
Alan serta Carol tiba di salah satu restoran yang akan dijadikan tempat makan siang bagi mereka saat ini, namun tampak Carol masih belum bisa bersikap tenang sebab ia terus saja teringat pada kejadian saat di mobil tadi. Ya bahkan pipi gadis itu masih terlihat sedikit memerah, rasa gugupnya juga tak menghilang sedikitpun hingga kini.
Mereka pun menempati kursi kosong yang tersedia disana, dengan gagahnya Alan menarik kursi untuk Carol dan mempersilahkan gadis itu duduk di dekatnya. Sontak saja Carol semakin bertambah gugup akibat perlakuan Alan yang begitu manis padanya, tapi sebisa mungkin Carol menahan dirinya agar tidak terbuai karena ia tahu tak mungkin ia bisa menjalin hubungan dengan Alan lebih dari sekedar teman.
"Thanks ya Alan? Btw kamu gak perlu lah kayak gitu lagi lain kali, aku ini masih bisa tarik kursi sendiri tau. Lagian aku kan gak lumpuh," ucap Carol meminta.
Alan tersenyum tipis dan ikut duduk di sebelah gadis itu, "Hahaha, kamu pasti bilang begitu karena gugup kan? Ayolah Carol, saya tahu kok kamu suka digituin, jadi kamu mending akui saja dan gausah pura-pura gak mau gitu!" ujarnya menggoda.
"Ih apa sih? Lama-lama aku jadi makin sebel tau sama kamu, Alan!" geram Carol.
"Yakin sebel? Tau-tau nanti malah demen lagi," goda Alan disertai kekehan kecil.
"Ngapain aku demen sama kamu? Kita ini beda kelas Alan, gak mungkin lah aku bisa suka atau begitu ke kamu," ucap Carol.
"Beda kelas gimana? Emang kamu kira saya ini kereta apa yang ada kelasnya?" ujar Alan.
"Gak gitu Alan, maksudnya tuh kamu kan cowok berada dan kaya raya. Lah aku ini apa coba? Cuma perempuan miskin gak punya apa-apa," ucap Carol merendahkan diri sendiri.
"Sssttt hey, gak boleh bicara begitu ah! Kata siapa kamu gak punya apa-apa, ha?" sentak Alan.
"Ya emang nyatanya begitu," ucap Carol lirih.
Tiba-tiba saja, Alan langsung mendekat dan mencengkram rahang gadis itu seraya menatapnya dari jarak sangat dekat. Sontak Carol merasa gugup dan jantungnya berdetak sangat kencang ketika bertatapan sangat dekat dengan Alan, gadis itu susah payah menelan saliva nya dan tak bisa berkedip untuk saat ini.
"Kamu itu punya saya, jadi jangan bilang kalau kamu gak punya apa-apa ya, Carol! Lagian kamu juga perempuan yang cantik kok," ucap Alan.
"Hah? Maksud kamu apa sih, Alan? Kenapa kamu tiba-tiba bilang kayak gitu? Aku benar-benar gak ngerti deh sama kamu," heran Carol.
"Hahaha, saya yakin kamu bisa memahami itu Carol. Yaudah, sekarang kamu mau makan apa nih? Kita daritadi duduk disini belum mesan apa-apa loh," ucap Alan yang kini sudah menjauh.
"Oh iya, aku ngikut kamu aja deh kayak biasa. Maklum aku gak tahu makanan disini tuh apa aja," jawab Carol sambil terkekeh.
"Haish, kebiasaan ya kamu!" kekeh Alan.
Carol hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum lebar, Alan yang melihat itu pun tampak terpesona dan spontan mengusap puncak kepala gadis itu. Setelahnya, Alan tampak memanggil pelayan disana untuk mengatakan pesanannya dan juga Carol.
