
"Aku akan membantumu mencari informasi yang pernah terjadi beberapa puluh tahun silam."
"Jangan... aku akan mencari sendiri. Itu membahayakan mu."
"Tidak Marc... aku akan membantumu. Aku istri mu, ingat itu"
"Asal jangan membahayakan dirimu sendiri Loli. Aku takan memaafkan diriku"
"Diluar hujannya lebat sekali. Temani aku..." Loli memeluk erat Marcho.
Pelan pelan tangan Marcho merayap kesisi depan Loli yang tak ada jarak itu. Ia sedikit mere..mas benda kenyal milik Loli.
"Sayaang... aku menginginkan nya..." Marc berbisik di telinga Loli. Membuat wanita itu merinding karena geli.
"Seandainya saja ada keajaiban untuk mu. Itu akan membuat ku sangat bersyukur." Loli menatap wajah suaminya.
"Semoga saja sayang..." Marc mencium bibir ranun istrinya dengan satu tangan mulai menjalar kebagian bawah Loli.
"Jika kau benar bukan manusia seperti ibumu.. aku akan tetap mencintaimu sampai kapan pun."
Loli mende..sah saat Marc turun kebagian lehernya, bermain main disekitar dada Loli. Sementara satu tangannya masuk kebagian bawah istrinya mengeluarkan dan memasukan kembali jarinya. Hingga Loli mengerang merasakan kenikmatan yang diberikan suaminya.
"Marc... aku tak tahan lagi.."
Marc memasukan senjatanya kearah bawah Loli. Ingin merasakan denyutan yang diberikan Loli saat pelepasannya tiba. Ia semakin mengencangkan gerakannya.
"Aaaakhh... Marc.."
__ADS_1
Sesuatu berasa tumpah disana. Marc merasakan kedutan disenjatanya. Ia menatap dan mencium kembali bibir istrinya.
Menjelajahi setiap inci ruang dimulut Loli. Hingga lidah mereka saling membelit. Ia melihat Loli sedikit tenang, rasa nikmat dipuncaknya sudah memudar.
Marc kembali memompa Loli dengan senjatanya. Dengan gerakan lambat yang mengayun ngayun. Kemudian hentakan yang cepat. Teriakan Loli memenuhi ruangan itu. Ia mere..mas kencang lengan Marc. Merasakan lagi pelepasan dibawahnya.
"Sayang... oohh..."
Marc memompa lebih kencang. Dan mereka sama sama merasakan pelepasan dengan tubuh yang sedikit bergetar.
Marc berbaring disebelah Loli sambil menatap istrinya. Memikirkan sesuatu yang ia anggap sangat aneh.
"Sayang..."
"Hmmm..." Nafas Loli masih tersengal sengal.
"Apa kau tak merasakan ada hal yang aneh" Marc memegang dadanya yang terasa berdetak dikirinya.
"Pertama kali kita bercinta disaat kondisi ku seperti ini. Aku tak merasakan apa apa sayang. Tapi kali ini..."
Marc duduk menarik tangan Loli Supaya duduk juga. Ia meletakan tangan istrinya kedadanya.
"Kau dengar itu?"
"Hmmm.. ya.. ada detakan disana."
"Berarti aku belum mati." Ia mengurai senyuman melihat wajah istri nya.
__ADS_1
Loli kembali merasakan detak jantung Marc yang kencang disana. Kali ini ia meletakan telinganya kedada Marc.
"Apa ini keajaiban Marc?" Loli memeluk suaminya.
"Kau keajaiban ku sayang..." mereka berciuman lagi.
"Aku akan mencoba sesuatu sayang.."
Marc berdiri dengan keadaan telanjang. Ia berjalan mendekati dinding dan berjalan pelan maju kedinding itu seakan akan ia akan masuk kedalam dinding.
Marc terbentur, ia mencoba lagi dengan sedikit keras. Hingga ia terbentur dan jatuh.
"Aku merasakan sakit Loli. Bahu ku sangat sakit terbentur dinding tadi."
"Apa yang kau lakukan Marc.?"
"Kau tau sayang? Aku menemui hanya melintas melalui dinding ini. Tapi... sekarang. Kurasa tak bisa lagi. Kau harus membukakan pintu saat aku pulang nanti." Ia tersenyum berjalan kearah Loli.
Tiba tiba ia mengangkat Loli berputar putar karena sangat gembira.
"Syukurlah Marc... itu yang selalu kuharapkan. Adanya keajaiban." Loli mengalungkan tangannya ke leher Marc.
"Apa karna kita bercinta? Atau karena keyakinan mu padaku? Atau.... memang seperti ini perubahan dibangsa ibuku?" Marc menurunkan Loli ke atas tempat tidur.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...