
Fatimeh emosi dan bangkit dari duduknya, ia berniat pergi meninggalkan Saka karena sudah malas berbincang dengan pria itu lagi. Tapi tentu Saka tak membiarkan Fatimeh pergi lebih dulu, ia ikut bangkit menahan wanita itu dan memintanya tetap disana sebentar.
"Tunggu dulu tante, tolong tante jangan kemana-mana dulu!" pinta Saka.
"Lo mau apa lagi sih, ha? Gak cukup yang gue bilang tadi? Gue bukan perempuan malam seperti yang lu sangka, jadi stop bilang gue main sama om-om!" tegas Fatimeh.
"Iya tante, saya minta maaf deh karena sudah tuduh tante. Kalau emang itu bukan tante, okay saya berarti salah lihat," ucap Saka.
"Yaudah, lepasin gue dong!" ucap Fatimeh.
"Sebentar aja tante, saya mau bicara sama tante. Saya masih ada sesuatu yang mau saya tunjukkan ke tante," ucap Saka.
Fatimeh mengusap wajahnya dan berkata, "Lo mau tunjukin apa lagi Saka? Gue lama-lama malas deh bicara sama lu, dasar aneh."
"Ini serius tante, tolong duduk dulu biar saya bisa kasih lihat sesuatu yang saya punya!" ucap Saka.
Fatimeh menghela nafasnya, ia pun menurut dan duduk kembali di bangku bersama Saka. Ia menatap wajah pria itu seolah meminta dan bertanya apa yang akan ditunjukkan oleh lelaki itu.
"Mana lu mau tunjukin apa?" tanya Fatimeh.
Saka tersenyum tipis, lalu mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Saka pun menunjukkan sebuah foto yang ia ambil semalam saat berada di bar kepada Fatimeh, seketika wanita itu terkejut dan tak menyangka bahwa Saka memiliki foto dirinya yang tengah bersama seorang pria tua.
"Gimana tante? Ini benar tante kan? Saya gak sengaja semalam lihat tante disana, jadi langsung saya foto aja buat jadi bukti," ujar Saka.
Fatimeh pun menatap tajam ke arah Saka, ia emosi dan geram sebab Saka seolah-olah hendak menjatuhkannya. Ia juga bingung harus bagaimana saat ini menghadapi pria itu.
"Lo ternyata keterlaluan juga ya? Berani banget lu fotoin gue diam-diam, gue bisa laporin lu ke polisi loh kalo gue mau," ucap Fatimeh.
"Hahaha, kok tante marah sih? Saya kan cuma mau mastiin aja ke tante, sedang apa tante di bar itu semalam?" ucap Saka.
"Gue ada urusan, dan lu gak perlu tau apa urusan gue disana semalam. Udah deh mending lu hapus tuh foto gue dan jangan sampai lu sebar itu ke siapa-siapa, apalagi Sahira! Kalau sampai dia tahu, abis lu sama gue!" ancam Fatimeh.
"Tenang aja tante, rahasia tante aman kok sama saya. Asalkan tante juga mau bantu saya, biar kita sama-sama menguntungkan," ucap Saka.
"Maksud lu apa? Emang lu mau minta bantuan apa dari gue?" tanya Fatimeh.
Saka tersenyum sembari menggaruk dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu jenggot halus, lalu ia pun memasukkan semula ponselnya ke saku celana dan menatap Fatimeh dengan serius. Ia memang sudah lama memikirkan ini, dimana ia bisa meminta bantuan dari Fatimeh untuk mendekati Sahira yang merupakan anaknya.
"Mudah aja tante, saya cuma mau tante bantu bujuk Sahira supaya mau dekat dengan saya. Kali ini saya jujur ke tante, saya suka sama Sahira anak tante itu. Bisa kan tante bantu saya?" ucap Saka.
"Ohh, yah elah itu mah gampang kali. Gue bisa bikin Sahira suka sama lu juga, tapi sekarang gue mau lu hapus tuh foto dari hp lu!" ucap Fatimeh.