Setelah pelayan itu pergi, Alan tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan membuat Carol heran. Alan melangkah ke belakang tubuh gadis itu dan membungkuk sedikit mendekati leher bagian belakangnya, deru nafas Alan terasa di kulitnya hingga Carol pun cukup merinding dan merasa apa yang dilakukan Alan sungguh mengerikan.
"Lan, kamu apa-apaan sih? Disini ramai tahu, kalau mereka ngira kamu berbuat mesum terus kamu ditangkap gimana?" protes Carol.
"Heh kamu ngada-ngada aja kalo ngomong! Saya cuma mau pamit ke kamu, saya kebelet nih pengen buang air kecil. Kamu tunggu sebentar ya disini?" ujar Alan sembari mengecup leher gadis itu.
Carol terbelalak saat itu juga, mulutnya terbuka lebar dan matanya tidak bisa berkedip. Sedangkan Alan malah dengan santainya pergi meninggalkan gadis itu menuju toilet, Carol sungguh heran pada apa yang dilakukan Alan dan kini berusaha menenangkan dirinya sendiri dari rasa gugup.
"Huft, jantung gue serasa mau copot nih gara-gara tuh cowok!" ujar Carol memegangi dadanya.
•
•
Singkat cerita, Alan yang baru selesai dari toilet pun berniat kembali ke meja tempat dimana Carol berada. Akan tetapi, niatnya itu terhenti lantaran ia tak sengaja berpapasan dengan Sahira di depan toilet. Sontak saja baik Alan maupun Sahira sama-sama terkejut, mereka tak menyangka jika dapat bertemu kembali disana.
Sahira pun menghentikan langkahnya, ia menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya dari hadapan si pria karena hingga kini ia masih belum bisa melupakannya. Jujur saja Sahira seolah merasakan sesuatu yang aneh tiap kali berada di dekat Alan, namun Sahira berupaya keras untuk menghindar dan menghilangkan semuanya.
"Hai Sahira! Gak nyangka ya kita bisa ketemu lagi disini? Kamu datang sama siapa, sendiri? Atau sama bang Saka?" sapa Alan.
"Umm, iya saya bareng sama mas Saka. Kamu sendiri kesini sama siapa?" ucap Sahira gugup.
"Ada lah, intinya saya gak sendiri. Yasudah, yuk kita bareng aja ke depannya sekalian saya mau ketemu bang Saka!" ucap Alan.
"Eee ada apa ya? Kenapa kamu mau ketemu sama mas Saka?" tanya Sahira.
Alan tersenyum tipis dibuatnya, "Gapapa, cuma mau ngobrol sebentar aja. Kamu tenang, saya gak akan ganggu makan siang kalian berdua kok! Saya janji cuma sebentar, paling gak nyampe sepuluh menit," ucapnya.
"Eh bukan begitu, kalau emang kamu ada urusan penting dan keperluan sama mas Saka, ya silahkan aja saya gak larang kok!" ucap Sahira.
"Okay, omong-omong sekarang kamu kerja dimana? Kelihatannya kamu makin bersinar aja nih?" tanya Alan penasaran.
"Ah iya, saya kebetulan diangkat menjadi asisten pribadi mas Saka di kantornya," jawab Sahira.
__ADS_1
"Ohh, pantas aja kalian jadi makin dekat. Ya syukurlah kalau memang begitu, artinya setelah saya pecat kamu bisa mendapat pekerjaan yang lain," ucap Alan.
"Iya Alan, terus kamu sendiri gimana? Apa kamu sudah dapat sekretaris baru pengganti saya di kantor kamu?" tanya Sahira lagi.
"Tentu, tidak sulit bagi saya mencari sosok sekretaris baru. Apalagi perusahaan saya itu kan terbilang besar, jadi banyak orang yang mau bekerja disana," jawab Alan santai.
"Bagus deh, saya kira kamu masih belum menemukan pengganti saya di kantor kamu. Ya kalau sudah ada saya ikut senang dengarnya," ucap Sahira sambil tersenyum.
