
"Aku dan Danny kembar, namun kenapa hanya Danny yang mendapat berkah itu... Sedangkan aku, tak merasakan apapun." Well
Rubi menceritakan hal yang selama ini ia rasakan.
"Benarkah?" Tanya Lyodra sedikit bingung.
"Kadang aku berpikir, apakah kami tidak kembar? Karna diangkat menjadi anak secara bersamaan, karna usia yang sama, maka Tuan Samuel mengklaim kami anak kembar." Pikir Rubi termenung duduk disofa.
"Jika kau ragu, sebaiknya ikuti test DNA. Itu akan menjawab semuanya." Saran Lyodra.
"Kau benar Dokter... Tapi aku tak ingin ada orang lain yang mengetahui selain kita berdua. Aku butuh bantuan mu Dokter..." Tatap Rubi penuh harap.
"Baiklah... Aku akan mengurus semua. Kau sediakan saja sampel nya. Aku akan buatkan nama berbeda di setiap sampelnya."
Rubi senang karna Lyodra bersedia membantunya. Kemudian ia keluar dari ruangan Lyodra.
"Aw..." Teriak Rubi saat sampai didepan pintu.
"Sayang .. kau kah itu?"
Ternyata Ares membuka pintu dari luar. Dan daun pintu mengenai kening Rubi dan sedikit memerah.
"Maafkan aku... Aku tak sengaja."
Ares membawa Rubi kembali duduk. Ia masih mengeluh kesakitan. Kening Rubi menjadi sedikit bengkak.
Rubi tak menyahuti perkataan Ares. Dia berpikir Ares mungkin mengetahui hal ini.
"Sayang kau marah? Aku benar benar tidak sengaja Rubi. Maafkan aku..." Ares mengulangi lagi permintaan maafnya.
__ADS_1
Namun Rubi tetap diam, dia hanya melihat Ares yang terlihat cemas dan rasa bersalah.
Lyodra membawakan peralatan P3K.
Ares mengambil sebuah salap dan mengusapkan nya secara pelan dan lembut.
Apa dia marah padaku soal ini?
Apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa sangat pelan?
Ares masih bertanya-tanya dalam hatinya. Ia melirik Rubi sekilas, karna masih saja memperhatikan nya.
"Aku tak apa apa... Jangan berlebihan begitu." Jawab Rubi seperti baru menyadari prilaku Ares padanya.
"Apa yang kau pikirkan sayang?" Tanya Ares.
Kemudian pintu ruangan Lyodra di ketuk dari luar. Lyodra langsung berdiri dan membuka pintu. Karna dia mengira itu hanya perawat yang memintanya keluar, untuk memeriksa pasien yang selesai dioperasi.
"Pasien yang dioperasi oleh Dokter Alice kejang Dokter, bisakah anda melihatnya? Dokter Alice sedang melakukan operasi."
Lyodra berpikir sejenak, lalu masuk lagi kedalam .
"Ares, Rubi.. ada pasien yang perlu ditangani. Kalian tunggu disini saja. Jangan berbuat yang aneh aneh."
"Kami mengerti bibi... Kau jangan cemas... " Jawab Ares.
Tegas Lyodra dengan mengedipkan sebelah matanya. Lalu keluar mengikuti perawat tadi berjalan samapi keruangan pasien yang ditangani Dokter Alice.
"Silahkan Dokter, saya akan ambil alat alatnya." Kata perawat dengan ramah dan sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih.."
Lyodra masuk kedalam ruang rawat inap yang dimaksud perawat tadi.
"Gelap sekali..."
Lyodra tertarik kedalam, terasa tangan seseorang sedang memeluknya. Hembusan nafasnya terdengar kencang, karna diruangan ini sangat sepi.
Lyodra melihat sekeliling nya jika ada yang menutup kain gorden dan mematikan lampu.
"Siapa?" Tanya Lyodra berusaha mengenali lelaki ini.
"Tolong aku..." Katanya lirih.
"Kau kenapa?" Tanya Lyodra kaget.
"Tolong aku.. dada ku sangat sakit..." Katanya lagi sambil meletakan tangan Lyodra didadanya.
"Apa yang kau rasakan?" Tanya Lyodra mengikuti lelaki itu membawanya duduk ditepi ranjang tempat tidur perawatan.
"Dada ku sangat sering sakit, bahkan berdetak dengan kencang. Nafasku juga rasanya tersengal sengal.." jawab Pria itu dengan suara beratnya.
"Danny? Kau kah itu?" Tanya Lyodra yang berusaha mengenali suara Danny.
"Danny? Siapa dia?"
.
.
__ADS_1
.