"Santai aja tante, saya akan hapus foto ini setelah saya bisa mendapatkan Sahira. Lakukan saja tugas tante itu dengan baik!" ucap Saka sambil tersenyum.
Fatimeh terdiam seraya menghela nafasnya, ia menyesal sudah mengenal Saka sebelumnya.
•
•
Disisi lain, Sahira terengah-engah sembari memegangi dahinya setelah keluar dari lift bersama Alan. Gadis itu lagi-lagi harus melawan rasa traumanya yang sulit sekali untuk dihilangkan itu, untungnya ia tidak sendiri sebab ada Alan yang menemaninya saat di dalam lift.
Kini Alan pun juga mengantar Sahira menuju ruang pribadinya, namun sebelum itu Alan sempat bertanya sejenak pada Sahira mengenai kondisinya yang terlihat kurang sehat. Alan khawatir saat melihat Sahira begitu panik dan wajahnya sedikit pucat, ia pun menghentikan langkahnya disana.
"Eh Sahira, kamu gapapa? Kamu kok kelihatan pucat kayak gitu? Apa kamu sakit gara-gara naik lift tadi?" tanya Alan cemas.
"Gak kok pak, saya kayaknya cuma masih gugup aja karena trauma itu," jawab Sahira.
__ADS_1
"Yasudah, kamu istirahat aja dulu ya? Jangan dipaksa kerja kalau kondisi kamu belum memungkinkan!" ucap Alan.
"Saya gapapa pak, saya kuat kok. Yaudah ya saya permisi dulu pak, makasih udah anterin saya sampai sini pak," ucap Sahira.
Alan tersenyum sembari mencubit gemas pipi sekretarisnya, "Sama-sama Sahira, udah seharusnya memang saya antar kamu," ucapnya.
"Pak, bapak apa-apaan sih? Tolong jangan sentuh saya kayak gini ya!" ucap Sahira panik.
"Kamu kenapa cemas gitu Sahira? Kamu takut ada yang lihat dan mikir yang enggak-enggak tentang kita? Biarin aja sih, emang kamu gak mau punya hubungan spesial sama saya?" ucap Alan.
Sahira tersentak dan matanya membulat seketika mendengar ucapan Alan, "Maksud bapak apa ya?" tanyanya keheranan.
"Hahaha, gapapa kok Sahira saya tadi cuma bercanda aja. Yuk kita masuk ke dalam biar kamu bisa langsung kerja!" ucap Alan.
"Lah kok kita sih pak? Saya aja kali, ini kan ruangan saya bukan ruangan bapak. Kalau ruangan bapak itu masih di atas lagi," ucap Sahira.
"Saya maunya disini sama kamu," ucap Alan.
"Bapak ini kenapa sih? Serius deh saya bingung harus bicara gimana sama bapak, abisnya bapak aneh banget hari ini," heran Sahira.
"Ya saya begini gara-gara kamu, suruh siapa kamu cantiknya kelewatan?" goda Alan.
"Pak, saya disini mau kerja. Ayolah bapak jangan gombalin saya terus kayak gitu!" pinta Sahira.
"Loh siapa yang gombal? Saya bicara sesuai fakta Sahira, kamu memang cantik banget tau dan saya gak bisa fokus ke lain hal gara-gara kecantikan kamu," ucap Alan.
Sahira menghela nafas serta memalingkan wajahnya dari sang bos, ia sungguh bingung bagaimana cara untuk menghadapi Alan saat ini. Bisa saja ia langsung masuk ke dalam ruangannya dan mengunci pintu, tapi pastinya Alan tidak akan semudah itu membiarkannya pergi dari sana.
"Kamu kenapa diam aja? Ayo masuk sebelum ada orang lain yang lihat! Katanya kamu gak mau jadi bahan omongan orang-orang disini," ujar Alan.
