
Pesta tetap berlangsung dikediaman Ferdinand. Marcho terlihat mencari cari Loli. Ia masuk kebeberapa ruangan melihat keberadaan Loli.
Kemana Loli. Tadi aku melihatnya masih duduk disini. Apa aku hubungi saja...
Marcho mengambil ponselnya menekan nomor Loli. Beberapa kali panggilan namun Loli tetap tak menjawab.
Ia kembali Kekamar mereka sambil terus menghubungi Loli. Marcho mendengar dering ponsel dari arah tempat tidur mereka.
"Ini ponsel Loli... kemana dia?"
Marcho duduk dibibir ranjang mencoba mengingat ingat dimana ia melihat Loli.
"Marc... ayo kita berfoto bersama.. para tamu juga sudah ingin pulang.."
Marcho tetap tak mengacuhkan Lyodra memanggilnya. Ia terus berjibaku dengan pikirannya.
"Marc?"
Pria itu tetap asyik menunduk tak menyahuti panggilan Lyodra. Ia kemudian masuk dan menepuk pundak Marcho.
"Loli.... kau kema...." Marcho menatap Lyodra yang ia sangka adalah Loli.
"Kau... ada apa Lyo?"
"Aku memanggil kalian untuk berfoto bersama. Kau tak mendengar aku memanggil mu sejak tadi?"
Marcho meraup wajahnya. Ia berdiri dan berjalan mondar mandir didalam kamar.
"Maaf aku tak mendengar..."
"Apa terjadi sesuatu? Kau tampak gusar sekali Marc..."
Marcho berhenti dan melihat Lyodra. Ia tak ingin perkara Loli merusak kebahagian keluarga nya yang lain. Ia memilih untuk keluar kamar menarik Lyodra.
__ADS_1
"Ada apa Marc?"
"Tidak... ayo kita berfoto... biarkan Loli istirahat."
"Tapi tadi aku tak melihatnya." Lyodra tetap bicara sembari Marcho menarik lengannya.
"Ia ada dikamar mandi... aku haya mencemaskan keadaannya saja"
"Benar kah hanya itu?" Lyodra tersenyum melirik kearah Marcho.
"Ya... lantas apa lagi?" Marcho mencoba menutupi semua untuk sementara waktu ini. Sampai pesta selesai.
"Baik lah... ayo kita kesana."
Lyodra menggandeng tangan Marcho menuju tempat mereka semua berfoto. Mereka menanyai keberadaan Loli. Marcho dan Lyodra memberikan alasan yang tepat.
Karna memang benar Loli sangat sibuk mengurusi keperluan ini itu saking semangatnya dia.
Semua tamu pulang keperaduan masing masing. Orang tua Loli juga pamit undur diri.
"Loli.. ada dikamar. Ia tidur. Mungkin kelelahan. Nanti aku sampaikan salam Mama."
"Baiklah sayang.. mama pulang dulu. Jaga baik baik istri mu..."
Marcho.mengantar Laurent sampai mobilnya melaju meninggalkan tempat itu.
"Sayang... kau sudah meminumkan Loli obat yang diberikan Juliana kemaren?"
Eleanor mendekati Marcho yang terus menunduk duduk menyendiri.
"Bu... Loli hilang"
"Apa maksudmu Marc?"
__ADS_1
"Aku sudah mencari kesemua tempat dan ruangan dirumah ini. Tapi tak menemukan Loli. Sofia dan Denis tadi juga menanyakan Loli. Aku hanya memberi mereka alasan."
"Marc... bagaimana bisa ini. Siapa lagi yang bermasalah dengan kita?"
"Ya bu... aku sangat cemas dengan kedan Loli sekarang. Ia sedang hamil. Fisik nya pastilah lemah"
"Apa ini orang orang Mayana yang berbuat?"
"Bukankah mereka telah mati?" Marcho bergidik membayangkan jika orang orang Mayana telah menculik Loli.
"Entahlah Marcho. Kita harus bicarakan ini dengan yang lainnya Marcho. Ayo ..."
Marcho berdiri mengikuti Eleanor. Ia berhenti dan duduk disofa karna melihat sesuatu disana.
Apa ini... (Mengambil benda itu dan memperhatikan baik baik)
Bau nya sangat busuk. Kenapa ada disini.
Eh tunggu... bukankah tadi Loli duduk disini ketika kutinggalkan. Jadi....
"Bibi... aku menemukan ini."
"Apa itu Marc? Benarkah Loli hilang?" Juliana menganbil benda yang diberikan Marcho
"Ya.. aku sangat mengkhawatirkan nya bi.. kemana kita akan mencarinya. Semua tempat telah aku cari. Hanya menemukan ini ditempat Loli duduk terakhir kulihat."
Mereka mengamati benda itu. Juliana beberapa kali mengendus benda yang berbau sangat busuk itu.
"Eli... Marc... Loli diculik orang Mayana. Kita harus segera menemuinya. Jika tidak mereka akan membunuh nya.."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung