
Syera merasa terkejut saat Fatimeh menemuinya yang baru saja menumpang ke kamar mandi, tiba-tiba Fatimeh sudah berdiri di depannya dan menatapnya tajam dengan kedua tangan terlipat. Sontak Syera benar-benar bingung harus bagaimana dan hanya bisa terdiam.
"Eee bu Imeh, ada apa ya? Saya salah atau kenapa?" tanya Syera tampak gugup.
Fatimeh menghela nafas singkat, "Jelas banget kamu punya banyak salah sama saya, dan saya yakin kamu masih ingat itu Syera! Itu pun kalau kamu tidak pikun," jawabnya.
Deg!
Lagi-lagi Syera dibuat gemetar dengan perkataan Fatimeh, ia kembali mengingat masa lalunya yang kelam saat bersama suaminya dulu. Padahal justru Syera tidak sengaja merebut suami Fatimeh, sebab ia sendiri tak tahu jika suaminya telah memiliki istri dan ia dibohongi olehnya.
"Iya saya ingat kok Bu, saya minta maaf untuk itu. Tapi sekali lagi saya tekankan, saya kala itu tidak ada niatan untuk merebut suami ibu," ucap Syera.
"Haha, memangnya ada pelakor yang mau mengakui dosanya? Sudahlah Syera, saya juga tidak perduli dengan masa lalu yang telah berlalu itu!" ucap Fatimeh tegas.
"Baiklah, terus kenapa ibu masih kelihatan kecewa dengan saya? Bahkan sampai ibu juga bersikap ketus ke Saka," tanya Syera heran.
"Saya sudah melupakan kejadian itu, tapi tetap rasa sakitnya masih berbekas di hati saya. Dan saya tidak akan pernah terima dengan apa yang kamu lakukan itu Syera," ucap Fatimeh.
"Iya saya mengerti dengan itu, tapi tolong jangan campurkan semua itu ke hubungan Saka dan Sahira! Mereka tidak tahu apa-apa, saya mohon untuk itu Bu!" ucap Syera.
"Saya tidak pernah melakukan itu, hanya saja setiap kali saya melihat wajah Saka yang muncul di bayangan saya itu kejadian dua puluh tahun lalu dimana kamu merebut suami saya!" ucap Fatimeh.
"Saya mohon Bu, biarkan mereka bahagia dan jangan usik mereka!" pinta Syera.
"Siapa kamu berani atur-atur saya? Saya tidak akan pernah merestui hubungan mereka, karena mereka memang tidak bisa bersatu!" ucap Fatimeh.
Syera tersentak kaget, "Apa maksud ibu bicara seperti itu?" tanyanya penasaran.
"Ah sudahlah, belum saatnya kamu tahu Syera. Intinya kamu harus bisa menjauhkan mereka, dan jangan sampai mereka terus berhubungan seperti sekarang!" ucap Fatimeh dengan tegas.
"Kenapa Bu? Tolong jelaskan semuanya ke saya, supaya saya tahu apa alasan ibu melarang mereka berhubungan!" ucap Syera.
"Dengar ya Syera, saya sudah bilang kalau belum saatnya kamu tahu semua itu. Jadi, kamu nurut saja dan lakukan apa yang saya minta tadi!" ucap Fatimeh sembari mengacungkan telunjuknya.
"Tapi bu—" ucapan Syera terhenti lantaran Fatimeh melarangnya bicara.
"Saya sudah tidak ada waktu untuk bicara sama kamu, ayo kita kembali ke depan supaya tidak ada yang curiga dengan kita!" sela Fatimeh.
"I-i-iya bu.." Syera mengangguk menuruti kemauan Fatimeh dan mulai berjalan kembali menuju sofa, meskipun ia masih terus diselimuti rasa penasaran.
"Sebenarnya kenapa Bu Imeh melarang Saka dan Sahira berhubungan? Apa karena dia mengira kalau mereka itu saudara? Berarti Sahira memang benar anak saya yang hilang?" gumam Syera dalam hati.
"Ibu!" lamunan Syera terhenti ketika ia mendengar seseorang menyebut kata 'ibu' di dekatnya, dan orang itu tentu adalah Sahira yang tengah memanggil ibunya.