"Okay, makasih kamu masih mau perduli dengan saya ya Sahira?" ucap Alan singkat.
"Iya Alan, yaudah ayo kalau kamu mau ketemu sama mas Saka!" ajak Sahira.
Alan mengangguk pelan, lalu mempersilahkan Sahira jalan lebih dulu. Sahira menurut saja dan mulai melangkah kembali menuju mejanya, sedangkan Alan mengikutinya dari belakang dengan perlahan sembari menguatkan diri agar tidak terbawa perasaan seperti dahulu.
"Eh Alan, omong-omong katanya kamu sudah ada calon ya? Selamat ya Alan, semoga kamu dan pasangan kamu bisa langgeng terus!" ujar Sahira.
"Iya Sahira, terimakasih. Saya juga doakan supaya kamu dan mas Saka cepat menyusul!" ucap Alan.
"Hah? Eee.." gadis itu tersentak saat Alan berbicara seperti barusan, tentu tak mungkin ia mengaminkan ucapan Alan karena dirinya dan Saka adalah saudara yang tidak mungkin bisa bersatu dan menjadi pasangan suami-istri.
"Kamu kenapa Sahira? Saya emangnya salah bicara ya? Saya kan cuma mendoakan hubungan kamu dan mas Saka supaya lancar," ujar Alan.
"Gak kok Lan, iya tadi tuh saya agak kaget aja. Udah lah gausah dibahas lagi, itu mas Saka nya ada di depan!" ucap Sahira mengalihkan pembicaraan.
Alan pun beralih menatap ke arah yang ditunjuk oleh Sahira, ia tersenyum melihat abangnya tengah terduduk seorang diri disana sembari menikmati makanannya. Sontak Alan mendekati Sahira, lalu merangkul erat gadis itu dan mempercepat langkahnya menghampiri Saka disana.
Sahira langsung terkejut dibuatnya, ia reflek menoleh ke wajah Alan dan terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang dilakukan pria itu saat ini. Sahira berusaha protes serta melepaskan diri dari rangkulan Alan karena tak ingin mencari masalah dengan Saka, tetapi pria itu malah semakin mengeratkan rangkulannya.
"Alan, kamu apa-apaan sih? Jangan kayak gini dong please! Saya gak mau mas Saka salah paham nanti sama kita," ucap Sahira panik.
"Hahaha, justru itu yang saya mau, Sahira. Lucu aja kalau lihat bang Saka marah-marah karena cemburu, udah kamu diam aja ya Sahira!" ucap Alan terkekeh santai.
"Tapi Lan, kalau nanti mas Saka marah besar ke kamu gimana? Yang ada kalian berdua bisa ribut lagi seperti waktu itu," ujar Sahira.
"Gapapa, saya bisa handle semuanya. Lagian saya cuma mau kerjain dia kok, sekalian mau tahu gimana reaksi dia nantinya. Kamu nurut aja, gak bakal terjadi apa-apa kok!" ucap Alan.
"I-i-iya deh.." Sahira terpaksa menurut, meski ia tahu ini sangat beresiko baginya.
"Hai bang! Apa kabar lu? Gue lihat-lihat makin ganteng aja lu," ujar Alan.
Saka menggeleng dengan rahang bergetar disertai tangan yang terkepal, "Gue baik, tapi mungkin bakal jadi gak baik gara-gara lu," ucapnya.
"Hah? Lu kenapa sih bang? Emang gue salah apa coba?" tanya Alan pura-pura tidak tahu.
"Gausah pura-pura kayak gitu deh, lepasin Sahira cepat! Gue gak suka lihat lu sentuh-sentuh cewek gue kayak gitu!" ujar Saka.
"Ahaha, ohh karena ini? Emangnya kenapa sih bang? Salah?" kekeh Alan.
"Lo jangan kurang ajar deh Lan! Lepasin Sahira cepat atau gue bogem lu!" kesal Saka.
