali siapa yang ada di hadapan mereka saat ini. Ya dia adalah Nawal, sang gadis yang dijodohkan dengan Alan.


"Ternyata benar kan kamu kesini, pantas aja aku cari kemana-mana gak ada. Ngapain sih kamu disini sayang? Kamu lupa ya kalau orang tua aku mau datang ke rumah kamu?" ujar Nawal.


"Nawal, gimana caranya kamu bisa kesini? Perasaan aku gak pernah kasih tau ke kamu dimana alamat rumah Sahira," tanya Alan keheranan.


"Itu hal mudah buat aku, Alan. Aku bisa tahu dimana rumah Sahira, karena aku kan punya banyak kenalan," jawab Nawal santai.


"Terus mau apa kamu kesini? Jangan kira aku mau ikut sama kamu ya Nawal, karena aku gak akan pernah mau menikah dengan perempuan pengkhianat seperti kamu!" ujar Alan.


"Kamu kok bicaranya begitu sih Alan? Aku sakit tau dengarnya," ucap Nawal cemberut.


"Bro, udah lah lu jangan terlalu kasar sama si Nawal! Kasihan dia tuh jadi sedih gitu, mending kita pulang bareng aja!" ucap Saka menyela.


"Lu gak perlu kasihan sama dia bang, dia itu pandai drama dan kesedihan dia itu gak nyata!" ucap Alan.


"Kamu jahat banget sih Alan! Aku gak pura-pura tau, aku emang sedih beneran. Kalau kamu gak percaya, nih lihat aja aku keluar air mata kan!" ucap Nawal mulai menangis.


Alan yang tak percaya hanya memutar bola matanya dan menghela nafas, ia tak perduli sama sekali dengan kesedihan yang dibuat-buat oleh Nawal. Sedangkan Saka serta Sahira hanya diam membiarkan Alan dan Nawal menyelesaikan masalah mereka berdua.


"Kamu kenapa diam aja sih Alan? Kamu gak perduli ya sama aku? Tega banget sih kamu!" ucap Nawal.


"Aku gak perduli, sudahlah aku mau pulang!" ucap Alan ketus.


Disaat Alan hendak masuk ke mobil, Nawal reflek mencekal lengan pria itu dan menahannya agar tidak pergi lebih dulu. Sontak Alan mulai terpancing emosi, tapi ia berusaha tenang karena tidak ingin melukai seorang perempuan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2