"Saya gak mau kalau sama bapak, saya—"
•
•
Wati tengah berjualan bunga di jalan sekitar lampu merah, ia mencoba menawarkan kepada para pengguna jalan disana yang sedang terjebak oleh lampu merah. Namun, tak ada satupun kaca mobil yang terbuka dan mau membeli dagangannya. Wati pun terlihat kecewa dan langsung menunduk lesu.
"Huft, susah amat sih jualan kayak gini. Apa gue ganti dagangan kali ya?" keluh Wati.
Tak lama kemudian, seseorang justru meneriakinya dan memanggil namanya. Sontak Wati menoleh untuk memastikan siapa yang memanggilnya tersebut, dan disana lah Wati menemukan sosok Ari yang sebelumnya pernah tak sengaja ia temui saat berada di sebuah halte.
Ari pun meminta Wati mendekatinya, Wati yang berharap Ari akan membeli dagangannya akhirnya menurut saja dan melangkah ke dekat mobil pria tersebut. Wati sangat senang sebab ia yakin Ari mau membeli bunga darinya walau hanya satu biji, tak seperti Saka yang mau memborong semuanya.
"Iya mas Ari, ada apa? Eh tapi maaf sebelumnya, bener kan ya masnya ini namanya Ari? Soalnya saya takut salah," ucap Wati.
"Bener kok, kamu Mira kan yang waktu itu saya temuin di halte?" tebak Ari.
Wati mengangguk sambil tersenyum, "Iya mas, saya Mira si penjual bunga. Lalu kenapa kamu panggil saya?" ucapnya.
"Gapapa, saya tadi lihat kamu lagi jualan di depan. Terus saya kayak gak asing gitu sama kamu, makanya saya panggil aja buat mastiin," ujar Ari.
"Ohh kirain ada apa, kalo gitu saya mau balik jualan dulu ya mas?" pamit Wati.
"Tunggu dulu Mira, kamu masuk gih ke mobil saya dan ikut sama saya!" suruh Ari.
"Buat apa mas? Saya lagi kerja, saya gak mau pergi kemana-mana," ucap Wati.
__ADS_1
"Udah kamu masuk aja ke mobil saya dulu, nanti kamu juga tahu saya mau bawa kamu kemana! Yuk cepat sebelum lampunya jadi hijau!" ajak Ari.
"I-i-iya deh mas," ucap Wati menurut.
Akhirnya Wati mau masuk ke dalam mobil Ari dan membawa dagangannya, ia duduk di samping Ari berada dengan sangat gugup sekaligus bingung kemana pria itu hendak membawanya. Sebetulnya khawatir kalau Ari akan berbuat yang tidak-tidak padanya, apalagi ia dan pria itu baru kenal dan bertemu dua kali. Namun, Wati berusaha menampik semua pikiran itu karena ia yakin Ari bukanlah orang yang jahat.
"Kamu kenapa diam aja sih? Kamu takut sama saya atau gimana? Tenang aja, saya gak ada niat buat jahatin kamu kok. Saya ini ajak kamu ke mobil saya biar kamu gak capek-capek jalan kaki," ucap Ari.
"Eee iya saya percaya kok sama kamu, tapi saya cuma bingung aja kamu mau bawa saya kemana. Saya kan lagi jualan, terus kamu malah suruh saya naik ke mobil dan bawa saya pergi tanpa kasih tau kita mau kemana," ujar Wati.
"Kamu gak perlu cemas, saya akan bantu kamu jualin semua bunga kamu itu. Daripada kamu jalan kaki kan, enakan juga naik mobil," ucap Ari.
"Gimana caranya kamu mau bantu saya? Apa kamu pengen ikut jualan gitu?" tanya Wati.
"Ya istilahnya begitu lah, tapi tetap kamu yang murni menjual bunga-bunga itu. Sudah ya nanti kamu lihat aja apa yang mau saya lakukan untuk bantu kamu," ucap Ari.
Wati pun terdiam, jujur ia sangat penasaran dengan apa yang dikatakan Ari dan kemana pria itu akan membawanya sekarang.