"Eh Sahira, iya ada apa sayang? Kenapa kamu kesini?" tanya Fatimeh dengan lembut.
"Eee gapapa sih Bu, aku cuma heran aja karena ibu gak balik-balik ke depan. Aku jadi bingung harus bicara apa lagi sama mas Saka dan om Alfian disana," jawab Sahira.
"Oalah, iya maaf ya sayang. Ini soalnya bu Syera ajak ibu bicara terus tadi, kita sampai lupa deh buat balik ke depan," ucap Fatimeh.
"Oh gitu, yaudah gapapa bu. Yang penting ibu gak kenapa-napa, soalnya tadi aku agak khawatir sama ibu," ucap Sahira.
"Ah kamu bisa aja, ibu kan cuma ke belakang mau ngecek makanan. Yaudah, yuk kita balik ke depan aja kasihan nak Saka sama papanya pasti udah nunggu!" ucap Fatimeh.
"Iya Bu," singkat Sahira.
Fatimeh mendekati tubuh putrinya dan merangkulnya di hadapan Syera sambil sengaja melirik ke arah wanita itu, ya Fatimeh memang bermaksud ingin membuat Syera cemburu karena saat ini Sahira lebih dekat dengannya. Dan upaya yang dilakukan Fatimeh itu berhasil, sebab Syera saat ini sangat sakit hati dibuatnya.
"Eh tante, ayo kita jalan bareng biar sekalian!" ajak Sahira pada Syera.
__ADS_1
"I-i-iya Sahira, kalian duluan aja biar tante di belakang," ucap Syera gugup.
Akhirnya mereka bertiga melangkah menuju ruang tamu tempat dimana Saka dan Alfian berada, namun tampak sekali kalau Syera terus menunjukkan ketidaksenangannya pada kedekatan antara Fatimeh dan Sahira. Syera semakin yakin kalau Fatimeh memang sengaja ingin memancing emosinya saat ini, maka dari itu Fatimeh terlihat sangat ramah dengan Sahira.
•
•
Setibanya di kandang harimau, mereka cukup kesulitan untuk bisa melihat hewan tersebut dari dekat, sebab banyak sekali orang yang berkerumun disana dan tengah berfoto ria. Sontak saja Wati merasa kecewa dengan itu, ia pun merengut dan membuat Awan yang melihatnya ikut sedih.
"Hey Wati, kamu jangan sedih gitu dong! Kita tunggu sampai mereka selesai ya, paling juga sebentar lagi ada yang pergi karena bosan," ucap Awan membujuk gadisnya.
Wati manggut-manggut saja, ia masih kecewa karena orang-orang disana belum ada yang pergi dan tak memberinya ruang sedikitpun. Namun, setelah ia menunggu cukup lama akhirnya ada segerombolan orang yang meninggalkan tempat itu dan membuat Wati tersenyum.
"Eh bang, itu disana udah kosong tuh. Ayo kita kesana, aku mau lihat harimaunya lebih dekat!" ucap Wati antusias.
"Iya Wati iya," ucap Awan menurut.
Disaat mereka sedang asyik melihat harimau yang berlalu lalang di depan mereka itu, tiba-tiba saja seseorang dari belakang menepuk pundak Awan dan membuat pria itu terkejut. Awan pun reflek menoleh, begitu juga dengan Wati yang penasaran ingin tahu siapa orang tersebut.
"Nah kan bener, lu Awan si tukang bully dulu waktu di sekolah!" ujar seorang lelaki yang tadi menepuk pundak Awan sambil terkekeh.
"Hah Yesha? Ya ampun, udah lama banget kita gak ketemu!" rupanya pria tersebut adalah teman lama Awan, sontak saja mereka pun berpelukan disana untuk melepas rindu.
Setelahnya, Awan mengakhiri pelukan itu dan berniat mengenalkan Yesha kepada Wati yang saat ini ada di dekatnya. Tentu Awan sangat senang dapat bertemu kembali dengan sohib lamanya itu, sebab dahulu mereka memang cukup dekat ketika masih sama-sama bersekolah.
"Eh ya, kenalin ini cewek gue namanya Mira!" ucap Awan pada sahabatnya.
