
Pikiran nya masih melayang entah kemana, kata kata pria yang baru dijumpainya mengatakan sesuatu hal yang serius.
Rubi duduk diruangannya, bohong jika ia tak menantikan kedatangan Ares. Jantung nya yang sejak tadi selalu berdetak lebih kencang. Padahal pria itu tak ada disana.
Benar saja, Rubi yang baru duduk disofa berdiri kembali karna mendengar suara ketukan pintu. Ia keliatan sangat gugup. Wajahnya merona dan memanas.
Sial... Perasaan apa ini?
Dengan langkah pelan ia berjalan kedepan pintu. Melirik sedikit siapa seseorang yang sedang berdiri disana.
Ares? Dia benar benar kembali...
"Dokter Rubi..." Sapa Ares dengan senyuman menggoda, saat pintu dibukakan.
"Y..ya ... Tuan Ares .. silahkan masuk"
Rubi berjalan terlebih dahulu dan berdiri didepan sofa. Ares membiarkan pintu sedikit terbuka agar mereka tidak dituduh bukan bukan.
Lagipula siapa sebenarnya yang akan menuduh. Bukankah biasa bagi seorang dokter bicara berdua dengan pasiennya?
Tapi Ares sadar diri bahwa ia bukan pasien dari Dokter Rubi. Ares menatap wajah Rubi terlihat memerah. Dan ia selalu memalingkan pandangannya dari Ares.
Semoga saja... Ia bisa menerimaku..
Ares berdoa dalam hati. Dan Rubi selalu mencari kesibukan lain. Suasana didalam ruangan itu hening. Hanya ada senyuman dari seorang pria dan wanita dengan menelan rasa gugupnya.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan Ares?"
__ADS_1
Rubi memberanikan diri bertanya. Ia menutupi sikapnya yang sangat terlihat salah tingkah.
"Ya... Bukankah tadi aku sudah katakan padamu..."
Ares bersikap biasa saja, dan itu butuh perjuangan keras. Bicara dengan wanita cantik didepannya membuat pikirannya travelling kemana mana.
"Maaf saya tidak mengerti..."
Rubi sengaja agar Ares mengulangi penjelasannya. Karna semua itu membuat Rubi merasa sangat diharapkan dan dicintai.
"Aku ingin melamarmu untuk menjadi istriku Dokter Rubi."
Ares memberanikan diri untuk langsung menyampaikan maksudnya tanpa basa basi. Dan jika tahan lama lama... Mungkin akan sia sia.
"Ya...? Melamar ku?"
"Benar... Melamarmu."
Ares tampak tersenyum, ia melonggarkan sedikit dasi pada kemejanya. Ia memandang wanita indah yang telah di ciptakan Tuhan didunia ini.
"Dokter Rubi... Mm maaf... Maksud ku Rubi. Apa kau tak keberatan?"
"Silahkan..."
"Rubi... Aku sudah mencari mu selama 4 tahun. Saat pesta Anniversary kedua orang tua mu. Dan sampai sekarang aku masih membiarkan hati ku diisi oleh mu. Walaupun kau tak mengetahuinya." Jelas Ares
"Aku tak menyangka... Kau selama itu mencariku. Padahal aku selalu disisi bibimu disini. Dunia memang luas..."
__ADS_1
Rubi menyimpan besar kepalanya mendengar perkataan Ares.
"Dan yang sangat menyakitiku.. Danny. Saudara mu. Ia telah mengetahui semua sejak awal. Namun tak sedikit pun berniat untuk membantuku untuk bertemu dengan mu."
"Danny .. benar... Ia saudara kembarku."
"Dan aku berjanji setelah menemukan mu aku akan langsung melamarmu."
Senyuman Ares menambah indah kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Kurasa... Sebaiknya kita berteman dulu. Karna aku tak mengetahui apa apa tentang mu.
Bagiku untuk menerima lamaran seseorang harus lah dipikirkan matang matang. Bukan karna cinta atau hal lain...
Melainkan karna Tuhan memberikan aku jodoh sesuai kehendaknya. Itu saja." Tegas Rubi.
Ucapan Rubi tadi membuat Ares terdiam. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya. Membenarkan semuanya yang dikatakan .
"Baiklah Rubi aku takan menyerah sampai kau benar benar bersedia menerimaku. Bahkan sekalipun kematian mendekat, aku akan berusaha untuk tetap kuat untuk bisa mendapatmu....
Kau tak keberatan bukan?"
"Tentu saja... Kau berhak atas itu."
.
.
__ADS_1
.