•
•
Sahira masih tampak canggung saat berada di ruang pribadinya bersama Alan, apalagi mereka duduk berhadapan dan lelaki itu bisa menatapnya secara langsung tanpa ada halangan. Sahira pun dibuat gugup dan kesulitan untuk bisa mulai bekerja dengan adanya Alan disana.
Sedangkan Alan hanya terdiam menatap wajah Sahira sambil tersenyum dan menopang dagunya dengan sebelah tangan, satu jarinya juga mengetuk-ngetuk meja menikmati pemandangan indah yang ada di hadapannya. Alan sungguh merasa senang sebab ia bisa melihat kecantikan Sahira secara terus-menerus.
"Kamu itu cantik sekali Sahira, pasti nanti pria yang bisa memiliki kamu beruntung banget. Apalagi bisa nikahin kamu," ucap Alan.
"Bapak ngomong apa sih? Saya belum mau nikah, saya masih pengen serius sama karir saya dulu. Kalaupun ada yang mau lamar saya nanti, ya pasti saya tolak dulu," ucap Sahira.
"Kalau saya yang lamar kamu gimana?" tanya Alan.
Sahira langsung melongok dan terkejut bukan main mendengar pertanyaan Alan, jelas sekali ia tak menyangka jika Alan bisa berkata seperti itu padanya. Sedangkan Alan justru terkekeh kecil melihat ekspresi kaget Sahira saat ini, pria itu maju mendekat dan meraih satu tangan Sahira.
"Hahaha, kamu kok kaget banget kayak gitu sih Sahira? Kamu gak mau emangnya dilamar sama saya? Saya ini bos loh, kalau kamu nikah sama saya nanti banyak keuntungan buat kamu," ujar Alan.
"Bapak bicara apa sih? Mana mungkin bapak mau sama saya?" ucap Sahira.
"Loh kenapa gak mau? Kamu cantik kok, terus kamu juga bikin saya kagum," ucap Alan.
"Apa yang bapak kagumi dari saya? Perasaan saya cuma perempuan biasa, kalau dibandingkan sama mantan bapak mah saya jauh banget kali. Masa selera bapak turun?" ucap Sahira.
"Kata siapa kamu jauh dibanding Nawal? Kamu justru lebih dari segalanya daripada dia, kamu itu udah cantik, pintar terus lucu lagi. Saya makanya sampai gak bisa lepas dari kamu, saya selalu pengen dekat sama kamu," ucap Alan.
Wajah Sahira merona seketika mendengar ucapan Alan disertai cubitan pada pipinya, gadis itu menunduk bermaksud menutupi rasa malunya.
"Hey, jangan nunduk!" perintah Alan sembari menarik dagu Sahira agar menatap ke arahnya.
"Pak, tolong jangan pegang-pegang saya seenaknya ya! Saya juga punya hak untuk larang bapak, karena saya gak suka bapak kayak gitu. Tolong bapak hargai saya!" sentak Sahira sambil menyingkirkan tangan Alan dari dagunya.
Alan sedikit kaget dengan ucapan Sahira barusan, tak biasanya gadis itu berani berbicara tegas seperti itu padanya. Namun, Alan merasa wajar sebab ia memang sudah keterlaluan dan bertindak seenaknya pada Sahira. Alan pun tersenyum saja lalu bersandar pada kursi yang ia duduki.
"Santai Sahira, kamu gausah marah-marah begitu. Saya minta maaf karena sudah bertindak lancang ke kamu tadi ya?" ucap Alan.
Sahira hanya diam seolah emosi pada bosnya itu, tiba-tiba saja pintu dibuka dari luar dan seseorang berdehem mengagetkan keduanya. Sahira reflek menoleh ke asal suara, begitu juga dengan Alan yang penasaran siapa perempuan yang berdehem dan masuk kesana begitu saja.
"Ehem ehem.." keduanya kompak menoleh dan menemukan Nawal berdiri di dekat pintu dengan kedua tangan terlipat.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...