
Sesudah mengobrol dan membeli bunga dari Wati, kini Ari telah sampai di depan halaman kantor tempat Keira bekerja. Sebagai kekasih, Ari tentu berniat menjemput Keira pulang kerja sembari memberikan bunga yang tadi ia beli dari Wati. Ia berharap Keira menyukai pemberiannya itu.
Tak lama kemudian, benar saja Keira muncul dari dalam kantor dengan senyuman di wajahnya. Ari yang melihat itu sontak terpesona, ia akui memang Keira sangat cantik dan manis sehingga berhasil membuatnya terpikat. Bahkan, dahulu alasan Ari memacari Keira adalah karena kecantikannya itu.
"Halo sayang, selamat sore! Aku senang banget bisa ketemu kamu lagi Keira manis," ucap Ari menyapa gadisnya sambil tersenyum.
"Ya sayang, aku juga senang kok ketemu kamu. Makasih ya udah mau jemput aku disini, jadi ngerepotin kamu deh sayang. Padahal kamu ada urusan lain kan?" ucap Keira.
"Gapapa kok cantik, sesibuk apapun aku tetap kamu yang nomor satu buatku sayang," ucap Ari.
Keira pun tersipu mendengarnya, Ari ini memang pandai berkata-kata dan membuat wanita yang mendengarnya merasa tergoda. Seperti contohnya Keira yang berhasil terjerat dalam godaan Ari, sehingga Keira kini menjadi kekasih dari pria itu dan amat sangat mencintainya.
"Ah kamu mah gombal terus, ayo kita pulang sekarang aja! Kamu tahu gak sih? Tadi tuh seharian di kantor aku capek banget, aku udah gak sabar pengen rebahan di rumah," ucap Keira.
"Oh capek ya sayang? Sabar deh, nanti begitu kita nikah kamu pasti gak bakal capek kerja lagi. Yuk aku antar kamu pulang, nanti aku pijitin di rumah ya?!" ucap Ari.
"Kamu beneran mau mijitin aku atau cuma mau modus nih? Ingat loh Ari sayang, kita udah dipesan sama orang tua kita buat jangan macam-macam!" ucap Keira mengingatkan kekasihnya itu.
"Aku ingat dong sayang, masa pesan orang tua sendiri aku lupain? Aku beneran cuma mau pijit kamu biar gak pegal lagi," ucap Ari.
"Yaudah, boleh deh." Keira setuju pada ucapan Ari.
Ari pun tersenyum, kemudian merangkul pundak gadisnya dan melangkah menuju mobil. Ia membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya dan duduk bersebelahan. Tak lupa Ari membantu memasangkan seat belt di tubuh gadisnya, Keira hanya diam sebab ia sangat senang jika Ari memberi perhatian lebih padanya.
"Kamu kalau dilihat dari jarak dekat kayak gini, kok nambah cantik ya?" ucap Ari merayu.
"Duh, kamu tuh kenapa demen banget gombal sih? Ayo ah fokus aja nyetirnya!" ucap Keira.
"Gimana mau fokus? Di sebelah aku ada bidadari dari khayangan," ujar Ari.
Keira yang tersipu langsung mencubit pinggang Ari sampai pria itu mengaduh sembari mengusap pinggangnya, Keira hanya tertawa melihat reaksi Ari dan menyukuri apa yang dialami Ari sebab pria itu terlalu banyak memberikan gombalannya. Ari pun hanya ikhlas menerima cubitan dari gadisnya.
"Kamu tuh kalo kesel pasti gak jauh-jauh dari yang namanya cubit, kenapa gak cium aja gitu? Kan lebih asyik tuh gak sakit juga," ujar Ari.
"Yeh itu mah maunya kamu, aku gak bakal turutin yang ada kamu malah keenakan nanti," ucap Keira.
"Ya siapa yang gak keenakan kalau dicium bidadari? Omong-omong bunganya indah kan sayang?" ucap Ari mengalihkan topik.
"Iya cantik, ini kamu beli dimana?" tanya Keira.
"Ohh, itu tadi aku ketemu sama penjual bunga gak sengaja. Karena aku keinget sama kamu, yaudah deh aku beli tuh bunganya," jawab Ari.
"Aw romantis banget sih kamu sayang!" Keira terpesona dan menempelkan kepalanya pada bahu sang kekasih.