Sontak Yesha mengalihkan pandangan ke arah Wati dan langsung terkejut, "Waw hebat emang sohib gue satu ini! Udah punya cewek aja lu, keren dah keren!" ucapnya memuji.
"Ahaha biasa aja bro, wajarlah kan kalo cowok punya cewek. Lu sendiri emangnya belum punya apa?" ucap Awan.
Yesha menggeleng sambil tersenyum, "Belum bro, masih dalam proses pencarian. Doain aja ya semoga bisa cepat ketemu!" ucapnya pelan.
"Oh iya gue belum kenalin diri ke cewek lu," Yesha kembali menatap Wati dan mengulurkan tangannya pada gadis itu sambil tersenyum.
"Halo Mira! Kenalin gue temannya Awan waktu di sekolah dulu, nama gue Yesha!" sambungnya mengenalkan diri pada Wati.
"Ah iya, aku Mira. Biasa dipanggil Wati juga," ucap Wati bersalaman dengan pria itu.
Saat kulit mereka saling bersentuhan, entah mengapa Yesha merasakan sensasi yang aneh di tubuhnya. Belum pernah ia seperti ini sebelumnya saat menyentuh tangan perempuan, mungkinkah kalau Yesha memiliki rasa suka kepada Wati yang merupakan kekasih sahabatnya itu.
"Heh udah jangan lama-lama! Gak lihat apa lu kalo ada cowoknya disini?" tegur Awan.
Yesha pun reflek melepas tangan Wati dan terkekeh kecil sembari menatap sahabatnya, jujur saja Yesha menjadi salah tingkah setelah bersentuhan dengan Wati tadi. Rasanya ia ingin mengulang lagi sentuhan itu agar dapat merasakan kembali sensasi yang belum pernah ia rasakan.
"Hehehe, sorry bro! Omong-omong lu kesini cuma berdua doang nih sama cewek lu, gak ngajak keluarga lu juga?" ujar Yesha.
Awan menggeleng, "Ya enggak lah, ngapain gue ajak mereka juga? Gue kan pengen berduaan sama Mira di hari libur ini," ucapnya bangga.
"Yah elah lu, parah banget keluarga dilupain demi pacar yang belum tentu bisa jadi sama lu," ucap Yesha terkekeh.
"Kok lu ngomongnya gitu sih bro? Gue gak ngelupain keluarga gue, lagian lu juga kenapa malah doain yang enggak-enggak sih ke gue! Parah lu!" kesal Awan.
"Hahaha, jangan ngambek elah bro! Iya iya sorry, tadi gue bercanda kok. Sekarang boleh gak nih gue gabung sama kalian?" ucap Yesha.
Awan mengernyitkan dahinya, "Gabung sama gue dan Mira gitu? Lah emang lu kesini sendiri, gak ada barengan gitu?" ujarnya keheranan.
Yesha manggut-manggut sembari merengut, "Iya nih bro, makanya gue pengen minta gabung sama lu sama Mira juga. Gue bosen nih jalan-jalan sendirian doang gak ada teman," ucapnya.
__ADS_1
"Ya terserah lu deh bro, yang penting Mira setuju dan gak nolak," ucap Awan menatap gadisnya.
Wati seketika terkejut karena tiba-tiba Awan menyebut namanya, apalagi pria itu juga meliriknya sambil merengkuh pinggangnya. Tentu karena tak ingin ada perdebatan, Wati pun mengiyakan saja ucapan Awan dan menyetujui bila Yesha juga ingin ikut bersama mereka disana.
"Aku sih setuju aja bang, toh Yesha kan teman kamu. Yakali aku gak bolehin dia buat ikut sama kita?" ucap Wati.
Namun, tatapan Awan justru kecewa mendengar jawaban dari Wati. Sepertinya Awan tidak ingin bila Yesha ikut dengan mereka, tetapi Wati yang tak mengerti malah berkata lain.
•
•
Makanan pesanan Alan serta Carol pun sampai, tetapi Floryn baru mengatakan pesanannya sehingga mereka harus menunggu agar bisa makan bersama-sama, walau Floryn sudah meminta Carol dan Alan makan lebih dulu. Ya seperti itulah kesetiaan Alan, dia tidak mau membiarkan Floryn terdiam saja memperhatikan dirinya makan bersama Carol.
