
Bruuukkk
"Awhh akh!" ringis Sahira memegangi pinggulnya yang terbentur lantai.
"Sahira?" kaget Saka dan Alan.
Kedua lelaki itu kompak mendatangi Sahira untuk menanyakan kondisi gadis itu, bahkan Saka tampak sangat khawatir pada Sahira sebab ia yang sudah mendorong Sahira sebelumnya. Alan pun juga sama cemasnya, ia tak mau terjadi sesuatu pada Sahira, meskipun tadi ia sempat merendahkan gadis itu.
"Sahira, kamu gapapa? Maafin saya ya, tadi saya benar-benar gak sengaja!" ucap Saka cemas.
"Halah bang bang, lu udah dorong Sahira sampai dia jatuh kayak gini malah seenaknya aja bilang maaf ke dia! Lu gak lihat tuh Sahira kesakitan? Gak punya perasaan banget sih lu!" tegur Alan.
"Lo diem aja deh Lan! Ini semua gak akan terjadi, kalau lu gak mancing emosi gue!" sentak Saka.
"Kok jadi gue sih bang? Jelas-jelas lu sendiri yang dorong Sahira, makanya jangan emosian jadi orang bang!" ucap Alan.
"Berisik lu! Mending lu pergi sana, gue kalo ngeliat lu tuh bawaannya emosi terus!" ujar Saka.
Alan hanya menggeleng pelan seolah tidak mendengarkan perkataan abangnya, ia malah mendekati Sahira lalu mengulurkan tangannya ke arah gadis itu. Saka yang melihatnya pun sedikit menggeram menahan emosi, ia tak suka jika Alan berpura-pura perduli pada Sahira.
"Sahira, yuk biar saya bawa kamu ke klinik! Mungkin kamu ada yang luka salah satu bagian tubuhnya," usul Alan.
"Gausah pak, saya gapapa kok. Saya mau balik kerja aja ke ruangan saya, bapak sama pak Saka tolong jangan berantem lagi ya!" ucap Sahira.
"Saya sebenarnya gak mau berantem sama dia kok, tapi dia aja yang duluan ngajak saya ribut," ucap Alan.
"Heh! Lu jangan manipulatif deh jadi orang, jelas-jelas lu duluan tadi yang mulai dan bikin gue kesel!" ujar Saka.
"Udah udah pak, jangan pada berantem dong!" pinta Sahira menengahi keduanya.
Saka pun menahan diri sesuai permintaan Sahira, ia tidak ingin melukai Sahira lagi nantinya jika memaksa untuk berkelahi dengan Alan. Ia membantu Sahira berdiri dan membuat Alan menatap kesal ke arahnya.
"Yuk saya antar ke ruangan kamu!" ucap Saka pada wanita itu.
__ADS_1
Sahira menggeleng, "Gausah pak, saya bisa sendiri. Mending bapak perbaiki aja hubungan bapak sama pak Alan," ucapnya.
"Jangan Sahira! Kamu kayaknya masih sakit, saya antar aja ya?" paksa Saka.
"Heh! Sahira udah bilang gak mau, masih aja lu maksa dia dah!" tegur Alan.
"Berisik banget sih lu! Gue lagi bicara sama Sahira, jadi lu jangan ikut campur!" sentak Saka.
"Jelas gue harus ikut campur, Sahira karyawan gue dan dia kerja buat gue. Seharusnya lu yang gak boleh ikut campur ke dalam urusan gue sama Sahira!" balas Alan.
"Eh udah udah, kenapa kalian pada ribut terus sih? Sebagai sesama saudara, kalian itu harusnya saling menyayangi bukan malah ribut!" sela Sahira.
Saka dan Alan sama-sama terdiam, kedua pria itu masih saja memendam emosi di dalam diri masing-masing. Namun, mereka tak mau membuat Sahira pusing jika terus berkelahi disana. Alan akhirnya meraih satu tangan Sahira dan mengajak gadis itu untuk segera pergi.
"Yuk Sahira, kita ke ruangan kamu!" ajak Alan.