Ari hampir tidak fokus menyetir, bahkan burung perkasanya langsung mengeras saat ini.
•
•
Disisi lain, Sahira baru selesai mendengarkan curhatan dari Alan di taman dekat kantor. Sebelumnya Alan memang mengajak Sahira ke luar untuk sekedar mengobrol, kebetulan Alan sedang ada masalah dan dia tidak punya tempat untuk curhat sebab abangnya selalu jutek padanya.
"Jadi begitu ceritanya pak? Pantas aja bapak sempat berubah sikap tadi ke saya, ternyata bapak lagi ada masalah berat. Yang sabar ya pak, saya emang gak tahu gimana rasanya, tapi saya rasa bapak pasti kuat kok!" ucap Sahira.
__ADS_1
"Makasih Sahira, saya gak tahu lagi harus cerita ke siapa tentang ini selain kamu," ucap Alan.
"Gak masalah pak, saya kan sekretaris bapak. Kalau bapak mau cerita-cerita lagi juga boleh aja kok, saya malah senang dengarnya," ucap Sahira.
"Maksudnya apa? Kamu senang dengar saya punya masalah gitu?" tanya Alan.
"Eh eh, gak gitu pak. Saya tuh cuma, eee apa ya.." Sahira malah bingung sendiri menjelaskannya.
"Ya saya paham, saya juga senang kok cerita sama kamu. Bisa dibilang kamu itu pendengar yang baik Sahira, pantas saja banyak yang suka sama kamu," ucap Alan sambil tersenyum.
"Hah? Emangnya siapa yang suka sama saya pak? Saya aja masih jomblo sampai sekarang, malah belum pernah ngerasain pacaran," ucap Sahira.
"Halah kamu gausah pura-pura gitu Sahira, saya yakin kamu tahu banyak pria yang suka sama kamu. Soal status kamu, mungkin itu ya karena kamu sendiri yang gak mau pacaran," ucap Alan.
"Iya sih, saya emang mau fokus ke karir saya aja dulu sama bahagiain ibu saya sekarang," ucap Sahira.
"Kamu memang anak yang berbakti Sahira, saya yakin ibu kamu pasti beruntung punya anak seperti kamu!" ucap Alan.
Sahira menundukkan kepalanya sedikit tersipu sekaligus menutupi senyumnya, Alan yang sangat ingin melihat senyuman gadis itu sampai harus membungkuk sebab ia sangat menyukai senyum manis yang terpancar di wajah Sahira. Bisa dibilang senyum Sahira adalah yang termanis menurutnya.
"Kenapa kamu malah nunduk sih? Saya tuh suka lihat perempuan senyum, jadi mending dinaikin aja kepala kamu!" pinta Alan.
Sahira menggeleng pelan, "Enggak ah pak, saya malu kalau dilihatin, apalagi sama bapak. Jadi, mending saya nunduk aja biar gak malu di depan bapak," ucapnya.
"Buat apa malu? Senyum kamu manis kok, saya akui jadi yang termanis yang pernah saya lihat," puji Alan.
"Bapak gausah lebay deh, saya yakin senyum mantan bapak lebih manis dari saya," ucap Sahira.
"Oh begitu, saya minta maaf ya pak?" ucap Sahira.
"It's okay, tapi lain kali jangan begitu lagi ya!" ujar Alan.
"Baik pak!" Sahira mengangguk patuh.
"Kalo gitu ayo kita pulang! Biar saya yang antar kamu sampai ke rumah," ajak Alan.
"Tapi pak—"
"Gak ada penolakan, Sahira Anastasia Putri!" sela Alan dengan tegas.
Akhirnya Sahira tak ada pilihan lain, ia pun terpaksa menerima ajakan Alan meski ia sebenarnya tidak ingin terus-terusan merepotkan Alan.
Lalu, keduanya kini sama-sama bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke arah parkiran kantor. Alan dengan beraninya menggandeng tangan Sahira, saat gadis itu hendak protes lebih dulu Alan membungkam mulutnya dengan tangan.
•
•
Sementara itu, seperti biasa Cat pulang paling akhir dari toko roti dan menutup toko tersebut sambil menguncinya. Disaat ia hendak pergi, tanpa sengaja Cat melihat Yoshi yang masih berada di sekitaran toko dan tengah melamun sambil bersandar pada dinding toko yang tak jauh dari tempatnya berada.