"Kenapa gak dimakan sih? Itu keburu dingin loh nanti, takutnya makanan aku masih lama loh," ucap Floryn.
"Gapapa Flo, gak akan dingin kok. Lagian kurang enak rasanya kalau kita makan, tapi kamu malah diem aja gak ikutan makan," ucap Alan.
"Yah elah santai aja kali, aku mah udah biasa kok kayak gitu. Udah dimakan aja!" ucap Floryn.
"Enggak Flo, kamu gausah maksa deh! Kecuali kalau Carol, dia mau makan duluan mah boleh aja soalnya dia udah lapar banget katanya," ujar Alan.
"Eh enggak kok, aku masih bisa tahan laparnya. Aku makan bareng kalian aja biar enak," ucap Carol.
Tiba-tiba Alan menggenggam telapak tangan Carol dan tersenyum ke arahnya, "Gapapa kali Carol, kamu kan udah lapar. Floryn juga pasti ngerti kok, ya kan?" ucapnya.
"Iya Carol, udah kamu makan aja lah! Kamu gausah mikirin aku, nanti juga kan makanan aku sampai tuh," ucap Floryn.
"Eee yaudah deh, tapi tangannya dikondisikan dong Alan!" ucap Carol sembari melirik tangan Alan yang menggenggamnya.
"Hahaha, maaf maaf kebiasaan." Alan tertawa saja dan reflek melepaskan genggamannya.
"Wajar Carol, si Alan mah emang suka gitu orangnya," ucap Floryn.
"Ohh," Carol manggut-manggut paham seolah percaya dengan ucapan Floryn, tapi tentu Alan segera menyangkal itu semua.
"Apaan sih? Enggak ya, aku gak kayak gitu sama sekali loh. Tadi beneran gak sengaja sumpah," ucap Alan membela diri.
"Apa iya? Kamu aja sering banget modus pegang-pegang tangan aku," cibir Floryn.
"Jangan ngarang ya kamu Flo! Mana ada aku kayak gitu?" ujar Alan.
Floryn malah tertawa lebar diikuti dengan Carol, dua gadis itu tampak senang mengerjai Alan yang memang terlihat lucu itu. Dan Alan pun hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan kedua gadis tersebut, entah kenapa Alan mulai merasa tenang setelah bertemu mereka.
"Hmm, sepertinya saya sudah menemukan kebahagiaan saya sekarang ini. Mungkin dengan ini saya bisa semakin melupakan Sahira, terimakasih Tuhan karena engkau telah mempertemukan hamba dengan mereka!" batin Alan.
Akhirnya makanan pesanan Floryn pun tiba, kini mereka dapat menikmati makanan masing-masing tanpa perlu menunggu lagi. Carol yang sudah merasa lapar, langsung saja menyantap semua hidangan yang telah disediakan itu tanpa perduli dengan Alan maupun Floryn yang memandang ke arahnya.
"Gimana rasa makanannya, Carol? Kamu suka atau enggak?" tanya Alan pada gadis itu.
"Eee iya enak banget ini, baru sekarang aku ngerasain makan makanan seenak ini. Makasih banget ya Alan?" jawab Carol dengan bangga.
"Iya sama-sama Carol, syukurlah kalau kamu suka dan makanannya enak!" ucap Alan senang.
Mereka pun saling bertatapan selama beberapa detik disertai senyum di wajah masing-masing, tampak Alan begitu mengagumi kecantikan wanita di hadapannya itu, sehingga ia sampai tidak ingin berhenti menatapnya dan ingin terus seperti ini selamanya.
"Ehem ehem, udah lah mending kalian berdua jadian aja deh! Tuh kelihatan cocok banget tau kalo lagi pandang-pandangan begitu," sela Floryn.
Sontak baik Alan maupun Carol pun langsung salah tingkah dibuatnya, mereka sama-sama tersipu malu dan reflek memalingkan wajah mereka yang sudah memerah bak udang rebus itu. Sedangkan Floryn sendiri terus terkekeh sembari menatap wajah keduanya secara bergantian.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...