Alan yang mendengar itu tertawa lebar dan melepaskan rangkulannya, ia lalu menghampiri kakaknya itu kemudian memeluknya erat untuk melepas kerinduan yang terpendam. Saka yang sempat emosi pun mulai luluh saat mendapat pelukan dari adiknya itu, biar bagaimanapun dia juga merindukan Alan hingga kini.
"Gue kangen banget sama lu, bang! Sorry ya, tadi itu gue cuma bercanda biar suasananya agak tegang kayak di film-film gitu?" ucap Alan.
"Ah elah sialan lu! Untung aja gue belum sempat mukul lu tadi, btw gue juga kangen kok sama lu!" balas Saka.
"Hahaha, iyalah gue tahu kok. Gue senang bisa ketemu lu disini, bang!" ucap Alan.
"Sama Lan, gue juga gak kalah senang." Saka tersenyum sebelum mengakhiri pelukan itu dan fokus menatap wajah adiknya.
"Omong-omong lu kesini sama siapa? Terus kok lu bisa bareng Sahira sih?" tanya Saka bingung.
"Iya bang, kita gak sengaja ketemu waktu abis dari toilet tadi. Terus kalau soal kesini sama siapa, gue bareng sekretaris baru gue di perusahaan. Tuh orangnya yang itu," jawab Alan santai.
Baik Saka maupun Sahira, sama-sama menoleh ke arah yang ditunjuk Alan dan menemukan sosok wanita cantik tengah duduk disana. Lalu, Saka pun tampak menatap wajah adiknya seolah tak percaya jika wanita yang ada disana adalah sekretaris barunya. Karena Saka heran melihat tampilan wanita itu yang tak terlihat seperti seorang pegawai kantoran, apalagi sekretaris.
"Seriusan itu sekretaris baru lu? Lo gak salah pilih kan, Lan? Masa yang kayak gitu dijadiin sekretaris perusahaan lu sih?" tanya Saka.
"Kenapa bang? Dia pintar kok, jadi gue gak mungkin salah buat jadiin dia sebagai pengganti Sahira. Gue yakin banget kalau dia bisa bikin perusahaan gue maju," jawab Alan.
__ADS_1
"Bagus deh kalau emang begitu, semoga aja ucapan lu benar terjadi ya!" ucap Saka.
Alan manggut-manggut saja sambil tersenyum, setelah cukup lama saling berbincang disana, akhirnya Alan memutuskan untuk kembali ke tempat Carol berada. Menurutnya, ini sudah lumayan lama ia meninggalkan Carol sendirian disana. Lagipula ia khawatir Carol akan mencarinya nanti karena kebingungan membayar makanan yang mereka pesan tadi.
"Eh bang, udah ya gue balik kesana dulu? Kasihan tuh cewek gue tinggal lama, nanti dia panik lagi nyariin gue," ucap Alan pamitan.
"Oh okay, silahkan aja! Nanti begitu gue selesai, gue boleh kan kenalan sama sekretaris baru lu itu? Ya gue harus tahu juga dia itu siapa dan darimana asalnya," ucap Saka.
"Ya silahkan, gue paham kok!" singkat Alan.
Saka tersenyum tipis mendengarnya, sedangkan Alan menatap Sahira lalu pamit juga padanya sebelum melangkah pergi dari sana. Alan pun kembali menemui Carol, lalu Sahira serta Saka terduduk di tempat mereka masing-masing untuk menikmati pesanan mereka.
•
•
"Carol!" Alan menyapa sekretaris barunya itu dengan ramah sambil tersenyum dan mendekatinya.
Sontak wanita bernama Carol itu menoleh, ia ikut tersenyum lebar dan merasa lega setelah ia melihat Alan telah kembali kesana. Tadinya ia kira Alan melarikan diri dari restoran tersebut dan sengaja menjebaknya, tapi ternyata pria itu masih ada dan kini kembali menemuinya.
