
Pagi ini terasa berbeda bagi Rubi, ada pria yang sedang memeluknya dan wajah mereka berdekatan saat Rubi membuka mata.
Ares...
Aku ingin menjadi istrimu secepatnya...
Rubi menaikan tangannya membelai wajah tampan Ares dengan lembut. Sesekali Ares menggeliat saat tangan mungil Rubi mencubit pipinya dengan gemas.
"Rubi..."
Ares masih memejamkan matanya, seakan tak ingin melewatkan tidurnya yang masih indah disamping Rubi.
"Bangunlah..." Bisik Rubi sambil menggigit telinga Ares dengan pelan.
"Gadis nakal..." Nampak senyuman dibibir Ares.
Ia semakin mengeratkan pelukannya hingga Rubi dibuat sesak. Hingga Rubi memukul mukul dada Ares.
"Lepaskan aku... Aku tak bisa bernafas..." Rengek Rubi.
"Jangan menggodaku sayang .. ini masih sangat pagi, bahkan matahari pun belum terbit."
Ares membalikan tubuhnya membelakangi Rubi yang sedang mengatur nafasnya kembali.
"Tidurlah... Aku akan mandi."
Namun sebelum Rubi duduk, ia merasakan tubuhnya yang sangat sakit. Terlebih pada bagian bawahnya yang sangat perih. Ponselnya berbunyi, Rubi mengambil dan melihat pesan yang masuk.
__ADS_1
"Sayang, ayah dan ibu akan pergi beberapa hari. Kakek mu masuk rumah sakit. Mintalah Ares untuk menemani mu disini. Karna Danny juga tak bisa pulang. Ia ada pekerjaan diluar kota. Selamat bersenang senang..."
Rubi tersenyum membaca pesan ayahnya. Meminta Ares menemani nya? Itu adalah ide yang buruk. Rubi tak sadar terkekeh setelah membaca pesan Samuel.
Dia memberikan ku waktu untuk bersenang senang dengan Ares. Aku benar benar tak mengenal siapa tuan Samuel Blossom.
"Sampaikan salam ku untuk kakek ayah... Kalian berhati hati lah."
Pesan itu dijawab singkat oleh Rubi. Dan saat akan berdiri, ia terkejut melihat Ares yang sudah duduk disebelahnya. Ia juga ikut membaca pesan dari Samuel.
"Tuan Samuel memang luar biasa.
Baiklah... Aku akan menemani mu hingga mereka pulang."
Semangat Ares lalu berdiri dengan tubuh polosnya masuk kedalam kamar mandi.
Melihat hal itu Ares mengurungkan niatnya kekamar mandi. Diam diam ia merangkak naik keatas ranjang. Masuk kedalam selimut dan memeluk Rubi dari belakang.
"Aku takan biarkan kau tidur lagi... Gadis nakal..!"
Ares menaiki lagi tubuh Rubi. Dengan menjamah permukaan tubuh Rubi. Hingga Rubi mengeluarkan suara suara aneh lagi.
"Tak kusangka akan diberi hadiah lagi..." Canda Rubi memeluk kepala Ares ke bukit kenyalnya.
"Baiklah kita akan lakukan hingga kau lelah... Sangat lelah..."
"Tidak Ares... Jangan!" Teriak Rubi yang membuat Ares sedikit kaget.
__ADS_1
"Kenapa?" Ia mengernyitkan keningnya berhenti dari aktivitas gerilya.
"Ini... Sangat perih... Jangan lagi."
Ares segera duduk disamping Rubi. Membuka selimut yang menghalangi area sensitif Rubi. Bermaksud untuk melihatnya. Namun dengan cepat Rubi menutup dengan selimut.
"Noda apa ini sayang?" Ares melihat noda merah yang sudah mengering diatas alas kasur Rubi yang berwarna biru.
"Pikirkan lah sendiri... Aku mau mandi..."
Ares melihat dengan seksama, ia berpikir sambil melihat Rubi yang santainya berjalan dengan tubuh polosnya masuk kedalam kamar mandi. Dan terdengar bunyi kunci dari baliknya.
"Yang benar saja... Dia menguncinya...
Hmmm... Noda apa ini? Kenapa berdarah? Apakah dia masih perawan?"
Terbersit senyuman dibibir Ares. Ia sangat senang sekali, tak seperti yang telah ia dengar sebelumnya. Jika gadis gadis dilingkungan nya sengaja melepaskan keperawanan mereka hanya demi menutupi malu, bahwa mereka masih perawan.
Berbeda dengan Rubi, yang masih menjaga kesuciannya hingga diumur yang cukup dewasa. Karna bukan hanya Ares yang menunggunya. Dia juga sama, menunggu pria itu menemukannya.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like nya ya bebs...