"Hey, gausah pake gandengan tangan segala kali! Udah kayak mau nyebrang aja, lagian belum tentu Sahira mau pergi sama lu!" ujar Saka.
"Udah Sahira, omongan dia gausah diperduliin! Kamu ikut aja sama saya!" ucap Alan pada Sahira.
•
•
Saka yang telah ditinggal pergi oleh Alan dan Sahira, berniat kembali ke kantornya karena sudah lama ia meninggalkan tempat itu. Ya Saka memang memiliki perusahaan sendiri yang harus ia urus, itu sebabnya ia menyerahkan bisnis keluarga kepada Alan untuk dikelola.
Namun, Saka justru tak sengaja melihat Nawal yang tengah berdiri sendirian di depan kantor. Saka sontak penasaran lalu berpikir apa yang terjadi pada Nawal sampai terlihat cukup bersedih, akhirnya Saka memutuskan menghampiri gadis itu dan menegurnya sambil berdiri di sebelahnya.
"Ehem ehem.." Nawal terkejut mendengar deheman keras tersebut, ia menoleh dan menatap ke arah Saka di samping kanannya.
"Kak Saka?" lirih Nawal.
"Hai Nawal! Kamu ngapain berdiri sendirian disini sambil sedih-sedih gitu?" tanya Saka.
__ADS_1
"Eee aku cuma lagi nunggu taksi pesanan aku kok kak," jawab Nawal bohong.
"Oh gitu, tapi kok kamu kelihatan sedih gitu sih Nawal?" heran Saka.
"Itu cuma perasaan kakak aja kali," ujar Nawal.
"Enggak kok, emang bener kelihatan dari raut wajah kamu kalau kamu lagi sedih. Udah lah Nawal, kamu jujur aja sama saya! Pasti kamu begini karena ulah Alan kan?" ucap Saka.
"Eee bukan salah Alan juga sih kak, emang ini murni kesalahan aku," ucap Nawal.
"Loh emangnya kenapa sih? Jujur deh sampai sekarang saya masih belum paham kenapa kalian berdua bisa putus?" tanya Saka penasaran.
"Iya kak, aku yang waktu itu minta putus dari Alan. Aku kasih alasan kalau aku akan lanjut kuliah ke luar negeri, padahal nyatanya aku dijodohin sama cowok lain. Setelah Alan tahu semuanya, dia langsung marah besar ke aku," jelas Nawal.
Saka terkejut mendengarnya, "Kenapa kamu harus bohong coba? Kamu kan bisa jujur aja ke Alan kalau kamu dijodohin, pasti semuanya gak akan jadi kayak gini!" ujarnya.
"Itu dia kak, makanya aku nyesel banget sekarang karena udah bohongin Alan. Aku benar-benar bodoh, aku terlalu takut untuk jujur karena aku gak mau Alan sedih!" ucap Nawal.
Saka mendekat dan merangkul pundak Nawal dari samping sembari mengusap lembut lengan gadis itu, membuat sang empu merasa kaget.
"Yang sabar aja, nanti biar saya bantu bicara sama Alan supaya dia gak marah lagi sama kamu! Sekarang kamu gausah sedih terus ya? Kamu harus semangat dong!" ucap Saka.
Nawal mengangguk kecil dengan tatapan mengarah ke wajah pria di sampingnya itu.
"Kalo gitu kamu bareng saya aja gimana? Gausah lah nungguin taksi online, saya antar kamu sampai ke rumah!" tawar Saka.
"Duh, gausah deh kak. Aku lagian udah terlanjur pesan taksinya, gak enak lah kalau aku cancel nanti kasihan supirnya," tolak Nawal.
"Yah jadi kamu nolak tawaran saya nih? Yaudah, saya juga gak mau bantu kamu buat bujuk Alan," ucap Saka sembari melepas rangkulannya.
"Eh eh kak, jangan kak!" Nawal panik dan menahan Saka yang hendak pergi.
Saka menyeringai sebab rencananya berhasil, kini Nawal mau diantar olehnya dan Saka pun akan memanfaatkan Nawal untuk bisa membuat Alan menjauh dari Sahira.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...