Cat pun menghampiri Yoshi karena penasaran, ia menegur pria itu hingga tersadar dari lamunannya. Yoshi langsung berdiri tegak dan mengucek matanya yang terasa berair, melihat itu membuat Cat merasa bingung. Tidak biasanya Yoshi menangis seperti itu jika tak ada masalah yang jelas.
"Lo kenapa nangis Yos? Lagi ada masalah ya sampai lu bisa nangis kayak gitu?" tanya Cat.
__ADS_1
"Eh Cat, enggak kok gue gak ada masalah. Lu kenapa belum pulang?" elak Yoshi.
"Gue baru mau pulang nih, lu sendiri kenapa masih berdiri disini? Gue kira lu udah pulang loh," ujar Cat.
"Belum Cat, gue tadi niatnya mau nungguin lu. Soalnya ada yang pengen gue bicarain sama lu disini," ucap Yoshi.
"Ohh, soal apa?" tanya Cat penasaran.
"Gue abis ditolak sama Sahira, Cat. Makanya sampai sekarang gue masih sedih dan belum bisa terima semua itu," jawab Yoshi.
"Apa??" Cat terkejut bukan main, ia menganga tak percaya mendengar jawaban pria itu.
"Lo serius kan Yos? Lo gak lagi bercanda atau bohongin gue?" tanya Cat memastikan.
"Iyalah Cat, buat apa gue bohong coba? Emang gue abis ditolak sama Sahira semalam, dia gak mau jadi pacar gue Cat," jawab Yoshi tegas.
"Kok bisa sih? Emangnya apa alasan si Sahira tolak lu Yos? Dia gak cinta sama lu?" tanya Cat.
"Pastinya begitu, cuma semalam dia bilang kalau dia itu gak mau pacaran. Dia pengen fokus ke karir dan pekerjaan baru dia itu," jawab Yoshi.
"Ah itu mah alasan doang pasti, gue yakin dia tolak lu karena dia gak suka sama lu!" ucap Cat.
"Iya Cat, gue juga tahu. Apalah gue ini Cat? Gue cuma seorang karyawan toko, mana mungkin Sahira bisa suka sama gue?" ucap Yoshi.
Cat mendekat dan menaruh tangannya di pundak Yoshi, "Lu yang sabar aja Yos! Gue bakal selalu ada buat hibur lu kok, tenang ya!" ucapnya.
"Thanks!" ucap Yoshi lirih.
"Sama-sama, udah yuk kita balik aja! Atau lu mau mampir dulu ke warung buat makan? Gue yakin lu pasti belum makan kan?" ujar Cat.
Yoshi menggeleng, "Gue gak selera makan, Cat. Di pikiran gue sekarang cuma ada Sahira, gue beneran masih gak nyangka kalau gue bakal ditolak sama dia," ucapnya.
"Yos, ditolak bukan berarti hidup lu berakhir. Kan masih banyak cewe di luaran sana," ucap Cat.
"Ya emang banyak, tapi yang mau sama gue mana ada? Gue ini cowok kampungan, jelek lagi!" ucap Yoshi merendah.
"Gak boleh gitu, ada kok yang suka sama lu tanpa memandang lu siapa dan kayak gimana," ucap Cat.
"Siapa? Coba lu sebutin ke gue, satu aja orangnya! Siapa tahu gue bisa lebih semangat," ucap Yoshi.
Cat justru terdiam dan memalingkan wajahnya, ia belum siap untuk mengaku kalau selama ini ia menyukai pria itu. Namun, setidaknya kini ia kembali memiliki harapan untuk bisa memiliki Yoshi dan bersama dengan pria itu setelah Sahira menolaknya.
"Tuh kan diam, berarti emang gak ada. Dah lah hidup gue tuh menyedihkan banget!" ucap Yoshi.
"Gak boleh gitu Yos, lu itu—"
"Ehem ehem.." deheman seorang pria dari kejauhan membuat ucapan Cat terhenti, mereka pun menoleh ke asal suara dan menemukan seseorang berdiri disana sambil tersenyum lebar.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...KALAU MAU VOTE/GIFT JUGA BOLEH😀...
__ADS_1