Alan pun duduk di sebelah gadis itu, meraih satu tangannya dan mengusapnya lembut. Carol yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa diam memandangi wajah Alan dengan gugup, ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Alan, tetapi Alan malah menguatkan pegangannya dan tak membiarkan Carol lepas.
"Alan, kamu—"
"Sssttt diem dulu! Saya mau bicara sama kamu, tadi saya lihat dari jauh kamu kayak panik gitu sambil celingak-celinguk. Kamu cariin siapa sih, hm? Saya ya?" Alan memotong ucapan Carol dan menggodanya sambil terkekeh kecil.
"Hah? I-i-iya sih aku emang cariin kamu, tapi itu karena aku khawatir aja kamu kabur dari sini," ucap Carol gugup.
"Hahaha, takut ya saya tinggalin sendirian? Tenang aja kali Carol, mana mungkin saya pergi gitu aja dan biarin kamu disini? Nanti yang ada kamu digodain lagi sama orang," kekeh Alan.
"Siapa coba yang mau godain aku? Paling cowok yang lihat langsung lari nanti," ucap Carol.
"Heh sembarangan! Kamu cantik begini pasti banyak yang datang lah, makanya tadi saya aja cemas pas tinggalin kamu ke toilet," ucap Alan.
"Apa sih? Lebay kamu ah! Tadi kamu darimana aja sih, Lan? Kok lama?" ujar Carol.
"Iya saya ketemu orang dulu tadi, makanya lama. Maaf ya kalau saya bikin kamu panik? Yang penting kan saya sudah disini sekarang sama kamu," ucap Alan sembari mencubit pipi Carol.
"Iya Lan, tuh makan gih makanan kamu! Aku tadi mau makan tapi takut kamu gak balik, jadinya aku tungguin dulu deh," ucap Carol.
"Loh emang kenapa coba?" tanya Alan heran.
"Ya kalau kamu gak balik lagi, terus aku bayar makanan ini gimana coba? Makanya aku gak berani makan sebelum kamu balik," jawab Carol.
Alan tersenyum gemas melihat ekspresi Carol saat ini, pria itu pun terus mencubit kedua pipi gadisnya secara bersamaan sampai membuat sang empu merasa risih dan protes. Namun, Alan justru terkekeh geli dan bertambah gemas dengan reaksi Carol yang terlihat imut di matanya.
"Duh, kamu imut banget sih! Saya tuh gak bisa kalau lihat perempuan imut kayak gini, bawaannya pengen cubitin terus pipinya!" ujar Alan.
"Lan, apaan sih? Malu ah dilihat banyak orang! Lepasin Lan!" protes Carol.
"Hey cantik! Buat apa sih pake malu segala? Biarin aja mereka mah, lagian mereka juga gak perduli kok sama kita. Mereka itu punya urusan sendiri kali," ucap Alan.
"Tetap aja aku malu, cukup ya Alan!" pinta Carol.
"Enggak mau, kamu sebagai sekretaris itu harus nurut dong dan jangan bantah perintah saya! Mulai sekarang kan saya atasan kamu, gimana sih?!" sentak Alan.
"Ya tapi kan—"
"Udah udah, kamu diam aja dan gausah banyak protes! Saya lagi suka cubitin pipi kamu tau," sela Alan kembali memotong ucapan Carol.
Carol akhirnya terdiam dengan wajah cemberut, jujur ia semakin risih akibat perbuatan lelaki itu. Tapi Carol bisa apa, ia tidak mampu melawan Alan yang memang sekarang sudah menjadi atasannya. Walaupun dirinya juga belum tahu apakah ia akan bekerja di perusahaan Alan atau tidak, sebab ia masih ragu dengan itu.
"Ehem ehem!" tiba-tiba saja, suara deheman seorang wanita mengagetkan keduanya yang tengah asyik bercanda disana.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...•...
__ADS_1
...•...
...KIRA-KIRA COCOKNYA ALAN SAMA CAROL ATAU FLORYN, GUYS?...